
Daffin mengingat kembali pertemuan nya dengan Niana, yang kini Daffin mulai menyesali kenapa dia harus di pertemukan dengan perempuan itu. Dulu dia sempat menolak saat di pinta ayahnya untuk mendekati Niana. Ayahnya sangat berharap bisa berbesan dengan sahabatnya yaitu ayah Niana, hingga memimta Daffin menemui Niana dan mendekatinya. Namun, tanpa di sangka hanya setelah melihat Niana saja sudah muncul ketertarikan pada gadis itu, yang sebelum nya ia tak mudah tertarik pada seorang wanita. Dia pikir mendekati gadis itu akan mudah, mengingat orang tua mereka yang bersahabat, namun nyatanya perasaan nya hanya bertepuk sebelah tangan.
Tok, tok, tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Daffin pada seseorang yang kemudian nampak dari balik pintu. Daffin bergeming, kembali bertekuk muka memandang komputer yang bahkan tidak ia nyalakan di hadapan nya.
"Maaf mengganggu, ini kopi untuk bapak," ucap seorang yang sudah menaruh satu cup kopi di meja Daffin, yang tak lain itu adalah Bonanza. "Aku sengaja membelinya untuk mu," lanjut ucap Bonanza, yang berubah dengan nada santai bukan dengan bahasa formal bicara pada bosnya, ya karna di ruangan itu tidak ada orang lain.
Daffin mengangkat pandangan nya, melihat gadis yang masih berdiri di hadapan nya menampakan senyum kecil. Daffin masih tak menyangka Bonanza bisa bersikap seperti itu dengan membawakan nya kopi, yang biasanya gadis itu hanya bisa membuat nya kesal.
"Kenapa tidak di minum? Aku sampai harus ngantri, karna coffe shop nya sedang ramai, dan aku sendiri yang meraciknya." Daffin kemudian menyeruput kopi tersebut, aroma kopi hitam terasa menusuk masuk lewat indra penciuman nya. Sungguh secangkir kopi bisa membuat pikiranya sedikit rileks, Daffin sangat menikmati seruputan kopinya, seperti baru meminum kopi terenak yang pernah dia coba.
"Semoga masalahmu cepat selesai." Bonanza berbalik pergi meninggalkan bosnya. Daffin masih bergeming dengan kalimat terakhir Bonanza, apa raut wajahnya sangat nampak memperlihatkan masalahnya? Apa Bonanza hanya merasa kasihan pada nya? Bahkan Bonanza yang menyebalkan pun bisa berbuat seperti itu karna merasa prihatin padanya.
"Tunggu!" Daffin menahan langkah Bonanza yang hampir meraih gangang pintu keluar. "Kenpa kamu memberiku kopi, aku tidak menyuruhmu, bahkan ini bukan bagian dari pekerjaan mu."
"Kenapa kamu harus mempertanyakan kebaikan orang. Cukup ucapkan terimakasih saja!" jawab Bonanza menampakan kilas senyum nya, lanjut kembali mraih pintu untuk dia buka. Namun tangan Daffin lebih cepat mendorong lagi pintu itu hingga kembali tertutup.
Daffin masih menadahkan tangan nya menahan pintu, menopangkan tubuhnya menahan pintu untuk di buka Bonanza. "Apa kamu mengasihaniku?" suara bariton peria itu terengar dingin, dengan tatapan yang tajam. Saat Bonanza berbalik badan gadis itu spontan menyandarkan punggungnya di pintu karena tubuh Daffin seakan dalam posisi yang seperti akan menghimpit nya.
"Menjauhlan aku mau kekuar!" Bonanja mendorong tubuh Daffin, namun sia-sia. Pria itu masih bertahan di posisinya, menatap lekat Bonanza.
"Apa aku terlihatt menyedihkan sampai kamu harus merasa kasihan padaku?"
"Apa maksudmu?" tanya Bonanza tidak mengerti. "Aku hanya membelikan mu kopi. Bukan aku kasihan atou prihatin melihat mu seperti itu."
__ADS_1
"Berbuat baik?" Daffin memalingkan wajahnya, sekilas sedikit tertawa tanpa suara.
"Kenapa?" suara Boananza terdengar lebih tinggi. "Apa salahnya dengan orang mencoba berbuat baik dan sedikit memberikan perhatian pada orang lain? Aku atu kamu punya masalah, tapi aku tidak mengsihimu, aku hanya mencoba perduli." Suara Bonanza terdengar melemah dan gadis itu lanjut tertunduk.
Daffin kembali memalingkan wajahnya mengerjapkan matanya dengan mengatupkan rapat bibirnya. "Pergilah!" tangan nya terlepas dari pintu. Bonanza dengan segera pergi dari sana.
Daffin mengusap kasar wajahnya, merutuki sikapnya barusan pada Bonanza. Gadis itu tidak salah, dia sudah baik padanya, lalu apa maksud dari sikapnya tadi?
Waktu berjalan terasa cepat, Bonanza sudah berada di bestmen untuk mengambil mobilnya yang terpakir di sana. Gadis itu di buat kaget saat sudah memasuki mobilnya sudah ada orang berdiri di depan mobilnya, lanjut orang itu mengetuk kaca jendela Bonanza. "Aku ingin bicara," ucapnya.
"Saya sudah mau pulang, jika ingin membicarakan masalah pekerjaan besok saja. Jika ada hal lain di kuar itu, saya tidak punya waktu!"
"Maafkan aku! dan terimakasih untuk kopinya. Sangat enak," ucapnya, yang yernyata adalah Daffin.
"Baiklah!"
"Apa bapak tidak lihat saya bawa mobil? Tapi terimakasih untuk tawaran mu."
"Kalou begiti aku akan menyetiri mu," Daffin masih membuat heran Bonanza. "Ada hal yang ingin aku tanyakan!"
Bonanza mengiyakan permintaan bosnya itu tidak bisa menolak dan entah kenapa melihat Daffin yang seperti itu mengingatkan nya pada dirinya sendiri, mengingat kesedihan nya beberapa waktu lalu.
Daffin dan Bonanza tengah berada di sebuah restoran, setelah memesan makan dan minuman tak ada seorang pun dari mereka yang bersuara, kesunyian terasa beberapa lama di sana.
"Apa yang ingin bapak tanyakan," entah lah, sikap Bonanza seakan canggung tidak seperti biasanya yang berani dan ceplas ceplos pada bosnya itu.
__ADS_1
"Bersikap seperti biasa saja padaku, telingaku merasa aneh mendengarmu terus berbicara formal," cetus Daffin.
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan? aku sudah mau pulang, jika ingin memecatku katakan saja cepat!" seru Bonanza dengan suara tingginya.
"Kamu memang cocok jadi gadis menyebalkan," Daffin menarik sudut bibirnya.
"Kamu mekedeku!"
Daffin tertawa, entah kenapa sikap Bonanza kali ini seperti hiburan untuk nya, bukan merasa kesal lagi pada sikap gadis itu seperti biasanya. "Apa itu terlihat jelas? Tapi aku berkata jujur. kamu mungkin menyebalkan tapi sekarang aku sudah sangat maklum dengan sikap mu itu."
"Cepat mau bicara apa! aku sudah mau mandi dan tidur."
"Tidak kadi makan saja, anggao saja aku sedang mentraktir mu malam ini." jawab Daffin datar.
Bonanza sedikit mengerutkan alisnya, dengan tersennyum kecut. Bisa-bisa nya Daffin seenaknya seperti itu. "Kalau begitu aku akan pulang!"
"Makan dulu!" seru Daffin yang kemudian mengangkat satu tangan nya memanggil pelayan.
Setelah selesai makan, Bonanza keluar terlebih dulu dari restoran ia berjalan cepan menuju mobilnya. Namun lagi-lagi Daffin menahan Bonanza masuk ke dalam mobilnya denfan mendorong kembali pintu mobil itu. "Aku yang menyetir kan?"
"Aku bisa pulang sendiri, kau pulang naik taksi saja!" Daffin tetap tidak memindahkan tangan nya tetap menahan pintu mobil, membuat Bonanza menatik napas kasar lalu dengan cepan gadis itu meletakan kunci mobilnya di dada Daffin yang kemudian berputar untuk masuk dari pintu mobil lain nya, menurutib maunya sang bos.
"Bagai mana nanti kamu pulang?" tanya Bonanza di sela perjalan mereka, masih dengan wajah tertekuk nya.
"Tinggal surih supir jemput!" jawab Daffin santai.
__ADS_1
"Dasar kurang kerjaan," gerutu pelan Bonanza, tapi bisa terdengar jelas oleh Daffin.
"Cukup bilang terima kasih saja, jangan banyak mendumal," tegas Daffin, membuat Bonanza mencebik kesal.