Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 31


__ADS_3

Niana melangkah cepat keluar dari toko, setelah tubuhnya lolos keluar dari pintu toko, langkahnya semakin di percepat dengan sedikit berlari menuju mobil yang pintunya sudah di buka kan oleh Maya untuk di masuki nya.


Tangis Niana pecah, semua kesedihannya tumpah tidak bisa tertahan lagi. Maya hanya diam mendengar tangisan Nona muda yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.


Flasback On....


Pagi ini Niana sudah menginjakan kakinya di tanah air. Hanya ada dua tempat dalam benaknya yang ingin dia tuju, bukan rumahnya, melainkan rumah Raksa, dan juga Royale Cake & Bakery. Namun niat itu sangat dia urungkan sekarang.


Apa aku sangat tidak tau diri jika harus menemuinya? Didalam mobil yang dia naiki Niana hanya melamun memikirkan hal-hal seperti itu. Tidak hanya dia yang ingin ku temui, ada Tante, Alea dan Alia.


Niana mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. Sebuah kotak beludru hitam, yang kemudia ia buka. Sebuah gelang melingkar di dalam kotak itu. Niana memandang gelang itu, tidak ada lagi tawa di bibir indanya kala melihat gelang itu,malainkan air mata yang menetes.


Senyuman kala mengingat seorang anak laki-laki berwajah manis, baik hati dengan senyum indahnya sudah berganti dengan sebuah ucapan yang membuat Niana meneteskan air matanya. Aku tidak mengharapkan mu ada disini, pergilah. Setiap kata yang Niana ingat yang terucap dari seorang yang selalu ingin ia temui, dan selalu hadir di pikiran nya bertahun-tahun, tidak pernah mengharapkan nya kembali.


Bodoh, apa yang bisa Niana harapkan dari Raksa yang mengingatnya? mengetahui keberadaan nya? Sama saja, ia hanya terlalu berharap. Kecewa, waloupun dia tau tidak berhak untuknya kecewa, tapi itu satu kata yang sekarang memenuhi dirinya.


Supir di depan Niana, mengendalikan mobilnya menuju kediaman nya. Rumah utama keluarga Wijaya. Niana bisa pulang jelas karna permintaan dari sang ayah, walou ia sangat enggan untuk pulang. Niana berusaha selalu jadi anak penurut saat ini, menentang hanya membuatnya kecewa mengingat kejadian satu tahun lalu yang dia memutuskan keluar dari rumah, mendapat sebuah rasa kecewa itu hingga sekarang masih memenuhi dirinya.


Matahari sedikit lebih condong ke arah barat, Niana masih menatap hampa keluar jendela kamarnya yang sudah lebih dari satu tahun ini tidak di tempatinya. Sebuah ketukan pintu, yang kemudian terbuka dengan suara langkah kaki yang mendekatinya, tidak membuat Niana menoleh dari fokusnya menatap ke balkon yang ada di luar kamarnya.


"Sayang!." Panggil seorang paruhbaya dengan suara beratnya. "Apa kamu tidak lelah nanti malam kita akan akan makan malam di fila kekuarga kita di puncak bersama keluarga Dominic, apa kamu bisa ikut?"

__ADS_1


"Bukan nya aku memang harus ikut?" jawab Niana singkat tanpa semangat, ikut menyusul ayahnya duduk di Sofa. "Ayah, aku ingin pergi ke rumah Aksa, aku hanya ingin bertemu dengan ibunya dan adik-adiknya." Niana mengatupkan kedua tangan nya memohon.


"Baiklah pergilah! Kamu punya banyak waktu untuk menikmati masa liburan mu di sini!" Niana memeluk ayahnya terimakasih. Tidak menyangka dengan jawaban ayahnya, yang dia pikir tidak akan mengijin kan nya.


"Tidak ayah, aku hanya akan 2 hari saja di sini!"


***


Tujuan utama Niana adalah rumah Raksa, walou ibu Safira pasti ada di toko di rumah tapi dia pasti bisa bertemu dengan kedua anak gadis kembar menggemaskan, yang selalu Niana riandukan tingkah lucunya sebelum nanti akan menyusul Safira di toko. Namun rumah yang Niana datangi kosong, akhinya Niana melanjutkan pada tujuan keduanya yaitu toko cake dan roti milik ibu Safira, tempat yang memberi kenangan singkat tapi sangat berarti.


Niana kembali menatap kotak gelang yang sudah di tangan nya tanpa membukanya, Aku akan mengembalikan gelang ini, akan ku titipkan pada tante Safira. Semoga dia tida ada di sana. Yang di maksud dia adalah Raksa, berharap tidak bertemu dengan Raksa nanti.


Tapi Niana rasanya tak ingin beranjak bergi dari sana, akhirnya ia kekuar dari mobilnya memutuskan untuk hanya melihat toko yang terpampampang Royale Cake & Bakery dari luar. Setelah Niana lebih mendekat, Niana melihat sepasang orang yang duduk di kursi di balik kaca besar toko yang sangat jelas bisa dia lihat.


Seorang pria yang tampak bersenda gurou dengan seorang gadis yang duduk berhadapan nya, mereka tampak akrab mengingat Raksa yang dingin tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Satu teres kristal bening jatuh, Niana semakin yakin tidak pernah ada dirinya di hati Raksa.


Niana berbalik. Mengurungkan Niat nya untuk mendekati toko itu, tapi dia kembali mlihat kotak gelang di tangan nya. Dia harus mengembalikan nya! tak ingin semakin sedih kala melihat gelang itu nantinya, bahkan untuk menyimpan nya ia tak sanggup sekarang.


Niana mendekati pintu toko, langkahnya tertahan tapi dia berusaha tegar mengumpulkan segenap kekuatan untuk masuk kesana. Bunyi lonceng mengantarnya masuk, Niana melihat banyak orang di dalam seperti sedang mengadakan perayaan, apa dia datang bukan di waktu yang tepat? tapi dia sudah terlanjur masuk.


Disana Safira yang sudah menyambutnya dengan senyuman tidak percaya, juga Alea dan Alia yang sudah berteriak memanggil nama nya. "Kak Ana!" kedua gadis itu berhambur memeluk Niana.

__ADS_1


"Hey sayang, kaka sangat merindukan kalian." Niana mencubit gemas kedua anak berusia 9 tahu itu.


"Ana, maksud ibu Niana?" Safira yang juga tampak girang. "Sayang, kapan kamu pulang?"


"Tadi pagi Tante, tadi ke rumah tante tapi tidak ada siapa-siapa. Jadi aku pikir tante di sini." Tutur Niana, "Tapi aku sempat kecewa tidak akan ketemu tante, tadi saat melihat plang di depan hari ini tutup. Ada acara apa tante, Apa aku tidak mengganggu? aku hanya ingin bertemu tante Alea dan Alea dulu sebelum pergi lagi besok."


"Yakin cuma mau ketemu tante Alea dan Alia saja?" goda Safira, Niana hanya tersenyum getir menanggapinya. "Gak papa ko sayang tante seneng banget kamu kesini. Kita sedang merayakan ulang tahunya Raksa."


Niana beralih pada sebuah meja yang telah di duduki sepasang manusia yang juga sedang melihat ke arahnya. Melihat Raksa bersama seorang wanita, melihat keakraban nya Niana menduga-duga ada hubungan sepesyal di antara mereka. Tapi kembali dia menepis semua anggapan nya, memberanikan diri mendekat, seorang pria disana ikut berdiri menyambut kedatang Niana ke arahnya.


"Aksa! Selamat ulang tahun, maaf aku tidak bawa apa-apa." Niana tak berani melihat matanya Raksa,


"Terimakasih," jawab Raksa kemudian.


Niana tampak sedikit canggung dengan kalimat selanjutnya, sulit mengatakan tujuan nya. "Eh, aku tidak bisa lama-lama. Sekali lagi selamat ulang tahu ya, semoga kamu bahagia." Niana berbalik melangkahkan kan kakinya menjauh, sebelum langkahnya terhenti sejenak.


Niana berbalik melihat Raksa, kemudian kembali menghampiri Raksa setelah mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. "Aksa, ini aku kembalikan." Niana mengasongkan sebuah kotak kecil berwarna hitam beludru. "Aku sudah tidak tersenyum saat melihatnya, sebaliknya air mataku selalu keluar saat melihat gelang itu."


Seperti yang Niana bayangkan akan sangat sakit, memberikan nya secara langsung, tapi akan lebih sakit bila harus tetap menyimpan gelang itun. Sesegera mungkin Niana pergi dari sana setelah pamit lalu memberikan pekukan trakhir untu Safira, Alea Alia Karin dan Meyra.


Di dalam mobilnya Niana kembali terisak dalam tangis, begitu sakit melihat kenyataan saat Raksa bersama gadis lain. Harus ku buang prasaan ku jauh. Kalimat dalam tangisnya. Hanya Menengok ke arah toko pun Niana tak samggup, tak ingin lagi melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya patah.

__ADS_1


__ADS_2