Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 54


__ADS_3

Keluarga Raksa kini bertambah satu orang baru yaitu Niana yang ikut berkumpul di ruang keluarga. Tawa hangat mengiringi kebersamaan mereka. Niana yang dari tadi tak berhenti di buat tertawa oleh dua anak kembar yang paling bisa membuat gadis itu tak berhenti tertawa dengan tingkah mereka, hingga tawa Niana juga ikut menular pada Safira yang ikut tertawa lepas. Sementara Raksa duduk di ujung kursi memasang senyuman has nya melihat tawa dari 4 wanita yang tengah duduk di atas karpet bulu di depan nya.


"Kak Ana tidur sama kita ya!" Ajak Alea dan juga Alia, yang sudah menguap secara bergantian setelah sudah lelah dari tadi terus tertawa dan sudah terlalu malam juga.


"Gimana kalou kita tudur bareng di kamar ibu?" ajak Safira yang langsung di jawab Nggukan mantap oleh Alea, Alia dan Niana.


"Kakak di ajak tidur bareng gak?" Tanya Raksa yang langsung di jawab. "Tidak" tolak secara kompak oleh Kedua dua adik kembarnya, yang otomatis membuat Niana tertawa lagi.


Rasa bahagia yang tidak bisa di gambarkan oleh Raksa, melihat tawa diantara empat wanita yang paling dia cintai. Rasanya ia sangat enggan untuk mengakhiri malam ini, andai waktu bisa di hentikan untuk malam ini, mungkin itu yang Raksa ingin kan, tapi walou bagai manapun Malam pasti akan berlalu.


****


Esok hari, Raksa yang harus berangkat ke kampusnya dengan berat hati harus meninggalkan Niana di rumahnya, Niana malah senang karna akan punya waktu berdua bersama ibu Safira, karna Alea dan Alia juga harus sekolah.


Safira dan Niana sudah merencanakan kegiatan berdua hari ini yaitu Memasak, Niana ingin belajar memasak dari calon ibu mertuanya itu. Safira yang senang ada yang menemani di rumah, sehingga bisa beristirahat di rumah untuk hari ini tidak pergi ke toko.


**


Raksa berjalan memasuki area kampus setelah memarkirkan motornya di parkiran, Raksa memang lebih suka mengendarai motor ketimbang mobil, apa lagi untuk hanya pergi ke kampus.


Raksa mehentikan langkahnya saat berpapasan dengan Bonanza, belum sempat menyapa gadis itu malah pergi begitu saja menghindar, Raksa tidak mengambil pusing sikap Bonanza karna dulu dia memang suka seperti itu bukan? Mungkin sedang kumat, pikirnya.


 Lanjut melanjutkan langkahnya menuju ruangan Dosen, untuk sekedar stor muka, stor tugas dan untuk meminta ijin tidak bisa mengikuti matakuliah full hari ini, pekerjaan yang penting jadi alasannya, karena tidak mungkin Raksa mengatakan akan menemani gadis impian nya seharian ini.


Niana yang sedang sibuk memasak di dapur dengan jelas mendengar suara motor yang berhenti di depan rumah, yang ia rasa pasti adalah Raksa, dengan senang Niana melepaskan celemek yang sedang ia pakai berlari menuju pintu depan, Safira hanya menggeleng kepala melihatnya.


Motor Raksa yang sudah terparkir cantik di halaman rumah, Niana keluar dari rumah nampak menyambut Raksa yang sudah berjalan menuju arahnya. "Kenapa sudah pulang lagi, bolos ya?" tanya Niana, tapi sejujurnya dia senang.


 "Sengaja, udah kangen lagi,"


"Dasar tukang bolos." ledek Niana.

__ADS_1


"Udah ijin juga ko." Jawab Raksa, yang kemudian berjalan masuk beriringan dengan Niana ke dalam rumah. "Gini rasanya ya, kalou  nanti punya istri, pulang kerja ada yang nyambut."


"Nanti kalou sudah lulus." Ibu Safira yang mendengar langsung menyauti sambil tersenyum.


 "Kalou sudah lulus juga gak tau bu," ucap Raksa yang langsung membuat ibunya bertanya, kenapa? "Karna belum sepenuhnya dapat restu." Jawab Raksa.


"Tapi aku akan pastikan gadis cantik di sebelah ku ini akan menjadi menantu ibu," Ucapan Raksa yang langsung membuat Niana  terhanyut, seakan langsung masuk kedalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Amiinnn," Ibu Safira yang ikut mendoakan kringinan putra sulungnya, Niana hanya tersenyum menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


Raksa menunggu Niana menyelesaikan masakan nya, yang kemudian beberapa menu makanan tersaji untul nya.


"Bagai mana enak tidak masakan calon menantu ibu?" tanya ibu Safira, saat Raksa tengah mencicipi masakan nya.


"Mau jawaban jujur atou bohong?" tanya balik Raksa.


"Ya jujur lah," Niana tak sabar dengan jawaban Raksa, namun ia juga hawatir takut masakam nya itu tidak enak, hawatir mengecewakan Raksa dan ibu Safira yang sudah mengajarinya.


"Bebarkah," Niana melompat senang.


"Mau jalan-jalan?" lanjut ajak Raksa, "Sama ibu juga, kita ngedate ber tiga."


"Ibu jangan, kalian berdua saja nanti ibu jadi obat nyamuk," tolak ibu Safira.


"Kok gitu, bu ikut ya!" bujuk Niana.


"Kalou bertiga bukan gedate namanya,"


"Gimana kalou kita ke pantai, sekalian jemout Alea dan Alia?" tawar Raksa.


Tangan Niana mengatup, memohon agar ibu Safita mau, "Iya iya, kalou gitu ibu mau." jawab ibu Safira ikut tersenyum.

__ADS_1


****



Liburan keluarga yang menyenangkan, tak ada satu orang pun yang luput dari senyum dan tawa mereka. Menikmati indahnya deburan ombak, dengan hembusan angin pantai yang menerpa semua yang ada di sana.


Dua anak yang berlarian berkejaran di atas pasir, membuat Niana tak henti melepaskan senyum nya melihat mereka, satu hal yang tak pernah dulu ia dapatkan keceriaan dan kebersamaan yang di rasakan mereka saat ini.


Beruntung suasana pantai yang berlokadi daerab Banten itu sekarang tidak terlalu ramaik. Niana dan ibu Safira duduk di bawah tempat berteduh menunggu Raksa membelikan minum dan makanan.


"Kenapa sayang?" tanya ibu Safira, melihat Niana menurukan tatapan nya sendu.


"Aku hanya ingat masa kecilku, aku tidak pernah seceria mereka," jawab Niana tersenyum.


Ibu Safira mengelus lengan Niana, "Setiap orang memiliki masalalu berbeda, kamu harus mengingat banyak hal yang lebih kamu sukuri di bandingkan hal yang sebaliknya."


"Iya bu,"


Raksa kembali dengan beberapa botol minuman dan makanan, "Lama sekali,"


"Baru di tinggal segitu saja udah kangen," goda Rakda.


"Bukan begitu, aku mau jalan-jalan ke sebelah sana," Niana menunjuk ke arah lain bagian pantai.


"Ibu di sini saja mengawasi adik-adik kalian," ibu Safira seakan mengerti tidaj ingin mengganggu pasangan muda itu.


"Mau apa memangnya ke sebelah sana, mau nyari bintang laut?" iseng Raksa, yang Niana sudah melingkarkan tangan nya di lengan Raksa. Mereka lanjut berjalan menyusuri prsisir pantai, merasakan pasang surut ombak di kaki merekan.


"Sebentar lagi matahari terbenam, pasti sangat indah," Niana memejamkan matanya, menghadap laut sedikit menadahkan kepalanya, meradakan hembusan angin yang menerpa kuat tubuhnya hingga membuat rambut panjangnya bertebaran.


"Tentu saja, akan sangan indah," tanggap Raksa, menarap keindadahan di sampinya, siapa lagi kalou bukan Niana, dia adalah keindahan bagi Raksa dari semua hal indah di didunia ini.

__ADS_1


__ADS_2