
"Kenapa gak sewa aja si?" Tanya Harry lagi.
"Sayang duitnya, kalo nyawa habis masa sewa duitnya gak bakal balik lagi." Jawab nya, "kalo beli waloupun nantinya bisa dapet tempat lebih bagus lagi, ruko ini bisa di sewakan atou di jual lagi."
"Bener juga, kalo bisa beli ngapain nyewa." Timpal Ricko.
"Rencana kamu habis ini apa?" Tanya Harry.
"Ya ngumpulin duit lagi," Jawab Raksa dengan tawa garing. "Mimpiku masih jauh."
"Rak, si Bonanza katanya mau kerja sama kamu." Ucap Ricko, yang terdengar mengagetkan di telinga Bonanza yang menatapnya dengan dahi dan alis yang mengkerut seolah bertanya, maksudnya apa?. "Jadi asisten pribadi." lajut Ricko, seperti menekankan ucapan nya di depan Bonanza.
"Iya bener, Rak ide bagus itu." Timpal Harry.
"Iya aku memang berniat memperkerjakan karyawan tapi tidak sekarang." Jawab Raksa masih tidak mengerti dengan keinginan sahabat-sahabatnya. "Apalagi harus memperkerjakan Bonanza, udah kekurangan uang jajan apa dia harus kerja bareng aku?"
Bonanza yang sedari tadi diam matanya hanya tertuju memperhatikan Raksa, masih diam seakan bingung untuk menanggapi ucapan Harry dan Ricko.
"Aku hanya ingin belajar dari mu." Ucap Bonanza memperlihatkan keseriusananya. "Caraku melihat hidup berubah, dan semua itu karna aku mengenal mu."
Ucapan Bonanza membuat pandangan tiga pria di dekatnya tertuju hanya pada dirinya, mereka bisa merasakan apa yang du ucapkan Bonanza yang sungguh-sungguh
"Aku juga, aku akan bekerja bersamamu kita wujudkan mimpimu mimpi kita besama." Harry juga tiba-tiba mengucapkan kata-kata yanng begitu mengejutkan Raksa. "Aku juga Rak." Lanjut Ricko juga.
Raksa merasa bingung harus bagaimana, karna Harry Ricko dan juga Bonanza mereka bukan berasal dari keluarga biasa, dan sekarang ingin bekerja dengan Raksa. Harry yang ayahnya juga punya prusahaan properti, Ricko yang anak tunggal dari pengusaha restoran yang sudah memiliki cabang dimana-mana, dan Bonanza dari mobil yang dia pakai saja sudah pasti diketahui kalou dia berasal dari kekuarga terpandang.
"Baiklah." Jawab Raksa akan permintaan ketiga teman nya, Harry, Ricko dan Bonanza yang secara tiba-tiba ingin berkerja padanya, lebih tepatnya mungkin membantu Raksa, karna kalou di sebut bekerja mereka jelas-jelas tidak memerlukannya pekerjaan.
"Kita mulai dari Nama kantor?" kata Bonanza.
"Itu yang ku bingungkan." balas Raksa.
"Raksa jaya mandiri." Guyon Ricko, sedikit meringan kan suasana dari tiga teman nya yang nampak serius memikirkan sebuah nama.
__ADS_1
"Copy right woy." Balas Harry, yang seperti sudah di ketahui nama itu adalah nama prusahaan properti terbesar di negri ini yang tak lain Propat Jaya Mandiri milik ayahnya Niana.
"Lagian kalian serius amat." Timpal Ricko lagi, "Cari nama yang gampang-gampang aja, yang mudah di ingat."
Raksa mengangguk-nganggukan kepalanya mencerna perkataan Raksa, "Iya tapi apa?" ucap Raksa.
"Raksa Darma Development." Udah lah itu aja.
"Jangan pakai nama ku," Bantah Raksa, "Bukannya sedikit mirip dengan nama prusahaan Investasi? tapi aku tidak punya usul lain."
"Salah mu sendiri namamu Raksa." timpal Ricko.
"Rain Darma Development, Itu saja." kata Raksa, yang kemudian dipertanyakan kenapa nama dengan nama depan nya nya harus rain?, "Rain, karna seseorang yang ku kagumi sangat me yukai hujan. Dan hujan adalah sumber pemberi kehidupan yang berarti sumber rezeki,"
"Baiklah pix." Tanggap Ricko dan Harry, namun tidak dengan Bonanza yang mengangguk samar. Pikiran Bonanza masih mencerna dalam ucapan Rakasa, seseorang yang ku kagumi sangat menyukai hujan, Pikirnya itu pasti gadis impian Raksa yang di ceritakan Ricko tadi.
Obralan serius di mulai dari ke empat orang yang tengah duduk di atas tikar lantai 2 ruko milik Raksa, yang akan jadi tempat berdiri kantornya.
"Satu hal yang perlu aku ingatkan pada kalian, kita harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dengan kuliah. Kita harus saling mensupot dan menopang dalam semua yang kita lakukan." Turur raksa, yang tidak ingin pekerjaan mengambil alih semuanya nantinya termasuk dalam urusan menimba ilmu, karena tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Waloupun banyak orang yang sukses tanpa kuliah, atou mencari ilmu itu bisa di mana saja. Kalou bisa kuliah kenapa tidak? Kiluah selain untuk mencari ilmu, tapi sebuah gelar atou izasah bisa di jadikan infestasi nantinya.
"Iya dan langkah awal sekarang adalah promosi dan penjualan." jawab Raksa. "Kita perlu biaya banyak untuk merekrut karyawan baru dan untuk fasilitas kantor ini, jadi mulai besok kita bisa mulai dengan penjualan pertama kalian."
"Oke, kita bisa.." Jawab Ricko Hary dan Bonanza.
Lanjut mereka membahas tetang konsep bisnis yang akan mereka mulai. Seperti tujuan Raksa yang ingin memgembangkan bisnisnya tidak hanya jadi agent properti tapi untuk sampai mempunyai prusahaan develover sendiri, dengan semua konsep bisnis yang sedang mereka tentukan.
***
Rerdengar suara teriakan dari lantai 1 Ruko, di sela Raksa, Harry juga Bonanza yang masih membahas mengenai konsep dan rencana mereka sementara Ricko tadi pamit ke toilet yang ada di lantai bawah.
"Suara tetiakan siapa itu?" tanya Raksa
"Palingan si Ricko liat kecoa, dia kan takut banget sama kecoa." tangkas Harry.
__ADS_1
"Tapi itu teriakan cewek Harr." Bonanza ikut mempertanyakan.
"Aku prikasa dulu." Raksa beranjak lalu menuruni tangga mecari sumber suara triakan yang terdengar dari bawah. Suara teriakan sudah tidak terdengar lagi, tapi terdengar keributan dari arah toilet.
"Kalian kenapa?" tanya Raksa, tang melihat sumber kributan itu dari Karin dan Ricko.
"Gak tau ni Rak, cewek cerewet ini heboh banget." Jelas Ricko.
"Kamu ngapain cuma pake kolor." Raksa, mencerca Ricko dengan pandangannya. "Mesum kamu ya, mau ngapain Karin kamu?" Karin langsung lari bersembunyu di belakang Raksa dengan sebuah rantang makanan yang dia pegang.
"Ih amit-amit, cewek ini aja yang sewot tadi aku mau bok***er. Airnya habis, aku keluar buat nyari kran air udah terlanjur lepas celama. Cewek ini aja yang bar-bar cari perhatia." Jelas Ricko, yang medapat respon tawa dari teman-teman nya di sana.
"Kamu Karin ngapain di sini?" tanya Raksa pada Karin yang mulai keluar dari punggung Raksa persembunyian nya.
"Jelas dia mau ngintipin aku tadi." Sela Ricko, yang langsung mendapan protes dari Karin gadis imut sahabat Raksa itu.
"Enak saja!"Bantah karin. "Aku kesini mau nganterin makanan buat kamu, di suruh ibu. Kamu kan dari tadi belum makan!"
"Terus kenapa kamu di toilet kalo bukan mau ngintip, udah lah gak usah ngelak, ody kuh ini memang udah aduhay. Ngomong aja kalo pengen liat gak perlu ngumpet-ngumper." Kata Rocko dengan pd nya.
Karin menghunuskan tajam matanya, mengangkat rantang di tangan nya seperti akan ia lemparkan pada Ricko.. "Ee ee e, Katanya ini makanan buat ku. Sini." Raksa menggambil alih rantang makanan yang hampir mendarat di kepala Ricko.
"Habisnya teman mu ini sangat menyebalkan. Aku baru pertama kali kesini, jadi aku tadi nyari kamu, mana tau aku nyari kamu sampe ke toilet."
"Udah-Udah, kalo gitu ayo ke atas, kita ngobrol-ngobrol. Karin juga kan akan kerja di sini akan jadi partner kamu juga Rick."
"Partner, sama si cewe cerewet ini. Mending jangan deh Rak, cari pegawai lain saja." bantah Ricko.
"Lagian siapa juga yang mau kerja bareng kamu." Bantah karin juga, "Udah lah aku pulang!"
"Tuh kan Rick, Karin jadinya nganbek." Ricko hanya mencebik.
Harry, Ricko, Bonanza dan juga karin, menjadi karyawan pertama Rakasa, tepatnya parter kerja. Tapi waloupun ketiga teman nya tidak sepenuhnya memerlukan bayaran, yang nian awal mereka hanya menbantu. Raksa bersikap profesional dengan membayar gasil kerja mera.
__ADS_1
Bayaran pertama Harry, dan Ricko mereka sikapi denfan rasa gembira untuk pertama kalinya mendapat uang hasil usaha mereka sendiri, walou sedikot tapi rasanya sangat penuh arti.
Raksa sangat lebih dari terbantu oleh sahabat-sahabatnya, berkat mereka usahanya semakin berkembang.