
Akhirnya Daffin pergi juga dari Rumah Niana, Niana merasa lega setelah pria itu memutuskan untuk pulang, dengan alasan Niana bahwa ia mengatakan tidak bisa istirahat dengan nyaman kalou Daffin terus mengawasinya.
"Ini sulit, sungguh sulit. Ayah kenapa ayah tidak bilang dari dulu apa yang di lakukan Aksa untuku," Niana kembali dalam penyesalan nya, "Dia berjuanh untuk ku, dan aku malah menerima pria lain. Maafkan aku Aksa!"
Niana kembali terisak dalam tangisnya, sampai akhirnya gadis itu terlelap dengan sendirinya karna efek obat yang dia minum membuatnya mengantuk.
Badanya serasa lebih ringan, setelah mrluapkan kesedihan nya dengan menangis dan sudah terlelap lumayan lama. Suasana sore hari yang menghangatkan, Niana melangkahkan kakinya turun dari ranjang mendekati jendela kamarnya yang bertralis, berwarna putih tulang, berbentuk kotak-kotak berbingkai yang menjadi salah satu aksen rumah bergaya federal Amerika clasic itu.
Melihat ke luar jendela yang memperlihatkan rumput hijou yang terhampar d halaman. Niana merasa ingin menghirup udara segar sore hari di sana, gadis cantik itu kemudian bergegas mandi dan berseiap.
Niana sudah berada di halaman rumahnya, di halaman rumah itu terdapat sebuah bangku putih yang ternaungi pohon dekatnya, menjadi tepat Niana mendudukan tubuhnya saat ini, "Aku suka disini." matanya terpejam, merasakan udara sore maduk kedalam indra penciuman nya.
"Suatu saat jika aku sudah berkeluarga dan punya anak, aku akan sering berkinjung kemari. Akan sangat menyenangkan melihat mereka bermaain-main di sini." Harapan Niana yang terucap, rumah bergaya federal dengan halaman yang luas memang tempat yang sangat hangat dan nyaman untuk d tinggali sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Tentu saja, semua itu akan terwujud!" suara seseorang yang tiba-tiba mengejutkan dari belakang.
Niana menatap malas pria yang sudah mendaratkan tubuhnya ikut duduk di samping nya. "Bukanya tadi kakak pulang?"
"Aku hanya ingin memastikan keadaan pacarku sekarang!"
"Aku sudah baik-baik saja sedari tadi!" Niana menekan kan suaranya.
"Hanya ada sesuatu yang mengganjal pikiran ku, tadi aku tidak berani menanyakan nya," ucap Daffin sendu, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu, apa sekaranga kamu sudah menyesal menerimaku?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin membahasnya saat ini. Bisakah kakak benar-benar pulang sekarang?"
"Baiklah, maafkan aku!" Daffin tidak memaksa dengan jawaban Niana, pria yang selalu bersikap dingin kepada semua gadis kecuali pada Niana itu kali ini benar-benar menuruti apa kata Niana.
"Maafkan aku!" penyesalan Niana yang sudah kian kali terucap, saat melihat pria yang sudah menjauh darinya, menyesal telah melibatkan Daffin masuk di hidupnya, gadis cantik berambut panjang itu sangat tidak ingin melukai Daffin. Apa mungkin dia akan tetap pada pilihan nya saat ini? Seakan terjebak dalam cinta yang salah, itu yang di rasakan nya saat ini.
Tidak berapa lama sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah bergaya ferderal Amerika clasic itu, yang tak lain ayah Niana yang baru saja sampai. Pria paruh baya yang nampak masih gagah keluar dari mobil mewah keluaran erofa yang sudah terparkir indah di di sana.
"Ayah sudah pulang?" tanya Niana dengan tidak melihat sosok pria yang sudah membesarkan nya itu tatkala sudah duduk di samping nya.
"Ayah tidak keberatan jika kamu marah pada ayah!" ucap Aga, "Tapi ayah akan tetap duduk disini menemani putri ayah."
"Terserah ayah!" jawab Niana acuh.
"Tapi kalian saling mencintai?" sela Niana.
"Tentu saja ibu mu pada akhirnya mencintai ayah. Saat ibu membenci ayah, ayah sudah mencintainya jauh sebelum dia membenci ayah, jauh sebelum dia mengenal ayah.!"
"Lalu apa yang ayah lakukan agar ibu bisa mencintai ayah?" tanya Niana yang penasarang dengan kisah cinta menarik kedua orang tuanya.
"Waktu itu kita satu kampus, hampir semua gadus d kampus menyukai ayah, tentu saja karena aya tampan dan kaya," ucap Aga dengan gaya sombong. "Tapi ibu mu berbeda, dia terlihat sederhana dan apa adanya. di antara semua wanita, tapi dia yang paling menarik di mata ayah. Tapi ayah tidak tau cara mendekati ibumu, dia berbeda dia tidak pernah menghirouksan ayah."
Senyuman Aga tersus mengembant saat meceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan gadis impisn nya. "Hingga saat itu ibumu pulang di jemput kake mu, ayah sengaja mengikuti mereka sampai di rumahnya. Ayah menunggu beberapa saat di depan rumah mereka, ayah akhirnya memutuskan untuk bertamu ke rumah itu sebagai teman ibumu. Dan kake mu sangat galak kala itu, tidak suka ada laki-laki yang menemui putrinya. Tapi ayah mengatakan tidak ingin menemui ibumu, ayah bilang kalou ayah ingin bertemu dengan kakemu!"
Agga terdenngar sedikit tertawa lepas di sela-sela ia berverita, saat mengingat memori-memori yang tak terlupakan di hidupnya, "Ayah berusaha mendekati kakemu, menjadi teman ngobrol yang menyenangkan untuk kake mu. Ayah melihat sebuah kotak catur kala itu, dan ternyata kake mu sangat menyukai catur dan jarang ada lawan bermain catur bersama nya karna kedua anaknya perempuan. Akhirnya ayah menantang kakemu bermain catur, dan ayah bisa mengalahkan nya, haa." Aga tertawa lagi, Niana semakin antusias mendengar cerita ayahnya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ibu melihat ayah di rumahnya!"
"Tentu saja dia tidak suka! tapi ibumu tidak bisa berbuat apa-apa karna kakemu sudah menyukai ayah. Strategi ayah berhasil, sebelum mengambil hati putrinya, ayah harus menganbil hati ayahnya dulu!" Tutur Aga.
"Di kampus di manapun saat ayah bertemu ibumu, ayah selalu mengganggunya, mencari perhatian nya. Belum lagi hampir setiap hari ayah ke rumahnya, semua yang ayah lalukan membuat ibu mu merasa terganggu, peran ayah sebagai pria menyebakan berhasil!" Aga tetawa lagi di sela ceritanya. "Hingga pada suatu hari ayah tidak masuk kampus beberapa hari dan tidak ke rumah ibumu, karena sakit. Dan ternyata ibumu mencari keberadaan ayah kala itu, dia menanyakan ayah pada teman-teman ayah, ayah senang sekaki saat itu. Ibumu meminta teman ayah untuk mengantarnya menjenguk ayah, melihat kondisi ayah dia sangat hawatir. Dari situ ayah tau kalou ibumu mulai menyukai ayah sampai akhirnya ayah benar-benar bisa mendapatkan hati ibumu dan menjadikan nya ibu dari putri ayah!"
"Ibu sangat beruntung dicintai oleh pria seperti ayah!" Ucap Niana, membalaa senyuman ayahnya.
"Ayah yang lebih beruntung! karana ayah yang bodoh ini bisa dicintai wanita sesempurna ibumu," pandangan Aga berubah sendu, tidak di pungkiri ia sangat merindukan istri yang sangat ia cintai saat ini.
"Maafkan aku ayah!" Ninana memeluk lengan sang ayah, dengan menyandarkan kepalanya di sana. "Karna aku, ayah kehilangan istri yang ayah cinrai!"
"Tidak nak! Semua sudah takdir, ayah hanya menyesal karna belum membuat ibumu bahagia." Aga mengekus kepala Niana dengan tersnyum.
"Ayah salah, ibu sangat bahagia hidup dengan kita, ibu selalu bilang seperti itu padaku!" jelas Niana.
"Ayah juga beruntung memiliki mu!" Aga mengangkat kembali senyuman yang semula menurun,
"Mendengar cerita ayah, aku jadi merindukan kake!"
"Ayah juga, sudah lama ayah tidak bermain catur dengan nya!" ucap Aga dengan semangat. "Bagai mana kalou kita pulang dan kita liburan ke rumah kake mu di bandung!"
"Aku mau ayah!" sahut Niana dengan semangat.
"Kita pulang besok!" seru aga yang di balas anggukan penuh oleh Niana.
__ADS_1