Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 67


__ADS_3

"Sayang sekali, padahal kamu salah-satu mahasiswa terbaik. Akan ada toleransi untuku," jelas Aga, dalam arti ucapan nya bahwa dia menawarkan membantuan oada Raksa untuk bisa tetap kuliah waloupun dengan segala kesibukan ny.


"Tapi saya sudah memustukan, mungkin ibu saya akan sangat kecewa karna beliou yang paling mendukung saya kuliah Universita PJMandiri. Universitas milik anda," ucapan Raksa membuat Aga tertegun, ia mengambil pilihan yang sulit yang beresiko mengecewakan ibunya. "Tapi saya yakin ia akan mengerti.:


"Baillah," Aga selalu tetsenyum menyikapi setiap ucapan Raksa banyak rasa kagum yang ia lihat dari pemuda itu. "Jika kamu sedang ada masalah, jangan sungkan menghubungiku. Ya waloupun yang kamu butuhkan dariku hanya sebuah nasehat, aku akan mencoba membantu. Karna bantuan ivestasi selalu kamu tolak."


"Saya hanya tidak ingin ada pembicaraan yang tidak enak di luaran," ucap Raksa. "Terimakasih untuk semuanya."


"Padahal aku menawarkan bukan bantuan cuma-cuma. Aku tertarik membeli saham mu karena aku yakin dengan kinerja perusahaan kalian. Kita sama-sama pembisnis, pembisnis yang baik seharusnya tidak mencampurkan masalah pribadi kedalam masalah busnis mereka." tutur Aga, Raksa hanya terpaku di tempatnya mendengarkan.


Aga mengangkat dan melipat tangan nya, melihat sebyah arloji merek Ro**lex yang melingkar di pergelangan tangan nya. "Terimakasi sudah mau datang memenuhi undangan ku."


Raksa mengannguk menundukan kepala sebagai tanda hormatnya, pria di hadapannya lanjut berdiri kemudian hendak beranjak pergi, "Jangan lupa permintaan ku ku tadi padamu."


"Saya kan selalu mengingatnya." ucap Raksa mengulas senyim nya. Tanpa di pintapun, aku akan selalu menjaga putri anda.


***


Waktu kian bergulir, hari-hari kian terlewati, hari ini sudah tepat tanggal 22 mei. Raksa yang tidak biasanya masih dengan mata terpejam dengan tubuh terbalut selimut, masih terlelap di pagi hari yang biasanya CEO muda itu sudah siap untuk menjalani segala rutinitasnya.


"Kakak bangun!" Seru Alea dan Alia, membangun kan Raksa yang sudah menarik selimut yang membalut tubuh kakanya itu. "Udah siang kak, gak biasanya."


"Iya.." jawab Raksa singkat, dengan suara kantuk yanv jelas bisa di pastikan ia belum sepenuhnya bangun.


"Kakak kenapa males bangun nya kumat." gerutu kedua adiknya, menyerah meninggalkan kakanya.


Dreettt... dreeettt...

__ADS_1


Geratan ponsel Raka yang menggema di ruangan kamar nya, setelah kedua adiknya pergi. Suara ponsel yang sangat jelas terdengar jelas dari atas nakas samping tempat tidurnya. Dengan malas tangan Raksa meraba keberadaan ponselnya. Tertera sebuah nama yang membuat kedua matanya dengan kilat terbuka lebrar, Dream Girl.


Raksa dengan segera menggeser tombol biru, menerima panggilan Dari gadis impian nya itu. "Sudah bangun?"


"Sudah dari tadi," jawab nya bohong, tapi terdengar jelas nada bangun tidur dari balik telepon yang sampai di telinga gadis di balik telepon.


"Kenapa bohong?" Tanya Niana, "Alea dan Alia barusan telpon katanya kamu susah di bangunin. Kenapa hari ini nggak kerja?"


"Aku hanya sedikit lelah, dan hari ini memang tidak akan ke kantor. Aku mau kebandung ngapelin cewek." jawab Raksa santai dengan senyum menyeringai.


Menunggu jawaban yang cukup lama, Niana tampak berpikir di balik terpon. "Kenapa? Tidak senang aku akan datang?"


"Bukan begitu tapi, aku akan pulang sendiri," jawaban Niana terdengar dengan nada Ragu.


"Kenapa seperti itu? Aku tetap akan menjemput mu. Sudah ya aku siap-siap dulu."


Sarapan pagi sudah siap tersaji di atas meja makan. Sesibuk apapun urusan pekerjaan yang membuatnya tergesa-gesa untuk pergi ke kantor, tapi Raksa tidak pernah melewatkan sarapan pagi bersama tiga orang wanita yang sangat ia cintai di rumahnya itu.


"Kak, kita sudah siapin hadiah buat kak Niana," ucapan Alea, membuat kening Raksa berkerut saat tengah menikmati sarapan nya dengan lahap.


"Hadiah untuk apa?" Tanyanya heran, dengan wajah melongo tampak tidak tau apa-apa.


Alea dan Alia secara kompak menggeleng dengan menepuk dahi mereka. "Harusnya yang lebih peka itu kakak, kakak yang pacarnya kak Niana," protes Alia dengan sikap bodoh kakaknya laki-lakinya itu.


"Kakak benar-benar lupa ulang tahun pacar kakak sendiri?" kali ini nada heran terlontar dari mulut Alea.


"Benarkah?" Raksa tampak berpikik, mengingat ucapan kedua adiknya.

__ADS_1


"Sekarang tanggal 22 kak, dua hari lagi kak Niana ulang tahun." tegas Alea lagi.


"Gak peka banget jadi cowo," Alia juga ikut menyudutkan kakanya.


"Iya sibuk teing gawe(Terlalu sibuk bekerja)," cibir Alea juga.


Raksa akhirnya menepuk dahinya sendiri, bisa-bisanya dia lupa akan hari penting gadis impian nya itu. Ya waloupun ini untuk kali pertama ia akan merayakan nya, tapi Raksa sudah tau itu jauh-jauh hari dari Karin. Bahkan saat 2 tahun Niana berada di Amerika, ia merayakan hari lahir gadis impian nya itu sendiri.


Raksa memang tidak pernah menganggap hari ulang tahun nya sendiri itu penting, apa untungnya merayakan hari lahir ke dunia yang pana ini, sekalinya merayakan pun itu selalu inisiatif dari keluarga atou sahabatnya. Tapi tidak untuk hari kelahiran orang-orang yang ia cintai, dia sangat menganggapnya penting.


"Jadi hari ulang tahun Niana tanggal 24?" ibu Safirya yang akhirnya bersuara, setelah menangkap jawaban yang di simpulkan nya. Yang sebelum nya ia hanya tersenyum sendiri melihat debat kakak beradik itu di meja makan.


"Iya," jawab Alea.


"Kalian lupa besok hari kepergian ayah kalian?" tanya ibu Safira. Ketiga anaknya terdiam seketika, perubahan raut


Raut wajah mereka sangat terlihat terutama Alea dan Alia, mereka berdebat karena kakanya melupakan hari ulang tahun pacarnya, sedangkan mereka sendiri lupa hari kepergian mendiang ayah mereka.


"Ayah maafkan kami, kami terlalu sibuk menyiapkan kado untuk hari ulangtahun Kak Niana." Lirih Alia tertunduk menangis.


Raksa menepuk bahu kedua adinya itu, "Udah gak papa. Lupa itu wajar di alami setiap manusia. Kalou gitu kakak akan cuti 3 hari."


Raksa lanjut memeluk kedua adiknya. Tanggal-tanggal mendekati hari kepergian ayah mereka memang hari dimana tangisan dari tiga wanita dirumah itu selalu menyeruap, dan Raksa selalu harus jadi penguat untuk mereka semuanya. "Hari ini kakak jemput kak Niana, besok kita kita sama-sama ziarah ke makam ayah, dan lusa kita rayakan hari ulang tahun kak Niana."


Alea dan Alia pun menghapus air mata mereaka bergantian, dengan senyuman terlontar pada kakak berganti pada ibunya.


Ibu Safira tersenyum kecil, sebenarnya mengingat kepergian sang suami tercinta membuanya tak kalah sedih. Tapi kali ini ia tak ingin terlalu berlarut-larur, mengingat kebahagiaan lain Raksa dan kedua putrinya yang sangat semangat akan merayakan hari ulang tahun Niana.

__ADS_1


__ADS_2