
Kegelapan mulai tergantikan oleh terang, saat biasan cahaya masuk kedalam mata Niana yang sedikit demi sedikit mulai terbuka, Niana mengerjapkan matanya berusaha memperjelas pandangan nya masih blur.
"Sayang kamu sudah sadar?" Sampai suara seorang pria yang begitu jelas terdengar, di susul dengan wujud nya yang jelas terlihat di mata Niana dengan tak henti mengusap puncan rabutnya. "Sebentar lagi dokter datang!"
"Aku tidak apa-apa!"
"Nona anda pingsan mungkin karna belum makan. Nona terakhir makan di pesawat, semalam juga tidak makan malam." Tutur Maya, dengan wajah nampak hawatir. "Sebaiknya kamu makan dulu sekarang!" disusul Daffin.
"Aku tidak lapar, hanya butuh istirahat!"
"Jangan seperti anak kecil sayang!" bujuk Daffin lagi, yang setelahnya makanan untuk Niana sudah siap tersaji di atas meja sampig Daffin yang kemudian dengn sigap ia ambil. "Buka mulut mu!" lanjut Daffi sudah memgasongkan satu sendok makanan untuk Niana lahap.
"Aku tidak mau makan!" Niana dengan segera membuang muka berbalik badan membelakangi pria yang masih membujuknya untuk makan.
"Aku akan tetap disini sampai kamu mau makan!"
Mendengar kalimat terkhir Daffin, Niana berbalik kemudian mengubah pososinya setengah bersandar ke tepi tempat tidur. "Aku akan makan, setelah itu tolong kalian semua pergi!"
Ucapan Niana, membuat Daffin merasa keberadaan nya memang tidak di harapkan, tapi ia tidak memikirkan hal itu, yang terpenting Niana mau makan saat ini.
"Aku tidak mau lagi, aku bisa muntah!" Daffin akhirnya berhenti menyuapin Niana, menaruh kembali piring yang sudah habis seperempat nya di atas meja. Tidak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa keadan Niana.
Setelah di periksa oleh dokter yang sudah pergi beberapa saat lalu. Rasanya sekujur tubuhnnya sangat lemas dan begitu lemah untuk di gerakan. Membuat Niana ingin segera memejamkan matanya nya sangat lelah karna sudah menangis semalaman.
"Sekarang kamu bisa istirahat, aku akan menunggu mu sampai tidur. Setelah itu aku kan pergi menebus obat!" Niana hanya diam, sungguh rasanya sangat tidak nyaman dengan keberadaan pria itu, tapi untuk mengusirnya sekarang pun rasanya tidak mungkin ia lakukan, karna Niana tidak ingin menyakiti Daffin. Niana hanya diam memejam kan matanya, sampai beberapa saat ia pun terlelap dalam tidur nya.
Aku ingin betemu dengan mu Aksa, walou hanya di dalam mimpi! Batin Niana.
****
Niana perlahan membuka matanya, ia merasa sedikit lebih baik setelah berjam-jam terlelap. Niana perlahan mengangkat tubuhnya hingga duduk di tepi tempat tidur, yang kemudian sedikit meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pandangan Niana kemudian tertuku pan sosok pria yang sedang terlelap di sofa yang ada di kamarnya, Daffin tertidur di sana.
"Maafkan aku, sekarang aku menyesal dengan keputusan ku. Tapi rasanya tidak pantas jika aku harus menyakiti mu!" Niana menatap sendu pria yang terlelapa pulas di atas sofa dengan mengsidekap kedua tangan nya.
__ADS_1
Terlihat Daffin mengernyit, mengelus lengan nya. Niana meraih selimut yang tadi dia pakai, beranjak membanya mendekati pria yang tertidur di sofa untuk ia selimutkan pada Daffin. Saat Niana menyelimuti Daffin, tiba-tiba tangan Daffin memegang tangan nya, membuat Niana pannik dan segera menipis nya namun tangan Daffin dengan sigap menahan pergelangan tangan Niana.
"Mau kemana!" Suara daffi setengah parou, dengan berusaha membuka matanya yang terlihat berat.
"Aku...."
"Duduk di sini!" Pinta Daffin saat sudah merubah posisi nya menjadi duduk, dan kemudian menarik Niana duduk di samping nya. "Sudah baikan?"
Niana mengangguk dengan tersenyum tipis. "Kenapa tidak pulang?
"Apa aku harus pulang? kamu mengusir pacar mu yang sangat menghawatirkan mu ini?" Daffin mengernyitkan dahinya akan pertanyaan nya, Niana sangat tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
Niana mengela nafas membuangnya kasar, sebelum menjawab "Bukan begitu, tapi aku tidak apa-apa! tidak baik kamu berada d kamar ku apa lagi kita hanya berdua."
"Pintunya ku biarkan terbuka!" Niana menoleh ke atah pintu yang terbuka, yang di luar Sana ada Maya yang juga mengawasinya. Lanjut Daffin mendekatkan mulutnya ke telinga Niana, berbisik. "Apa kamu lupa, pengawal mu itu sudah seperti anjing penjaga mengawasiku sedari tadi, bahkan aku tidak boleh mendekatimu. Dia sudah seperti siap untuk menerkan ku, sungguh menakutkan!"
"Jangan sebut dia seperti itu!" protes Niana memicingkan matanya seperti sebuah pringatan, mendengar pengawal pribadinya di bilang anjing prnjaga. Daffin yanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu makan dulu, sebelum minum obat!" seru Daffin, dengan akan beranjak dari duduknya. "Sebentar akan ku ambilkan makanan nya!"
"Ya." Jawab Niana singkat.
"Ada yang ada inginkan Nona?" tanya Maya lagi
"Aku ingin dia pergi dari sini!" ucap Niana, dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Apa saya harus saya menyuruh tuan Daffin pergi?" Tanya maya dengab melihat ke arah pintu.
"Tidak, jangan! maksudku biarkan saja, biar jadi urusan ku."
"Baiklah kalou begitu!" Niana dengan meninggal kan Maya di kamarnya, hendak menyusul Daffin menuju dapur.
Daffin terlihat sedang memasukan lauk pauk ke dalam piring Niana yang sudah hampir penuh. "Biar saya saja yang antar tuan," terdengar pinta seorang pelayan.
__ADS_1
"Tidak usah, aku ingin melakukan nya!" jawab Daffin yang kemudian di buat sedikit terkejut karna Niana sudah berada di sana.
"Aku mau makan di sini saja!" kata Niana sambil duduk di salah satu kursi meja makan. "Itu makaman untuk ku?"
Tanpa bertanya, Daffin kemudian menaruh piring yang di pegangnya di depan Niana yang kemudian ikut duduk di depan Niana. "Sepertinya aku akan makan juga!"
"Makan lah!" Seru Niana tanpa melihat ke arah Daffin.
"Sepertinya aku memamng harus membiasakan, makan makanan yang calon istriku sukai." Ucap Daffin melirik makanan yang terhidang di atas meja, yang merupakan makanan rumahan indonesia.
"Uhukkk...," Niana tersedak mendengar kata istri dari mulut Daffin, dengan segera Daffim mengasongkan air minum.
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku!"
"Ehh.. Tidak!" jawab Niana memaksakan senyum.
"Apa ini semua makanan kesukaan mu?" tanya Daffin.
"Iya, aku suka makanan rumahan seperti ini," jawab Niana dengan aktifitas makan nya. "lagi pula aku lebih suka Nasis dari pada roti. Kalou Kakak tidak suka jangan di paksakan!"
"Ini enak, aku suka. Sudah lama sekali aku tidak makan makanan indonesia seperti ini, terakhir waktu aku masih SMP saat menetap di Jakarta." Niana hanya mengangguk-ngangguk, jujur dia sangat tidak merasa tertarik dengan cerita Daffin.
Niana sudah menghabiskan makanan di piring nya, perutnya seakan sudah terisi penuh. Gadis itu beranjak dari mejaakan, sealan ia lupa kalou pria di hadapan nya tadi masih lahap menyantap makanan nya.
"Nona obat nya sudah saya siapkan!" seru maya, membawa Nampan yang terdapat obat juga air putih.
"Bawa saja ke kamarku!"
.
.
.
__ADS_1
.