Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 86


__ADS_3

Usai makan malam, Niana dan Raksa duduk berdua menikmati kemerlapnya kota Jogja masih dari atas rooptop. "Jadi sekarang gimana? mau balik lagi ke Jakarta atou tetep disini?" tanya Raksa.


Niana menyandarkan kepalanya di bahu Raksa, tempat paling nyaman untuk nya bersandar. "Mau kamu gimana?"


"Kenapa malah nanya balik ke aku?"


"Emm.. maaf ya, sikapku seenaknya, tapi maksudku semua ini demi kebaikan kita tadinya." jawan Niana, "Tapi udah terlanjur kaya gini juga, kamu nyusulin aku kesini juga, aku juga nggak tega, merasa bersalah juga sama kamu. Jadi aku balik Jakarta aja."


"Plinplan juga ya kamu, nggak punya pendirian,"


"Ko gitu?" Niana bangkit, melihat Raksa, namun Raksa kembali menarik kepala Niana, membenamkan nya di dadanya.


"Lagian siapa yang nyusulin kamu coba, aku kesini bukan mau bawa kamu balik,"


"La terus, maksudnya kamu udah ada disini gimana? terus si Maya juga pake maen kucing-kucingan," Raksa tertawa kecil mendengar ucapan Niana.


"Aku kesini di suruh,"


"Di suruh siapa?" Niana tak sabar bertanya.

__ADS_1


"Di suruh ayah mertuaku."


Niana bangkit dari sandaran nya menengok oria di samping nya tak sabar menanti jawaban "Maksud kamu ayah aku?"


"Bukan, ayahnya Ricko... Ya iya lah ayah kamu, siapa lagi?"


"Ko bisa," Niana tersenyum, tak menyangka ayahnya bisa melakuan semua ini untuk nya.


"mungkin ayah kamu takut kamu sedih,"


"Semoga ayah bisa merestui hubungan kita, dan melupakan kesepakatan atara Ayah, kamu, dan Daffin."


"Kamu santai banget ngomong gitu Aksa. Apa kamu nggak hawatir kamu nggak bisa menang?" Niana seakan tak terima dengan ucapan Raksa, mencercanya dengan ucapan nya dengan nampak serius dengan nada semakin tinggi. "Aku bukan hadian untuk ajang kompetisi, aku bukan barang aku punya hati dan hati aku memilih kamu Aksa."


Raksa terdiam, hanya menatap Niana yang sudah menghunuskan tatapan tajam pada nya. "Atou lebih baik, aku yang mundur jadi ajang perebutan kalian? Supaya kalian bisa mencari piala baru untuk kalian rebutkan, bukan aku!"


"Maaf, maafkan aku.." ucap Raksa sendu, dengan segera mendekap Niana dalam pelukan nya. "Maafkan aku, jujur aku sebenarnya juga takut, takut kalah dan harus melepas mu. Tapi kita juga tidak bisa menjalani semua ini tanpa restu dari Ayah mu."


Niana mulai terisak, "Kenapa tidak?" Niana melepaskan diri dari pelukan Raksa. "Ibumu, keluargamu setuju, kakeku juga setuju itu cukup untuk kita menikah, kita bisa tinggal di rumah mu."

__ADS_1


"Ets, jangan ngomong sembarang kamu ya.. Restu Ayah kamu itu paling penting, kamu anak perempuan." Raksa mencubit gemas pipi Niana. "Kita juga masih muda, nggak segampang itu."


"Jadi gimana, stay disini? atou pulang?" tanya Raksa lagi memastikan.


"Stay disini, aku juga mau buktiin ke ayah aku bisa mengurus masalah disini." jawab Niana, "Gak apa kan?"


"Enggak, aku bangga sama kamu."


"Gak bakalan kangen?" tanya manja Niana.


"Pasti dong sayang, dan pasti juga hawatir karna gak bisa jagain kamu," jawab manis Raksa. "Tapi aku titipkan kamu sama Allah, aku yakin Allah bisa lebih jaga kamu, juga aku akan selalu titip rindu aku padanya."


"Makasih Aksa," Niana tersenyum, "Jangan nakal selama aku nggak ada, terus jaga kesehatan."


"Nakal kaya gimana maksudnya. Palingan kalo nggak ada kerjaan aku ngabisin waktu hangout sama Ricko Harry, nongkrong ke mall, nyari udara seger cuci mata..." Candaan Raksa yang akhirnya menuai cubitan dari Niana, dan membuatnya memekik sakit tapi juga tertawa geli.


Maya diam-diam mengabadikan kebersamaan Raksa dan Niana, tanpa di sadari pengawal wanita itu ikut tersenyum melihat tingkah dua sejoli itu dari jauh. Maya mengirimkan benerapa poto yang dia ambil pada bos besarnya, yang tak lain ayah Niana.


Yang jauh disana ayah Niana juga ikut tersenyum melihat tawa bahagia putrinya.

__ADS_1


__ADS_2