Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 47


__ADS_3


Tirta Raksa Darma...


Raksa membuka matanya dengan semangat,  ia tertidur sangat pulas semalam. Mengingat kejadian semalam Raksa dibuat tersenyum sediri, menungkup wajahnya dengan bantal mengingat kelakuan nakalnya itu, ia menyecap bibir bawahnya mengingat rasa yang luar biasa dari bibir Gadi impian nya. Seperti itu kah rasanya mencium gadis yang kita cintai?


Raksa kemudian bergegas membersihkan diri, ia harus segera pulang ke jakarta mengingat Bonanza sudah kian kali menghubunginya, memberitahukan masalah proyek baru mereka yang haru segera Raksa urus.


Raksa Karin dan Ricko, ikut sarapan bersama sebelum pulang. Ia tak henti terus memperhatikan gadis di hadapan nnya yang sedari tadi berusaha tidak menghiroukan nya. Niana selalu merasa malu apabila sedang di perhatikan Raksa, terlebih kejadian semalam membuatnya lebih canggung lagi.


"Jangan di liatin terus, keponakan tante emang cantik," ucap tante Hanna, yang memperhatikan Raksa tak mengalihkan perhatian nya dari Niana, hingga ikut membuat kake Niana memicingkan matanya pada Raksa.


"Colok aja matanta tante," celetuk Karin. Raksa semakin di buat malu, akhirnya menunduk menyelesaikan makan nya.


Setelah selesai sarapan, Raksa Ricko dan Karin sudah bersiap untuk pulang, "Terimakasih, kake, tante atas semuanya. Kami harus segera pulang!" pamit Raksa. Niana dan tante Hanna ikut mengantar mereka ke depan.


"Ia sama-sama, kalian hati-hati di jalan!"


Raksa melirik Niana, tante Hanna seakan mengerti kemudian menjauhi mereka berbincang dengan Karin.


"Aku akan sering-sering mengunjungi mu." janji Raksa pada Niana.


Niana menganguk, "Aku tunggu. Hati-hati, kabari aku kalou sudah sampai!"


"Tentu saja Dream Girls," senyuman mereka saling terlontar satu sama lain, perpisahan yang akan membuat mereka saling merindukan.


"Aku pergi, jangan nakal di sini!" Raksa mengacak rambut Niana, kemudian ikut menyusul dua teman nya masuk kedalam mobil. Lambayan tangan Niana mengantar kepergian Raksa.


"Hemm," deham Hanna, membuat Niana beralih menengok ke arahnya. "Dia pacar kamu?"


"Tante ini bicara apa?" elak Niana.


"Jangan bohong, tante bisa lihat. Karin juga tadi cerita sama tante masalah hubungan kalian."

__ADS_1


"Aku berharap bisa bersamanya tante," jawab Niana, "Dia alasan ku berada di sini sekarang."


"Dia pria yang baik, juga terlihat bertanggung jawab." pendapat tante Hanna yang di anggukan oleh Niana.


"Lebih dari itu tante, dia sangat mengagumkan." Niana dengan tersenyum.


"Tante hanya bisa mendoakan kebahagiaan keponakan tante," ucap Hanna, menepuk bahu keponakan nya.


"Dan aku juga akan selalu mendoakan kebahagiaan tante ku yang cantik ini," balas Niana.


"Tante mah udah bahagia," bantah tante Hanna.


"Jomblo bahagia maksudnya?" ucap Niana, "Niana juga ingin melihat tante bahagia, bisa menemukan pasangan hidup tante suatu saat."


"Kamu jangan ikut-ikutan kake kamu." bantah tante Hanna, "Tante sekarang sudah cukup bahagia oke!"


Hanna meninggalkan Niana masuk ke dalam, wanita itu sungguh sangat tidak ingin membahas tentang pasangan hidup. Etah apa yang membuatnya masih sendiri saat ini, tapi hal itu sangat membuat kake Niana hawatir memikirkan anak bungsunya.


****


Raksa kembali dalam rutinitasnya, pekerjaan menumpuk tidak bisa menunggunya terlalu lama. Libur sehari saja ia sudah kembali di sibukan dengan berbagai perkerjaan yang harus dia selesaikan.


Rencana nya membangun perumahan mewah dengan bernuansa alam, sudah akan terealisakan. Sudah ada benerapa infestor yanh mau menggelontorkan dana untuk proyek tersebut.


Taksa Tirta Darma, pengusaha muda yang sedang jadi perbincangan. Sepak terjang nya di dunia properti mulai di perhitungkan, terlebih dengan kegigihan nya membangun prusahaan nya sendiri. Nama nya mulai muncul di beberapa majalah bisnsis, wajah nya yang rupawan mulai di kenal banyak kalangan.


Setelah selesai pertemuan dengan clien dan inpestot, dengan menggunakan mobil kantor lanjut Raksa akan mengunjungi lokasi pembangunan proyek barunya yang akan di mulai hari ini juga. Tidak ingin menunda-nunda pekerjaan.


Sebuah lokasi dengan luas puluhan hektar yang akan di bangun sebuah perumahan bernuansa alam, dan sudah ada Bonanza yang memantou di sana. Alat-alat berat sudah tersedia, kesibukan para pekerja di lapangan sudah di mulai saat ini. Raksa ingin semuanya selesai sempurna tepat waktu. Karna pembangunan perumahan baru yang sudah di perkirakan membutuhkan waktu yang lama, tapi dengan dana dan kinerja yang cukup ia meyakini senuanya akan selesai lebih cepat.


"Sudah sejauh ini, terimakasih untuk kinerjamu!" ucap Raksa pada Bonanza.


"Sudah tugasku, aku tidak akan setengah-setengah menbantumu. Ayo Arsitek nya sudah menunggu!" gadis itu lanjut menarik tangan Raksa menemui Arstek yang juga sudah ada disana, memjelaskan semua rencana pembangan di lokasi itu.

__ADS_1


"Bagai mana pak? saya berusaha memenuhi semua yang bapak ingin kan, hanya saja saya menambahkan nya sedikit," tutur


Seorang arsitek setelah menjelaskan kosep yang sydah ia buat.


"Saya suka!" tanggap Raksa, "Tambahan dari anda juga sangat bagus. Aku tidak sabar bisa melihat pohon-pohon besar di sini,"


"Tentu saja, untuk mempercepat semuanya pohon-pohon yang akan di tanam nanti kita akan memindahkan popoh-pohon yang sudah tumbuh besar ke sini."


"Apa itu mungkin?"


"Tentu saja, dengan bantuan semua alat berat." jelas sang arsitek. "Semua yang anda inginkan akan terwujud."


"Bagus lah terimakasih untuk bantuan nya!" di akhiri dengan jabat tangan.


Setelah merasa cukup untuk memantou semuanya, Raksa baru terungat hari sudah hampir menuju petang, sedangkan ia belum sempat menghubungi Niana. Dengan segera ia meraih kantong celana nya, namun ia tak menemukan ponselnya di sana. Kesibukan membuatnya lupa bahkan dimana ponselnya sendiri tertinggal.


"Ini bu Karin mau bicara dengan mu," Bonanza mengasongkan ponsel milik nya pada Raksa yang dengan segera di sambar oleh Raksa.


"Karton, dimana hp ku?" tanya Raksa langsung.


"Heh bodoh, hp mu tertinggal di mobil," jawab Karin, "Niana dari tadi mengubungimu."


"Tolong bilang pada nya maafkan aku, aku akan segera menghubunginya." pinta Raksa.


"Tidak perlu, aku sudah bilang padanya kamu sedang sibuk, sampai lupa mengabarinya. Dan dia sangan marah padamu." ucpan Karin membuat Raksa sangat Risou, terlebih Karin langsung mematikan panggilan nya begitu saja.


Raksa mengusap wajahnya, menyesali kebodohan nya, bagaimana ia bisa lupa dengan janjinya menghubungi Niana, ia kemudian melirik gadis di samping nya yang sedari tadi terdiam mendengar pembicaraan nya denagan Karin di telpon, "Za kamu kesini naik apa?" tanya Raksa.


"Aku tadi nail Taksi," jawab Bonaza,


"Aku minta maaf tidak bisa mengantar mu, aku harus segera pulang."


"Its okay, aku bisa pulang sendiri," jawab Bonanza tersenyum, walou sangat terlihat wajahnya tampak kecewa, hanya saja Raksa tidak menyadari itu.

__ADS_1


"Kalou gitu aku duluan ya," Raksa bergegas pergi meninggalkan Bonanza.


Sementara Bonanza hanya terdiam mentap sendu kepergian Raksa, "Aku sengaja kesini naik taksi, supaya kamu mengantarku pulang," ucapnya kecewa. "Kenapa sesakin ini, kenapa harus ada wanita lain di hati mu?" satu tetes cairan bening turun membasahi pipinya.


__ADS_2