Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 66


__ADS_3

Nilai saham perusahaan Raksa mengalami penurunan. Raksa tampak rosiu, masih duduk menanggkup kepalanya di meja kerjanya, sebelum meeting yang akan dia laksanak. Kalut dengan pikiran nya sendiri.


Raksa merasa ia sudah sangat keyeteran. Ia yang juga harus bisa membagi waktu antar pekerjaan dan juga kuliah, tidak hanya itu tugas kuliah yang menumpuk dan juga pekerjaan kantor yang memenuhi hampir semua waktunya.


Semua tanggung jawab yang harus di jalani nya, sungguh tidak mudah. Terlebih di usianya saat ini masih terbilang sangat muda dengan memikul beban tanggung jawab yang sangat besar sebagai seorang CEO, membuat nya hawatir tidak bisa menjadi pemimpin yang baik.


Pria itu akhirnya mengusap kasar wajahnya, meyakinkan dirinya bahwa dia bisa. Lanjut menuju ruang metting, untuk menyelenggarakan diskusi pembentukan struktur organigsasi prusahaan yang baru. Dengan beberapa karyawan baru yang lebih berpengalaman yang Raksa rektur, dan salah satunya menggantikan Bonanza sebagai manager utama prusahaan.


Di hadiri beberapa pemilik saham dan semua jajaran prusahaan baru yang telah terbentuk dari mulai divisi keuangang, pemasaran, produksi dan yang lainya. "Terimakasih untuk semua kesepakatan yang bisa di terima oleh semuanya dengan baik, dan saya harap kita semua bisa dengan amanah mengemban tugas, tanggungjawab dari jabatan masing-masing."


Meeting selesai, sebagian sudah keluar dari ruangan yang kurang lebih berukuran 15×7 meter tersebut. Hanya tinggal menyisakan CEO dan beberapa manager baru yang terbentuk. Lanjut mendiskusikan program rencana mereka ke depan, Raksa yang paling muda di sana tidak lupa mengucapkan rasa terimakasih karena telah di percaya dan di terima sebagai pemimpin oleh semua bawahan nya.


"Kita harus bisa mengatasi masalah lonjaknya penurunan nilai saham kita, dengan mencari solusi dan starategi pemasaran baru." tutur Raksa dalam memimpin meeting. "Seetelah semunya pulij kita akan melepas lagi 10% saham untuk proyek baru kita kedepan, Tolong kawal semuanya dan pastikan berjalan dengan baik dan terencana. Saya mau pihak manapun yang akan membeli saham kita nantinya, harus jelas dan mau bekerjasama dengan baik."


Sepenggeal dari beberapa penggal penuturan Raksa yang ia sampaikan, setelah 20% saham yang sudah ia lepas, RD development kembali harus melepas saham mereka sebanyak 10% tentu saja semua itu untuk menunjang mereka agar semakin melebarkan sayap di dunia properti.


***


Hari kembali tertimpa gelapnya malam, setelah melaksanakan semua kesibukan nya di kantor, Raksa masih belum bisa pulang untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah dan semua pikirannya yang penat. CEO muda itu melajukan mobilmya menuju sebuah restoran mewah, hendak menghadiri undangan dari seseorang.


Kaki Raksa sudah menapaki sebuah Restoran bintang 5, dengan gemerlap lampu-lampu yang mengiri setiap langkah Raksa memasuki Restoran mewah tersebut. "Meja atas nama Raksa," turur raksa pada resepessionis restoran.


"Mari saya antar, tuang Aga sudah menunggu," Raksa di tuntun menuju sebuah meja exlusive yang seorang pria paruh baya tapi masih tampak gagah di usianya, menunggu kedatangang Raksa.

__ADS_1


"Selat malam tuan Aga, maaf membuat anda menunggu," sapa Raksa pada pria yang dia harap akan menjadi ayah mertuanya kelak. "Terimakasih untuk undangan makan malam anda."


"Tidak masalah. Bicara santai saja, kita tidak sedang tidak menghadapi suatu kerja sama pekerjaan," jawab Aga. "Anggap saja seperti pembicaraan santai ayah dan anak, atou seorang teman yang sedang dinner bersama."


"Saya mengerti," Raksa menganguk sopan. Tapi tetap saja ia sangat merasa canggung.


"Bagai mana menurut mu tentang restoran ini?" pertanyaan pertama yang keluar dari Aga.


"Sangat bagus dan mewah,"jawab Raksa cepat, sungguh ia merasa gugup setiap saat beretemu pria di hadapan nya, di banding kan saat ia bertemu dengan petinggi-petinggi perusahaan lain.


"Apa menurutmu restoran ini Romantis? Apa kamu tidak punya keinginan untuk mengajak putriku kencan disini?" dengan tertawa Ringa, pertanyaan Aga bertubi-tubi pada Raksa.


"Tentu saja, tempat ini sangat romantis. Saya akan mengajak Niana makan malam disini nanti, jika anda mengijinkan." Sebenarnya Raksa masih bertanya-tanya ada masalah apa yang akan si sampaikan padanya.


Raksa bingung menjawab nya, sedikit hal yang dia dengar dari Niana. "Tentu saja, anda adalah sosok ayah sangat di banggakan."


"Benarkah, tapi sepertinya kamu berbohong," sangkal Aga tetsenyum. "Aku selalu keterlaluan menjaga nya, bahkan dia tidak pernah punya teman dalam hidupnya."


"Bahkan saat ini aku juga keterlaluan dengan hubungan kalian," ucapan yang di iringi dengan senyuman, membuat Raksa kembali terhenyak. "Tapi aku punya banyak alasan dari setiap sikapku yang keterlaluan."


"Saya mengerti,"


"Tidak, tidak seorang pun yang mengerti. Raksa ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita lihat secara langsung," Raksa masih terdiam mencerna semua yang dia dengar, sungguh ia sangat tidak mengerti. "Tolong jaga putriku, suatu saat aku akan sangat membutuhkan mu."

__ADS_1


"Saya akan selalu berusaha menjaganya,"


"Menjaganya dari acaman!"


"Maksud anda?" Tanya Raksa bingung.


"Niana selalu merasa kepergian ibunya adalah kesalahan nya, perasaan bersalah dan kehilangan membuatnya tersiksa selama ini," Raksa hanya terhenyak dengan setiap ucapak yang keluar dari mulut pria yang menapakan lagi sisi lainya itu. "Sesungguhnya semua itu adalah kelasahan ku."


"Saya rasa tidak ada yang salah, setiap kepergian seseorang itu sudah takdir begitupun atas hal buruk yang menimpanya, semuanya adalah ketetapan dari maha kuasa." ucap Raksa.


"Apa kamu akan tetap beranggapan seperti itu, jika suatu saat kamu menemukan kebenaran yang sama yang menimpa keluargamu?" Raksa mengangkat wajahnya sungguh di buat bingung dengan pertanyaan itu. "Aku harap kebenaran apapun yang kamu terima suatu saat, kamu akan tetap menjaga dan melindungi putriku. Suatu saat aku akan membutuhkan mu, aku sadar dengan kemampuan ku yang akan ada saat lengahnya menjaga Niana."


"Apa ada yang mengancam keselamatan Niana?"


"Aku harap tidak ada," Aga tertawa ringan, "Sudahlah, wajahmu sangat tegang. Sepertinya kamu sangat serius menanggapi ucapan ku."


"Bagai mana perusahaan mu? Aku dengar saham mu mengalami penurunan?" tanya Aga, mengganti topik pembincaraan. Atou berusaha mecairkan suasana yang tegang.


"Iya tapi kami yakin kami bisa menghadapinya,"


"Aku selalu suka semangatmu!" Seru Aga. "Bagai mana dengan kuliah mu sendiri."


"Saya sudah memutuskan untuk berhebti kuliah," jawab Raksa teguh. "Karena saya sadar dengan kemampuan saya yang terbatas, saya tidak bisa meninggalkan perusahaan yang susah payah saya rintis yang melibatkan banyak orang ini."

__ADS_1


__ADS_2