Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 83


__ADS_3

Dua tahun berlalu. Persaingan kedua prusahaan dengan berbeda bidang namun satu tujuan antara RD Development, prusahaan properti milik Raksa dengan Buldomer Kontruction perusahaan kontruksi milik Daffin masih berlangsung. Bersaing siapa yang paling unggul dengan prestasi dan peraihan terbaik, namun tahun ini kembali perusahaan Daffin masih lebih unggul dengan segala prestasinya.


Waloupun Raksa selalu kalah jauh, sedikitpun ia tidak perna gentar, pria itu selalu berusaha dengan kemampuan terbaiknya. Prusahaan nya sudah melakuakan divesifikasi usaha yang akan terintegrasi antara hunian rumah, apartement dan berbagai pembangunan lain yang semakin di kembangkan seperti pusat perbelanjaan dan pengelolaan kawasan industri untuk kedepan nya, waloupun masih banyak rencana tapi Raksa yakin akan sukses pada waktunya.


Daffin dan Raksa, dua pengusaha yang seakan tak ada kata lelah dari kedua nya untuk memberikan dan memperlihatkan siap yang terbaik. Sementara Niana, setelah menyelesaikan pendidikan nya dengan unversitas milik keluarganta PJMandiri namu dengan jalur online. Gadis itu juga sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Perlakuan istimewa selalu dia dapatkan selama bekerja, jelas saja karna ia adalah putri tunggal pemilik prusahaan besar itu. Yang kadang membuatnya tidak nyaman, kerap kali ia berpikir ingin di perlakukan orang lain sebagai mana mestinya tanpa melihat nama keluarga atou ayahnya.


Niana menjabat sebagai direktur oprasional, yang menangani pengembangan bisnis dan management proyek di bawahnya. Gadis yang sekarang sudah menjadi wanita karir itu sangat bisa beradaptasi dengan pekerjaan nya dengan baik, terbukti membawa banyak perubahan dan inovasi yang luar biasa.


Sebuah ketukan pintu terasa mengagetkan untuk Niana, yang entah sedang memikirkan apa saat ini. "Minum anda bu!" seorang offce girl memasuki ruangan Niana setelah di persilahkan.


Niana meraih secangkir teh yang baru saja terhidang di atas meja kerjanya. Aroma teh seketika membuat suasana hatinya lebih rileks, setelah melaksanakan meeting bersama jajaran perusahaan, yang membahas  kondisi perusahaan cabang jogja yang sedang mengalami banyak masalah. Niana berpikir apa sebaiknya dia yang mengambil alih perusahaan jogja?


Niana bekerja niat awalnya hanya untuk sedikit menghindar dari Raksa, karena ia tidak ingin mengganggu Raksa yang sedang mati-matian mengejar ketinggalan nya dari Daffin.


Namun ternyata, sesibuk apapun Raksa dia selalu menyempatkan waktu untuk Niana. Tidak di pungkiri, Niana sangat beruntung memiliki Raksa yang selalu memprioritadkan dirinya, tapi ia tidak ingin ogois semua sikap Raksa membuat nya merasa seperti penghambat untuk pria itu, karna lebih mengutamakannya di banding pekerjaan yang kini semakin tertinggal jauh dari Daffin.


Seperti satu minggu yang lalu, tepat tanggal 24 mei yang Raksa ketahui itu adalah hari ulang tahun Niana, pria itu mengabiskan banyak waktu melupakan agenda  pentingnya demi membuat perayaan untuk Niana terkesan, meskipun tujuan Raksa sukses, Niana lebih dari terkesan yang sebelum nya ia tidak pernah mengaharapkan perayaan ulang tahun, tapi tiga tahun terakhir membuat harapan nya yang mati menjadi hidup kembali. Tapi di balik itu Ada lah yang membuat Niana tidak tega dan miris dengan kondisi Raksa.


"Selamat ulang tahun!" ucapan Raksa yang membuat hati Niana lebih dari berbunga-bunga, bagai mana tidak selain mendengar dan melihat hal terindah di hadapan nya, Niana di buat terkesima dengan Raksa yang memberikan ny akejutan demi kejutan di hari itu. Dari sebuah balon udara Niana melihat ukiran ribuan buanga mawar putih dengan kata I Love You, Dream Girl di bawah sana.


Setelah seharian bersama Raksa, raut wajah Niana berubah tampak memikirkan sesuatu saat perjalan pulang. Mobil Raksa sudah berhenti tepat di pelataran rumah Niana, melihat raut wajah Niana membuat Raksa mempertanyakan nya.


"Boleh aku meminta satu permohonan lagi?" Raksa mengangguk akan ucapan Niana, pria itu seakan akan berusaha memenuhi apapun yang gadis di hadapan nya minta.


"Berhentilah ku mohon!" Niana menundukan wajahnya, seakan memalingkan ekspresinya dari Raksa.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Raksa mengakat wajah Niana membalikan nya kearahnya dengan lembut. "Ada apa?"


Niana menatap dalam pria di hadapan nya dengan matanya yang menganak sungai. "Bisakah kamu berhenti untuk bisa lebih unggul dari Daffin? Cukup jadi dirimu yang sekarang, berusaha karena mu sendiri."


"Kenapa seperti itu?" tanya Raksa dengan mata sendu, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, menandakan pria itu sangat kurang beristirahat. "Aku akan tetap berusaha, waloupun semua itu tidak mungkin. Aku tidak akan menyerah sebelum persaingan ini berakhir."


"Bukan kah saat ini harusnya kamu ada meeting penting dengan prusahaan besar yang kamu ajukan kerjasama?" Raksa tersentak, dari mana Niana bisa tau? Tentu saja Karin, yang selalu memberi Niana informasi tentang pria itu.


"Bisa lain kali, masih banyak perusahaan yang bisa kita ajak kerja sama, kaloupun mereka mbatalkan mungkin bukan rezeki kita." Jawab Raksa menampakan senyum nya.


"Bagai mana bisa seperti itu, bagaimana bisa seorang pengusaha berpikir seperti itu?" Niana kembali memalingkan wajahnya membuang muka. "Jika sikap mu seperti itu! Itu hanya akan membuat orang menilai mu negatif, mereka akan mengambil kesimpulan kamu hanya main-main dengan mereka."


"Tapi aku tidak mungkin melewatkan hari ini," Raksa berusaha meraih tangan Niana yang selalu di tepiskan, ia sangan mengerti dengan kemarahan Niana. "Aku hanya ingin memberimu sesuatu yang spesial kali ini, yang sebelum nya aku tidak pernah memberimu sesuatu yang berarti."


"Tidak hanya hari ini saja. Jika kamu ingin menang dari Daffin? Kenapa hasus melakukan hal-hal seperti ini? Kenapa selalu menyempatkan diri menemuiku? Mengantar dan menjemputku? Kenapa selalu ada untuk ku?" Ucap Niana yang berangsur dengan nada tinggi, cairan yang tergenang di matanya perlahan menetes. "Aku hawatir dengan kondisimu, Aku tau kamu suka lupa makan, kurang tidur, setelah mengantarku pulang atou setelah menemuiku, aku tau setelah itu bukan nya kamu pulang tapi kamu malah kembali lagi ke kantor. Aku tau akhir-akhir ini dengan kesibukan mu, aku mengerti aku mengerti kamu begitu tidak ingin kalah dari Daffin, dan berusaha mati-matian untuk mengimbanginya."


Niana tertunduk, dengan Raksa menyusupkan menenggalamkan wajahnya di dadanya. "Aku hanya tidak ingin kejadian  dua tahun lalu terulang kembali!" ucap Raksa lembut dengan membelai sayang rambut panjang Niana. "Aku tidak ingin kamu terluka, aku ingin selalu melindungimu dengan jiwa ragaku sendiri, itu juga tugasku!"


"Aku sangat aman dalam perlindungan ayahku!" Niana dengan segera kembali mengangkat wajahnya, menatap tajam mata Raksa kembali. "Jika kamu tidak bisa memperhatikan dirimu sendiri, menjaga diri dan kesehatan mu sendiri. Lebih baik lupakan semuanya, lupakan aku karna aku hanya menjadi penghambat untuk mu, kamu bisa lebih fokus dengan pekerjaan mu tanpa!" ucapan Niana terdengar berat. Gadis itu dengan cepat membuka pintu mobil lalu melangkah cepat memasuki rumahnya.


Raksa hanya terdiam menatap tubuh Niana yang sudah tenggelam ke bakik pintu rumahnya. Kejadian penculikan Niana dua tahun lalu, terlebih saat itu Daffin yang lebih bisa melindungi Gadis impian nya, membuat Raksa bersumpah pada dirinya sendiri sekuat tenaga menjaga Niana.


****


Setelah teh nya dingin belum habis Niana teguk, gadis itu mnangkup wajahnya dengan sebelah tangan nya, sementara satu tangan lain menekan tombol sambungan telpon yang langsung terhubung pada sekertarinya, memintamemintanya untuk keruangan nya sekarang.

__ADS_1


Sekeratis nya yang berusia lebih tua darinya itu sudah mendaratkan tubuh nya duduk di hadapan Niana, menanti apa yang akan di sampaikan atasan nya itu.


"Ada apa bu?"


"Hanya ingin ngobrol-ngobrol saja!" Jawab Niana menyatukan kedua tangan nya yang bertumpu di atas meja menahan dagu Niana.


"Dinda, bagai mana hubungan mu dengan tunangan mu itu?" pertanyaan yang tidak sesuai ekpektasi sekeratis Niana yang bernama Dinda itu, kerutan halus nampak di dahinya akan pertanyaan Niana.


"Baik bu!" jawab Dinda.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Niana lagi, yang tidak menjurus pekerjaan. Niana sangat sering mendengar curhatan sekertarinya yang sangat tidak bisa diam bicara itu, yang selalu memperlihatkan ekpresi berbunga-bunga saat menceritakan tunangan nya.


"Setelah kontrak kerjanya selesai bu satu tahun lagi, doain ya bu. Nanti ibu orang pertama yang saya undang deh," jawab nya dengan ceria. "Ya mungkin setelah nikah aku bisa jadi berhenti kerja."


Niana mengangguk-ngangguk, "Sayang sekali padahal kamu sudah lama kerja di sini!"


"Ya setelah menikah mungkin kami akan sama-sama merintis usaha bu, dari hasil kerja keras kami yang sudah kami kumpulkan!" Niana tersenyum mendengar pasangan yang berjuang bersama untuk bersatu itu. dia mengingat hubungan nya denga Raksa. Niana sangat menyadari kalou hanya Raksa yang memperjuangan untuk mereka bersama kelak dengan selalu memperjuangkan semua keinginan dan syarat dari ayah Niana.


"Dinda apa hubungan jarak jauh itu berat?"


"Jelas berat bu, tapi kami sama-sama menjalani nya dengan saling percaya. Percaya setelah perjuangan ini kita akan bersatu dan tidak akan terpisahkan."


"Terimakasih Dinda kamu bisa kembali ke meja kamu!"  titah Niana kembali.


"Kok tumben ibu nanya-nanya gitu?" heran Dinda, tapi pertanyaan nya tak membuat Niana menjawab.

__ADS_1


__ADS_2