Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 53


__ADS_3

Back again.. ke ceritanya Raksa dan Niana!!


Hari sudah tertimpa gelapnya malam, Raksa sudah berada di lantai atap gedung kantornya, duduk berdua dengan gadis impian nya dengan view yang langsung memperlihatkan langit malam yang teduh dengan pancaran sinar rembulan.


Sebuah gedung berlantai dua, yang 10x lipat lebih besar dari rukonya yang dulu, Niana sangat terkesima melihat perjuangan Raksa, "Aku bangga sekali padamu."


"Aku tidak melakukan nya sendiri, banyak bantuan dari ibu dan sahabat-sahabatku," Jawab Raksa. "Awalnya aku sangat tidak mengerti bisnis, yang aku tau hanya menjual dan mendapatkan untung. Beruntung aku punya teman yang membantuku banyak."


"Makdud mu Bonanza?" Tanya Niana.


"Iya dia sangat membantuku, dari awal perjuangan ku. Aku sadar aku pasti belum sampai di sini tanpa bantuan nya," jawab Raksa.


"Apa kamu juga sadar kalou dia menyukaimu?"


Pertanyaan Niana tidak di benarkan oleh raksa. "Itu tidak mungkin?"


"Aku bisa melihatnya dia sangat menyukaimu, saat dia melihat mu itu sangat jelas," ucap Niana dengan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


"Itu tidak mungkin, bahkan dulu dia sangat membenciku." bantah Raksa. "Jangan berbicara tidak-tidak, ayo pulang!"


"Tidak mau." Niana semakin membenamkan kepalanya di dada Raksa yang juga dibalas elusan lembut di kepalanya.


"Sudah malam, kita tidak mungkin tidur di sini." bujuk Raksa.


"Aku sungguh tidak mau pulang," tolak Niana.


"Ayah mu pasti marah,"


"Jangan perdulikan ayah, aku marah padanya." bantah Niana lagi.


"Ada masalah apa?"


"Aku tidak mau pulang," rengek Niana.


"Kita pulang ke rumahku." Ajak Raksa dengan mengelus lembut rambut kepala Niana, sebenarnya dia juga sangat lebih ingin berlama-lama lagi bersama gadis impian nya itu tapi hari sudah malam, usara di sana sangat dingin belum lagi mereka pulang dengan motor, tidak mungkin untuk pulang terlalu malam.


 "Pulang ke rumah mu?" Tanya Niana memperjelas apa yang dia dengar.

__ADS_1


"Iya ayo pulang, Alea Alia dan ibu sangat merindukan mu." jelas Raksa.


"Aku juga merindukan mereka."


Raksa tak henti menatap gadis imipan nya itu, serasa dalam mimpi indah membuatnya tak pernah ingin tuk terbangun. Atou kah mimpi yang menjadi nyata, bisa bersama dengan gadis yang selalu ia impikan. Niana menonggakan kepalanya melihat wajah Raksa, membuat sepasang mata nya bertemu dengan sepasang mata yang sedari tadi menatap ke arahnya.


Di akhiri sebuah kecupan di kening Niana yang memutus sepasang mata mereka yang bertemu. "Jangan biarkan aku melakukan sesuatu lebih dari ini, ayo pergi!" ucapan Raksa terdengar dingin membuat jantung Niana berdetak semakin tak karuan.


Niana hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. "Lakukan saja jika berani!"


"Kenapa aku tidak berani," Jawaban Raksa yang terdengar lebih santai dengan senyum menyeringai. "Tapi aku tidak akan berani sekarang."


Sebuah senyuman, yang terlihat begitu sempurna di mata gadis yang sedang menatapnya juga. "Aku tau itu." Niana kini melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Raksa, mengeratkan pelukan nya dengan membenamkan wajahnya di dada pria itu.


"Ayo pulang.." Ajak Raksa lagi. Niana meregangkan pelukan nya lalu melepaskan nya dengan  berat sebelum dia mengangguk meng iyakan.


*


Motor Raksa barusaja sampai, Raksa membantu Niana yang kesulitan membuka helm nya, "Apa mereka sudah tidur?"


"Aku kan sudah bilang, aku marah padanya, dia juga tidak ada menghubungiku."


"Mungkin saja ayah mu tau kamu ada di sini, dan rumah ku sedang di intai oleh mata-matanya sekarang," terka Raksa, tentu saja dia hanya bercanda.


"Biarsaja," Niama berjalam lebih dulu mendahuli Raksa menuju pitu rumah, ia sunggu tak ingin membicarakan ayahnya.


Raksa menyusul gadis keras kepala yang sulit di beri tahu itu, memutar hendel pintu lanjut menpersilahkan tuan putrinya untuk masuk.


"Kak Ana..." Kedua gadis kembar yang sudah berlari sampai memeluk Niana bersamaan.


"Jangan panggil dia kak Ana lagi," sergah Raksa.


"Lalu apa?" Tanya Alea dengan wajah polosnya, melepaskan pelukan nya dari Niana.


"Panggil kaka ipar." Kata Raksa seperti di perjelas, Kedua adiknya malah tampak bingung saling melihat.


"Kakak ipar?" yang di ulang keduanya, "Kakak ipar.." seru keduanya kompak.

__ADS_1


"Gak papa, panggil apa saja terserah kalian." kata Niana


"Kalian sudah pulang?" ibu Safira yang barusaja menghampiri. "Kalian sudah makan?"


"Belum." Jawab Niana setelah melihat Raksa.


"Niana rindu masakan ibu katanya." kata Raksa, Niana menggangguk sambil tersenyum lebar.


"Ya sudah ayo makan!" ajak ibu safira.


"Tante masak banyak sekali?" heran Niana, apa Raksa memberi tahu akan membawanya pulang.


"Sengaja sayang, Raksa bilang akan membawa kejutan. dan ternyata kejutanya sangat luar biasa," ibu Safira mengelus sayang rambut Niana.


Niana selalu melihat sosok ibunya sendiri pada ibu Safira. "Ibu. Boleh aku panggil tante ibu?"


"Tentu sayang," ibu Safira memuluk Niana, "Kamu juga putri ibu."


Pemandangan yang sangat indah untuk Raksa, melihat Niana yang bisa di terima dengan baik oleh keluarganya, dan membuatnya menjadi satu-satunya pria yang paling bahagia di sana.


Niana makan dengan lahap seperti orang yang kelaparan, tapi makanan yang sedang ia lahap memanglah lezat, masakan rumahan yang dibuat dengan cinta oleh seorang ibu yang sangat mengasihi anak-anaknya.


Raksa belum menyentuh makananan di atas piring nya, senyuman tipis terulas di bibirnya yang hampir tidak terlihat, memandangi gadis yang dengan lahap menikmati makan malamnya.


"Kenapa tidak maka ?" tanya Niana, yang sadar sepasang mata pria di hadapan nya tidak berhenri memandanginya.


"Kenyang," jawab Raksa singkat,  "Melihat mu makan, aku merasa kenyang."


Niana menuduk malu, "Udah cepet makan."


Di atas meja makan mereka menikmati makan malam dengan saling melontarkan senyuman satu sama lain.


Keluarga Raksa kini bertambah satu orang baru yaitu Niana yang ikut berkumpul di ruang keluarga. Tawa hangat mengiringi kebersamaan mereka. Niana yang dari tadi tak berhenti di buat tertawa oleh dua anak kembar yang paling bisa membuat gadis itu tak berhenti tertawa dengan tingkah mereka, hingga tawa Niana juga ikut menular pada Safira yang ikut tertawa lepas. Sementara Raksa duduk di ujung kursi memasang senyuman has nya melihat tawa dari 4 wanita yang tengah duduk di atas karpet bulu di depan nya.


"Kak Ana tidur sama kita ya!" Ajak Alea dan juga Alia, yang sudah menguap secara bergantian setelah sudah lelah dari tadi terus tertawa dan sudah terlalu malam juga.


"Gimana kalou kita tudur bareng di kamar ibu?" ajak Safira yang langsung di jawab anggukan mantap oleh Alea, Alia dan Niana.

__ADS_1


__ADS_2