Gadis Impian

Gadis Impian
[21] Curiga


__ADS_3

Kini Auliya tengah perjalanan ke arah kelasnya dengan tatapan kosong, Auliya masih saja terus memikirkan sesuatu yang bisa di artikan tidak ada apa-apa nya.


Tetapi bagi diri Auliya entah mengapa ada rasa yang mengganjal di hati nya dengan ucapan Dhiva terhadap Haikal kemarin malam.


"Haduhh... Sudah dong Liya, gak usah mikirin si Haikal teruss" batin Auliya sambil memegangi pucuk kepalanya dan membuyarkan lamunannya.


Tiba-tiba langkah Auliya terhenti karena melihat seorang bertubuh kekar dan tinggi sedang berjalan dengan lantunan shalawat yang keluar dari mulutnya.


Auliya yang melihat Haikal di depan nya yang di ketahui baru keluar dari area santriwan dan menuju ke kelasnya.


Haikal yang melihat keberadaan Auliya yang melihatinya, Haikal melirik sekilas ke arah Auliya dan melanjutkan perjalanan nya tanpa menghiraukan Auliya.


Entah mengapa Haikal melakukan itu kepada Auliya, Haikal masih merasakan sakit di hatinya karena orang yang selama ini yang ia pikirkan dan membikin haikal susah untuk tidur, hanya karena memikirkan wajah milik gadis yang tengah melihatinya.


Haikal masih merasakan sakit di hati kecil nya karena ucapan Dhiva semalam tentang Auliya yang selalu memikirkan fahir teman sekamar nya.


Auliya yang melihat tingkah Haikal yang tak seperti biasanya pun merasa heran, bukan nya dia orang nya ramah? Bukanya dia selalu tersenyum? Tapi mengapa kali ini berbeda? Pertanyaan pertanyaan itu muncul terus menerus di pikiran Auliya.


Auliya tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihat punggung seorang laki-laki itu yang lama kelamaan menjauh.


"Menghindar? Ya, seperti nya dia marah, tapi karena apa?" Batin Auliya. Auliya pun melanjutkan langkahnya dan menuju ke kelasnya.


"Assalamualaikum Syifa, Dhiva?" Salam Auliya saat memasuki kelasnya yang sudah ada Syifa dan Dhiva di dalam nya.


"Waalaikumsalam" balas Syifa dan Dhiva bebarengan.  Auliya pun duduk di bangku nya.


"Tega ya kalian, ninggalin inces sendirian di kamar" gerutu kesal Auliya.


Syifa dan Dhiva yang melihat tingkah sahabatnya itu pun terkekeh.


"Heum... Malah ketawa nih anak" ucap Auliya sambil tersenyum pasrah.


"Sejak kapan kamu lebay kayak gitu an Liya?" Goda Syifa yang merasa asing dengan ucapan Auliya.


"Tau nih, mungkin ini bukan Auliya deh syif" lanjut Dhiva sambil menyenggol lengan Auliya.


Auliya yang mendengar itu pun menjadi kesal dan marah, "apaan sih kalian, ini Liya lah" ucap Auliya sambil memajukan bibirnya selayaknya anak kecil yang merajuk.


"Lohh... Bukanya kamu inces ya?" Tanya Dhiva yang masih saja dengan tertawaan nya. "Tau ah" balas Auliya singkat.


"Ciee.... Marah nih" goda Syifa yang semakin membuat Auliya semakin kesal.


"Ish, sudahlah" ucap Auliya kesal. "Iya iyaa" ucap Syifa dan Dhiva bebarengan dan tak luput dari tertawa nya.


Tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan ustadzah Maria pun masuk ke dalam kelas mereka.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh" ucap ustadzah Maria yang membuka pelajaran nya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh" balas seisi ruangan kelas kompak.


"Oh iya, ustadzah Maria punya berita baik buat kalian" ucap ustadzah Maria.


"Kabar baik apa ustadzah?" Tanya Auliya. "Heum.. jadi gini, Minggu depan kan ada acara perpisahan kakak kelas kalian, dan semua orang tua santri datang" ucap ustadzah Maria.


"Tadi kyai Yusuf sudah menentukan acaranya, dan besok juga ada acara penghafal Al Qur'an untuk santriwan satu anak dan santriwati satu anak, jadi ustadzah pilih untuk santriwati yang akan tampil besok di kelas ini" lanjut ustadzah Maria.


"Maaf ustadzah?" Ucap vanesha sambil mengangkat sebelah tangannya seakan bertanya.


"Iya? Ada apa vanesha?" Tanya ustadzah Maria. "Tadi kan ustadzah bilang, kalo ustadzah memilih buat ngisi acara hafalan Al Qur'an itu kan santriwan satu anak dan santriwati satu anak, jadi yang saya mau tanyakan adalah, apakah santriwan dan santriwati yang terpilih mementaskan di atas panggung secara bersamaan? Atau bergantian?" Tanya vanesha panjang lebar.


"Oh iya, jadi gini, besok santriwan dan santriwati yang akan terpilih akan naik ke atas panggung bersamaan, dan ustadz Jefri sudah menemukan santriwan yang akan tampil, sekarang ustadzah yang akan mencarikan pasangan yang pas untuk tampil acara besok" ucap ustadzah Maria.


"Jadi ustadzah akan pilih syifa yang akan tampil besok di atas panggung bersama Haikal" ucap ustadzah Maria, semua seisi kelas bertepuk tangan dan berhasil membuat Syifa kaget.


"Apa ustadzah? Sa...-ya?" Ucap Syifa gugup dan menunjuk dirinya dan di balas anggukan oleh ustadzah Maria.


"Tapi ustadzah, hafalan saya belum terlalu lancar" ucap Syifa lirih. "Gak papa Syifa, kamu kan bisa belajar, lagian ini bukan ustadzah yang memilihnya, ustadzah hanya menyampaikan" balas ustadzah Maria.


"Baik ustadzah" ucap Syifa pasrah. "Gak papa Syif, kamu pasti bisa kok, semangat!" Ucap Auliya menyemangati Syifa.


"iya syif, kamu pasti bisa" lanjut Dhiva dan di balas anggukan oleh Syifa.


******


Sekolah sudah bubar Syifa masih tetap memikirkan tentang hafalan nya, dan sesering mungkin mengulangi hafalan nya yang akan ia tampilkan esok.


"Aduhh, gimana ini, aku kan nggak berani kalo pentas di atas panggung, aku malu nanti di lihatin banyak orang" ucap Syifa di tengah perjalanan nya.


"Gapapa syif, lagian kan kamu di atas panggung nggak sendirian" balas Dhiva yang ada di sebelah kanan Syifa.


"Iya, kan ada haikal" balas Auliya yang juga ada di samping kiri Syifa.


"Tapi kan....-" ucap Syifa terpotong. "Sudahlah, kamu pasti bisa oke?" Ucap Auliya menyemangati syifa.


Syifa pun pasrah dan membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala.


"Oh iya, nanti kita bakal ngebantuin kamu kok" ucap Dhiva semangat.


"Iya tuh, kita juga bakal dukung kamu syif, kamu harus semangat ya" ucap Auliya diiringi senyuman yang melikat di bibir nya.


"Terimakasih ya Liya, Dhiva?" Ucap Syifa dengan senyum haru dan memeluk kedua sahabatnya itu, bagi Syifa mereka selalu ada buat Syifa dalam keadaan suka maupun duka.


"Sudah dong jangan nangis" ucap Auliya yang melihat Syifa menangis karena terharu.


"Gapapa dong Liya, lagian kan aku nangis nya karena terharu" balas Syifa dan menghapus air mata nya yang keluar.


"Sudah-sudah yuk masuk" ucap Dhiva saat sampai di depan kamarnya dan membukakan pintu untuk Auliya dan Syifa.

__ADS_1


"Terimakasih Dhiva" balas Auliya dan Syifa bersamaan.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam kamar mereka dan mengganti seragam mereka.


Selesai mereka berganti pakaian, Syifa langsung membuka kitab Al Qur'an nya dan mengulangi hafalan nya.


"Syifa, biar aku simak kan ya" ujar Auliya sambil meraih Al Qur'an yang ada di genggamannya syifa. Syifa pun mengangguk.


"Alhamdulillah, bacaan kamu bagus kok syif, cuma ada sedikit bacaan yang kurang, nanti kita lanjut lagi ya, sekarang kita makan siang dulu, kasian tuh Dhiva udah ngambilin" ucap Auliya selesai menyimakan syifa.


"Ini kalian makan ajah dulu ya, udah aku ambilin tadi pas ada bi Hani" ucap Dhiva dan menaruh sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Auliya dan Syifa.


"Terimakasih ya dhiva" ujar Auliya dan Syifa kompak. "Sama-sama" balas Dhiva dan tak luput dari senyumnya.


Setelah itu mereka makan siang bersama dan selesai makan mereka memilih untuk istirahat sejenak.


******


"Allahuakbar"


"Allahuakbar"


Suara adzan Maghrib sudah berkumandang, Auliya Syifa dan Dhiva pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.


"Ehh itu ada kak Haikal" ujar Syifa yang melihat Haikal yang di ketahui juga ke arah masjid.


Auliya dan Dhiva yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Syifa.


"Yuk, kita samperin aku mau ngomong sama kak Haikal" ucap Syifa dan di balas anggukan oleh Dhiva.


Namun tidak dengan Auliya, seketika Auliya yang melihat Syifa menghampiri haikal, Auliya masih tetap sama di posisinya.


Ada rasa ragu dan takut jika juga menghampiri Haikal, Auliya takut jika Haikal menghindar dari dirinya yang hanya bisa membuat hati Auliya merasakan sedikit nyeri.


"Auliya? Kenapa masih disitu? Kesini" ucap Syifa yang sedari tadi melihat Auliya bengong.


Haikal yang melihat Auliya mendekat ke arah nya, Haikal memalingkan pandangannya dan melihat ke arah lain.


Seketika Auliya pun hati nya merasakan ada yang mengganjal di hati nya, "aku nggak mau kamu terus-terusan menghindar seperti ini Haikal, secepatnya akan ku jelaskan semuanya" batin Auliya dan mendekat ke arah Syifa dan Haikal berada.


"Oh iya kak, kakak udah pede belum?" Tanya Syifa terhadap kakak sepupu nya itu.


"Insyaallah sudah kok syif" balas Haikal.


Auliya yang merasa tak enak dengan keberadaan dirinya itu, Auliya memilih untuk pergi dari hadapan mereka.


"Heum... Maaf syif, aku duluan ya, assalamualaikum" ucap Auliya dan meninggalkan mereka.


"Liya tungguin" teriak Dhiva dan mengikuti langkah Auliya.


Haikal yang melihat Auliya yang juga sama seperti menghindar dari nya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Heum... Maaf kak Syifa duluan ya assalamualaikum" ucap Syifa.


"Waalaikumsalam" balas Haikal yang masih sama di posisinya dan melihat punggung Syifa yang kelama lamaan menjauh.


Selesai shalat Maghrib, Auliya, Syifa dan Dhiva kembali ke kamarnya.


Cklekkk! Auliya membukakan pintu untuk sahabatnya itu.


"Terimakasih Auliya" ucap Syifa dan Dhiva bebarengan.


"Ndak usah makasih segala dong" ucap Auliya di iringi kekehan.


"Terserah kita dong" balas Syifa di buat semanis mungkin.


"Yaudah yuk masuk" ajak Dhiva, Auliya dan Syifa pun masuk.


"Oh iya syif, kamu nggak latihan hafalan lagi?" Tanya auliya.


"Astaghfirullahalazim, aku lupa" ucap Syifa sambil memukul pelan kening nya.


Syifa langsung beranjak dari duduk nya dan melangkah ke arah meja belajarnya dan mengambil kitab hafalan nya.


"Nih Liya kamu yang nyimak" ucap Syifa sambil memberikan sebuah kitab hafalan nya.


Auliya pun mengambil kitab itu dari tangan Syifa dan menyimakkan.


Tak lama kemudian adzan isya'sudah berkumandang.


"Allahuakbar"


"Allahuakbar"


"Udahan dulu yuk ya, kita shalat isya dulu" ajak Syifa dan di balas anggukan oleh Auliya.


Dhiva yang melihat Syifa hanya mengajak Auliya dan tidak dengan dirinya itu mulai tak terima.


"He.em, Auliya ajah nih yang di ajak?" Goda Dhiva terhadap syifa.


Syifa pun menyengir kepada Dhiva, "hehe, yaudah yuk Dhiva kuh yang cantekk" ucap Syifa di iringi kekehan.


Dhiva yang mendengar itu pun merasa geli dengan perkataan Syifa.


"Sudah-sudah yuk berangkat, nanti telat Lo" ucap Auliya dan di balas anggukan oleh Dhiva dan Syifa.


Di tengah perjalanan mereka mata Auliya langsung tersorot kepada seorang laki-laki yang sedang berjalan ke arah masjid bersama teman-teman nya.

__ADS_1


Auliya masih menatap orang laki-laki itu, dari bicara dan pergerakan nya.


Syifa yang melihat Auliya seperti melihat sesuatu, Syifa pun melihat ke arah yang Auliya lihat, "oh ternyata kak Haikal" batin Syifa.


Seketika Haikal pun masuk dahulu ke dalam masjid bersama teman-teman nya karena sudah sampai dan takut ketinggalan shalat.


"Liya, udah sampai nih, jangan bengong Mulu" tegur Syifa.


Auliya yang tak menyadari bahwa ia sudah sampai di depan masjid karena terlalu fokus melihat ke arah Haikal.


"Eh iya iya" ucap Auliya gelagapan. "Kamu kenapa Liya?" Tanya Dhiva penasaran.


Auliya yang melihat Dhiva yang menatapnya seperti itu membuat Auliya semakin salah tingkah.


"Heumm... Enggak kok gak papa" balas Auliya kikuk setelah itu Auliya masuk terlebih dahulu ke dalam masjid.


Dhiva yang melihat tingkah Auliya itu pun menjadi heran, "seperti nya ada yang di sembunyikan oleh Auliya deh, tapi apa?" Batin Dhiva.


"Yaudah yuk masuk dhiv" ajak Syifa dan Dhiva pun masuk ke dalam.


*******


Selesai mereka melaksanakan shalat isya' berjamaah, mereka pun kembali ke kamar mereka.


Selesai mereka sampai di kamar mereka, Auliya langsung pergi ke ranjang kasur miliknya dan membaringkan tubuhnya.


"Heum... Syif, aku permisi dulu ya mau main ke kamar Dina" ucap dhiva.


"Oh iya" balas Syifa dan Dhiva pun keluar dari kamar dan menuju kamar dina karena sudah lama tak pernah main ke kamar Dina.


Syifa masih tetap sama di posisinya dan melihat punggung Dhiva yang sudah menghilang dari hadapan nya.


Syifa melihat ke arah Auliya yang tengah memikirkan sesuatu itu, Syifa pun menghampiri nya dan duduk di sisi ranjang kasur milik Auliya.


Auliya yang merasa ada pergerakan di sampingnya, Auliya membuka matanya dan melihat siapa yang berada di sampingnya.


"Eh kamu syif, kirain siapa" ucap Auliya dan membenarkan posisinya duduk.


"Liya? Aku boleh nanya nggak?" Ucap Syifa serius.


Auliya yang melihat Syifa seperti serius, Auliya pun mengernyitkan dahi nya seakan penasaran.


"Tanya apa?" Tanya Auliya to the point.


"Sebenarnya, kamu itu suka sama siapa sih?"


Deg...


Jantung Auliya seketika berhenti dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Syifa.


Auliya juga bingung hati nya ini milik siapa, apa jangan-jangan untuk Dika? Mantan pacar nya dulu? Tidak, setelah kejadian di cafe itu, perasaan Auliya untuk Dika sudah menghilang.


Lalu perasaan yang selama ini ada di hatinya itu untuk siapa?


Auliya bingung untuk itu, Auliya sudah lama mencari tau siapa yang ada di dalam hatinya itu, tetapi Auliya masih sama.


"Liya?" Ucap Syifa yang berhasil membuyarkan lamunan Auliya.


"Ehh.. iya?" Ucap Auliya gugup. "Ngapain bengong?" Tanya Syifa yang sudah mulai curiga.


"Enggak kok, siapa juga yang bengong" elak Auliya.


"Jawab dong Liya" tegas Syifa karena pertanyaan nya yang belum di jawab.


"Jawab apa?" Balas Auliya polos. "Ish Liya, kamu itu suka sama siapa sih?" Tanya Syifa lagi.


"Ohh yang itu" ucap Auliya dan mengangguk anggukan kepala nya.


"Siapa?" Tanya Syifa. "Nggak ada" balas Auliya seapa adanya.


"Bohong kamu" ucap Syifa tidak percaya. "Terserah kalo kamu nggak percaya" balas Auliya yang berhasil membuat Syifa kesal.


"Jangan-jangan.....-" ucap Syifa sambil menggantungkan ucapan nya.


"Jangan-jangan apa?" Tanya Auliya. "jangan-jangan kamu suka sama kak Haikal ya?" Ucap Syifa dengan senyum yang melintang di bibir nya.


"Ish Syifa, mana mungkin aku suka sama Haikal? Haikal kan sudah ada yang punya, masa aku nikung gebetan sahabat aku sendiri sih? Kan nggak mungkin?" Balas Auliya santai.


"Lagian aku tadi ngelihat kamu curi-curi pandang gitu ke kak Haikal" ucap Syifa.


"Nggak lah, kamu salah liat mungkin, mana pernah aku curi-curi pandang sama Haikal" balas Auliya sambil menutupi kebohongan nya.


"Mungkin ya" ucap Syifa dan mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Yaudah, aku mau tidur dulu, udah ngantuk banget nih" ucap Auliya dan memposisikan tubuhnya tidur.


"Yaudah, selamat mimpi kak Haikal ya" goda Syifa dan berhasil membuat Auliya kesal. "Syifaaaa...." Gerang Auliya, Syifa pun hanya terkekeh.


"Sudah, tidur sana, mimpi yang indah ya Liya" ucap Syifa. "Iya, selamat malam Syifa"


"Selamat malam".


Syifa pun pergi ke meja belajarnya dan memikirkan perkataan Auliya tadi bahwa dia tidak mencintai siapapun.


"Lalu untuk apa Auliya curi-curi pandang sama kak Haikal tadi? Kayaknya harus aku sendiri yang menyelidikinya" batin Syifa dan membuka kitab hafalan nya.


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2