
Aga yang juga ikut mengantarkan putrinya sampai di Amerika, yang kebetulan ia juga memiliki urusan bisnis di sana. Perjalanan berjam-jam pikiran nya di buat sibuk tak berhenti memikirkan putrinya, bahkan sampai saat ini ia sudah sampai di kediam nya di Amerika, pikiran nya masih di penuhi Niana.
Aga berbaring setengah bersandar di tempat tidurnya, hanya helaan nafas yang terdengar. Melihat apa yang di alami putrinya pasti sangat sulit, Aga merasa bersalah karna dulu sudah menghalangi hubungan Raksa dan putrinya. Tapi itu bukan semata-mata karena ia kejam tapi ia hanya ingin menyeleksi pria yang di sukai putrinya itu.
Usia Niana dan juga Raksa yang masih sangat belia, juga menjadi alasan yang membuat Aga untuk tidak mendekatkan mereka terlebih dulu. Aga juga ingin mendidik Raksa, menjadikan nya pria kuat, bertanggung jawab, bisa berjuang mendaparkan apa yang dia mau. Karena putrinya, tidak bisa ia berikan pada pria sembarangan kelak.
Aga selalu mengawasi Raksa, melihat semua usaha dan kegigihan Raksa, melihat perjuangan dan kerja keras pemuda itu yang luar biasa membuat Aga kagum. Aga, sudah menetapkan kalou Raksa adalah pria yang pantas kelak untuk putrinya.
Namun sikap Aga yang mengenalkan Niana pada keluarga Sahabat yang juga menjadi kolega bisnisnya di Amerika, membuat Niana salah mengira kalou ayahnya akan menjodohkan nya dengan putra sahabat ayahnya yang tak lain adalah Daffin.
Tok tok tok ceklek... pintu kamar Aga terbuka terlihat putri cantinya menghapirinya dengan membawa segelas air putih.
"Ayah sedang memikirkan apa?" tanya Niana sembari menaruh gelas yang dia bawa di atas nakas samping tempat tidur ayahnya yang ayahnya sedang setengah berbaring di sana. "Ayah kenapa, dari tadi seperti ada yang ayah pikirkan?"
"Ayah hanya memikirkan urusan pekerjaan."
__ADS_1
"Harusnya ayah istirahat, jangan banyak pikiran!" Seru Niana lalu mengasongkan air minum yang tadi dia bawa untuk ayahnya. "Sekarang istirahatlah, minum yang banyak!"
"Aku ingin segera ikut ayah bekerja, agar bisa meringankan beban ayah!" ucap Niana lagi membuat ayahnya menatap haru, "Kenapa aku harus kuliah dulu jauh-jauh si yah! padahan tanpa kuliah aku juga pasti bisa langsung bekerja di prusahaan ayah, dan aku juga punya guru terbaik yaitu ayah. Aku bisa belajar langsung dari ayah untuk menjalan kan prusahaan-prusahaan kita!"
"Maafkan ayah, sebenarnya itu yang ayah pikirkan!" Aga menaruh gelas yang sudah ia habiskan setengahnya kembali di atas nakas, kemudian mengubah posisis semula menjadi duduk bersampingan dengan putrinya di tepi tempat tidur.
"Sepertinya kamu pulang saja, tidak perlu melanjutkan pendidikan mu!" tutur Aga membuat Niana tidak mengerti. "Kamu juga tidak perlu bertunangam dengan Daffin, dan tidak perlu melanjutkan hubungan kakian!"
"Maksud ayah apa?"
Aga menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan putrinya, mempersiapkan diri untuk mengatakan kebenaran yang tidak sesuai ekpektasinya, dan pastinya akan membuat putri semata wayang nya itu marah. "Maafkan ayah yang selalu membuat mu menderita. Dulu waktu kamu sebelum berangkat ke sini, Raksa datang ke rumah untuk menyusul mu, tapi ayah melarang nya menemuimu karna awalnya ayah tidak suka dengan anak itu, dengan menghinanya mengatakan kalou dia tidak pantas untuk mu."
Niana menungkup mulutnya dengan tangan nya, menahan suara tangisan yang akan keluar waloupun air matanya sudah keluar deras sedari tadi. "Maafkan Ayah, Ayah sadar dari awal kamu menyukainya, tapi ayah malah menahan hubungan kalian!"
Niana tidak mengucapkan apapun ia hanya menangis meluapkan rasa kecewa pada ayahnya, hingga rasa amarahnya benar-benar tidak bisa ia tahan lagi. Dengan segera ia berlari keluar kamar ayahnya menuju kamarnya, memaki atou menyalahkan sang ayah untuk meluapkan amarahnya tidak mungkin Niana lakukan.
__ADS_1
Niana tidak berhenti menangis di kamarnya dengan pintu kamar yang sengaja ia kunci, gadis itu sungguh hanya ingin menangis sendiri saat ini. Kalou saja aku mengetahui semua ini daria awal, aku tidak akan menyia-nyiakan perasaan ku, aku tidak akan menerima pria lain di hidupku!
Niana terus mengurung diri, membuat Maya dan dan orang-orang yang bekerja di rumah bernuansa federal itu hawatir. Aga yang menyadari kemarahan putrinya, hanya bisa diam. Maya sudah sangat hawatir karna dari semalam Niana tidak keluar bahkan semalam Niana belum makan malam. Akhirnya Maya menghubungi Daffin, karna ia sudah tidak bisa membujuk nona mudanya untuk keluar.
Setelah mendapat kabar dari Maya dengan segera Daffin menuju kediaman Niana, saat sudah sampai di depan rumah Niana. Daffin berpapasan dengan ayah Niana yang sedikitpun tidak menegurnya, Aga terlihat akan pergi menuju mobil yang sudah siap membawanya pergi.
Daffin segera masuk, di dapati beberapa orang yang panik termasuk Maya yang menunggu di depan kamar Niana.Daffin dengan segera mengetuk kamar Niana.
"Sayang buka pintunya! jangan membuat ku hawatir," Daffin beralih melihat para tiga wanita yang panik masih menunggu di sana. "Apa tidak ada kunci cadangan!"
"A Ada tuan tapi, pintu di kunci di dalam dan tidak bisa di buka dari luar walou di buka dengan duplikatnya dari luar!" jelas salah seorang asisten rumah tangga.
"Kalou begitu mundur, aku akan mendobrak pintunya!" Niana mendengar keributan di luar dengan enggan ia bernjak dari ranjang nya untuk membuka pintu karna tidak ingin sampai Daffin mendobrak pintu kamarnya.
Ceklekk... pintu kamar terbuka, Niana keluar dengan wajah sembabnya sebelum Daffin akan mendobraknya.
__ADS_1
"Cup..." dengan cepat Daffin meraih Niana mengecup kening nya lalu memeluk erat gadis itu, wajahnya nampak panik di penuhi kehawatiran untuk gadis yang sangat dia cintai. "Ada apa? kamu membuatku hawatir."
Niana hanya terdiam tidak menolak pelukan Daffin, sikap Daffin yang seperti ini sungguh sangat membuatnya tersiksa seakan semakin terjebak dengan pilihanya yang dia sadari adalah kesalahan nya saat ini. Niana merasakan kepalanya seakan berputar, pandangan nya meremang, sampai gadis itu pingsan hilang kesadaran dalam pelukan Daffin. Sontak semua orang di sana bertambah panik.