Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 58


__ADS_3

Bonanza melangkah gontay keluar dari cofee shop, bukan karna gadis itu kurang makah, sakit atou apa, tapi hilang semangat membuatnya seaakan enggan untuk melakukan segala hal. Lanjut gadis itu menekan tombol yang ada pada keyless remote untuk membuka kunci mobil nya.


"Untuk bernapas saja rasanya sangat berat, apa aku harus mati saja," ucapan yang tanpa ia pikirkan, gadis itu tampak kacou sudah membentur-benturkan kepalanya pada kemudi.


Drrttt.. drrttt.. drettt


Getaranan ponsel membuatnya mengentikan aktifitas aneh yang menyakitinya itu, "Nona galak sekarang kamu dimana?" panggilan dari Ricko.


"Aku sekarang mau mati," ucapan Bonanza spontan, dengan nada lemas seperti orang tak punya semangat hidup.


"Jangan gila.. Sekarang kamu dimana? aktifkan lokasimu." suara panik Ricko di balik panggilan telpon, yang tak berapa lama sambungan telepon itu pun terputus.


Bonanza masih terdiam di dalam mobil nya, ia memang sangat enggan untuk pergi, kini wajahnya sudah ber sandar di kemudi, tampak kacou dengan rambut kusut sedikit acak-acakan menyelimuti permukaan wajahnya.


Suara ketukan kaca mobil dari luar terdengar, namun itu tak membuat Bonanza teralih dari posisinya waloupun ia menyadari seseorang memanggil-manggil namanya dari luar, dia pasti Ricko, yang memang benar itu Ricko.


Ketukan berubah menjadi gedoran keras, suara panik dan teriakan Ricko sangat terdengar, "Za kamu beneran mati di dalam?" teriak Ricko yang masih Bonanza abaikan. Tapa dia pikir, ia sudah menghawatirkan banyak orang. Hingga Ricko yang panik sampai harus memanggil satpam dan mencari sesuatu untuk mencongkel pintu mobil itu.


Keributan di luar mobil nya akhirnya membuat gadis itu mengangkat tubuhnya, ia langsung menurunkan kaca mobilnya, hingga terlihat wajah panik sahabat nya Ricko di sana yang langsung raut wajah berubah kaget saat melihat Bonanza.


"Berisik sekali, apa yang kalian lakukan?" suara nyolot Bonanza, "Kalian kira aku sudah mati?"


"Huuu..." teriakan semua orang di sana, lanjut membubarkan diri. keculi Ricko keningnya masih berkerut wajahnya tampak kaget, bisa-bisanya ia hawatir habis-habisan kepada teman nya yang gila ini.


"Kamu sadar sudah membuat ku panik, aku kira kamu beneran mati minum racun di dalam," protes Ricko.


"Aku tidak segila itu," bantah Bonanza, Ricko mengusap kasar wajahnya, ia sangat di buat kesal oleh sahabat menyebalkan nya ini. Tapi ia sangat mengerti, karena Raksa bonanza seperti kehilangan akal seperti sekarang.

__ADS_1


"Biar aku yang menyetir, aku antar pulang," Ricko membuka pintu mobil Bonanza, meminta gadis itu untuk pindah.


"Aku bisa pulang sendiri, pergi saja sana," tolak Bonanza, Ricko terlihat geregat kesal, tapi ia tetap tidak bisa membiarkan Bonanza menyerir sendiri. Akhirnya ia ikut mobil Bonanza duduk di samping nya.


"Sepertinya kamu butuh psikiater," ucap kesal Ricko, yang langsung mendapatkan hunusan mata tidak suka dari Bonanza. "Sudah biar aku saja yang menyetir, mobil mu baru sayang kalou di buat nabrak lagi."


"Diam lah cerewet sekali," protes Bonanza.


"Kita mau kemana?" tanya Ricko panik, Bonanza benar mengemudikan mobilnya tidak normal, waloupun tidak ngebut tetap saja seloyongan dan sangat membahayakan. "Heh jika tidak sayang pada nyawaku, setidaknya kasihanilah mobil baru mu ini."


Bonanza terdiam matanya menghunus tajam menatap jalanan di depan, membuat suasana seakan tengang, Ricko di buat ngeri sendiri dengan gadis itu, "Pantas saja Raksa tidak memilih mu, cewek Galak gila."


Kreeettt... Suara decit mobil yang tiba-tiba berhenti, Bonanza mendadak menginjak pedal rem, membuat dua penumpang di dalam terpental ke depan. Ricko spontan memegang dadanya, jantung nya seakan mau lepas dari tempatnya, "Kamu benar-benar----"


Ricko tak melanjutkan makian nya, setelah melihat mata Bonanza tampak tertunduk sendu menatap kemudi yang masih ia pegang. Gadis itu terlihat sangat sedih, setelah Ricko menyadari ucapan nya tadi sangat salah, ia tidak memikirkan apa yang dia ucapkan.


Bersandar pada sahabatnya itu, membuat Bonaza sedikit tenang, gadis itu mulai menangis meluapkan kesedihan nya di sana. Waloupun Bonanza sangat menyebalkan, tapi Ricko sangat tidak tega melihatnya seperti ini, memiliki perasaan pada Raksa yang tak terbalaskan pasti sangat sakit untyknya. Tapi Ricko juga tidak bisa menyalahkan Raksa yang sudah jauh lebih dulu mencintai Niana.


Ricko akhirnya bisa membujuk Bonanza, ia membawa bonanza pada sebuah taman. Mereka berdua sudah duduk di bangku taman, Ricko sangat mengerti Bonanza yang saat ini butuh menenangkan diri. "Perlu aku panggil Harry juga?"


"Jangan," jawab singkat Bonanza.


"Apa seburuk itu kah aku, sampai tidak pantas unruk nya. Raksa sedikitpun tidak pernah melihatku lebih. Dulu aku pernah salah mengartikan kebaikan nya, yang ternyata dia memang baik pada semua orang." cairan bening menetes membasahi pipi Bonanza kala mengucapkan nya, kesedihan nya bisa sangat terlihat, patah hati memang lah tidak gampang untuk semua orang.


"Tidak ada yang tidak pantas di sini, tapi persaan seseorang memang tidak bisa paksakan. Za kamu wanita yang baik, ya waloupun memang sangat menyebalkan. Raksa memang buka pria yang tepat untuk mu, Niana di dalam hatinya tidak akan mudah tergantilan oleh siapapun," Ricko berusaha menasehati Bonanza, ia sungguh tidak ingin melihatnya berlarut-larut dalam perasaan nya yang salah. "Dia sudah menyukai Niana, jauh dia sebelum mengenal mu bahkan jauh sebelum kami bersahabat. Sejak dulu dia selalu menyebut Niana gadis impian nya, tidak pernah ada gadis manapun di hatinya, Sejak kami betemu semala di SMA dia bahkan tidak pernah punya pacar. Karna hatinya sudah terkunci hanya untuk gadis impian nya itu."


"Aku tau ini tidak mudah, tapi mulailah sedikit demi sedikit lepaskan semua perasaan mu pada Raksa. Aku yakin kamu bisa," Ricko merengkun bahu Bonanza, memberikan semangat pada gados itu. "Biarkan Raksa bahagia bersama gadis impian nya, hubungan mereka sudah sangat sulit."

__ADS_1


Bonanza tersenyum dengan semua ucapan Ricko, "Iya aku akan memcoba membuanf perasaan ku. Terimakasih Ricko."


"Nah gitu dong. Jangan coba-coba jadi pelakor," senyum usil Ricko, memuat Bonanza ikut tersenyum juga.


"Ucapan mu itu seperti bukan Ricko, Sepertinya kamu sudah ketularan kata-kata bijaknya Harry," bonanza berusaha tersenyu, setidaknya dalam kondisu seperti ini ada orang yang perduli padanya, itu sungguh sangat membuatnya berarti.


"Udah jangan sedih-sedih nona galak," guyon mejebalkan Rocko mulai lagi. "Gimana kalou kita ke cofee shop, ajak Harry juga, kita rayakan hari ini, hari terakhir patah hati nona galak.


Bonanza tetsenyum menyikapinya, "Oke, walopun sepertinya aku akan kembung karna tadi sudah habis dua cangkir kopi."


"Go go go..." mereka berdua kembali berjalan menuju mobil, "Apa aku perlu mengajak karin juga." Goda Bonaza.


"Jangan lah, kalou dia ikut. Silahkan saja jalian bersenang-senang tanpa aku," tolak Ricko.


Bonan tertawa melihat kegelian Ricko pada Karin, "Kenapa?"


"Dia orang nya gak asik, udah kita nge-date bertiga saja malam ini."


.


.


...Mohon maaf semuanya, yang udah gereget nungguin cerita Raksa dan Niana, sabar ya. Aku lagi menngonsep ceritanya supaya bisa lebih menarik san gereget lagi....


...Tapi jangan bosen ya, karna pasti ada cerita pelengkap nya menjadi bumbu dalam Novel ini, seperti kisah Bonanza, Harry, Ricko, Daffin dan Karinta....


...Terimakasih... semoga tidak bosan...

__ADS_1


__ADS_2