Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 35


__ADS_3

Niana menyimpan kembali gelang yang telah membuatnya menangis, memasukan nya kedalam sebuah kotak bludru berwarna hitam. dengan segera ia menyimpan nya kembali ke dalam sling bag nya.


"Nona ada tuan Daffin di depan menunggu anda!" Seorang pelayang memberitahukan, Niana mau tidak mau menghampiri seorang pria menyebalkan yang selalu mencari perhatian nya.


"Hii... so beautyfull," ucap Daffin saat melihat Niana menghampirinya ikut duduk di sofa sebelah nya.


"Apaan sih," jawab Niana acuh.


"Buruan packing, kita berangkat malam ini!" ucapan Daffin membiat Niana sontak terkejut.


"Enggak, besok aja.. Hari ini aku cape!"


"Ayah kamu nitipin kamu sama aku! dan semua untuk keberangkatan kita sudah di siapakan oleh momy!" Niana mencebik, dengan berat mengangukan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Daffin menggeser duduknya tepat di samping Niana, namun gadis itu menggeleng akan pertanyaan nya.


"Maaf kalou kamu tidak nyaman dengan keberadaan ku Niana, tapi sungguh aku hanya ingin menjagamu!"


"Iya aku tau.. Dari dulu ayah memang selalu nyuruh orang buat jagain aku, udah biasa!" jawab Niana datar, memeluk bantal dengan menyandarkan kepalanya di bantal yang dia peluk.


"Tapi aku menjagamu bukan karna permintaan dari om Aga." ucapan Daffin membuat Niana mengangkat kepalanya menengok ke arah pria yang sedang menatapnya di samping nya itu. "Aku sungguh-sungguh ingin menjagamu karena diriku, karna kamu penting bagiku."


Niana melihat pria di sampingnya sungguh-sungguh dengan ucapan nya. "Aku menyukai mu Niana. Orang tua ku sangat berharap lebih dengan hubungan kita!"


"Iya iti juga yang sepertinya di inginkan Auah. Aku juga tidak ingin membuatnya kecewa !" Niana memaksakan senum ny,


"Mamsudnya, Apa kamu mau mencoba menerimaku?" Niana mengangguk. Waloupun berat Niana akan berusaha membuka hatinya untuk pria yang tida ada di dalam hatinya, yang terpenting ia tau kalou Daffin adalah pria baik, tidak ada alasan lain saay ini ia hanya ingin membahagiakan satu-satunya keluaga yang ia miliki saat ini yaitu ayahnya.

__ADS_1


"Jadi kita pacaran?" Niana mengangguk lagi sebagai jawaban. Daffin masih merasa semua yang dia dengar saat ini seperti di dalam mimpi.


"Pukul aku! ini mimpi?" Niana dengan segera menepuk pelan pipi Daffin, "Sakit!"


"Kakak tidak sedang mimpi!"


"Niana kamu sungguh-sungguh akan menerimaku menjadi pacar mu?" Daffin meraih tanga Niana menggenggam nya erat, Niana mengangguk sebagai jawaban nya membuat Daffin tersenyum. "Aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakan mu!"


"Aku tau! dan aku juga akan selalu berusaha untuk bisa mencintai mu kak," Niana membalas senyuman pria di hadapan nya.


"Terimakasih karna sudah memberiku kesempatan." ucap Daffin. Hari yang sungguh membahagiakan untuknya, waloupun dia tau Niana tidak memiliki perasaan pada nya tapi setidaknya Niana mau memberinya kesempatan agar bisa masuk kedalam hatinya. Dan ia memastikan gadis cantik yang mampu merebut hatinya di depan matanya saat ini akan menjadi milik nya selamanya.


Daffin merencenanakan akan melamar Niana nanti saat pulang ke indonesia, ia ingin mengikat Niana dengan sebuah cincin pertunangan yang akan menunjukan pada dunia kalou Niana adalah milik nya.


Rencana Daffin melamar Niana saat sudah di indonesia benar terjadi, namun tak disangka Aga ayahnya Niana menolak lamaran pertunangan tersebut, membuat keluarga besar Daffin sontak terkejut terutama Niana, yang Niana pikir Ayahnya sangat mengharapkan pertunangan nya dengan Daffin. Namun alasan Aga akhirnya bisa di terima oleh Daffin dan keluarganya. Aga tidak menerima lamaran Daffin dengan alasan agar Niana fokus dulu dalam pendidikan nya.


.


.


.


kembali kecerita sebelum nya di bandara Intetnationan soekarnohatta...


Niana mengejar Daffin yang meninggalkan nya dengan langkah cepat, "Kak!" Niana meraih tangan Daffin.


"Ayo kita bisa ketinggalan pesawat." uapan Daffin dengan menepis tangan yang akan memegang tangan nya daru belakang dan mengcuhkannya, Niana sungguh merasa tidak enak hati pada pria itu yang tidak secara langsung memperlihatkan perasaan nya yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Maafkan aku kak!"


Daffin menghentikan langkahnya, kembali berbalik pada gadis di belakangnya meraih tangan Niana menggandeng nya, melewati louuge firs class dan langsung melakukan boarding.


Menyesal dengan keputusan nya untuk menerima Daffin, mungkin itu sedikit yang di rasakan oleh Niana, tapi sangat tidak adil jika dia harus membuat pria baik yang sangat mencintainya itu kecewa. Niana berpikir tetap pada keputusan awalnya, ia harus bisa benar-benar menerima Daffin dam membuang prasaan nya untuk Raksa.


Niana mengulas senyum melihat tarikan tangan nya, langkah pelan yang membawanya.


*Orang bilang lebih baik di cintai dari pada mencintai, jujur itu tidak semudah yang di ucapkan. Di cintai seseorang memang membuat kita seperti istimewa, tapi tidak seindah di perlakukan istimewa oleh orang yang kita juga cintai. Sungguh sulit melupakan perasaan kita yang sangat dalam pada orang lain. Tapi, aku sudah terlanjur memilih jalan ini memilih cinta yang lain, tidak adil baginya jika aku harus berpaling menemui cintaku yang baru datang menyambut hati ini. Aku akan berusaha menerima kata-kata yang sering aku dengar, Cinta Tak Harus Memiliki.


Tapi satu hal yang akan selalu aku pinta pada yang kuasa, tolong jaga dia, dia pemilik hatiku yang sesungguhnya, pertemukan dia dengan orang yang tulus mencintainya yang bisa membuatnya bahagia, dan selama itu aku juga akan berusaha bahagia dengan pilihan ku.


Raksa aku mencintaimu*...


Satu tetes cairan bening yang keluar dari mata indah Niana, sebagai perwakilan ucapan selamat tinggal darinya untuk pria yang ia kira baru datang menyambut prasaan nya. Karna kalou dia memang memiliki prasaan pada Niana dari kenapa Raksa tidak jujur dari dulu padanya, kenapa ia harus membuat Niana pergi dengan prasaan terluka.


Seakan tak membutuhkan penjelasan atou kejelasan apapun lagi dari Raksa, Niana akan benar-benar berusaha membuang prasaanya untuk pria iti dan mulai benar-benar membuka hati untuk pria baik yang sangan mencintainya, Daffin Miler.


Niana melirik Daffin yang duduk di space penerbangan first class di samping nya, mereka tidak duduk di space sisi pesawat yang terdapat jendela yang memperlihatkan pemandangan ke luar pesawat, tapi memilih sapace yang berada di tengah sehingga space mereka bisa terhubung dengan membuka spas pembatas penghalang firavasi mereka.


Daffin seperti biasa memperlakukan Niana dengan manis, selalu memperlakukan Niana layaknya putri. Namun sikap Daffin itu membuat Niana tak nyaman kali ini, karna ia sadar bahwa dia sudah membuat Daffin kecewa dan Daffin pasti sangat cemburu, tapi dia tidak tidak memperlihatkan kecemburuan dan amarahnya, hal itu membuat Niana merasa tidak pantas dengan perlakuan Daffin.


"Harusnya kakak marah padaku?" tanya Niana pada pria yang duduk spase di sebelahnya nya, hanya ada sedikit celah dari pembatas yang di turunyka sebagai penghubung mereka.


"Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, perjalan kita tidak sebentar sebaiknya kamu istirahat!" jawab Daffin.


"Tapi pikiran ku masih terusik, aku takut membuat mu terluka!"

__ADS_1


"Niana aku memang tidak salah mencintai mu, harusnya kamu yang marah padaku, jika aku cemburu pun kamu harusnya tidak perduli," Daffin menarik nafas, seperti mempertimbangkan apa yang akan ia uxapkan. "Aku tau perasaan mu tidak untuk ku dan aku sudah melihatnya, tapi aku masih mengingi kan mu di sampingku."


"Bukan salah mu, tapi aku yang sudah memutuskan semua ini. Dan aku berjanji tidak akan pergi dari mu!" Daffin tersenyu mendengan ucapan Niana, walou jujur di dalam hatinya terdapat rasa takut yang begitu besar akan kehilangan Niana.


__ADS_2