Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 33


__ADS_3

Rakasa menjalankan laju mobilnya, tujuan nya rumah besar milik keluarga Wijaya, berharap gadis impian nya masih ada di sana. Mobil Raksa memasuki area perumahan mewah, setelah memperlihatkan kartu identitas dan mengatakan ada urusan bisnis pada satpam yang berjaga.


Raksa menatap ke luar mobilnya, tatkala sudah berhenti di depan sebuah rumah megah yang jadi tujuan nya. Dengan sebuah tarikan nafas, Raksa membuka pintu mobil, namun belum sampai akan keluar mobilnya, sebuah mobil mewah keluar dari pintu gerbang rumah mewah itu. Raksa meyakini di dalamnya adalah Niana.


Tanpa berpikir lama pengusaha muda itu langsung tancap gas, mengejar mobil mewah yang baru saja melewatinya. Benar perkiran nya, mobil mewah yang raksa ikuti menuju bandara.


Kecepatan penuh Raksa mengendalikam mobilnya. Dengan sekali tarikan Mobil Raksa menyalip mobil di depan nya. Pria muda itu lekas turun dari mobilnya juga salah seorang penumpang mobil yang di salib nya terlihat keluar dari mobil itu.


"Apa yang kamu lakukan, halingkan mobil mu!" Seru seorang pria yang sepertinya supir dari mobil yang Raksa salib.


"Maaf pak saya hanya ingin berbicara sebentar dengan Niana, sebentar saja!" Raksa tak menggubris supir tersebut,  ia membungkukan badanya hebdak mengetuk Kaca jendela mobil belakang, namun tak di sangka setelah kaca mobil itu terbuka yang dia lihat bukan Niana, melaikan ayahnya. Raksa sontak terpental dan bangkit karna kaget, tidak ada sosok Niana di dalam mobil itu.


"Ada apa mencari putriku?" Tanya seorang yang baru saja keluar. Raksa menunduk malu dan kecewa bisa-busabya dia salah sasaran.


"Maafkan saya pak, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."


"Apa kita perlu bicara?" Aga melihat arlojinya, "Aku punya waktu sedikit."


Raksa pun mengangguk, akhirnya mobilnya mengikuti mobil pria paruh baya itu di belakang. Dengan terus memukul-mukul jidat nya sendiri di dalam mobil, kenapa selalu seperti ini? Di saat dia ingin menyusul Niana. Menghindar dan menyusul Niana ke bandara, itu tidak mungkin, sangat tidak sopan.


Sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari tempat yang tadi jadi tempat Agata dan Raksa berbincang, mereka sudah duduk berhadapan. Raksa sedari tadi menunduk, sadar kalou sikapnya untuk menemui Niana akan di persalahkan oleh Agata ayah Niana.


"Apa aku harus mengulang pertanyaan ku tadi?" Pertanyaan kedua untuk Raksa, ia mengangkat kepalanya menghela nafas sebelum menjawab.


"Tadi saya sudah menjawab, ada hal yang ingin saya katakan!" Jawab raksa tegas.

__ADS_1


"Aku kurang jelas bertanya rupanya. Hal apa yang ingin di bicarakan?" Tanya Aga lagi. "Apa sampai di sini saja kamu membuktikan janjimu, mengabulkan syarat dari ku?"


"Tidak! Saya cukup tau diri untuk itu." Raksa mengejapkan matanya di iringi tarikan nafas pelan. "Pertanyaan yang sama yang saya ingin tanyakan untuk anda."


"Katakan!" Aga meraih cangkir kopi di hadapan nya.


"Apa benar Niana akan bertunangan!" Pertanyaan yang mengagetkan di telinga aga. "Kalou benar, apa syarat dari anda tetap berlaku begitupun dengan janjiku?"


"Pemberitaannya sudah sejauh itu rupanya!" Aga menaruh lagi cangkir kopi di atas meja, "Aku memang mengharapkan pertunangan itu, tapi kali ini aku tidak boleh egois, semua itu tergantung pada putriku."


"Aku dengar usahamu sangat berkembang dalam waktu yang sangat singkat. Sepertinya aku tidak bisa meremehkan mu. Jika kesakatan kita masih berlaku, aku memberi mu waktu 2 tahun lagi!"


Raksa mengangkat kepala nya, "Terimakasih," Raksa tidak percaya dengan apa yang dia dengar, sebuah kesempatan lagi tapi, "Apa saya bisa sedikit bernegosiasi?"


"Dua tahun waktu yang begitu singkat, apa bisa saya menawar untuk 3 tahun?" perkataan Raksa masih di tanggapi dengan tawa lepas dari pria paruh baya di hadapan nya.


"Baiklah, kita sepakat," ucap Aga


"Apa syarat untuk tidak menemui putri anda selama itu juga masih berlaku?" tanya Raksa gugup, pengusaha besar di hadapan nya hanya menyunggingkan senyum ekspresi yang sulit di tebak artinya.


"Aku akan memberimu kesempatan kali ini, putri kesayangan ku akan pergi sebentar lagi." Aga masih seakan berpikir dengan ucapan nya, "kau boleh mebemuinya!"


Raksa mengakat kepalanya, yang semula sedikit tertunduk akan mempersiapakan jawaban yang mengecewakan, tidak akan di ijinkan untuk menemui Niana sebelum waktu yang di tetapkan dalam tiga tahun ini, namun kenyataan nya lain, Raksa seakan tak percaya dengan apa yang terucap dari pengusaha ternama di hadapan nya, "Apa saya tidak salah dengar?" Raksa memastikan.


"Temui dia, putri kecilku itu sedang menungguku saat ini di bandara. Jangan buat dia kecewa!" Mata Raksa berbinar, seakan mendapat guyuran hujan di tengah oasis sulit untuk nya berkata-kata.

__ADS_1


Pria paruh baya di hadapan nya sudah beranjak dari duduknya untuk pergi namun Raksa masih terdiam tak percaya, sebelum menyadari nya, "Terimakasih."


****


Raksa melajukan mobilnya secepat mungkin. Rasa tak percaya masih menyelimuti dirinya, sebuah kesempatan yang ia dapatkan saat ini, seakan sudah terlihat lampu hijou di depan untuk dia meraih mimpinya mendapatkan gadis impian nya, ia hanya tinggal berusaha lebih keras lagi.


Setelah memasuki bansara, beruntung Raksa bisa melihat sosok Niana yang sedang duduk menunggu. "Niana!" Panggilan Raksa membuat Niana terlalih melihatnya, termasuk beberapa orang di samping nya.


"Aksa!" Niana kaget saat ia melihar sosok pria yang dengan nafas ter segal-segal di sana.


"Bisa kita bicara sebentar!" Niana tidak langsung menjawab, ia melirik sosok pria yang berada di samping yang tidak Raksa kenal, seakan meminta persetujuan nya.


"Aku tidak punya banyak waktu!" jawab Niana, setelah melihat sorot mata tidak suka dari pria di sampingnya. "Mau bicara apa?"


"Ada banyak hal yang harus ku katakan sebelum kamu pergi!" Ucap Raksa memelas, "Aku mohon, aku tidak ingin menyesalinya lagi!" Raksa menarik tangan Niana sedikit menjauh dari sana, yang terdapat Maya dan seorang pemuda yang tidak Rassa kenal seperti akan mengantar kepergian Niana. Niana mengikuti tarikan tangan yang membawanya menjauh dari tempat dia duduk tadi.


"Ada apa Raksa? kamu sengaja menyusulku?" Tanya Niana.


"Aku.. Maafkan aku," Raksa meraih tangan Niana, menggenggam kedua tangan begitu erat. "Kamu pasti sangat terlukan dengan ucapan bodohku, maafkan aku."


"Apa maksud mu, aku tidak mengerti!"


"Aku hanya berbohong, dengan semua ucapan ku yang menyakiti mu!" Cairan bening mulai terpupuk di mata Niana, berharap lebih dari ucapan Raksa. "Seorang gadis kecil yang dulu tersesat yang pernah ku tolong, dan aku memberikan gelang yang berharga dari neneku, gadis itu sudah membuat ku jatuh cinta pada saat aku melihatnya pertama kali, bahkan aku tidak mengerti apa itu cinta saat itu. Gadis kecil itu selalu hadir di setiap mimpiku."


Niana hanya menitikan cairan bening yang sudah penuh menggenangi matanya, perasaan sama yang ternyata terbalaskan dia tidak hanya berharap sendiri. "Kamu sedang berbohong?" Niana masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


__ADS_2