
Niana pulang ikut mobil Raksa, dan mobil ayah nya mengikuti dari belakang seakan mengawasi mereka. "Ternyata semua orang punya kelemahan," ucap Raksa saat mobilnya sudah melaju bersama Niana.
"Maksudmu ayahku?" tanya Niana.
"Iya, aku rasa seorang Aga Argani wijaya tidak punya kelemahan dan tidak takut apapun," yang di maksud kelemahan Aga adalah mertuanya sendiri kake Romi, ia sangat tidak bisa membantah setiap ucapan kake Romi.
"Sebenarnya, tanpa kelemahan nya pun dia sudah merestui hubungan kita," jelas Niana.
"Benarkah?"
"Dia hanya menghawatirkan anak gadisnya," ucap Niana tersenyum pada pria yang sedang mengemudi di samping nya.
"Apa kamu ingin tau kelemahan ku?" tanya Raksa, membalas senyuman gadis di samping nya.
"Apa?"
"Kamu," jawab Raksa, "Kamu adalah kelemahan ku." ia meraih tangan gadis di sampingnya itu, menggenggamnya erat memudian menarik dan mengecup punggung tangan nya.
Namun suara kelakson terdengar dari mobil belakang, "Aku lupa ada yang mulia raja sedang mengawasi putrinya yang cantik di belakang. Ucap Raksa membuat Niana juga tersenyum, "Jangan-jangan mobilku sudah di pasang kamera pengintai."
"Feeling seorang ayah sangat kuat," ucap Niana. "Ayah ku sekarang sudah banyak berubah, aku lebih menyukai ayahku yang sekarang. Dan aku rasa dia berubah karna mu Aksa."
"Apa? karna aku?" Raksa heran. "Aku bukan laba-laba yang menggigit orang bisa berubah jadi spiderman,"
"Aku serius. Saat di menceritakan tentang mu, aku bisa melihat kekaguman nya padamu," Niana mencubit lengan Raksa, membuat pria itu berteriak pura-pura sakit, "Sekarang ayah tida mengutus pengawal lagi untuk menemaniku,"
"Mansud kamu Maya?" tanya Raksa, "Iya aku baru ingat, kemana dia?"
"Selain Maya, ayah selalu mengutus bodyguard dari jauh untuk mengawasiku," jelas Niana, "Bahkan Maya sekarang boleh tidak menemaniku. Dia sedang liburan sekarang,"
"Bagus lah, karna sekarang aku yang akan menjagamu."
"Aku tidak akan kembali ke Amerika, aku akan mulai bekerja di prusahaan ayahku." ucap Niana, jelas membuat Raksa sangat bahagia mendengarnya, "Aku akan kuliah onlie saja di sini, agar bisa dekat dengan mu,"
__ADS_1
"Aaww." Raksa dengan lebay memegang dadanya, pura-pura merasakan sakit di dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Niana panik.
Raksa meraih tangan Niana, menaruhnya di dadanya. "Coba rasakan, aku sangat bahagia." ucap nya memelas, yang langsung mendapat pukulan pelan di langan nya oleh Niana.
"Aku kira beneran," Raksa hanya tertawa menanggapinya.
Suarang Adzan Magrib terdengar berkumandang, di tengah perjala mereka, "Kita sholat dulu ya?" ajak Raksa.
"Iya aku hubingi ayah dulu," jawab Niana, langsung menghubungi ayahnya. Merekapun berhenti di sebuah masjid, untuk melaksanakan ibadah sholat magrib yang waktunya hanya sedikit.
Setelah selesai sholat mereka berhenti di sebuah restoran. Raksa, Niana, ayah Aga dan supirnya sudah duduk satu meja di sana. "Makan dulu saja, perjalan kita masih jauh," suru Aga.
Setelah memesan, empat menu makanan dan minuman ter saji di atas meja mereka. "Bagai mana dengan usahamu Raksa?" tanya Aga.
"Baik om?" jawab Raksa.
"Aku dengar kamu akan membangun perumahan baru?" tanya Aga lagi, "Kalou butuh bantuan ku, katakan saja jangan sungkan."
Kurang lebih 4 jam perjalan mereka sampai di kediaman mewah keluarga Wijaya. Mobil Raksa pun memasuki Halaman ber pagar tinggi menjungalang yang gerbangnya telah terbuka. Raksa turun dari mobilnya, dengan segera ia membukan pintu mobil untuk gadis impian nya.
"Menyetir berjam-jam pasti sangat lelah, apa kamu butuh supir untuk pulang?" tawar Aga pada Raksa.
"Tidak usah, sayaa masih bisa nyetir sendiri."
"Ayah mengusir Raksa untuk segera pulang," bantah Niana, "Setidaknya ajak Raksa masuk dulu, istirahan sebentar."
"Iya tentu saja, masuk lah dulu." jawab Aga acuh. Masuk terlebih dulu kedalam rumah megahnya.
"Ayah ku memang seperti itu, ayo masuk dulu. Aku buatkan kopi, supaya kamu tidak ngantuk," Niana menarik tangan Raksa, masuk kedalam rumahnya.
Secangkir kopi tersaji di hadapan Raksa, yang di bawakan Niana. "Di minum,"
"Siapa yang buat?" tanya Raksa. "Aku, tapi di bantu pelayan, he." jawan Niana. Dengan segera Raksa meraih cangkir kopi di hadapan nya, menyesap nya pelan.
__ADS_1
"Aku pulang sekarang, Ibu pasti sangat hawatir. Terlebih hp ku masih pada Karin," pamit Raksa. "Tidur yang nyenyak, Dream Girl." ia mengelus sayang rambut Niana sebelum beranjak dari duduk nya. Niana kembali mengantar Raksa ke depan.
Setelah Raksa pergi, Niana kembali masuk ke dalam. Namun ayah Aga menahan Niana, sudah duduk menunggunya di sofa, "Ada apa Ayah, aku lelah," ucap Niana saat ia di panggil ayahnya.
"Ada yang ingin ayah bicarakan, tadi karna ada Raksa."
"Memangnya ada apa?" tanya Niana, sudah terduduk di samping ayahnya.
"Daffin ada di sini,"
"Apa?" Niana kaget, dengan ucapan ayahnya.
"Dia menyusulmu kemari. Orang tua Daffin juga meminta pertungan kalian," jelas ayah Aga, "karna mereka tau kalian sudah berpacaran, itu yang ayah bingungakan sekarang. Ayah tidak enak menolaknya lagi, karna kamu sudah menerima perasaan putra mereka."
Niana hanya menunggkup wajahnya, bingung harus apa sekarang. "Aku bingung ayah,"
"Ayah sudah menjelaskan pada orang tua Daffin tentang Raksa, bahwa ayah sudah terlanjur memberikan syarat pada Raksa dan jika Raksa bisa menenuhi syarat dari ayah. Ayah harus merestui hubungan Raksa dengan mu," tutur Aga.
"Lalu bagai mana?" tanya Niana.
"Mereka tidak terima, karna mereka mengira yang kamu pilih adalah Daffin bukan Raksa." jawab Aga, "Dan sekarang mereka meminta hal yang sama, jika ayah tidak bisa membatalkan kesepakatan ayah dengan Raksa, Raksa dan Daffin harus mendapat syarat yang sama dari ayah. Mereka harus berkompetisi mendapatkan mu."
"Apa?" Niana sangat kaget dengan apa yang dia dengar.
"Siapa yang bisa lebih sukses membangun prusahaan nya dalam waktu 3 tahun, dia yang akan mendapatkan mu." ayah Aga ikut bingung memikirkan semua ini.
"Tapi ini gila ayah," bantah Niana. "Aku bukan piala yang bisa di jadikan penghargaan untuk siapa yang menang,"
"Tapi ayah sudah menyetujuinya nak. Karena ayah juga percya pada Raksa, ayag yakin dia yang akan menang," ucap Aga. "Ayah tidak masalah kalopun harud rugi besar. Tapi orang tua Daffin itu sahabat baik ayah."
"Tapi kenapa ayah tidak bertanya dulu padaku, kenapa ayah memutuskan semuanya sendiri lagi?" teriak Niana menyalahkan ayahnya.
"Kamu hanya tinggal percaya pada Raksa. Dia harus lebih berjuang lagi," ucap Aga.
"Aku mengerti ini semua memang rencana ayah. Aku ke kamar yah!" Niana beranjak pergi menuju lantai 2, menuju kamarnya.
__ADS_1