Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 59


__ADS_3

Sejuk udara pagi terasa menelusuk, seiring dengan biasan cahaya yang semakin menerangi setiap inci permukaan bumi juga menyusupi tiap-tiap ruang yang bisa di gapainya. Sepagi ini Niana sudah berkutat di dapur utama, di bantu oleh para juru masak di rumahnya, memperaktekan apa yang sudah ia pelajari dari ibu safira.


Gadis itu nampak senang dengan apa yang ia kerjakan, dan sepertinya memasak akan menjadi hobi barunya. Menu utama yang dia buar yaikni, sup ikan kakap segar asam manis.


Niana melakukan sep by step dengan rinci, ya waloupun masih sedikit berantakan. Dengan rambut di kuncir kuda dan apron membalut tubuhnya gadis itu nampak serius dengan pekerjaan nya. "Nona tunggu saja di kamar, biar saya yang melanjutkan," pinta seorang juru masak yang bernama Airin. Di rumah Niana setiap pekerja memang memiliki tugasnya masing-masing, untuk memasak pun, mereka memperkerjakan juru masak handal class restoran.


"Menunggu itu membosan kan. Aku ingin mencoba memperaktekan hasil belajarku, beri tau aku kalou ada yang salah."


"Nona ikut kelas memasak?" tanya Airin.


"Aku belajar dari orang yang sangat pandai memasak, shef terhebat di seluruh dunia," jawab Niana.


"Benarkah, dengan siapa nona?" Tanya penasaran Airin yang menemani Niana memasak.


"Seorang ibu," jawab Niana. "Aku belajar dari seorang ibu yang hebat, menurutku masakan shef dunia pun kalah dengan masakan para ibu yang memasak dengan penuh kasih sayang untuk keluarganya."


"Iya benar juga nona, saya juga sama menurut saya masakan ibu saya yang paling lezat." tanggap Airin, yang dengan seksama memperhatikan Niana dan memberitahunya apabila gadis itu membuat kesalahan, seperti Niana yang masih belum bisa membedakan yang mana garam dan yang mana gula, maklum saja seorang princes yang baru kali ini masuk dapur.


"Benar kan," jelas Niana. Seiring dengan supnya yang sudah matang, namun ia sangat ragu untuk mencobanya.


"Nona masak banyak sekali?" tanya Airin sembari membantu Niana memilihkan wadah yang tepat untuk supnya.


"Aku membuatnya untuk beberapa orang dan aku ingin ayah makan banyak pagi ini, waloupun dia biasa nya sarapan toti tapi semoga dia suka," ucapnya. "Coba cicipi apa ini enak?"


"Ini enak Nona," puji Airin. "Sup yang lezat dan segar, saya yakin orang sakit pun akan langsung sembuh bila makan ini."


"Benarkah, rasanya tida buruk?" Niana ikut mencicipi masakan nya, memastikan yang di ucapkan Airin bukan hanya untuk menghiburnya. Dan masakan nya itu memang lezat.


Beberapa menu sudah tersaji di meja makan yang di sajikan dan di tata oleh peramu saji di rumah Niana, sementara shef yang memasak semua masakan lezat pagi ini tengah bersiap di kamarnya, selain memasak untuk ayah nya gadis itu juga berniat membawakan nya untuk Raksa ke kantornya.


"Sudah berangkat ke kantor?" Niana memastikan, mengirim pesan pada Raksa.


"Aku sudah di kantor Dream Girl," balasan Raksa.


"Pagi-pagi sekali?" tanya Niana lagi pesan nya. "Sudah sarapan?"


"Pekerjaan tidak bisa menunggu," balas Raksa. "Belum, sebentar lagi."


"Aku bawakan sarapan, tadi aku sudah masak." balasan terakhir Niana, sudah bisa di pastikan orang yang menerima pesan nya ini sedang sangat senang.


Selesai menemani ayahnya sarapan, setelah ayahnya berangkat bekerja Niana langsung pergi ke kantor Raksa, di temani Maya yang sudah mulai di tugaskan kembali menjaga dan menemani Niana.

__ADS_1


Sesampainya di kantor berlantai dua itu, Niana langsung membawa tas berisi rantang makanan untuk seseorang yang sedang menantinya di ruangan utama kator ini. Semua orang yang berpapasan dengan Niana menyapa nya dengan hormat, rasa heran semua mata melihat Niana yang di buntuti seorang wanita berwajah tegas dengan gaya ala bodyguard wanita yang tak lain adalah Maya. Seperti biasa Maya takan membiarkan jarak lebih dari satu meter dengan Nona mudanya itu.


Niana membuka bekal makanan yang dia bawa menatanya di atas meja sofa ruangan Raksa, "Banyak sekali?" tanya Raksa, melihat makanan yang tak mungkin ia makan sendiri.


"Buat berjaga-jaga siapa tau temen-temen kamu mau ikut makan,"


"Emh... sebentar aku haru memeriksa ini sedikit lagi," ucap Raksa, sembari membuka lembar demi lembar berkas di tangan nya.


"Aku suapi saja," tawar Niana, jelas sangat di anggukan oleh Raksa.


"Maaf Nona, itu tidak boleh. Aturan baru dari tuan, Nona dan tuan Raksa harus menjaga jarak," sela Maya, Niana dan Raksa langsung melihat Maya heran.


"Kenapa begitu?" tanya Niana heran, "Lagi pula ayah tidak akan tau kan."


"Maaf Nona tapi saya hanya menjalankan tugas,"


Raksa hanya menghela nafas dan tersenyum, sementara Niana menggeleng kepala di akhiri tepukan di jidat nya, pertinya sekarang ada kucing penjaga yang siap sedia mengawasi mereka. "Jangan panggil aku tuan Maya, panggil Raksa saja, aku geli sekaki mendengarnya." pinta Raksa. "Ayo ikut sarapan Maya."


"Terimakasih. Anda sekarang sudah menjadi tuan muda kami, sudah sewajarnya saya memanggil anda tuan," tolak Maya. Raksa hanya menggeleng dengan memakan makanan yang sudah di siapkan Niana.


"Ini sudah seperti di drama-drama korea saja," gumam Raksa.


"Panggil saja dia bapak Maya," ucap Niana di iringi tawa geli.


"Setelah Alea dan Alia pulang sekolah, besok kan akhir pekan sekalian kita ajak mereka liburan." jawab Raksa, "Besok juga hari ulang tahun mereka."


"Benar kah? kenapa baru memberi tahuku,"


"Jangan pikirkan, mereka tidak mengharapkan kado. Mereka hanya meminta ingin jalan-jalan bersamamu di hari ulang tahun mereka," ucap Raksa, "Apa kamu sudah mendapar ijin dari ayah mu?"


"Sudah tenang saja,"


Flash Back On...


Ayah Aga sudah terlihat Rapih dengan stelan jas membalut tubuhnya, semua pekerja yang berpapasan dengan nya menyapa bos besar di rumah itu. Ayah Aga selalu bersikap baik dan ramah kepada setiap orang, membuat semua yang bekerja di rumah nya betah bekerja di sana.


"Pak Danu, saya harus segera berangkat ke kantor. Tolong sampaikan pada Niana saya tidak bisa menemaninya sarapan," pesan ayah Aga pada kepala pelayan di rumah ini. Pak Danu mengabdikan diri paling lama bekerja di rumah megah itu, ia juga yang merawat Niana sejak kecil dan sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri.


"Tapi tuan, Nona sudah memasak banyak untuk sarapan anda," jelas pak Danu.


"Niana? Memasak?" tanya heran Aga.

__ADS_1


"Iya, nona memasak dari pagi sekali,"


Aga mengangkat tangan nya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya, lanjut membelokan tujuan nya melangkah menuju ruang makan "Sejak kapan anak itu belajar masak?"


Mata Aga sungguh di buat heran, ia tak percaya semua masakan yang tersaji di atas meja adalah masakan putri manjanya. Pria paruh baya itu pun langsung mendudukan tubuhnya di depan meja makan panjang dengan hidangan lezat di atasnya.


Tidak berapa lama Niana ikut bergabung di meja makan, "Selamat pagi ayah." Tegur Niana, lanjut mengambil piring sang ayah mengisinya dengan nasi dan lauk pauk tidak lupa Niana menuangkan sup di mangkuk kecil untuk ayahnya.


"Kamu sudah tidak marah pada Ayah?" tanya Aga, Niana hanya menjawabnya dengan senyuman, ayah Aga langsung menyantap makanan nya. Niana memperhatikan ekspresi sang ayah dengan seksama. "Enak sekali, apa selama di Amerika kamu belajar masak?"


"Aku belajar masak kemarin denganĀ  ibu Safira," jawab Niana, "Habiskan Ayah, makan yang banyak," pinta Niana dengan tersenyum.


"Siapa ibu Safira?" tanya Ayah Aga dengan tak henti menyendok makanan kedalam mulutnya.


"Ibunya Raksa,"


"Jadi selama kabur dari Ayah kamu belajar masak juga?" tebak ayah Aga, yang di cebikan oleh Niana. "Tapi baguslah, setidaknya tidak hanya pacaran dengan si Raksa itu."


"Ayah bicara apa?" Protes Niana, "Tapi ini sema tidak geratis ya Ayah."


Ucapan terakhir Niana di pertanyakan oleh ayah Aga, apa maksudnya tidak gratis?


"Ayah harus mengijinkan aku pergi ke bandung hari ini," jelas Niana.


"Tentu boleh, Maya dan supir mu bisa mengantar mu." Jawab Ayahnya.


"Dengan Raksa!" jelas Niana lagi, yang membuat Ayahnya sedikit tersedak karena kaget.


"Tidak boleh," Niana langsung mencebik ngambek.


"Tapi kenapa?"


"Kamu itu anak gadis. Jangan karna ayah selama ini diam saja lalu kalian bisa pergi kemanapun seenaknya?"


"Ayah tidak percaya pada Raksa?" tanya Niana heran, "Bukan nya ayah sendiri yang bilang dia pria baik? Aku tidak hanya pergi dengan Raksa tapi dengan ibu nya juga."


"Baiklah tapi ini yang terakhir kali, dan Maya akan menemanimu kalian nail mobil yang berbeda."


"Sama saja bohong ayah," protes Niana. "Aku pergi ke bandung dengan Raksa dan ibunya, Maya juga ikut menemanuku. Satu mobil."


"Baiklah, tapi ini yang terakhir."

__ADS_1


Flashback Of...


__ADS_2