
Niana Rainara Wijaya..
Seorang Gadis yang saat ini terduduk di sofa kamarnya dekat jendela kaca yang menampakan halaman depan dengan terdengar kicouan buruk beraneka ragam peliharaan sang kake. Ia tampak risou dengan pikiran nya, menunggu seseorang menghubunginya. Berkali kali ia melirik ponsel di genggaman nya.
Sedah hampir setengah hari Raksa belum juga menghubunginya, hawatir terjadi apa-apa? Ya tentu saja, tapi ia berusaha tidak berpikir yang negatif. Getaran ponselnya mulai terasa, dengan segera ia menggeser tombol hijou di layar tanpa melihat siapa yang mengubungi nya, ia langsung menempelkan ponsen itu di telinganya.
"Kenapa baru meng hubungi ku?" ucap nya cepat.
"Maafkan ayah sayang, Ayah baru bisa menghubungi mu," ucap sang ayah di balik telepon, yang ternyata itu bukan panggilan dari Raksa.
"Ayah," ucap Niana melemas.
"Iya Ayah, kamu kira siapa? Siapa yang kamu tunggu menelpon mu?" pertanyaan ayahnya, yang sudah bisa mendungga kalou Niana sedang menunggu seseorang menghububgi nya.
"Tidak ada ayah," elak Niana.
"Ayah akan menjemput mu, sekarang ayah sedang dalam perjalanan." Niqna sidikit kaget.
"Jemput? jemput aku kemana?" tanya Niana.
"Tentu saja pulang,"
"Pulang ke jakarta atou ke Amerika?" tanya Niana.
"Tentu saja ke rumah kita, Kalou kamu tidaj ingin melanjutakan pendidikan mu ayah tidak akan memaksa sekarang," jawab sang ayah.
"Baiklah ayah, hati-hati," panggilan telepon pun terputus, Niana menghembuskan nafas kecewa, pikiran nya kembali di buat menerka-nerka, Apa Raksa lupa menghubungi ku?
Ponselnya kembali bergetar, Niana kembali mengangkat ponselnya, namun yang tetlihat di layar kali ini adalah Nama Karin. Gadis itu kembali berdecak kecewa, tapi setidaknya ia bisa menanyakan nya pada Karin, "Haloo Karin, kalian sudah sampai dengan selamat?"
"Kami sudah sampai beberapa jam lalu, Kamu pasti menunggu Raksa menghubungi mu ya?" tanya Karin. "Aku kira dia sudah menghubungi mu, ternyata hp nya ketinggalan, tadi dia langsung ke kantornya."
"Oh, aku pikir dia lupa," tanggap Niana.
"Dia tidak akan lupa, mungkin dia bingung bagaimana menghubungi mu, dia kan baru tau nomor kamu pasti belum hapal. Jangan marah padanya," jelas Karin, akhirnya Niana sedikit lega dengan penjelasan Karin, pikiran-pikiran negatifnya pun sudah terhempas jauh.
Beberapa jam kemudian mobil sang ayah sampai di halaman luas rumah kakenya, ayahnya datang hanya berdua dengan supirnya.
"Ayah mu sudah datang?" tanya kake Romi, setelah mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.
Niana, bergegas membukan pintu untuk ayahnya. Aga langsung menghampiri mertuanya yang tengah duduk menikmati secangkir teh hangat nya, "Papa sehat?"
__ADS_1
"Tentu saja, kamu bisa lihat aku tidak terlihat sakit," jawab cetus kake Romi, seperti biasanya.
"Hanna bekerja?" tanya Ayah Aga basa basi.
"Iya," jawab singkat kake Romi.
"Aku membawaka papa oleh-oleh, jam tangan dari swiss. Untuk menambah koleksi papa?" Aga menaruh boodybag di atas meja depan mertuanya.
"Aku sudah tidak suka jam tangan,"jawab sinis kake Romi, "Jangan menyogok ku dengan barang-barang mewah."
"Papa marah padaku?" tanya ayah Aga risou.
"Untuk apa?" jawab nya.
"Kake ayah kan sengaja bawa hadiah untuk kake, kenapa kake tidak terima?" bujuk Niana.
"Karena dia mau memisahkan kake dengan cucu kake," cebik kake Romi, pria yang sudah berusia senja itu merajuk nampak seperti anak kecil yang harus di bujuk jika sedang marah.
"Kalou kake gak mau Niana pulang, Niana gak akan pulang," bujuk Niana menggenggam tangan kakenya. "Kake jangan marah sama ayah."
"Pa, tapi Niana harus pulang." ucap Aga.
"Sudah cukup kamu mengambil putriku, sekarang kamu mau menjauhkan ku lagi dari cucu kesayangan ku," Kake Romi beranjak dari duduk nya pergi masuk kedalam kamarnya, sungguh seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Kita tunggu tante Hanna saja yah, tante Hanna yang bisa bujuk kake," Ayah Aga mengangguk, ia harus mengerti bagai mana kondisi mertuanya. Kake Niana itu pasti sangat kesepian, terlebih kesedihan setelah kepergian putri tertuanya, ibunya Niana tidak akan pernah hilang.
"Ayah harus mengerti ke adaan kake," Niana tersenyum, mendengar gerutuan sang ayah.
***
Ternyata benar hanya tante Hanna yang bisa membujuk kake Romi, akhirnya Niana di ijinkan untuk pulang bersama ayahnya. Niana mulai mem packing barang-barang nya. Suara ketukan pintu terdengar berkali-kali di depan, Niana mengabaikan nya karna mungkin tante Hanna yang akan membuka nya.
"Na tolong buka pintunya!" seru tante Hanna, karna sudah selesai memasukan semua barang yang akan dia kedalam koper, Niana dengen segera menari resletin menutup kopernya, kemudian bergegas menuju pintu depan.
suara ketukan pintu tak henti terdengar, orang di depan seakan tak sabar menunggu. "Seben---" suara Niana tertahan, setelah melihat sosok pemuda yang tampak dengan wajah panik di depan pintu. "Aksa?"
"Maafkan aku," Raksa segera meraih kedua bahu Niana, ucapan nya tampak panik. "Tolong jangan marah, aku tidak bermaksud lupa menghubungimu."
"Siapa yang marah?" tanya Niana.
"Kamu," ucap Raksa.
"Aku tidak marah," Niana tersenyum heran.
__ADS_1
"Karin bilang kamu sangat marah padaku." jelas Raksa.
"Tidak. Justru dia bilang aku tidak boleh marah pada mu, karna hp mu ketinggalan jadi kamu tidak menghubungiku." Raksa mengangkan wajahnya, mengusap wajahnya lega.
"Karin!" kesalnya pada sahabatnya itu.
"Kamu kesini karena mengira aku marah padamu?" Niana menggekeng tersenyum heran.
"I, iya," jawab Raksa. "Karena aku takut kehilangan mu."
"Ayo masuk, nanti kita pulang bersama." Raksa melihat mobil yang terpakir di depan, "Kamu akan pulang?" tanya Raksa.
"Iya," Raksa mengekor Niana masuk kedalam rumah, ia sudah tau pasti ayah nya ada di dalam. Sedikit gugup, akan seperti apa sikap ayah Niana padanya, mengingat pertemuan mereka yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Siapa?" tanya Hanna.
"Raksa tante," semua mata di sana langsung tertuju pada pria di belakan Niana, Raksa dengan segera menyapa menyalami semua orang di sana.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Ayah Aga.
"Dia tamuku," sergah kake Romi, "Duduk Raksa," Raksa dengan segera duduk bergabung di sana.
"Baguslah kalou tamu papa. Niana sudah sangat sore ayo ambil kopermu," seru Aga.
"Maaf om apa Niana boleh pulang dengan ku?" pinta Raksa pada ayah Niana.
"Aku kesini sengaja menjemput putriku." tolak Aga. "Bukan nya kamu tamu nya papa, jadi silahkan saja selesakan urusan mu."
Raksa tertunduk pasrah, tidak mungkin ia bisa membantah perkataan sang colon mertua, he. "Biarkan saja, Niana pulang dengan Raksa. Dia pria baik, aku percaya padanya."
Niana dan Hanna tersenyu melihat ekspresi ayah Aga yang tidak bisa membantah setiap ucapan kake Romi. "Aku minta padamu tolong jaga cucuku," pinta kake Romi pada Raksa.
"Pasti kek," jawab Raksa semangat, namun Raksa melihat kesedihan di wajah kake Romi, ia mengingat cerita kake Romi kalou ia sangat kesepian sebelum ada Niana. "Kake nau ikut ke jakarta, kake bisa tinggal bersamaku?" tawar Raksa.
"Terimakasih, tapi kake tidak ingin meninggalkan rumah ini. Walou suatu saat Hanna akan menikah, dan kake tinggal sendiri di sini." jawab Kake Romi, Raksa sunggu tak tega mendengarnya.
"Kalou begitu aku akan sering mengunjungi kake," ucap Raksa kemudian melirik Aga, "Bersama Niana, kalou boleh."
"Pintar sekali kamu mengambil hati papa," cebik Aga.
"Raksa ini tulus Aga, tidak seperti mu mengambil hatiku hanya karna menginginkan putriku," ucap Kake Romi, ayah Aga dan Kake Romi sungguh dua lelaki dewasa yang seperti anak kecil kalou sedang d satukan, membuat semua orang di sana menahan tawa, apa lagi ayah Aga yang sangat tidak berkutik oleh setiap perkataan kake Romi.
"Dia juga ada niatnya, buat deketin cucu papa." jelas Aga.
__ADS_1
"Tapi Raksa berjanji akan sering mengunjungiku, beda dengan mu yang sangat sibuk. bahkan melupakan ku," kake Romi semakin memojokan ayah Aga, "Jangan pernah mengahalangi hubungan mereka."
"Ya sudah, Niana ayah tunggu di depan," Semua orang pun beranjak berdiri, Niana segera mengambil kopernya, lanjut menyusul ayahnya ke depan bersama Raksa, tante Hanna dan kakenya.