
Bermacam hidangan lezat telah tersaji di atas meja, mengelilingi kue ulang tahun dengan lilin angka 21 di tengahnya. Senyuman tak henti merekah dari bibir sempurna gadis yang memiliki nama belakang Wijaya itu.
Suka cita mengiringi kebersamaan mereka pagi ini. Sebelum meniup kue ulang tahun nya, gadis itu memejamkan matanya terlebih dahulu untuk make wish. Niana sudah mendapat potongan kue pertama di atas piring kecil, "Siapa ni yang akan dapet suapan pertama dari kak Niana," ujar Alea yang yang matanya berganti melihat kakak sulung nya.
Dan tentu saja suapan pertama itu untuk Raksa pria yang telah banyak mengubah hidupnya, memberinya arti hidup baru, Raksa kamu selau memanggilku gadis impian seharusnya sebaliknya. Pria sepertimu adalah mimpi yang menjadi nyata untuk ku.
Lanjut dengan acara makan-makan yang di iring canda tawa hangat. Sungguh sesuatu yang Niana tidak pernah rasakan sebelum nya. "Kak Niana kenapa ayah kak Niana gak ikut?" tanya Alia.
Niana terdiam sejenak begitupun alat makan di tangan nya ia taruh. "Ayah kakak, lagi di luar negri Alia, pulang nya telat karena ada masalah penerbangan. Tapi nanti sore pasti pulang ko. Makanya kakak ke sini."
"Oh gitu ya, beruntung banget ya kakak masih punya ayah." Ucapan anak itu membuat Niana tertegun.
"Alia, udah makan kasian kak Niana makan nya ke ganggu dengan ucapan kamu," ucap Ibu Safira yang memperhatikan raut wajah Niana, seperti tak suka membahas tentang ayah nya.
"Kamu juga beruntung Alia, masih punya Kakak, Alea dan juga ibu." tutur lembut Niana.
*
Acara makan-makan sudah selesai kini giliran para wanita membersihkan meja makan dan piring-piring kotor. Maya dan Airin mencuci piring, sementara Niana dan ibu Safira sedang mengelap meja makan.
"Ibu, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Niana pada ibu Safira.
"Tanya apa sayang? Tanya aja!" ibu Safira dengan melempar senyum kilas pada Niana yang kemudian kembali fokus pada pekerjaa nya.
"Ibu kemarin bilang, Ayah Raksa meninggal karena menyelamatkan orang lain dalam kecelakaan. Apa ibu membenci orang yang ayah Raksa selamatkan," ibu Safira seketika terdiam.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Ibu Safira kemudian..
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau bu, bagai mana sikap ibu pada orang yang terlah menuar nyawa Suami ibu. Tapi ibu tidak usah jawab."
"Ibu tidak tau. Tapi akan lebih baik ibu tidak akan pernah bertemu dengan anak yang berhasil selamat dari kecelakaan itu maupun keluarganya," jawab ibu Safira setelah ia menghentikan aktifitasny.ya kemudian duduk di kursi di samping nya. "Lagi pula tidak pernah ada niat baik dari pihak keluarga mereka untuk hanya sekedar berterima kasih."
Tatapan ibu Safira menampakan sebuah kesedihan matanya semakin tergenangi cairan bening, "Suami ibu sudah menukar nyawanya untuk anak itu."
Sedikit isak tangit tergengar seiring dengan cairam bening yang menetes dari mata wanita tiga anak itu. "Walopun ibu sudah iklas akan kepergian beliou tapi luka dari sebuah duka kehilangan kadang kembali tergores. Tidak ada yang tau betapa terpuruk nya ibu saat itu, kehilangan suami setelah meahirkan dua bayi kembar yang sangat membutuhkan sosok seorang ayah."
Niana turut merasakan rasa sakit dari ucapan ibu Safira, tetes bening turut keluar dari matanya. Mengapa harus semenyakitkan itu, penyesalan nya semakin bertambah karena sudah menyebabkan dua nyawa pergi karena nya. Jua jadi penyebab duka yang panjang bagi keluarga pria yang dia cintai.
"Maafkan aku," ibu Safira beralih melihat Niana, setelah menghapus cairan yag tersisa di oipiny ia beralih memeluk Niana.
"Tidak perlu minta maaf sayang kamu tidak salah, hanya ibu yang teralu cengeng."
***
Salahku karna memaksa ibu pergi, salahku membuat ayahnya Aksa terlibat dalam kecelakaan itu. Tapi kenapa orang-orang yang tidak bersaah yang malah pergi, kenapa bukan aku?
Niana meraih remot kendali di atas nakas yang teretak di samping tempat tidurnya, menekan salah satu tombol berogo bulan sabit pada remot yah di ikuti dengan semua lampu di kamarnya terpedam berganti dengan lampu tidur yang menampakan cahaya remang. Gadis itu lanut embenamkan tubuhnya di balik selimut, berharap esok pagi pikiran nya akan membaik.
*
Sang pajar sudah menyambut, hanya saja tidak ada suara ayam jantan yang berkokok yang mengingatkan manusia untuk segera meulai hari, hanya suara alarm yang mebuat Niana terbangun. Niana meraih ponselnya, hal pertama selalu yang ia lakukan.
"Sudah bangun? kalo sudah cepat ambil wudhu jangan tidur lagi... Jangan balas pesan ini karna mungkin aku sudah tidur kagi."
Sepenggal pesan dari Raksa yang di akhiri gambar emotikon yang sedang menguap ngantuk. Alasan yang selalu mebuat Niana bangun sepagi ini. Karena Raksa, Niana selalu berusaha memperbaiki dirinya mencoba lebih mengenal lagi agama nya, belajar cara beribadah, dan bukan hanya dia tapi ayah Niana juga.
__ADS_1
Niana sangat ingat usai pulang dari bandung saat Raksa mengajak nya dan ayahnya sholat terlebih dulu, ia dan ayahnya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali sembahyang, merasa malu? Tentu saja. Niana beruntung banyak pekerja di rumahnya yang bisa membimbing nya belajar. Niana sering ikut sholat berjamaah bersama para pekerja di rumah nya yang tinggak di rumah belakang, yang kebetulan di sana ada musola. Seoerti pagi ini Niana sudah di tunggu untuk melaksanakan ibadah sholay subuh berjamaah.
Usai melaksanakan Sholat, Niana tak lupa memanjatkan doa pada sang kuasa. Harapan nya sebelum tidur semalam ternyata di wujudkan, ia berharap setelah bangun pikiran nya sedikit lebib tenang. Dan setelah sholat pikiran kalun nya sudah tidak membelunggu dirinya.
Andai aku dari dulu, mengetahui sholat adalah cara yang ampuh menenangkan hati.
Setelah cahaya mentari menyambut dengan sinar nya yang hangat. Niana sudah berada di meja makan menikmati sebuah roti dengan selai kacang coklat kesukaan nya, Niana makan dengan acuh tak acuh pada orang di samping nya yang denga sibuk tampak sedang serius mengulir ponselnya, terlihat serius dengan benda pipih itu.
"Jam berapa ayah pulang?" tanya Niana, membuka percakalan.
"tengah malam."
"Ayah dapat salam dari Kake dan tante Hana kemarin lusa kesini, tapi hanya sebentar, setelah ziarah ke makam ibu mereka pulang lagi." ucap Niana.
"Hemmp." yang kuar dari mulut ayah Aga, dengan acuh ta berih dari ponselnya.
"Sepertinya kamu harus memberi Raksa semangat lagi," ucap ayah Aga yang di pertanyakan oleh Niana maksudnya apa.
"Perusahaan Daffin sudag lebih unggul dari Raksa," Kalimay yang membuat Niana kaget.
.
.
.
Lanjutt....!!!!!
__ADS_1