
Niana tengah menyiapkan makan siang di rumah Daffin bersama momy Cyntia, "Bisa-bisanya kamu nggak cerita sama momy kejadian semalam," omelan belum berhenti kekuar dari mulut momy Cyntia, Daffin hanya diam duduk menunggu makan siang tersaji tidak menanggapi ibunya.
"Momy kira kamu beneran sibuk pulang larut banget" dumal momy Cyntia sembari menata makanan di atas meja makan bersama Niana. "Coba kalo momy nggak ke rumah Niana, mungkin momy nggak akan tau."
"Udah lah mom, toh aku sama Niana udah baik-baik aja kan!" Daffin akhirnya menjawab omelan-omelan tidak henti dari ibunya.
Satu getokan centong sup mendarat di kepala Daffin hingga membuat pria itu memekik. "Sakit mom kenapa Daffin di pukul?"
"Kamu anak bodoh, bisa-bisa nya ngomong kaya gitu, kamu nggak tau hawatirnya momy sama kalian? Kalau seandainya kalian kenapa-kenapa gimana? kamu juga jadi cowo itu lelet banget nggak cepet tanggap, kenpa kamu ngak buru-buru temuin Niana, sampe Niana harus di sekap kaya gitu," Daffin hanya kembali diam, dengan mengusap-ngusap kepalanya bekas getokan momynya, bicara pun percuma saat momynya mengomel tidak jelas seperti itu. "Kalau sampe ada apa-apa sama calon mantu momy gimana?"
"Udah tante, yang penting kan kita berdua sekarang baik-baik aja," bela Niana menghela omelan-omelan wanita yang sangat berharap jadi mertuanya itu kelak.
"Iya, kita kapan makan nya kalau momy ngomel terus?" timpal Daffin juga.
"Iya yaudah makan, ini calon istri kamu loh yang masak. Niana ternyata pinter banget masak. Momy harus banyak belajat ni dari kamu, sayang." Niana dan Daffin hanya nyengir saat momy Cyntia terus menyebut Niana sebagai calon manantunya.
"Niana baru belajar ko tan.. Niana juga mau belajar masakan western dari tante!" jawab Niana, sembari memulai menyendok makan nya.
"Boleh banget dong sayang, jadi kita bisa tukeran ilmu!" Niana sangat merasa bahagia di perlakukan sangat baik oleh ibunya Daffin, melihat perlakuan ibu Daffin Niana teringat dengan ibu Safira ibunya Raksa, juga memperlakukan nya sama. Karakter berbeda antara kedua wanita itu, ibu dari dua pria yang mencintainya, Niana merasa memikiki dua ibu yang berbeda sekaligus. Merasa beruntung? tentu saja! "Gaenak banget kamu masih panggil tante, panggil momy dong sayang!"
"Iya deh, tapi Niana panggil tante bukan karna apa-apa ya apa lagi karna tante anggep Niana calon menantu, tapi karna tante udah kaya ibu sungguhan buat aku." Niana ternyum, membuat haru momy Cyntia saat itu juga
"So sweat. tentu sayang kamu juga sudah momy anggap seperti anak gadis momy sendiri!"
__ADS_1
"Makasih Momy," kedua wanita itu berpelukan, membuat Daffin mengangkat sebelah alis nya terlihat lebay untuk nya, tapi juga pemandangan yang sangat indah membuat lengkung senyul tertarik di kedua sudut bibirnya, namun ia tak ingin berandai-andai, tak ingin berandaikan Niana bia benar-benar menjadi bagian dari keluarganya kelak.
Tak terasa hari sudah sore, seharian ini Niana sangat merasa senang belajar masak bersama momy Cyntia, mereka saling belajar dari satu sama lain. Niana belajar memasak masakan western dari momy Cytia, sementara Niana juga berbagi resep masakan nusanusantara yang dia bisa yang di pelajari dari ibu Safira. Setelah dua menu masakan selesai mereka buat, Niana Daffin dan momynya bercengkrama di ruang keluarga, momy Cyntia banyak sekali bercerita tentang Daffin terutama kelucuan-kelucuan nya saat masih kecil, membuat banyak Niana tertawa saat itu.
Namun satu hal, Niana tidak ingin mengecewakan momy Cyntia yang berharap lebih padanya, Niana hanya berharap jika kenyataan tidak sesuai harapan nya nantinya, semoga momy Cyntia tidak berubah padanya.
"Daffin antar ya sayang!" Momy Cyntia mengelus lembut lengan Niana saat gadis itu sudah berpamitan untuk pulang. Namun tawaran antaran pulang dari Daffin dan momynya Niana tolak, tentu saja Niana berkata Daffin harus banyak istirahat, dan dia juga bisa pulang bersama Maya yang senan tiasa setia mengawal nya kemanapun.
Dalam perjalanan pulang Niana menerima panggilan telpon dari Raksa, peria itu begegas akan menjemput Niana setelah Niana menceritakan dia habis dari mana dan dimana posisinya sekarang, tidak berapa lama mobil Raksa sudah berada di belakang mobil Niana, maya memelankan laju mobilnya memberi jalan Raksa untuk mendahului.
Setelah kedua mobil itu berhenti Niana beralih ikut mobil Raksa, dengan di kawal Maya yang membawa mobil nya dari belakang. "Udah makan?" tanya Niana pada Raksa.
"Belum! Kamu?"
"Oh," Niana merapatkan bibirnya melirik Raksa, ekpresi diam pria itu membuat Niana merasa bersalah Raksa pasti tidak suka Niana ke rumah Daffin.
"Maafin aku ya!" Niana mengelus bahu Raksa, "Aku hanya menengok kondisinya bagai manapun dia sudah menolongku, kamu juga kan ikut mukulin dia. Tapi momy nya bikin aku nggak bisa pulang!"
Raksa hanya melirik Niana yang sedang tersenyum dengan matanya yang melebar punuh beharap Raksa bisa memakluminya, "Oke."
"Oke tapi nada bicara kamu masih seperti itu!" Raksa menepikan mobil nya di tepi jalan, "Aku minta maaf, karna tidak bisa menjaganu kemarin. Dan bukan aku yang menolong mu, mulai sekarang aku berjanji akan lebih menjagamu Niana."
Niana diam tanpa ekpresi, ini bukan kali pertama ucapan indah keluar dari mulut pria itu, tapi kali ini beda ucapan Raksa terdengar dengan kesungguhan dan penuh keyakinan namun juga penuh penekanan. "Mulai sekarang, kabari aku kemanapun kamu pergi, apapun yang kamu lakukan!"
__ADS_1
Niana hanya nyengir, dengan guratan halus nampak di dahinya, "Apa iti tidak berlebihan? Lagi pula, aku janji kejadian kemarin aku pergi diam-diam dari rumah tidak akan terulang lagi."
"Apanya yang berlebihan? Apa aku tidak boleh memintamu hal seperti itu?" Mata Raksa sungguh menusuk, membuat Niana merubah ekspresinya.
"Aku mengerti, maafkan aku Aksa," Niana tersenyum lembut, Gadis itu kemudian meraih tangan Raksa dia genggam erat. "Kasih Sayang itu maknanya luas untuku, Aksa. Untuk kak Daffin, aku memang menyanginya, dia berarti di hidupku, dia dan keluarganya sangan baik dan menyangiku. Dia seperti sodara ku dan sahabatku, sosok kakak laki-laki yang selalu ku harapkan."
Kedua tatapan mereka saling terpaku satu sama lain, "Dan kamu! Kamu lebih berarti dari apapun untuk ku, kamu menenmpati posisi paling dalam di hatiku, setelah ayahku."
Niana kembali meyakin kan Raksa seberatinya dirinya. Setiap setelah Niana bertemu dengan Daffin, Raksa selalu bersikap seperti tadi, dan Niana mengerti hal itu dan Raksa kali ini benar-benar yakin dengan ucapan gadis impian nya, kata-kata indah yang keluar membuat perasaan pria itu tak karuan. Tidak hanya Raksa yang bisa membuat hati wanitanya terombang ambing tak tentu.
"Bisa juga kamu ngegombal," setelah tepaku beberapa saat, alih-alih Raksa mengusap-ngusap rambut belakangkan nya. Lanjut keduanya tertawa bersama, selama melanjutkan perjalan pulang Raksa kian kali menggenggam erat tangan Niana, seakan itu adalah ungkapan tidak pernah ada keraguan untuk nya mencintai gadis itu. Hingga tak terasa mobil nya sudah sampai di depan rumah Niana.
"Aku akan berjuang lebih keras lagi, untuk memenuhi syarat dari ayah mu, setelah itu bersiaplah kita menikah dan bulan madu di eropa!" ucap Raksa dengan santainya tanpa merasa ada beban di depan nya, tentu saja ucapan nya itu benar-benar akan penuh perjuangan dengan syarat yang kini lebih berat perusahaan nya harus lebih unggul dari perusahaan Daffin.
"Oke, selamat berjuang! Tapi itu masih lama kan? Jangan terlalu terburu-buru, cerdas lah dalam mengambil keputusan. Lagi pula aku juga tidak ingin menikah terlalu muda."
"Akan selalu ku ingat itu!" ucapan Niana tentusaja mengandung nasehat.
"Masuk dulu ya, makan malam dulu!" tawar Niana.
"Nggak usah, lagi pula ibu udah masak."
"Oke, kalou begitu salam buat ibu Alea dan alia," Niana pun keluar dari mobil Raksa, lambanyan tangan menjadi tanda mereka berpisah sebelum Niana hilang dari balik pintu.
__ADS_1