Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 81


__ADS_3

Sinar mentari mengiringi pagi yang menyambut dengan suka cita setiap insan untuk memulai hari. Namun tidak untuk Daffin, jangankan memulai hari bahkan pria itu sangat enggan untuk membuka matanya, biasan cahaya yang berhasil lolos melewati celah tirai jendela kamarnya hingga mengenai wajah pria tampan berwajah campuran Indo Amerika itu, membuatnya mengercit karna silou kemudian menarik selimut yang tersingkab hingga menutupi kepalanya. Tidak seperti biasanya, bukan karena malas, tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya bekas pukulan dari baku hantam kemarin, sungguh membuatnya hanya ingin beristirahat hari ini.


Jadwal yang padat hari ini seakan ia abaikan, begitupun scedule dan promisse yang hrus ia hadiri. Sebuah getaran dari benda pipih yang terdengar menggema di ruangan yang sunyi itu, kembali menyadarkan Daffin, pria itu hanya menyodorkan tangan nya dari balik selimut meraih ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, seakan menggerutu dalam hati, kenapa ia lupa mematikam ponselnya. Dengan berat mata nya sedikit terbuka, benerapa notifikasi pesan dan panggilan dari Bonanza dan sekertarisnya, pasti masalah pekerjaan. Namun satu pesan yang tidak mungkin untuk nya abaikan.


"Bagaimana keadaan mu?" pesan dari seorang gadis yang kemarin ia tolong, "Bahumu pasti masih sangat sakit bekas pukulan kayu itu! Beristirahatlah, jangan bekerja dulu. Nanti aku ke rumah." dua sudut bibir pria itu terarik membentuk senyum simpul, perhatian kecil seperti itu saja membuat mood paginya berubah.


Setelah membaca pesan dari Niana ia beralih membuka pesan dari wanita yang telah melhirkan nya, setelah ia pikir tumben sekali momy nya itu tidak mengganggu tidurnya, "Momy pergi sayang, momy mau kerumah Niana, jangan lupa sarapan!"


Daffin hanya menggeleng setelah membaca pesan dari ibunya itu.


Seakan memdapat spirit pagi, pria itu langsung beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi. Beberapa tennder proyek pembangunan besar yang sudah prusahaan kontrusinya menangkan jelas masih menunggu untuk segera di tangani, akhirnya pria itu mulai membuka komputer lipatnya memeriksa beberapa eamil masuk dan pekerjaan yang sudah menunggu persetujuan nya, sembari bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Setelah berkutat lama di depan komputernya membahas semua pekerjaan, dengan melakukan meeting secara online dengan seluruh bawahan nya, akhirnya finish. Daffin meregangkan seluruh tubuhnya, rasa sakit dan pegal di selur area badan nya kembali terasa. Daffin kemudian beralih untuk menyantap sarapan pagi yang sudah di antar astisten rumah tangganya tadi ke kamar, dengan kondisi tubuhnya seperti itu jelas membuatnya enggan hanya untuk keluar kamar.


Saat akan menyimpan komputer lipatnya yang di sebut laptop itu kembali ketempat nya semula, perhatian nya tertuju dengan sebuah kotak hadiah dengan desain aestentik pemberian Niana semalam. Sebuah bracelet berbalut starp bewarna biru gelap di dalam nya, terlihat tulisan BFF di dalam nya, Best firend forefer, ia menyebutkam arti dari singkatan itu. Namun setelah ia membuka sebuah kartu yang terdapat di dalam nya, ternyata BFF yang Niana maksud adalah Brother friend forever.


Daffin memjam kan matanya cukup lama untuk nya buka kembali, kembali tersadar dan harus menyadarkan diri, pria itu tidak dianggap lebih berarti dari itu. Waloupun Niana menganggap nya berarti, tapi hanya sebatas sodara dan sahanat, jauh dari yang pria itu harapkan.


***


Bonanza beberapakali menguap saat tengah menyelesaikan pekerjaan nya, ia sedang membuat konsep untuk proyek yang akan di kerjakan nya. Gadis itu kembali mengucek-ngucek matanya, rasa kantuk yang memberatkan matanya, seakan ingin terpejam saat itu juga. Setelah menjemput Karin semalam, membuatnya tidak bisa tidur kemabali.

__ADS_1


"Selesai," setelah menguap dan meregangkan tangan nya, gadis itu lekas membereskan semua pekerjaan yang berantakan diatas meja kerjanya. "Aku ingin segera pulang."


"Za apa kamu bisa ke rumah pak Daffin, kita sangat membutuhkan tantangan nya!"


"Aku ngantuk mai tidu aku mau pulang. Minta orang lain saja atau pakai ojek online!" tolak Bonanza sembari bergegas melewati sekertaris bosnua itu.


"Ayolah za kamu kan deket sama pak Daffin." bujuk sekertaris bosnu lagi yang bernama Sinta tersebut.


"Kamu kan sekertarisnya! Kenapa harus aku?" bantah Bonanza lagu.


"Aku harus menghendel meeting yang tidak bisa pak Daffin hadiri," Sinta mengatupkan kedua tangan nya sebagai permohonan. "Sambil kami jenguk pak Daffin."


"Memang dia sakit apa?" gerutu Bonanza dengan merampas berkas di tangan Sinta. "Ternyata orang itu bisa sakit juga."


Pintu rumah megah itupun terbuka untuk Bonanza, yang kemudian gadis berambut panjang itupun di persilahkan masuk. Bonanza megituki langkah asusten rumah tangga yang menuntunya, "Tunggu sebentar ya mbak, tuan muda sedang ada tamu!"


Bonanza menggagu, setelah asisten rumah tangga itu pergi, ia kemudian gerutuan terdengar dati mulitnya, "Katanya sakit tapi nerima tamu!"


"Kamu sedang mengumpat ku!" suara bariton Daffin membuat Boanza melengis tersenyum. "Mana berkas nya,"


"Tetnyata Bonanza!" sapa Niana yang ikut mengikuti Bonanza. Sementara Bonanza sedikit kaget dengan keberadaan Niana, sedang apa dia di sini?

__ADS_1


"Ini sudah selesai, kamu bisa pergi!" seru Daffin, menutup boilpoin yang baru saja selesai dia gunakan menandatangani berkas-berkas yanh kini tethampar di atas meja. Pria itu tidak kaget sedikitpun dengan Niana yang sudah mengenal Bonanza.


"Baik pak, saya pamit. Mari Niana!" Bonanza memangku semua berkas beranjak berdiri.


"Buru-buru Za, kita makan siang dulu!" tawar Niana, "Kebetulan aku baru selesai masak bareng momy nya kak Daffin.


"Terimakasih tapi pekerjaan ku di kantor masih banyak." Bonanza beralasan, menundukan kepalanya kemudian pergi setelah Niana mengiakan. Ikut makan siang? tentu saja gadis itu akan menolak tidak enak, malu juga. Sementara tuan rumahnya tidak mengajaknya. "Cepat sembuh pak Daffin!" ucapnya sebelum pergi pada bosnya yang sangat acuh itu.


Di dalam mobilnya Bonanza memikirkan tentang hubungan Niana dengan Daffin. Niana memanggil Daffin, kak! Apa mungkin mereka betrsodara? tapi kalau pun tida Niana wajarcmemanggilnya seperti itu, karna Daffin berusia jauh lebih tua darinya. Seperti itu lah yang di pikirkan Bonanza saat sedang menyetir menuju kantornya kembali untuk, memberikan berkas-berkas.


Decit suara rem mendadak terngar jelas, Jantung Bonanza seakan melocan dari tempatnya saking kaget membyatnya mendadak menginjak pedal rem. Hampir bertabrakan dengan sebuah molbil lain di depan nya saat berbelok, tentu saja gadis itu yang salah.


Bonanza dengan segera turun untuk meminta maaf, "Yang membuat kaget tetnyata Harry, yang baru saka keluar dari mobil itu."


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan Like, komen dan bantu share ya!!!


__ADS_2