
Niana masih terbaring di tempat tidur nya, matanya sudah terbuka di antara wajahnya yang pucat. Gadis itu menyadari seseorang yang memasuki kamarnya, membuat pandangan nya beralih pada seorang pria yang menuju ke arah nya, "Aksa!"
"Sudah jangan banyak bergerak," Raksa mahan Niana yang akan beranjak dari tidurnya. "Berbaring saja."
"Tapi aku mau duduk," Raksa dengan segera membantu Niana duduk bersandar ke kepala tempat tidur. "Maafkan aku menyusahkan mu."
"Jangan bicara seperti itu, aku yang minta maaf. Aku terlalu sibuk mengejar kesuksesan ku, sampai banyak melupakan mu," Raksa meraih tangan Niana, menggenggam nya erat. "Banyak hal yang belum aku tau tentang mu, aku bahkan tidak tau kamu mengalami trauma terhadap sebuah kecelakaan."
"Kamu tau dari mana?"
"Tadi kata Maya," ucap Raksa masih menggenggam tangan Niana.
"Maya bilang apa saja?" dalam hati Niana sangat kawatir dengan apa yang sudah Raksa dengar dari Maya.
"Dia bilang tentang trauma mu. Karena kamu pernah mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah."
"Tidak ada lagi?" tanya Niana memastikan. Apa Maya juga bilang ini hari ulang tahun ku? batin Niana.
"Tidak, Apa ada hal lain yang belum Maya sampaikan padaku?" balik tanya Raksa.
"Tidak.. tidak ada." jawab Niana cepat. Ia sangat lega Maya tidak memberitahukan lebih pada Raksa.
"Boleh aku minta sesuatu? Tolong beritau aku apapun tetang kamu yang belum aku tau, bahkan hal terburuk sealipun," Niana tersentak dengan ucapan Raksa, gadis itu hanya mengangguk samar.
Apa kamu masih akan menerimaku? Setelah tau kebenaran yang terburuk itu? Kalo aku penyebab kepergian Ayahmu?. Batin Niana.
__ADS_1
Tanpa di sadari air matanya kembai menetes, yang segera ia hapus sendiri "Maaf aku hanya terharu dengan ucapanmu, kamu selalu membuat ku merasa sangat di cintai."
"Karena aku memang mencintaimu," ucap Raksa tersenyum tulus mendekap kedua tangan Niana dengam kedua tangan nya.
"Sekarang makan duku, kamu harus minu obat!" seru Raksa saat makan untuk Niana sudah di antar oleh pelayan ke kamarnya.
Niana hanya menganguk yang akhirnya gadis itu menerima suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya dari tangan pria yang sangat dia cintai. Niana hanya tersenym, menyadari ini adalah hari ulang tahunya yang terbaik di mana ia masih bisa tersenum dan merasakan bahagia.
Setelah Niana minum obat gadis itu terbaring memeluk tangan Raksa yang sedari tadi tak lepas dari tangan nya, "Tidur lah, aku akan menjagamu!"
Niana tersenyum mengangguk, seraya merasakan elusan lembut di kepala dengan senyum hangat dari pria di hadapan nya. "Aku pamit, maaf jika kamu bangun aku sudah tidak ada."
"Tadinya setelah aku bangun aku ingin melihat mu," Niana tersenyum, walaupun kecewa tapi gadis itu harus mengerti. "Tapi aku mengerti."
Perlahan mata Niana terlelap dan semakin terlelap dalam tidurnya. Sebuah kecupan singkat nan dalam Raksa benamkam di kening nya. "Besok aku kesini lagi."
Hari pun berganti dengan indah, gelap malam dengan perdaran sinar rembulan perlahan pergi dan terganti dengan indahnya sinar mentari jingga yang mulai menyinggsing menuju peraduan nya. Sepagi itu, bahkan di saat mentari belum nampak sempurna, Raksa dan keluarganya sedang sibuk menyiapkan sebuah kue ulang tahun yang baru saja di masukan ke dalan sebuah box.
Selain Raksa yang merasa bersamangat dan tak henti menyiratkan senyum kecil nya, berbeda dengan kedua adik nya yang menekuk penuh wajah mereka menangkup dagu di atas meja makan, memperhatikan kakanya dengan epkpesi kecewa yang sedang sibuk mempersiapkan kue ulang tahun untuk Niana.
"Lihat adik-adik mu kak!" ucap kecewa ibu Safira, sembari mempersiapkan sebuah boodybak yang akan di bawa Raksa bersama dengan kue ulang tahun. "Padahal kalo kita bisa rayain di sini, ibu bisa masak nanyak."
"Maaf ya!" Raksa beranjak mengusap Rambut kedua adik nya. "Tapi kak Niana masih harus banyak istirahat. Maaf kalian gak bisa bisa ikut. Nanti kita atur ulang rencana kita, kita bisa pergi liburan lagi."
"Kita ngerti kok kak. Mungkin Allah sangat sayang sama kakak, jadi kalian bisa gak ada yang ganggu deh berduaan," ucapan yang keluar dari mulut adiknya yang polos tentusaja membuat Raksa gemas mengacak rambut kedua nya.
__ADS_1
"Kalian ini," ibu Safira hanya menggeleng. "Kalaou kalian ikut nanti kak Niana malah ganggu kak Niana, gak bisa istirarahat."
"Iya bu," jawab kompak keduanya. "Bosen juga kita di rumah, yaudah kita sekolah aja!" lanjut Alea, ijin sekolah selama dua hari, di hari kedua ini mereka memutuskan untuk kembali sekolah.
"Siapa bilang! Kakak nggak akan ke ganggu ko!" Seru sebuah kalimat yang baru saja terdengar mebuat Raksa dan ketiga anggota keluarganya yang tengah berkumpul, membuat mereka terdiam sejenak sebelum mereka di buat kaget setelah melihat sosok gadis cantik yang tengah berdiri tak jauh dari sana.
"Kak Niana?" Alea dan Alia lekas berhambur memeluk gadis itu.
"Maaf ya, aku kangsung masuk. Pintunya gak dikunci, aku udah ketok-ketok gak ada jawaban," ucap Niana melangkahkan kakinya menuju tempat Raksa yang masih berdiri mematung. "Itu kue ku?"
Raksa seketika tersentak, beralih melihat box kue di hadapan nya. "Eh,iya. Kenapa kamu kesini? Harusnya istirahat di rumah."
"Aku udah sehat ko. Aku rindu kalian," Lanjut Niana. "Aku gak dateng sendiri, aku ajak Maya pak Danu dan Airin. Gak papakan?"
"Tentu saja tidak sayang," ucap ibu Safira yang sudah memeluk Niana.
"Aku mau rayain hari ulang tahunku bareng kalian, jadi aku ajak mereka juga yang selama ini tulus menjagaku. Airin dan Maya akan membantu memasak." lanjut Niana. Ia datanf lengkap selain membawa juru masak untuk mereka masak juga dengan bahan-bahan makanan yang juga mereka bawa."
Aktipitas memasak di mulai oleh dua orang profesional di bisang nya, Airin shef handal ala resto berkolaborasi dengan shef terhebat di dunia ini yaitu ibu tigan anak di rumah itu, dan Maya membantu memotong dan mengupas semampunya. Sementara sisa orang di rumah itu sibuk mendekor ruang makan dengan seadanya, di iring tawa keceriaan.
Senyum penuh rasa shukur tercurah penuh dari Niana untuk orang-orang di sana. Niana yang selama ini ia hanya terpuruk sedih meratapi sebuah kehilangan dengan penuh rasa bersalah, membenci aturan hidup nya. Ia sangat sadar betapa yang maha kuasa sangat menyayanginya dengan mengirim orang-orang luar biasa di sekeliling nya.
Waoupun jika hanya sementara dia sangat bershukur. Jika suatu saat, Raksa dan keluarganya akan membencinya karena Niana adalah penyebab dari kepergian orang yang penting dalam hidup mereka.
Maafkan aku! Aku memang tidak tau diri. Aku yang menyebabkan ayah kalian meninggal, tapi saat ini aku malah berbahagia dengan kalian, maafkan aku. Tapi aku sunggih terbuai dengan kebahgiaan ini. Aku ingin pergi, tapi aku tak sangup meninggalkan kebahagiaan ini.
__ADS_1
Juga untuk hari ini, berkat kalian aku bisa kembali merasakan kembakebahagiaan merayakan hari ulang tahun yang sebelum nya hanya di penuhi kesedihan setelah ibuku pergi. Terimakasih, Aksa, ibu, Alea, Alia.