
Niana sudah berada di rumahnya, tempat teraman dengan perlindungan tanpa celah untuk menjaganya. Raksa dan Daffin juga tepat ada di sana, kedua pria itu tak henti mengalihkan perhatian mereka gadis yang tengah duduk bersandar pada ayahnya di depan mereka. Mata Niana terlihat sangat sembab, terbayang bagai mana ketakutan nya gadis itu dan berapa banyak bulir air mata yang jatuh dari matanya, saat di sekap oleh orang yang jelas-jelas ingin menyakitinya. Raksa dan Daffin benar-benar merasa tidak berguna sebagai seorang pria, tidak bisa melindungi wanita yang mereka cintai.
Niana tidak menceritakan semua kejadian saat dia di sekap, begitupun Daffin yang juga ia diminta untuk berbohong, untuk mengiyakan apa yang Niana ceritakan. Niana mengatakan tidak mengenali orang yang menculiknya bahkan ia hanya mengatakan motif nya hanya semata karna uang, beruntung Daffin bisa menemukan nya. Mau tidak mau Daffin juga mengiayakan hal itu.
Ayah Aga jelas sangat murka mendengar cerita putrinya, walou hanya sebagian kecilnya saja yang Niana ceritakan, dia akan mengusut tuntas masalah itu untuk di selidiki lebih lanjut. Apa lagi kalou ia tau yang sebenarnya penculik Niana adalah orang yang benar-benar memiliki masalah pribadi dengan nya.
"Sudah sangat malam, di rumah juga sedang ada momy. Saya pamit pulang om!" pamit Daffin.
"Biar di antar supir saja kak, kakak sudah menerima banyak sekali pukulan. Aku hanya hawatir–" begitupun ayah Aga yang menyaran kan hal yang sama.
"Aku bisa sendiri;" Daffin tetap menolak, ya sebenarnya seluruh tubuhnya saat ini serasa remuk dan sakit, tapi untuk hanya menyetir dia rasa tidak perlu merepotkan orang lain.
"Maafkan aku juga sudah salah paham padamu!" Raksa ikut berdiri seperti Daffin menyodorkan tangan nya sebagai permohonan maaf.
"Apa permintaan maaf cukup?" ucap Daffin acuh, "Sudahlah sikap mu sangat wajar memukulku, jika di posisimu aku juga mungkin melakukan hal yang sama."
"Sekali lagi aku minta maaf!" Ulang Raksa, walou tidak mendapat tanggapan dari Daffin tapi ia mengerti kalou Daffin tidak mempermasalahkan nya.
"Tunggu Kak!" Niana menghentikan Daffin, yang sudah menjauh beberapa langkah. "Ini! Tadi aku ingin memberi mu ini."
Daffin mengambil sebuah kotak yang membungkus cantik hadiah di dalam nya. "Apa ini?"
"Nanti kakak akan tau, yang jelas itu sebagai ungkapan hati ku kalau kakak sangat penting di hidupku." Niana tersenyum yang juga di balas senyum lembut oleh pria dihadapan nya. Kemudian setelah mengucapkan terimakasih Daffin benar-benar pergi.
Kini tinggal Raksa, banyak hal yang ingin dia bicarakan pada Niana, termasuk kenapa Daffin yang lebih bisa menemukan dan menolong Niana di banding dirinya. Cemburu, mungkin, tapi itu bukan waktu yang tepat untuk nya egois seperti itu yang terpenting Niana sudah selamat. Raksa pun pamit, karna Niana harus banyak istirahat, begitupun waktu yang sudah lebih dari tengah malam.
__ADS_1
Namun Niana mengurungkan Niat Raksa, ada sesuatu yang ingin gadis itu bicarakan terlebih dahulu. "Baiklah ayah oergi!" Ayah aga pun mengalah pergi setelah di beri kode oleh Niana, ya merasa tidak ingin jadi obat nyamuk juga.
Seketika Raksa langsung menghujani Niana dengan omelan dan pertanyaan hawatir nya, "Kamu sebenarnya kemana? Kenapa pergi diam-diam dari rumah? Kenapa hp mu gak dibawa? Apa kamu tau bagai mana perasaan ku?"
Niana hanya mentatap terharu, lagi-lagi dia sadar betapa pria itu sangat mencintainya, waloupun dia buak super hero yang menyelamatkan nya. "Maaf, maafkan aku. Aku membelikan mu ini!" Niana mengasongkan sebuah kotak dengan disain yang sangat cantik, raksa memalingkan wajah acuh.
"Apa ini sama seperti yang kamu berikan pada Daffin? " Niana hanya tersenyum, mengerti kalou Raksa sedang cemburu.
"Iya sama," ucapan Niana membuat Raksa mengerutkan dalam dahi dan alisnya, lalu memalingkan wajahnya lagi. "Bentuknya memang sama persis, tapi, maknanya berbeda."
Raksa perlahan menoleh, mengambil kado itu lalu dia buka. Sebuah gelang dengan strap berwarna coklat. Niana kemudian mengangkat pergelangan tangan nya, menujukan gelang yang sama yang dia pakai juga. "Soulmate!" ucap Niana tersenyum.
Raksa sangat menghargai pemberian gadis itu. "Terimaksih," ucapnya. "Tapi aku keduluan ya? Tadinya aku ingin menemuimu malam ini karna ingin memberikan mu sesuatu juga."
Mata Niana melebar seakan tersentak dengan gelang pembawa kebahagian yang belasan tahun silam deberikan seorang anak laki-laki untuknya. "Mana mungkin, gelang ini sangat berharga."
"Ini milikmu, aku sudah memberikan nya padamu," Raksa memakaikn gelang itu di tangan kiri Niana yang juga sudah terdapat gelang couple yang dia kenakan sebelum nya. "Tadinya aku mau memberikan gelang ini lagi padamu, saat ulang tahun mu kemarin, tapi tidak ada waktu yang tepat."
"Terimakasih." Satu kata tapi banyak ungkapan lebih dari itu yang terucap untuk pria di hadapannya.
****
Setelah Raksa pulang, Niana langsung membersihkan diri, makan dan setelah itu gadis itu hanya ingin terlelap di atas tempat tidurnya yang sangat nyaman. Hal yang mengganjal perasaan nya kembali menelisik perasaan nya, ingatan nya mengulang kejadian berapa jam lalu.
"Balas dendam apa? Apa aku punya salah padamu?" Ucap Niana pada penculiknya, memberanikan dirinya dengan berteriak, berusaha tidak memperlihatkan rasa takutnya. Semua yang terekam jelas di pikiran Niana.
__ADS_1
"Banyak, sangat banyak. Kesalah ayah mu yang menyiksa keluarga ku sampai aku terlahir dan berlangsung hingga sekarang!" ucapnya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak adil bukan, Ayahmu hidup tenang bahagia dalam gelimang harta, sampai keturunan nya saat ini!" pria itu dengan kasar menjambak rambut Niana sampai menonggakan wajahnya saat ini yang jelas membuat hadis itu menyerngit memejamkan mata kesakitan, "Yaitu kau."
"Kau bisa hidup enak selama ini. Sementara aku, kou tau? hidupku setelah ayahmu menghancurkan keluargaku? Setelah yawa ayahku terenggut dengan sia-sia?" ucapan pria itu dengan berteriak penuh amarah di depan muka Niana. Niana hanya semakin mengeluarkan tangisan.
Pria itu melepaskan jambakan nya dengan kasar, "Kau tau kenapa ayah mu selalu mengutus orang untuk menjagamu?" pria itu berdiri kembali menatap Niana yang meangis tersendu-sendu. "Karna dia tidak tenang, dia takut aku akan membunuhmu kapan pun." tawa pencukin itu kembali memenuhi seisi ruangan.
"Orang salah, hidupnya memang tidak akan tenang, dan akan selalu merasa takut bukan?" tanya nya kembali.
"Apa yang sudah ayahku perbuat, sebesar apa kesalahan nya?" ucap Niana dengan terisak.
"Banyak sekali, dia sudah memecat ayahku secara sepihak hingga membuatnya tidak bisa bekerja dimanapun," suara pria itu iku melemah, "Dan ibuku sakit parah kala itu, tapi mereka tidak perduli, ayahmu tidak perduli!" Berakhir dengan sebuah kata teriakan di telinga Niana.
"Mungkin ayahmu memiliki kesalahan! tidak mungkin ayahku melakukan semua itu tanpa ada alasan nya!" bela Niana.
"Jikapun yang mereka anggap itu adalah kesalahan ayahku. Ayahaku hanya di fitnah, itu yang dia katakan padaku, dan aku sangat mempercauainya. Dia adalah orang terjujur yang pernah ku temui!" pria itu kembali menatap kebencian pada Niana. "Apa kau tidak menyesal, waktu 13 tahun lalu saat kau mengalami kecelakaan, kenapa kau tidak mati saja?" lanjut ucap peria itu dengan tersenyum sinis.
"Kenapa kau tau?"
"Karena ayah ki juga korban dari kecelakaan itu!" Niana terhenyak, mentap serius pria di hadapan nya. Maksud dari korban dari kecelakan itu? apa ayahnya juga pengguna jalan yang juga menjadi korban. Niana ingin mengetahui lebih lanjut namun Daffin sudah terlanjur datang untuk menolong nya.
Niana masih memikirkan semua ucapan penculiknya tadi, ia sangat bingung dengan penuturan terakhir orang itu, dan mungkin itu yang jadi alasan Niana tidak menceritakan siapa dan atas motif apa sebenarnya penculik itu. Niana menarik nafas dengan perlahan mengerjapkan matanya, perasaan nya terasa lebih rumit, bayang-bayang kecelakaan itu ternyata merenggut banyak korban, selain ibu dan ayah dari orang yang di cintainy.
__ADS_1