Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 46


__ADS_3

Visual nya duluan ya!



Assalamualaikum.. Sedikit info!!


**Buat teman-teman yang sedikitnya mengikuti cerita ini dari awal. Saya memohon maaf karna ada banyaknya perubahan cerita.


Mungkin teman-teman bisa membacanya dari awal lagi jika berkenan..


Dijamin ceritanya jadi makin seru!!


Terimakasih, buat yang sudah setia bersama Gadis Impian!!!


.


.


.


.Next lanjut baca**!!!


Pukul 21:30 mereka berempat sampai di kediaman kake Niana, Raksa tidak lupa membelikan martabak telor pesanan kake Niana. Yang membukakan pintu kali ini adalah tante Niana, tante Hana.


"Kake sudah tidur tante?" tanya Niana pada tantenya.


"Belum kake kamu masih nonton tv, masih nungguin kamu!" jawab tante Hanna, wanita yang masih sangat cantik dan masih single di usianya yang sudah 37 tahun. "Ayo semuanya masuk!"


Merekapun menemui kake Niana di ruang keluarga yang tadi sedang menonton tv, namun kake Niana matanya sudah terpejam karna sudah tak kuat menahan kantuk.


"Bangun Kek," Niana dengan pelan membangunkan kakenya, "Kalo mau bobo jangan di sini!"


"Kake ngak tidur," ucap kakenya setelah membuka kedua matanya, sedikit mengerjap untuk memastikan siapa saja yang ia lihat. "Kalian dari mana saja!"


"Maaf ya, kake jadi nungguin sampe letiduran di sini!" ucap Niana tersenyum, mengelus lengan kakenya.


"Saya minta maaf pulangnya sedikit malam. Ini pesanan kake!" Raksa mengasongkan bungkusan yang berisikan martabak yang masih hangat, "Di makam ya kek, masih hangat. Saya dan Ricko pamit pulang ke Villa."


"Sudah malam, apa kalian tidak bermalam di sini saja?" tawar tante Hanna.


"Tidak enak tante, kami balik ke villa saja!" tolak Raksa.


"Terimakasih buat oleh-olehnya. Iya ini sudah malam, kalian bisa bermalam di sini saja!" tawar Kake Niana.

__ADS_1


"Apa boleh kek?" tanya Raksa.


"Asal jaga jarak dengan cucuku dan juga Karin!" syarat Kake Romi, kake Niana.


"Iya menginap saja disini, masih banyak kamar kosong!" timpa tante Hanna lagi.


"Tentu saja kek akan aku pastikan Ricko tidak akan dekar-dekat dengan Karin. Kami memang sangat lelah, kalou tidak apa-apa kami akan menginap di sini saja malam ini!" jawab Raksa tidak berbohong,


ia memang sangat lelah.


"Lelah, jangan di jadikan alasan modus!" bisik Karin.


****


Saat semua orang sudah bersiap untuk tidur, Niana masih sibuk membersihakan diri di kamar mandi setelah bergantian dengan Karin menggunakan kamar mandi di kamarnya. Gadis itu dengan rileks berendam air hangat di bathup.


Setelah sekitar setengah jam berendam Niana beranjak memakai jubah mandi lanjut mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer. Saat ia keluar kamar seseorang membuatnya terkejut dan hampir berteriak. Siapa lagi kalou bukan Raksa, sudah berada di kamar Niana, dengan segera Raksa menangkup mulut Niana agar tidak berteriak.


"Kamu ngapain di sini?" protes Niana.


"Salah kamu sendiri, tadi kamu terus membuang muka dariku. Aku hanya masih ingin melihat mu sebelum aku tidur!" jawab Raksa dengan santainya.


Raksa melirik tubuh Niana yang masih berbalut jubah mandi, sesuatu seakan tetahan di tenggorokan nya membuat nya susah payah menelan salivanya sendiri. Niana dengan segera menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan nya.


"Maafkan aku," Raksa dengan segera berbalik badan agar ia bisa menyembunyikan pandangan nya, untuk tidak memikirkan hal yang tidak terkendaki. "Cepat ganti bajumu, aku tidak akan mengintip!"


"Keluar sana!" usir Niana. "Kalou kake dan tante tau kamu disini bagai mana?"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Setelah itu akan pergi!" Raksa masih membelakangi Niana. "Cepat pakai baju mu, walou bagaimanapun aku pria Normal!"


Niana mencebik kesal, dengan segera ia mengambil baju lalu kembali masuk ke kamar mandi tidak mungkin ia mengganti baju di sana, walou Raksa sudah berbalik badan tapi bisa saja Rakasa diam-diam melihat.


Beberapa saat kemudian Niana keluar dari kamar mandi sudah dengan menggunakan piyama, dengan rambut terkuncir. Sementara Raksa sudah duduk santai di atas ranjang Niana.


"Mau ngomong apa?" to the poin Niana, ikut duduk di samping Raksa. Namun Raksa hanya terdiam. "Aksa!"


"Hemmp," jawab Raksa masih memandangi Niana, seakan menikmati setiap lekuk wajah Niana dengan penglihatannya.


"Lalu Karin dimana?"


"Mungkin sedang bersama Ricko!" jawab singkat Raksa, tanpa beralih posisi yang masih asik memandangi Niana.


"Kamu lupa apa kata kake tadi?" protes Niana yang tidak di dengar oleh Raksa, "buruan mau ngomong apa? habis itu kamu pergi!"

__ADS_1


"Besok aku harus balik ke jakarta, aku hanya ingin melihat mu lebih lama malam ini." jawab Raksa.


"Tapi-"


"Sebentar saja Niana!" ucap Raksa memotong ucapan Niana. Niana mengangguk, Raksa meraih kedua tangan Niana dengan sepasang matanya tak henti tertuju pada sepasang mata gadis cantik di depan nya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Raksa, yang di jawab anggukan oleh Niana. "Kenapa kamu bisa disini? Bukan nya kamu waktu itu berangkat ke Amerika?"


"Yang pasti kamu sudah melihat aku di sini Aksa, aku hanya rindu dengan kakeku dan ingin menenangkan diri di sini!" jawab Niana.


"Kuliah mu?"


"Entah lah, aku ingin di sini dulu!" jawab Niana.


"Kamu memang lebih baik di sini bersama kake mu. Dia kesepian, dan sangat senang ada cucunya di sini!" ucap Raksa.


"Iya, aku juga senang di sini!"


"Aku akan sering-sering mengunjungimu di sini!" tangan Raksa beralih membelai pipi gadis itu, sentuhan nya kembali membuat Niana tersipu.


"Aku mencintaumu!" Raut wajah Raksa berubah serius menatap lekat Niana, tak di pungkiri gadis di hadapan nya adalah pusat dunianya saat ini. setiap detail wajah Niana tak luput dari pandangan Raksa. Matanya, hidungnya, bibir tipis berwarna merah muda yang menampakan belahan nya juga menjadi daya tarik utamanya saat ini.


Pelan dan pasti Raksa semakin mendekatkan wajahnya. Niana telihat tegang dengan hembusan nafas Raksa yang sudah semakin terasa mendekati wajahnya.


Dua senti.. Wajah Raksa berhenti mendekat, seakan memberi waktu untuk Niana menolak dan menghindar. Namun tatapan Raksa seakan ikut menarik Niana ikut menginginkan nya, Niana seketika memejamkan matanya.


Raksa menyakup tekuk Niana, bibir mereka bersentuhan, sentuhan bibir lembut, hangat dan kenyal. Jantung Raksa berdetak tak karuan, tapi ia berusaha tenang melakukan nya dengan lembut. Sentuhan yang baru pertama kali mereka rasakan. Dengan pelan ia membuka mulut menyusi bibir bawah Niana mengg*lum dengan lembut, mel*mat dan meng*gitnya pelan, menikmati kenyalnya bibir manis Niana.


Lid*h nya perlahan dan pasti mulai menyeruak masuk. Mengesplor kehangatan rongga mu*lut Niana, menyesap menggulum dan memangg*tnya di dalam. Niana sudah mulai nyaman dengan ciuman Raksa, gadis ity mulai membalasnya, nafas mereka semakin memburu. Raksa sedikit memperdalam ciuman nya, menejelajahi hanyatnya ronga mulut Niana dan saling bertukar saliva, saling menyesap rasa manis.


Sungguh sulit untuk mengakhirinya. Namun Raksa tidak ingin semakin tak terkendali, merekapun menhentikan aktivitas nya.


"Maafkan aku!" ucap Raksa karna tidak bisa mengendalikan diri, mengusap lembut bibir Niana dengan ibu jarinya mengeringkan bibir Niana yang masih basah bekas salivanya.


Cup.. Satu kecupan lembut mendarat di puncak kening Niana, "Tidurlah yang nyenyak malam ini." Raksa beranjak akan pergi.


"Sebentar, aku pastikan dulu di luar tidak ada siapa-siapa," Niana ikut berdiri dari duduknya, ikut memastikan di depan tidak ada kake atou tantenya.


Niana di ikuti Raksa di belakangnya, sudah akan membuka pintu kamarnya untuk memastikan Raksa agar bisa keluar. Namun belum sampai Niana meraih hendel pintu, suara ketukan terdengar dari balik pintu.


"Niana, kamu bicara sama siapa?" tanya tante Hanna yang sudah membuka pintu, dan syukurnya Raksa dengan repleks bersembunyi di balik pintu. "Karin tadi masih nonton tv katanya belum ngantukp, kamu bicara sama siapa?" selidik tante Hanna mengedarkan pandangan nya ke semua sudut kamar.


"Tadi Niana ngobrol di telepon tante," elak Niana. "Ini Niana juga mau nyamperin Karin." Niana dengan segera menari tantenya keluar kamarnya, menuju ruang keluarga tempat Karin.

__ADS_1


Sementara Raksa mengelus dadanya, dengan hembusan nafas lega. Coba saja kalou tante Hanna datang pas tadi saat sedang ciuman mereka, apa yang akan terjadi?


__ADS_2