
"Niana?" Raut bajah Raksa terlihat bertanya akan keberadaan gadis impiam nha di sini. Raksa berjalan menghampiri Niana yang masih berdiri di tempat nya tadi. "Kamu sedang apa disini?
Niana masih terdiam, wajahya terpancar kesedihan. Raksa tidak memaksa Niana menjawab, ia beralih melihat Pengawal wanita Niana di belakang. "Nona habis ziarah dari makam mendiang ibunya."
Jawaban yang ia terima dari Maya cukup membuat Raksa mengerti dengan Niana yang tampak tidak baik. Raksa merengkuh bahu Niana dengan senyuman tulus yang selalu ia perlihatkan pada gadis itu. "Kenapa tidak bilang sebelum nya kamu akan ziarah ke makam ibumu? Kita bisa pergi bersama."
Niana hanya mengangkan wajahnya, perlahan mentap pria di hadapan nya. Niana ikut tersnyum, melihat wajah Raksa setidak nya membuat perasaan nya membaik dan ia tidak ingin membuat Raksa melihat kesedihan nya.
"Maafkan aku," ucap Niana.
"Ikut aku!" Raksa meraih tangan Niana, menggenggam membawanya menuju kedua adik dan ibunya di sana.
"Ingat kataku kemarin? Aku ingin mengenalkan mu pada seorang yang penting dalam hidupku. Dia ayahku." Niana beralih melihat sebuah makam di hadapan nya.
"Ayah, ini Niana. Dia gadis impian ku yang pernah ku ceritakan dulu," ucapan Raksa membuat simpul kecil di bibir Niana. "Aku minta restu dari ayah untuk hubungan kami, doakan kami agar bisa bersatu." Raksa beralih melihat Niana dengan tersenyum pada gadis itu, ucapannya sangat membuktkan keseriusan dan betapa dalam perasaan nya untuk gadis di sampingnya.
Niana melihat tulisan di atas nisan setelah tetulis nama Tama Ardi Darma, di bawahnya tertera tanggal lahir sekaligus tanggal wafatnya ayah Raksa. Niana sedikit tersentak saat melihat tanggal wafatnya yang tepat hari ini hari, bulan dan taun yang tertera pun sama dengan hari wafat ibunya yang tepat di hari ulang tahun nya ini.
"Sekarang hari wafat nya ayah mu?" tanya Niana.
"Iya," jawab Raksa. "Ayahku meninggal 11 tahun yang lalu.
Niana menutup mulutnya, ternyata tepat di tanggal ini tidak hanya hari duka nya tapi juga hari berdukanya Raksa dan keluarganya. Tanpa di sadari air mata Niana menetes jatuh.
"Hei, hei, kenapa menangis?" Saat sudah terdengar sedikit isakan dari Niana. Raksa meraih wajah Niana mengahapus ari mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Aku hanya sedih, sayang sekali aku tidak bisa beretemu dengan ayah mu." Ibu Safira mengelus bahu Niana dengan senyuman yang di perlihatkan ibu tiga anak itu pada Niana.
"Ayah Raksa itu pria yang sangat baik. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan Raksa," ucap ibu Safira dengan wajah sendu. "Dia pasti akan sangat menyukaimu."
"Ayah Raksa meninggal karena apa bu?" Itu memang pertanyaan yang berat untuk Safira, terlihat dari perubahan raut wajahnya, hal itu pasti membuatnya kembali teringat duka saat kepergian suaminya. Tapi Niana juga penasaran mengingat tanggal wafat nya sama dengan tanggal wafat ibunya. "Maaf kan Niana bu, tidak usah di jawab."
"Tidak apa-apa sayang, kami sudah sangat ikhlas walau kadang masih terasa berat, tapi ibu sudah ihlas dengan kepergian nya," ucap Ibu Safira tersenyum, menatap makam sang saumi tercinta. "Ayah Raksa meninggal karena sebuah kecelakaan, waktu itu ia hendak menolong korban kecelakaan yang terjebak dalam sebuah taksi. Namun naas nya ayah Raksa ikut jadi korban karena taksi itu meledak terbakar."
"Kecelakaan sebuah taksi?" Tanya Niana lirih, pikiran nya mulai di buat bertanya-tanya.
"Ia sayang, saat sudah berhasil menolong seorang anak yang yang menjadi korban di dalam taksi. Beliau kembali menolong satu lagi korban yang terjebak di sebuah taksi yang ringsek. Tapi naasnya ayah Raksa ikut jadi korban." Niana kembali menutup mulutnya yang menganga karena shok dengan apa yang baru saja ia dengar. Mungkin kah?
Air mata Niana kembali mengalir gadis itu kemudian menangis tampak sekali ia sangat shock. "Sayang kenapa?"
"Maaf apa karena cerita ibu?"
"Maafkan aku!" ucapan Niana membuat semua orang tidak mengerti kenapa gadis itu mieminta maaf?
"Kenapa minta maaf?"
"Aku mau pulang," ucap Niana dengan tangisnya. Tiba-tiba saja Niana kehilangan kesadaran, gadis itu terkulai tak berdaya di pelukan Rasa. Raksa dan semua orang di sana sangat panik.
"Nona mungkin kelelahan, sebaiknya kita segera bawa ke mobil."
"Iya Kak, ayo bawa Niana ke rumah sakit!" Seru ibu Safira.
__ADS_1
"Tidak perlu nyonya, kita bawa ke rumah saja! Nona akan di tangani oleh dokter pribadinya nanti."
Raksa dengan segera mengangkat tubuh Niana, membawanya kedalam mobilnya.
"Nyonya biar supir kami yang mengntar anda, Nona biar dengan saya. Anda tidak perlu hawatir." ucap Maya pada ibu Safira.
"Baikah kabari ibu nanti Kak!" Raksa langsung membawa Niana dengan Maya menuju rumah Niana. Sedangkan ibu Safira pulang di antar oleh supir Niana.
Mata ibu Safira terus mengawal kepergian mobi Raksa dengan memeluk kedua putrinya, Alea dan Alia nampak ketakutan, sangat jelas menghawatirkan kondisi Niana.
****
Raksa sudah membaringkan Niana di kamarnya, yang tidak berapa lama dokter keluarga Niana pun datang untuk memeriksa keadaan nona muda tersebut. Dan Raksa di perkenankan untuk menunggu di luar selama gadis yang membuat nya sangat kawatir itu di tangani dokter.
"Anda tidak perlu kawatir Nona tidak apa-apa," ucap pak Danu kepala pelayan keluarga Niana, pada Raksa untuk mengurangi rasa hawatir pria itu. "Hari ini memang hari yang sangat...."
"Pak Danu, bisa tolong antar dokter Mery ke depan?" Seru Maya, menyela ucapan pak Danu untuk mengantar Dokter yang dudah selesai memeriksa pasien nya di dalam.
"Maya,maksud pak Danu apa? hari ini hari yang apa?" Raksa nampak masih penasaran dengan ucapan yang belum sepenuhnya ia dengar.
"Tidak apa-apa, mungkin maksud pak Danu hari ini kondisi Nona sedang kurang baik," jelas Maya, masih menyembunyikan kebenaran tentang hari ini. "Kata dokter juga begitu, mungkin karena Nona juga habis melakukan perjalanan dari bandung."
"Benarkah? Aku sangat kawatir karena setelah mendengar cerita ibu Niana tampak sangat shock."
"Masalah itu... Nona memang punya trauma dengan kecelakaan," jelas Maya menceritakan sedikit kondisi sikis Niana. "Dulu Nona pernah mengalami kecelakaan mobil yang membuat kondisinya sangat terluka parah, sampai pemulihan nya membutuhkan waktu berbulan-bulan."
__ADS_1
"Benarkah? Apa aku bisa melihat nya sekarang?" Setelah mendapat anggukan dari Maya, Raksa langsung masuk ke dalam kamar gadis impian nya.
Niana masih terbaring di tempat tidur nya, matanya sudah terbuka di antara wajahnya yang pucat. Gadis itu menyadari seseorang yang memasiki kamarnya, membuat pandangan nya beralih pada seorang pria yang menuju ke arah nya, "Aksa!"