
Auliya, Syifa dan Dhiva sedang berangkat ke sekolahnya namun di tengah perjalanan mereka, Auliya mengehentikan langkahnya karena mengingat sesuatu.
"Ehh syif, dhiv kalian duluan ajah, aku masih ada urusan" ucap Auliya. "Urusan apa?" Tanya Dhiva dan berhasil membungkam mulut auliya.
"An-nu urusan, heumm gatau lah, aku di panggil ustadzah zaenab,duluan ya assalamualaikum" ucap Auliya gugup dan langsung lari meninggalkan Syifa dan Dhiva. "Waalaikumsalam" balas Syifa dan Dhiva sambil melihat tingkah Auliya yang aneh, seperti ada yang di sembunyikan oleh Auliya.
Namun Syifa dan Dhiva tak ambil pusing, mungkin saja Auliya memang benar ada urusan, jadi mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju sekolahnya.
Saat Auliya sampai di depan ruangan ustadzah zaenab,Auliya melihat ada ustadzah zaenab bersama seorang laki-laki yang sudah membuat Auliya jadi ikut ikutan terkena hukum hanya karena alasan ngobrol berdua, padahal Auliya tidak memiliki rencana untuk mengobrol dengan haikal, tetapi apa boleh buat? Semua nya telah terjadi.
"Assalamualaikum ustadzah" salam Auliya dan masuk ke dalam. "Waalaikumsalam" balas ustadzah zaenab dan Haikal. "Oh kamu Liya, silahkan duduk sini" ucap ustadzah zaenab sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Auliya pun duduk di samping ustadzah zaenab, "jadi gini, sekarang ulangan hari 3 kalian. Ustadzah minta kalian kerjakan jangan di kelas, karena ini hukuman buat kalian yang sudah berani melanggar peraturan" ucap ustadzah zaenab.
"Lalu? Kita ngerjainnya di mana ustadzah?" Tanya Haikal. "Di lapangan" seketika mata Auliya langsung melotot tak percaya dengan hukuman yang menimpal kepada dirinya, Auliya tak percaya bahwa ia akan mengerjakan soal ulangan di lapangan dan di bawah terik sinar matahari, hanya alasan salah paham.
"Yang bener ustadzah?" Kaget Auliya. "Emang muka ustadzah kelihatan bohong?" Tanya balik ustadzah zaenab. Seketika itu Auliya menundukkan kepalanya dan mereuntiki nasib nya, bagaimana jika Dhiva tau kalo ia akan di hukum bersama Haikal? Pasti Dhiva sangat kecewa dengan dirinya.
Bel masuk sudah berbunyi, "sudah, sekarang kalian ambil soal di kelas kalian, dan pergi ke lapangan, kerjakan di lapangan sampai waktu ujian berakhir" tegas ustadzah zaenab. "Baik ustadzah" balas Auliya dan Haikal bersamaan.
Setelah itu mereka beranjak dari duduk nya dan pergi ke kelas mereka masing-masing, sebelum mereka pergi ke kelas, Auliya melirik sekilas ke arah Haikal, begitupun juga Haikal, "ini semua gara-gara kamu, liat ajah nanti" ucap Auliya dan meninggalkan Haikal.
Haikal tak bisa berbuat apa-apa hanya saja melihati pundak Auliya yang semakin menjauh. "Maafin ana Auliya" batin Haikal.
Haikal merasa sangat bersalah dalam masalah ini, Haikal merasa bersalah dengan sifat kekanak-kanakan nya, Haikal juga tak tau entah kenapa bibir Haikal tiba-tiba saja berbicara tentang perasaan nya yang rindu pada Auliya.
Haikal pikir jika Haikal tak menghampiri nya semalam mungkin tak akan dia di hukum seperti ini.
*****
Auliya dan Haikal kini sudah berada di lapangan dan pas di tengah-tengah nya, Auliya dan Haikal mengerjakan soal nya dengan fokus, jarak mereka tak cukup jauh Haikal di sebelah timur, sedangkan Auliya di sebelah barat, mereka mengerjakan secara berhadapan dengan jarak kurang lebih 80cm.
Di sisi pojok lapangan ada ustadzah zaenab yang mengawasi mereka, dari tingkah lakunya dan tatapan nya.
Haikal ketika mengerjakan tak luput dengan mencuri curi pandang ke arah Auliya yang sedang mengerjakan. Auliya yang menyadari jika Haikal memandanginya membuat diri kita tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan, Auliya memilih untuk tidak menghiraukan nya.
Auliya masih saja terus fokus dengan Soal ulangan nya dan tak menghiraukan Haikal yang sedari tadi hanya curi curi pandang.
"Aduhh.. bulpoin aku pakek habis lagi isi nya" ucap Auliya pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Haikal, Haikal yang mengerjakan soal nya yang mendengar Auliya ada masalah, Haikal pun mendongakan kepalanya dan melihat ke arah Auliya.
Auliya yang merasa kebingungan dengan bolpoin yang habis tintanya, dan meminta izin kepada ustadzah zaenab untuk pergi ke koperasi.
Namun niat Auliya itu terurungakan karena Haikal terlebih dahulu memberikan sebuah bulpen kepada nya.
Haikal POV
Aku yang melihat Auliya kebingungan dengan bulpen nya yang kehabisan tinta nya, dan kebetulan aku membawa bulpen 2.
Maka sebelum ia beranjak dari duduk nya, aku terlebih dahulu melemparkan bulpen ku pas di atas soal ujian nya, dia menatap ku begitu lekat.
Aku yang menyadari ia menatapku, aku memberikan senyum simpul kepadanya, seketika ia langsung salah tingkah. Aku yang melihat reaksinya pun tertawa lepas batinku.
"Pakai bulpen ku ajah" ucap ku pelan tapi bisa terdengar oleh Auliya. "Emang kamu punya bulpen berapa?" Tanya nya kepadaku. Aku pun membalasnya dengan menaikan jari telunjuk dan jari tengah ku, yang menyerupai angka 2.
"Baiklah, aku pinjam ya, ini semua kan salah kamu" ucap Auliya sambil melirik ke arah ku. Aku yang merasa bersalah kepadanya maka aku harus meminta maaf. "Maafin aku ya Liya" ucap ku lirih, namun ia tak mengagapi ucapan ku.
Auliya yang mendengar Haikal meminta maaf kepada dirinya, ia memilih membuang pandangan nya ke arah lain dan mulai mengerjakan.
Bel istirahat sudah berbunyi, namun Haikal dan Auliya tidak bisa mengikuti seperti santriwan dan santriwati lain untuk istirahat, Auliya dan Haikal masih tetap di posisi sama di tengah lapangan, tapi kini posisinya sedang berdiri dengan kaki di alat satu dan dengan tumpukan Sebuah buku di atas kepala mereka.
Kini Auliya benar-benar malu karena menjadi tontonan para santriwan dan santriwati di pesantren ini, betapa malu nya? Dia tidak melakukan apa-apa tetapi mendapatkan imbasnya.
Dari sudut lapangan ustadzah zaenab masih terus saja memantau Auliya dan Haikal, sesampainya Syifa dan Dhiva pun menghampiri ustadzah zaenab, karena ingin tau alasan nya kenapa Auliya bisa di hukum bersama Haikal.
__ADS_1
"Assalamualaikum ustadzah?" Salam Syifa dan Dhiva. "Waalaikumsalam" balas ustadzah zaenab.
"Maaf ustadzah, kalo boleh ana tau, itu kenapa Auliya sama Haikal di tengah lapangan, dan harus seperti gitu?" Tanya Dhiva sambil menunjuk ke arah Auliya dan Haikal.
"Kalian tidak tau? Kalo Haikal sama Auliya itu melanggar peraturan pesantren ini" balas ustadzah zaenab tegas.
"Heum.... Kalo boleh saya tau, mereka melanggar peraturan yang mana ustadzah?" Tanya Syifa serius dan penasaran.
"Mereka sudah berani berduaan di depan kamar mandi santriwati dan mengobrol di sana, tanpa ada orang lain satu pun di sekitar mereka" balas ustadzah zaenab.
"Apa..?" Kaget Dhiva sambil menutupi mulutnya, Dhiva tak menyangka bahwa Auliya sudah berani mendekati orang yang selama ini ia cintai, meskipun yang Dhiva cintai orang nya nggak peka.
Syifa yang melihat Dhiva yang kaget dengan kabar dari ustadzah zaenab, Syifa hanya takut satu hal yang akan terjadi, Syifa takut jika Dhiva membenci Auliya lagi hanya karena alasan ini. "Kenapa kamu rahasiakan ini semua Auliya?" Batin Syifa.
"Kapan kejadian itu terjadi ustadzah?" Tanya Syifa dan Dhiva pun ikut mendekat ke arah ustadzah zaenab.
"Tadi malam, selesai shalat isya" jawab ustadzah zaenab. Syifa melihat lihat ke atas seperti mengingat sesuatu tadi malam. "Oh iya ustadzah, tadi malam pas pulang dari masjid menunaikan shalat isya, Auliya tiba-tiba perutnya mules ustadzah, jadi Auliya izin ke kita buat ke kamar kecil, dan Auliya menyarankan ke kita untuk duluan, kami pun duluan , mungkin pas ketemu sama kak Haikal itu nggak sengaja deh ustadzah. Mungkin kak Haikal lewat dan menyapa gitu doang" jelas Syifa panjang lebar seperti membela Auliya.
Syifa yang melihat Dhiva terdiam saja dan melihat ke arah Haikal dan Auliya, Syifa pun menyenggol lengan Dhiva dan mengisyaratkan untuk membela dirinya.
"Iy-ya ustadzah, bener kata Syifa" ucap Dhiva terbata-bata.
Ustadzah zaenab terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu, "semoga ustadzah zaenab percaya dengan ucapan ku dan membebaskan Auliya dan kak haikal" batin Syifa.
"Apa kamu yakin?" Tanya ustadzah zaenab. "Yakin ustadzah, iya kan dhiv?" Tanya Syifa kepada Dhiva. "Iya ustadzah, yakin 100%" ucap dhiva.
Ustadzah zaenab menghembus kan nafas nya kasar, "Baiklah ustadzah akan membebaskan mereka, karena mereka bertemu karena tidak sengaja" ucap ustadzah zaenab dan berhasil membuat Syifa dan Dhiva bahagia.
"Terimakasih ustadzah" ucap Syifa dan Dhiva sambil menyalaminya, ustadzah zaenab pun membalasnya dengan anggukan kepala.
"Auliya..? Haikal..?" Teriak ustadzah zaenab yang memanggil Auliya dan Haikal. Auliya dan Haikal yang mendengar itu spontan langsung menoleh ke arah ustadzah zaenab yang ternyata menyuruh mereka untuk mengakhiri hukuman nya. "Alhamdulillah" ucap syukur Auliya dan Haikal.
Auliya dan Haikal menghampiri ustadzah zaenab,Syifa dan Dhiva. "Hukuman kalian, ustadzah hentikan, karna Syifa dan Dhiva sudah menjelaskan detik-detik bertemunya kalian, dan mereka bilang kalian tidak sengaja" ucap ustadzah zaenab.
"Iya ustadzah, terimakasih banyak" ucap Haikal dan menyalami tangan ustadzah zaenab. "Iya,iya" balas ustadzah zaenab dengan senyum khasnya. "Saya juga berterima kasih dengan ustadzah" ucap Auliya sambil mencium punggung tangan ustadzah zaenab.
Ustadzah zaenab yang mendengar ucapan Dhiva pun berdehem. "He.em" sebuah deheman dari ustadzah zaenab dan membuat Dhiva ketakutan, ia tidak sadar bahwa di sampingnya ada ustadzah zaenab. "Bercanda ustadzah" ucap Dhiva di iringi kekehan. Semua pun ikut tertawa.
*****
Shalat Dzuhur sudah mereka laksanakan, Haikal yang berjalan menuju kamarnya dengan lantunan shalawat yang di nyanyikan nya bersama Adit teman sekamarnya.
Haikal tak tau dimana keberadaan fahir, semenjak Haikal di hukum sana ustadzah zaenab dan tidak ikut ujian di kelas, seketika itu Haikal tak nampak sama sekali fahir remnya itu.
Di tengah perjalanan Haikal dan Adit, langkah mereka terhenti karena ada salah satu teman mereka yang mendorong pundak haikal dan sampai terdorong ke belakang.
Adit yang tak terima dengan perlakuan sahabatnya itu yang tiba-tiba, Adit pun membela Haikal.
"Kamu apa apaan sih hir" ucap Adit sambil menaikan nada suaranya.
"Kamu diam, saya tidak ada urusan sama kamu, urusan saya sama dia" ucap fahir sambil menunjuk ke arah Haikal. Haikal yang melihat fahir begitu marah kepadanya, Haikal mencoba menenangkan emosi fahir.
"Tenang hir, ada apa? Kamu emosi seperti ini sama saya?" Tanya Haikal pelan.
"Kamu tanya kenapa? Iya? Kamu sudah berani mendekat Auliya, itu, apa kamu ingat ha?" Sentak fahir kepada Haikal.
"Astagfirullah, saya tidak pernah punya niatan untuk mendekati Auliya hir, itu semua tidak sengaja" jelas haikal meyakinkan fahir.
"Alasan kamu... Ngomong saja kalo kamu emang juga suka sama auliya, iya kan?" Ucapan fahir kini sudah benar-benar membungkam mulut Haikal seperti tak bisa berkata apapun.
"Kenapa kamu diam? Emang iya kan?" Ucap fahir dengan senyum sinis nya. "Kalo ngomong di jaga dong, masa iya kalian berantem cuma gara-gara cewek?" Ucap Adit yang ikut bicara.
"Emang kalian berdua MUNAFIK..!" ucap fahir langsung meninggalkan Haikal dan Adit.
__ADS_1
"Astagfirullah, kenapa semua jadi begini" ucap Haikal frustasi. "Sabar kal, saya selalu ada buat kamu, biar masalah fahir, biar saya yang urus" ucap Adit menenangkan Haikal.
Haikal pun menurut saja dengan ucapan sahabatnya itu, Haikal tau betul sifat fahir, jika ia sudah marah seperti ini, itu tandanya ia butuh waktu untuk menjelaskan semuanya secara baik-baik.
Haikal dan Adit melanjutkan langkahnya dan menuju ke arah kamarnya.
Ketika Haikal dan Adit sampai di kamarnya, Haikal merasa kepalanya sangat pusing sekali karena merasa kelelahan dengan terik matahari, belum ditambah lagi dengan masalah fahir yang sudah salah paham kepadanya.
Haikal pergi ke ranjang kasur miliknya dan merebahkan tubuhnya, "seandainya waktu bisa ku ulang, pasti aku tak akan berhenti menemui Auliya yang ujungnya seperti ini" ucap Haikal sambil mentap langit-langit kamarnya.
Di tengah hafalan adit, Adit mendengar suara penyesalan Haikal sahabatnya itu. "Sudahlah kal, mungkin sudah takdirnya begini, apa boleh buat?" Balas Adit dengan santai.
"Kamu benar dit, arghh! Tau ah, aku tidur dulu, pusing nih kepala mikir terus" ucap Haikal dan memposisikan tubuhnya miring dan menghadap tembok.
Adit yang melihat tingkah sahabatnya itu, merasa kasian dengan masalah yang Haikal hadapi. Adit beranjak dari duduknya dan menaruh kitab hafalan nya dan pergi keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan fahir.
Adit menelusuri semua pesantren untuk mencari keberadaan fahir namun hasilnya nihil.
Adit berhenti sejenak dan memikirkan tempat mana yang belum ia datangi.
Seketika Adit mengingat sesuatu,"di pesantren ini ada yang namanya danau yang belum aku telusuri. Mungkin fahir ada di sana" Adit pun berlari dan menuju ke danau yang tepatnya di belakang pesantren.
Ketika Adit sampai di danau pesantren mata Adit langsung tersorot kepada seorang laki-laki yang ia tengah cari sekarang, dia berada di bawah pohon mangga dan duduk sambil menatap ke danau dengan tatapan kosong.
"Assalamualaikum fahir?" Ucap Adit menghampiri fahir, fahir menatap sekilas ke arah Adit dan menatap ke arah danau dengan tatapan kosong.
"Hir, kamu kenapa sih?" Tanya Adit sambil menyamakan tubuhnya dengan fahir. "Jangan ganggu aku dulu, aku mau sendiri" balas fahir sambil menatap ke danau.
"Kamu kenapa jadi begini? Apa hanya karena Auliya?" Tanya adit, fahir yang sedari tadi tak menghiraukan nya kini pun mendongakan kepalanya dan melihat ke Adit.
"Kamu nggak tau rasanya dit, kamu nggak tau rasanya kalo orang yang kamu cintai di ambil sama sahabat sendiri" ucap fahir meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu sedih?" Tanya Adit. "Tentu aku sedih, melihat orang yang aku cintai kini sudah di rebut oleh sahabatku sendiri" balas fahir lirih.
"Ey..? Denger ya, kenapa kamu harus sedih? Jika dia memang jodoh kamu, dia pasti kembali ke kamu, kamu nggak perlu kejar kejar dia, kalo emang dia jodoh kamu, dia akan datang sendiri ke kamu" ucap Adit menenangkan fahir.
Fahir yang menunduk kini semakin menatap ke arah Adit. "Tapi..m kalo dia bukan jodoh kamu, percayalah, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buat kamu" lanjut Adit.
"Sekarang, kamu fokus dulu dengan mondok kamu disini dan bahagianin dulu ayah sama ibu kamu di Jogja ya, jangan mikirin yang itu" ucap Adit sambil mengelus pundak fahir. Fahir pun mengangguk pelan dan menatap Adit
"Makasih ya dit" ucap fahir dan menepuk pundak adit, Adit pun berdiri dan di ikuti oleh fahir, Adit melangkurkan tangan nya di leher fahir dan berjalan ke dalam pesantren.
******
Waktu sudah tak terasa begitu cepat berlalu, kini di Surabaya menunjukan pukul 17.30 selesai shalat Maghrib.
Auliya, Syifa dan Dhiva kini sedang belajar bersama karena besok ujian terakhir mereka, mereka harus semangat untuk ujian terakhir nya dan harus mendapatkan nilai yang terbaik.
"Eh dhiv, kamu nggak marah sama aku?" Tanya Auliya membuka pembicaraan, Dhiva yang mendengar itu pun mengernyitkan dahi nya.
"Marah? Marah untuk apa?" Tanya Dhiva bingung. "Yaaa... Masalah tadi siang" ucap Auliya mengingatkan.
Dhiva berpikir sejenak dan mengingat kejadian tadi siang. "Ohh, masalah Haikal?" Tanya Dhiva dan di balas angguk an oleh Auliya.
"Sudahlah, biarin, aku mah percaya sama kamu kalo kamu nggak mungkin ngerebut Haikal dari aku kan?" Ucap Dhiva yang berhasil membuat Auliya merasa sangat bersalah.
Auliya tak tau perasaan nya selama ini tentang Haikal itu gimana. Tetapi Auliya usahakan Auliya Tidak akan mencintai haikal demi Dhiva.
"Liya..?" Panggil Syifa. "Ngapain bengong?" Lanjut Syifa dan di balas senyum tipis oleh Auliya.
"Allahuakbar"
"Allahuakbar"
__ADS_1
"Tuh sudah adzan, kita ambil wudhu dulu yuk" ajak Auliya dan di balas anggukan oleh Syifa dan Dhiva. Setelah itu mereka melaksanakan shalat isya berjamaah di masjid.
Bersambung........