Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 63


__ADS_3

"Aku mau berhenti," ucap Bonanza. "Aku sudah cukup belajar banyak dari mu Raksa."


Raksa memang kaget mendengarnya, tapi sesuai ucapanya sebelum nya ia mempersilahkan Bonanza jika ingin keluar kapanpun dari prusahaan nya. Bantuan dari gadis itu, jadi ia harus bisa menerima keputusan gadis itu  "Tentu saja, Aku sudah sangat terbantu,"


"Maafkan aku, keluar saat Bumi Teduh belum selesai."


"Aku sudah sangat terbantu, justru aku sangat berterimakasih. Setidaknya, kamu masih memiliki saham di prusahaan ku aku tidak sepenuhnya kehilangan mu." jawab Raksa. "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Entah lah Raksa," Bonanza mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, berusaha kuat menatap pria di hadapan nya, "Aku juga mau jujur sesuatu padamu."


"Jujur apa?" Tanya Raksa tapi nampak tidak penasaran.


"Maafkan aku," kedua tangan Bonanza saling mencengkram erat. Berusaha mengympulkan segenap keberanian nya, "Aku diam-diam menyukaimu."


Raksa kaget, namun ia hanya menanggapinya dengan tawa ringan, "Jangan bercanda."


"Aku serius," Seru Bonanza, meninggikan suaranya. "jujur aku bekerja untuk mu, aku berusaha yang terbaik untuk prusahaan mu, belajar habis-habisan hal yang aku belum tau sebelum nya. Kanya karna aku menyukaimu."


Wajah Raksa nampak sangat kaget, bingung, kaget dengan pemuturan Bonanza yang dia dengar. Bingung harus menjawab apa dan bagai mana menanggapinya.


"Aku berharap kamu bisa menyukaiku, melihat usaha dan kerja kerasku. Aku berusaha sebaik nungkin, untuk menarik perhatian mu." Bibir Bonanza mengatup, menahan semua luapan jesedihannya, satu tetes air mata berhasil keluar dan segera ia sekat. Bonanza berusha tersenyum.


"Raksa, maafkan aku karna bekerja untukmu tidak tulus," jujur Bonanza, "hanya semata-mata mengharap balasan dari perasaan ku. Tapi aku sadar hatimu sudah milik wanita lain, aku akan berusaha sedikit demi sedikit membuang prasaan ku padamu. Aku tidak akan lagi sanggup bejerja untukmu, tidak akan sanggup melihatmu sementara ini."


"Maafkan aku Za," ucap Raksa, menatap sendu wajah Bonanza. Ia tidak menyadari bahwa selama ini telah menyakiti perasaan Bonanza.


"Kamu tidak salah, dan apa aku bisa memina sesuatu?" Raksa menggangguk akan permintaan Bonanza, "Jangan berubah dengan sikap mu padaku, aku hanya ingin jujur. Tetap anggap aku sahabatmu."


"Tentu saja, Kamu adalah salah satu sahabat terbaiku. Maaf kan aju jika selama ini menyakitimu," ucap Raksa.


"Tidak perlu minta maaf. Perasaan ku yang salah, tidak tau tempat yang tepat untuk melabuhkan nya," Bonanza tersenyum, setelah mengakui prasaan nya ia sungguh sangat merasa lega.

__ADS_1


"Suatu saat kamu akan menemukan tempat yang tepar untuk menyandarkan hatimu," jawab Raksa.


"Semoga saja masih ada pria baik sepertimu untuk ku."


"Akan ada yang lebih baik dan lebih tepat."


"Terimakasih, aku pergi." Bonanza pergi lebih dulu meninggalkan Raksa. Sakit, hatinya memang masih sakit tatkala melihat pria itu, melupakan memang bukanlah hal yang mudah. Tapi ia yakin menyembuhkan hatinya.


***


Sebuah gedung megah tinggi menjulang,  dengan terpampang logo prusahan Buildomer contuction. Bonanza menonggakan kepalanya, matanya mengedar melihat gudung tersebut. Gadis itu lanjut melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung perkantoran tetsebut.


"Apa anda sudah membuat janji?" Tanya seorang resrpsionis, setelah Bonanza mengatakan tujuan nya untuk bertemu CEO prusaaan tersebut.


"Ini kartu nama nya, dia menyuruhku untuk menemuinya. Bilang saja aku Bonanza ingin bertemu dengan nya," jawab Bonanza, resepsionis itu langsung melakukan sambungan telepon dan terdengar mengobrol dengan sekertaris bosnua, ribet sekali, kesal Bonanza.


"Mari mbak saya antar," tesepsionis itu menuntun jalan untuk Bonanza, selama dalam lipt menuju lantai tujuan nya, Bonanza sungguh berpikir ia jadi binbang kembali akan keputusan nya.


"Akhirnya anda datang juga,"


Ucap Daffin berdiri lanjut mempersilahkan duduk Bonanza. "Berubah pikiran dengan keputusan mu? Itu pilihan yang tepat, bertahan hanya akan membuatmu semakin terluka."


"Jangan bicara omong kosong," seru Bonanza. "Aku memang akan menerima tawaran mu, tapi ada banyak syarat yang ku ajukan,"


"Katakan saja,"


"Aku mau kebebasan bekerja di prusahaan ini seperti di prusahaan lamaku, karna aku masih kuliah," Daffin menganggu-nganggukan kepalanya, menunggu nyarat yang di inginkan Bonanza selanjutnya, "Tidak ada konyrak kerja, jabatan yang bagus dan gaji 10x lipat."


"Tidak ada kontrak kerja? Bagaimana bisa?" Bantah Daffin.


"Tenang saja aku akan bekeja sangat baik. Aku tidak suka di kekang," jelas Bonanza, "Tapi sebelum nya tolong katakan alasan mu menawariku perkerjaan ini?"

__ADS_1


"Baiklah, aku terima nyaratmu," jawab Daffin. "Alasan aku menawarimu pekerjaan ini karena kita sama, dan kita punya rasa sakit yang sama."


"Tapi aku bukan wanita yang mudah di manfaatkan, jangan coba memanfaatkan ku untuk kepentingan mu," tegas Bonanza. "Satu lagi jangan samakan aku dengan mu. Sekarang tunjukan ruangan ku."


Daffin tersenyum, melihat tipikal gadis di hadapan nya yang sungguh sangat langka bisa ia temui. "Sebaiknya kita minum kopi atou teh dulu, sembari menunggu ruangan mu di siapkan."


"Tapi aku mau jus mangga," pinta Bonanza.


"Baiklah-baiklah, jus mangga untuk mu," ucap Daffin, "Tenang saja aku sudah siap untuk sabar menghadapimu."


"Bagus, persiapkan dirimu dengan baik." ucap cuek Gadis itu, sungguh ia sangat pintar bersikap. "Sebenarnya aku bisa saja dengan mudah memberimu uang 2 milyar itu."


"Lalu?"  Daffin mengerutkan dahinya.


"Aku ingin menyibukan diri," ucap Bobanza benar, setidaknya jika ia bekerja ia bisa segera move on, tidak tetingat Raksa.


"Bukannya sebelum nya kamu bekerja?"


"I iya, tapi aku ingin menyibukan diri dengan suasa baru yang berbeda," jawab pintar Bonanza.


Daffin mengangguk-ngangguk, "Ada lagi yang mau kamu pesan?"


"Emph," Bonanza berpikir, "Aku mau mi ayam, burger juga."


"Merepotkan sekali," grutu Daffin pelan namun Bonanza bisa mendengarnya, dan gadis itu hanya tersenyum menang. "Aku keluar sebentar, tunggu disinibdenga nyaman," Bonanza mengangguk.


Jangan anggap remeh Aku, batin Bonanza, lanjut beranjak melihat-lihat ruangan Daffin. "Sepertinya aku akan senang bekerja di sini."


Bonanza memposisikn tubuhnya dengan nyaman di sofa yang terdapat di ruangan tersebut. Tidak berapa lama makanan dan minuman yang tadi ia pesan pada Daffin sudah dayang di antar OB..


"Apa aku hanya makan sendiri?" ucap Bonanza dan dengan cueknya ia kangsunf melahap makanan nya. Daffin juga sudah kembali keruangan nya, melihat Bonanza yang lahap makan meski sudah melihat nya tapi Bonanza acuh tidak menawariny, walou sekedar basa-basi.

__ADS_1


Enak sekali dia makan tidak menawariku, ya waloupun hanya basa basi. Apa dia lupa sekarang aku bos nya?. gerutu Daffin dalam batinya, sunggu ia sangat di buat kesal oleh Bonanza, tapi bagai mana lagi ia harus lebih betsabar menghadapi gadis itu.


__ADS_2