Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 50


__ADS_3

Niana mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan memeluk guling dan bersandar pada sandaran tempat tidur di belakang nya. Gadis itu tampak termenung, perasaan kecewa dan marah pada sang ayah, yang selalu menutuskan apapun sendiri.


Disaat ia sudah berencana mencoba mengakhiri semuanya baik-baik dengan Daffin, mengapa semuanya malah di buat lebih sulit.


Satu bunyi Notifikasi terdengar dari ponselnya, Niana sengera meraih ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya, "Aku sudah sampai di rumah, tadi ngambil hp dulu ke rumah Karin. Aku tau kamu belum tidur, tapi tidak usah membalas pesan ini. Tidur lah, mimpi indah!" pesan sayang dari Raksa, tanpa di sangka sepenggal pesan itu mampu membuat Niana lebih baik.


"Tapi aku tidak bisa tidur," balas Niana. Setelah mendapat balasan Niana Raksa langsung melakun panggilan video.


"Jangan terus memikirkan ku. Atou mau tidur bareng?,"  ucap Raksa di balik telepon.


"Tidur bareng, Maksudnya?" tanya Niana.


"Aku tidur disini, kamu tidur di sana. Kita bobo barengg, nanti ketemu di mimpi."  jawab Raksa.


Niana tersenyum, "Aku mau."


"Ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Raksa.


"Sedikit. Apa besok kita bisa bertemu?" Niana.


"Kalou mau sekarang juga bisa," jawab Raksa.


"Besok saja,"


"Oke, mau main ke kantorku?" ajak Raksa.


"Iya aku mau,"


"Besok aku jemput," jawab Raksa. "Sekarang tidur ya,"


"Temani aku," pinta Niana. Ia dengan segera menbaringkan badan nya menutupinya dengan selimut, tanpa mematikan panggilan video nya. Niana perlahan terlelap dengan ponsel yang masih dia pegang terarah kepadanya, hingga Raksa bisa melihat wajah teduh Niana kala terlelap. "Mimpi indah my Dream Girl," Ucap Raksa, menyusul Niana yang sudah berada di alam mimpi.


*


Esok hari keduanya membuka mata dengan semangat, meregangkan badan mereka yang terasa lebih ringan setelah beristirahat, walou di tempat berbeda. Tapi mereka melakukan hal yang sama dan memikirkan hal yang sama, ingin sengera bertemu hari ini. Dengan lekas mereka masuk  kamar mandi di kamarnya masing-masing.


Saat sarapan bersama ibu dan kedua adik nya Raksa lekas mengirim pesan singkat pada Niana, mengabarinya akan menjemputnya nanti setelah pulang kuliah.


"Pergi ke kampus dulu kan kak?" tanya ibu Safira, ibunya Raksa.


"Iya bu, setelah dari kampus aku langsung jemput Ni---"

__ADS_1


"Ni, siapa?" tanya Safira penasaran karena Raksa tidak melanjutkan siapa yang akan dia sebut.


"Mm maksudku jemput Karin, kita berangkat ke kantor sama-sama." Elak Raksa.


"Tumben kamu jemput, dan bukan nya Karin selalu berangkat pagi," tanya Safira heran.


"Gak tau bu. Eh pokonya aku punya kejutan buat kalian nanti," ucap Raksa dengan segera mengakhiri sarapan nya beranjak pergi cepat.


"Kejutan apa?" teriak penasaran Alea dan Alia yang Raksa abaikan.


****


"Nanti jemputnya pake motor ya?" pesan balasan yang Niana kirim pada Raksa. Niana sudah tak sabar menunggu Raksa menjemputnya. Hari ini ia ingin terlihat tampil beda dari biasanya, dengan segera Niana memilih-memilah baju yang akan di pakai nya.


Tok tok tok... suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Niana, ia pun mempersilahkan siapapun di balik pintu untuk masuk. "Nona ada tuan Daffin ingin bertemu," seorang pelayan memberi tahu.


"Nanti aku turun," jawab Niana malas.


Hal yang paling tidak ia ingin kan, tapi tidak mungkin untuk nya menghindar ia harus menyelesaikan semuanya dengan Daffin kali ini. Niana sudah turun menuruni anak tangga satu persatu, dengan cepat ia menghampiri Daffin,


"Kak Dafiin," sapa Niana, Daffin langsung menonggak melihat siapa yang memanggulnya.


"hai," jawab Dafiin, "Apa kabar mu?"


"Bisa kita bicara sebentar?" ajak Daffin, Niana pun mengangguk sebagai jawaban nya.


*


Niana sudah berada di sebuah kafe bersama Daffin, Daffin tampak serius dengan apa yang ingin dia katakan, namun raut wajah kecewa juga sangat terbaca di raut wajahnya.


"Lama tak bertemu, apa kamu senang di sini?" tanya Daffin dengan menyelipkan senyuman untuk gadis yang masih tertunduk membuang muka di sepan nya, "Maaf kan aku karna mengganggumu."


"Aku yang harusnya minta maaf, karna pergi begitu saja. Aku sangat bingung,"


"Aku mengerti, karna dari awal aku sudah tau hati mu sudah milik orang lain. Tapi aku berusaha percaya diri, dan pura-pura tidak menyadari itu," Daffin sedikit menundukan kepalanya, helaan nafar terdengar jelas mengatakan kenyataan yang sulit baginya.


"Maaf kan aku menyakiti hatimu,"


"Masih kah ada kesempatan?" tanya Daffin, membuat Niana ikut melihatnya menanti apa yang dia ingin katakan selanjutnya. "Apa aku juga boleh memperjuangkan mu?"


"Aku mohon kakak mengerti, di hatiku hanya ada Raksa," Niana menggeleng, "Aku tidak bisa."

__ADS_1


"Tapi ayah mu sudah menyetujuinya," ucap Daffin, "Aku bukan sepenuhnya pria baik yang bisa berbesar hati melihat gadis yang aku cintai bahagia dengan pria lain. Suguh sangat sulit ku lakukan."


"Ijinkan aku untuk berjuang tidak hanya untuk memenuhi syarat dari ayahmu untuk bisa lebih unggul membangun prusahaan ku sebdiri, tapi juga berjuang merebut hatimu dari orang lain," tatapan Daffin menujukan kesunguhan dengan ucapan nya. "Aku juga tidak ingin mengecewakan orang tuaku, mereka sangat mengharapkan mu. Terlebih ibuku, aku tidak ingin membuatnya kecewa."


"Tolong kak, mengertilah. Semua ini tak akan mudah, aku bukan barang yang bisa di perebutkan," tolak Niana, "Aku juga tidak ingin menyakiti mu dan keluargamu."


"Tapi kamu ibaratkan benda berharga, Sebuah berlian yang di perebutkan namun hanya orang tertentu yang bisa mendapatkan nya." jawan Daffin.


Niana berdiri dari duduk nya, rasanya ia sudah menyerah dengan ucapan nya. "Aku harus pergi, tolong pikirkan lagi semua ini."


Dengan cepat Niana melangkahkan kaki nya pergo dari sana. "Aku ingin tinggal di rumah kake saja," ucapnya masih berjalan menjauh dati kafe, hendak mencari taksi untuk mengantarnya pulang, namun saat ia akan memberhentikan taksi pergelnagan tangan nya di tahan seseorang.


"Aku antar pulang," Daffin menggenggam pergelangan tangan Niana.


"Aku tidak mau," namun Daffin menatap tajam Niana, membuat gadis itu terdiam. Daffin menarik Niana menuju mobil nya.


Hening, tak ada sepatah katapun yang terucap di dalam mobil Daffin. Niana hanya menatap nanar ke luar jendela mobil. Sampai mobil itu tiba di rumah Niana, bersamaam dengan sebuah motor yang sampai di sana.


"Aksa," ucap Niana, dengan segera ia keluar dari mobil Daffin.


"Niana!" seru Daffin, ikut menyul Niana keluar mobil nya. Membuat Raksa bisa melihat dengan siapa Niana pergi.


"Ada apa lagi?" jawan Niana, "Aku harus pergi dengan Raksa."


"Orang tuaku mengundang mu di acara enivesery mereka besok lusa di bali, aku harap kamu bisa datang." Daffin kembali memasuki mobinya, berlalu pergi.


"Raksa," panggil Niana, pada pria yang masih terdiam mematung di atas motornya.


.


.


.


Terimakasih untuk teman-teman semua yang selalu menyempatkan waktunya untuk membaca karya ku yang masih banyak kekurangan nya ini.


Aku sadar cerita ini masih sangat belum sempurna, terlebih masih banyak typo, kesalahan dan kekurangan lainya.


Insyaallhoh, Aku akan selalu memperbaiki semua kekurangan ny, dan berusaha lebih baik lagi untuk kedepan nya.


Jika berkenan, jangan lupa like tinggalkan komen, vote, dan bantu share ke temen-temen kalian lainya... Dukungan kalian para readers sangat lah berharga.

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2