Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 23


__ADS_3

Setelah selesai dengan semua urusan nya hari ini, Raksa mengambil motor nya yang dia tinggalkan di bengkel tadi, kemudian melanjutkan niatnya berkunjung ke Royale Cake & Bakery.


Di perjalanan saat sudah hampir sampai, sebuah kerumunan menghalangi lintas laju motornya. Sebuah mobil yang tak asing menyita perhatianya, akhirnya Raksa turun dari motornya memastikan keaadan di sana.


Sebuah mobil tengah jadi amukan warga di sana, setelah menabrak sebuah sepeda motor dan membuat pengendara sepeda motor itu terluka lumayan parah.


"Mobil Bonanza?" Raksa segera masuk kedalam kerumunan yang sedang mengamuk, yang sedang meminta pengendara mobil di dalam untuk keluar dan hampir akan memecahkan kacanya dengan batu.


"Maaf semuanya tolong jangan arogan, jangan main hakim sendiri." Raksa berusaha menenangkan warga yang semuanya sudah naik pitam di sana.


"Mobil ini tadi mau pergi begitu saja, membiarkan korban begitu saja." Penuturan warga yang geram.


Bonanza yang sedang menunduk ketakutan di dalam mobil itu, tepatnya di bangku belakang. Sedangkan, supirnya yang hendak keluar dari tadi terus Bonanza tahan karna dia begitu takut.


"Kalou begitu, saya akan pastikan untuk pengendara mobil ini bertanggung jawab. Saya akan memastikan nya, waloupun memang salah biarkan pihak berwajib yang mengatasinya." Raksa bisa sedikit meredam kemarahan warga disana.


"Bagaimana dengan korban tabrakanya?" Tanya Raksa


"Itu di sana mas, tadi di bawa ke pos satpam, masih belum mendapat penanganan." ujar salah satu warga.


Raksa hanya menggeleng kesal, Warga bisa-bisannya semarah itu akan menghakimi orang yang akan melakuan tabrak lari, tapi membiarkan korban begitu saja tidak melakukan pertolongan atou melarikan nya ke rumah sakit.


"Kalou begitu semuanya tolong bubar, kecuali yang ingin membantu." Tegas Raksa.


Raksa menggedor kaca mobil yang sudah hampir retak karna amarah warga tadi.

__ADS_1


"Buka pintunya," Raksa melihat Bonanza yang masih menunkup wajahnya ketakutan di dalam, tidak bergeming dengan ucapan Raksa. Gadis itu menunduk dengan menyembunyikan wajahnya seakan takut melihat keadaan.


Akhinya supir nya membuka pintu mobilnya terlebih dulu.


"Maaf kan saya mas, maafkan saya."


"Bapak, tidak apa-apa?" Tanya, Raksa yang melihat plipis alis supir Bonaza sedikit terluka, mungkin karna habis terkena bentura saat tabrakan tadi. Setelah mengdengar jawaban supir yang mengatakan dirinya baik-baik saja, Raksa lanjut melihat Bonanza.


"Za, buka pintunya." Bonana mengangkat kepalanya melihat Raksa, gadis itu menggeleng takut


"Kamu tidak perlu takut, cepat buka pintunya."


Bonanza akhirnya keluar dari mobilnya, tubuhnya masih tampak gemetar takut. Raksa menepuk kedua bahunya.


"Kita harus segera membawa korban ke rumasakit." Bonanza masih terdiam dengan itu "Kamu harus bertanggung jawab Za."


****


Di Rumah sakit, Bonanza dan Raksa masih duduk di kursi tunggu rumasakit, menunggu korban yang Bonanza tabrak, sedang di tangani dokter. Terlihat raut wajah bonanza yang tidak baik, menunduk melihat ke depan nya.


"Kenapa kamu menolongku?" Tanya Bonanza pada Raksa yang masih menemaninya sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dinding dekat kursi tunggu.


"Mau gimana lagi, kerumunan tadi menghalangi jalan ku." Jawab Raksa, dan kini gadis disampingnya pun menoleh melihat ke arahnya. "Aku hanya tidak suka orang semena-mena seperti mereka."


Bonanza masih melihat Raksa dengan seksama, kemudian mengalihkan lagi pandangan nya ke depan dengan sedikit menunduk. "Jadi bukan karna ingin menolong ku? kalou begitu aku tidak perlu mengucapkan terimakasih."

__ADS_1


"Iya karna mu juga," Jawab Raksa, menatap tajam Bonanza, dan semakin mendekatkan dirinya kepada gadis di dekatnya itu, membuat gadis yang sekarang di hapannya menonggak melihat nya. "Aku sangat tidak suka sikap mu yang seenaknya. Ini kedua kalinya aku melihatmu menabrak orang, dan akan lari begitu saja, apa kamu tidak punya hati?"


"Iya aku tidak punya hati, memang kenapa?" Bonanza mebalas tatapan Raksa tajam. "Sedikitpun aku tidak perduli dengan mereka."


"Pantas saja di negri ini ada hukum, karna memang di khususkan untuk orang-orang seperti mu." Ucap Raksa kemudian menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang penanganan, untuk menanyakan korban.


"Pasien mendapat cedera di bagian tangan nya, dan sedikit retakan tulang di kakinya. yang mengharuskan nya untuk istirahat total." jawab dokter, dari pertanyaan Raksa. "Pasien juga sudah bisa di temui, silahkan."


Raksa segera masuk ke dalam ruangan itu. "Bagai mana keadaan bapak?" tanya Raksa, pada pria yang tengah berbaring tak berdaya dengan tangan dan kakinya di bakut gips.


"Seperti ini, menghawatirkan?" Jawab pria itu yang terlihat begitu kalut dan bingung "Bagai mana nasib anak istriku jika aku tidak mencari nafkah?"


"Bapak tidak perlu memikirkan itu, saya akan bantu, beristirahatlah." Raksa kemudian keluar ruang itu, menghampiri Bonanza yang masih duduk di posisinya yang tadi.


"Za, kamu harus bertanggung jawab dengan korban yang kamu tabrak." Raksa


"Aku ada disini untuk bertanggung jawab, aku akan membiayai semua pengobatan nya." jawab Bonanza dengan nada tinggi.


"Juga memperbaiki motornya, dan juga membiayai keluarganya selama beliou masih harus di rawat." tutur tegas Raksa.


"Yang ku tabtak hanya dia, bukan keluarganya." Bonanza lebih meninggikan suaranya.


"Kamu pikir saja, anak istrinya mau makan apa kalou bapak itu belum bisa mencari nafkah." Raksa penuh penekanan "Tidak semua orang seberuntung kamu, kecuali kamu mau masuk penjara."


Mendengar kalimat terakhir Aksa, Bonanza menonggakan wajahnya kembali melihat Raksa dengan tatapan tidak suka. "Aku tidak takut polisi. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, tuan sok baik hati."

__ADS_1


__ADS_2