
Niana dan Raksa duduk di atas bebatuan pinggir pantai menantikan detik-deting matahari terbenam. Niana sangat antusias ingin melihat matahari turun ke tempat peraduan nya. Sementara ibu Safira Alea dan Alia sedang menunggu di resto dekat pantai.
Niana menyandarkan kepalanya di bahu Raksa, seakan itu adalah tempat ternyaman untunya bersandar dengan bibir yang tah henti tersenyum kecil. Saat-saat yang di nanti pun tiba, detik-detik terakhir matahari akan terbenam, Niana mulai mengangkat tubuhnya yang semula bersandar pada Raksa.
"Langit berubah jingga, kamu suka?" Raksa menengok pada gadis di samping nya, namun yang dilihat Niana bukan nya menikmati indahnya sunset tapi ia malah memejamkan matanya, Raksa hanya terdiam memandangi wajah Niana. "Bukanya kamu ingin melihat sunset?"
"Aku bisa merasakan keindahan nya, walou dengan mataku terpejam," mata Niana perlahan terbuka, beralih melihat Raksa yang sedang memandang nya. "Aku memantfaatkan momen indah ini untuk memimta sesuatu pada sang pencipta yang menciptakan ke indahan yang luar biasa di depan mataku."
"Apa yang kamu minta?" Raksa meraih tangan Niana menggenggamnya erat dengan senyum hasnya.
"Aku ingin hidup bahagia," jawab Niana dengan memandang wajah Raksa begitu lekat. "Bersama mu selamanya, kamu adalah satu-satunya mimpiku saat ini Aksa."
Raksa terdiam, ucapan Niana seakan membuat darahnya membeku sesaat, Raksa ikut memandang lekat wajah Niana seakan tersihir dengan keindahan di depan matanya, tak ada balasan kata indah yang dia ucapkan.
Berakhir dengan sentuhan bibir mereka yang menyatu, menjadi sebuah uangkapan seberapa dalam perasaan mereka masing-masing.
Setelah perasaan mereka sudah cukup saling tercurahkan, mereka mengakhiri semuanya. Aku tidak akan berjanji mewujudkan mimpimu, karna aku sadar hanyalah manusia biasa yang bisa saja keliru dengan janjiku. Tapi manusia bisa berusaha, dan aku akan berusaha mewujutkan semua mimpi mu juga mimpiku, batin Raksa.
"Kamu tidak merasa kedinganan?" tanya Raksa menghawatirkan Niana yang dari tadi tidak ingin pergi.
"Dingin, tapi tidak terasa karena ada kamu," Niana terlihat menggemaskan dengan senyuman yang menyimpul dengan memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapih.
"Sejak kapan kamu belajar menggombal?"
"Ucapan ku tulus dari hati, beda dengan gombalan," cebik Niana.
"Semakin dingin, ayo ibu sudah menunggu," Raksa merangkul Niana, membawanya pergi dari sana.
"Lusa ibu akan ke bandung, melihat lokasi untuk tokonya, apa kamu mau ikut, kita menengok kake?" Raksa tak henti merangkul Niana, memberikan elusan di lengan gadis itu seakan repleks memberinya kehangatan dari dingin nya hembusan angin pantai.
"Tentu saja aku ikut, sepertinya aku akan tinggal bersama kake saja." Jawab Niana, mereka masih berjalan menuju resto tempat ibu Safira menunggu. "Rasanya aku tidak ingin melanjutkan niatku untuk mulai belajar bekerja di prusahaan ayah."
__ADS_1
"Apa kami berubah pikiran karena sedang marah dengan ayahmu?" tanggap Raksa.
"Mungkin tapi rasanya aku tidak berminat. Tapi ayah akan kecewa, bagai manapun aku adalah anak tunggal."
"Aku akan membantu mu, apapun kesulitan mu,"
"Aku bingung, aku ingin menjadi wanita karir aku ingin membanggakan ayahku bisa jadi pemimpin yang hebat seperti ayah. Tapi aku juga ingin menaji ibu rumah tangga seutuhnya, menatikan mu pulang bekeraja, mengurus rumah anak-anak dan memasak." Niana membayangkan semua yang di ucapkan nya.
"Tapi akan lebih baik kalou seorang istri punya saku cadangan," ucapan Raksa membuat Niana mempertanyakan maksudnya. "Maksudku, kita tidak pernah tau seperti apa dan apa yang akan terjadi kedepan nya. Dulu pas ayahku pergi, ibuku kebingungan bagaimana menghidupi kami, tunjangan ayah pun juga tidak banyak. Berdiri nya Royale Cake & Bakery pun tidaklah mudah, waktu itu aku hanya bisa menyaksikan bagai mana sulit nya ibu berjuang untuk kami, saat itu aku sangat ingat uang tunjangan ayah hanya tersisa 500rb, dari sisa uang itu awal mulanya Royale Cake & Bakery."
Niana menatap Nanar Raksa, bukan kasihan tapi ia sangat nengerti saat ini dengan Raksa yang menjadi sosok yang sangat mandiri seperti sekarang. Membuat Niana semakin sadar, seperti yang di ucapakan ibu Safira masalalu setiap orang ada yang baik dan ada yang buruk, dan kita cukup mensyukuri yang baik tidak perlu meratapi yang buruk.
"Aku mengerti," ucap Niana. "Aku sangat kagum pada ibu."
****
Raksa, Niana, ibu dan kedua adiknya sudah berada dalam perjalanan pulang. Mereka semua tampak lelah, terlebih Alea dan Alia yang sudah tertidur pulas.
"Tidurlah kalian juga pasti lelah," lanjut titah Raksa pada Niana dan ibunya yang masih terjaga.
"Aku tidak mengantuk, ibu tidur saja perjalan masih jauh," seru Niana pada ibu Safira yang duduk di belakang.
"Iya," jawab ibu Safira.
"Pak supir juga mengantuk?" tanya Niana pada Raksa yang menyetir di samping nya.
"Tidak, aku sudah biasa," jawab Raksa tersenyum. "Apa kamu tidak mau pulang?"
"Kamu mengusirku?" tanya balik Niana, nadanya terdengar sinis.
"Bukan begitu, tapi ayah mu bisa salah paham dengan ku." ucap Raksa, yang tidak di pungkiri oleh Niana, bisa saja itu mempengaruhi hubungan Raksa dengan ayahnya yang sudah mulai membaik.
"Baiklah aku akan pulang!"
__ADS_1
"Jangan marah, aku bukan nya tidak senang kamu di rumah tapi---" Raksa mengusap kepalanya, benar-benar takut Niana tersinggung atou marah akan ucapan nya.
"Iya aku mengerti, kalou begitu antarkan aku pulang,"
"Besok saja," seru Raksa yang di anggukan oleh Niana.
Namun nyatanya lain, mobil Raksa sudah di cegat dua mobil hitam mewah di depan, dengan sekertaris Bastian sudah turun terlebih dahulu membungkukan badan ny.
"Kenapa harus seperti ini?" protes Niana.
"Ada masalah apa?" tanya ibu Safira.
"Tidak ada masalah apa-apa, ibu tunggu saja di mobil," Raksa dan Niana lekas keluar dari pintu mobil yang berlainan, dengan segera mereka menghampiri sekertaris Bastian yang sedang bersama orang-orang berjas hitam lainya.
"Ada apa pak Bas?" tanya Niana.
"Tuan Aga meminta anda untuk pulang sekarang Nona," pinta Sekertaris sekaligus kaki tangan ayahnya itu.
"Tapi kenapa harus di cegat di jalan seperti ini?" protes Niana.
"Maafkan saya nona, kami hanya menjalankan perintah," ucap sekertaris Bastian. "Mulai besok Maya akan aktif lagi, mendampingi anda kemanapun."
"Biarkan Raksa yang mengantarku pulang!" tolak Niana, ia memegang lengan Raksa kuat seakan meminta perlindungan.
"Tidak bisa Nona, tuan memerintahkan kami membawa anda sekarang juga."
"Sudah lah jangan buat ayah mu marah," Raksa mengangguk, meminta Niana untuk menurut. Walou berat Niana akhirnya masuk ke dalam mobil yang sudah sudah di bukakan pintu untuk nya. Niana menatap berat Raksa, rasanya ia tak ingin pulang kecuali diantar oleh nya.
"Tuan muda, tuan Aga ingin bertemu anda besok. Anda di undang ke kantor utama PJ Mandiri besok, jika berkenan," amanah yang di sampaikan sekertaris Bastian pada Raksa, sebelum mereka pergi membawa Nona muda mereka.
"Tolong jangan panggil saya tuan muda, pangil saja nama saya," Raksa merasa geli saat dirinya di panggil tuan muda. "Saya akan datang."
"Terimakasih," satu bungkukan kepala sebagai tanda hormat perpisahan untuk Raksa, yang di balas sama oleh Raksa. Dua mobil mewah itu pun langsung pergi Raksa hanya menatap kepergiam mobil tersebut membawa Niana hingga lenyap dari pandangan nya.
__ADS_1