Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 51


__ADS_3

"Aksa," Niana menghampiri Raksa yang masih berdiam di atas motornya, "Kenapa diam saja di situ? Ayo masuk!" pria itupun turun dari motor nya lanjut menghampiri Niana dam masuk ke dalam rumah bersama.


"Aku ganti baju dulu ya!" Raksa mengangguk, menunggu Niana bersiap di ruang tamu.


Beberapa lama kemudian Niana kembali. Cantik dan Anggun kesan pertama bagi siapapun yang melihay, membuat Raksa menelan salivanya sendiri, untuk kesekian kalinya ia menyadari bahwa Gadis Impian nya ini sangat sempurna. Memakai dress berwarna pink dusty bercorak bunga, rambut panjang terurai dengan makeup tipis membuat penampilan nya selaras dan terlihat sempirna.



Raksa sudah berada di atas motor kesayang nya dengan Gadis Impiannya berbonceng di belakang, sesuai permintaaan Niana yang rindu naik motor di bonceng Raksa. Seakan bernostalgia berada dia atas motor itu. Niana semakin mengeratkan pelukan nya, hal yang tidak pernah berani ia lakukan dulu.


"Aksa kenapa diam saja dari tadi?" tanya Niana, karna menyadari sikap Raksa yang sangat pendiam. "Apa kamu marah?"


"Enggak," jawab Raksa singkat, Niana menyadari sikap Raksa yang berbeda, Niana perlahan melepaskan pelukan nya.


Kreeetttt..... Raksa dengan tiba-tiba menginjak rem, membuat Niana ikut tersungkur kembali berpegangan. "Kenapa di lepas?" seru Raksa.


"Kenapa harus berhenti mendadak?" Niana dengan kesal.


"Jangan lepaskankan pelukan nya?" seru Raksa, membuat Niana terdiam sejenak, kemudian turun dari motor Raksa.


"Ada apa dengan mu?" Niana sedikit berteriak.


"Aku hanya kaget, kamu melepaska pegangan tiba-tiba. Ayo naik lagi!" pinta Raksa dengan lembut


"Kamu melamun, diam saja dari tadi. Apa karna Daffin?" tanya Niana.


"Tidak, pikiran ku hanya sedang terganggu," elak Raksa.


"Terganggu oleh kak Daffin?" terka Niana lagi.

__ADS_1


"Dia kakakmu? kenapa memanggilnya kakak?" kesal Raksa.


"Dia kakak kelasku," jawab Niana. "Maafkan aku, tadinya aku akan memberitahumu setelah sampai tujuan. Tadi aku dan dia hanya berbicara sebentar, nanti akan ku ceritakan, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Baiklah ayo naik," pinta Raksa dengan memasang senyum penuh kasih sayang untuk Niana, menyadari sikaonya yang berlebihan, ya walou karna cemburu. Niana kembali naik ke atas motor, Raksa dengan segera meraih kedua tangan Niana melingkarkan nya di perut nya. "Jangan di lepas."


Berada di atas motor berdua, menyusuri jalanan ibu kota yang padat dengan pengendara namun tak terasa, seakan mereka berada di atas motor berdua di tengah laju jalanan yang mereka lalui. Dunia serasa milik berdua? Mungkin hal itu yang sedang di rasakan keduanya.


"Ada tempat yang inging kamu kunjungi?" tanya Raksa.


"Aku hanya ingin seperti ini." Niana menejamkan matanya menenggelam kan wajahnya di punggung Raksa, merasakan kehangatan seiring dengan tanganya yang melingkar memeluk Raksa.


Raksa hanya tersenyum melihat tangan Niana yang memrluk nya semakin erat. "Baiklah, peluk aku sepuasnya."


Perjalanan terhenti, motor Raksa sudah memasuki area kantor, keduanya pun turun lanjut memasuki kantor Raksa setelah memberikan kontak motor pada security untuk di bawa ke tempat parkir.


Namun Raksa sedikitpun tak meregangkan genggaman nya. "Biarkan saja," Raksa mempekenalkan Niana sebagai kekasihnya, yang memdapat ucapan selaman dan kekagyman pada sepasang kekasih yang sangat serasi iti.


Dan Tentusaja menjadi perbincangan saat ini antara semua karyawan. Pasangan serasi, pacar bos mereka cantik, bahkan sudah ada yang bergosip pacar Raksa berasal dari keluarga konglomerat, beruntung sekali Raksa, dan sebagainya pendapat mereka.


Perbincangan para karyawan tentang Raksa dan Niana, sampai terdengar di telinga Bonanza, sedikit mendengar orang-orang di sana bergosip. Bonanza mengerutkan dahinya. Bonanza di buat penasaran dengan apa yang jadi perbincangan para karyawan, ia dengan segera menuju ruangan Raksa, memastikan apa yang orang-orang bicarakan yang ada di ruang bosnya itu.


Setelah mengetuk pintu, dan sudah mendapat seruan dari dalam untuk masuk, Bonanza membuka pintu dengan segera. Hingga ia bisa melihat dengan jelas sosok gadis yang sedang duduk do sofa yang terdapat d ruangan. Niana yang sedang duduk menunggu Raksa berkerja.


"Maaf mengganggu, saya butuh tanda tangan anda," ucap Bonanza, masih berada di ambang pintu.


"Masuk Za!" Pinta Raksa. Niana ikut menyambut Bonanza dengan senyuman, yang kemudian Raksa saling memperkenalkan mereka.


"Senang berkenalan dengan anda," ucap Bonanza tersenyum setelah berkenalan dengan Niana

__ADS_1


"Bicara santai saja dengan ku! Kamu teman nya Aksa juga kan?" balas Niana.


"Iya, tapi ini di kantor, saya harus tetap profesional." bonanza kemudian pamit, pergi dengan perasaan tidak baik. Gadis itu tidak menyangka kalou hubungan Raksa dan Niana sudah baik. Saat trakhir ia melihat mereka saat ulang tahun Raksa, hubungan mereka yang terlihat ada masalah.


Saat ini tidak mungkin untuk nya tetap berada di kantor. Bonanza bergegas pergi dari sana, posisinya yang bisa keluar masuk dengan bebas dari kantor Raksa, karena Raksa tidak memaksa Bonanza untuk total bekerja di perusahaan nya karena yang Raksa tau Bonanza tidak membutuhkan pekerjaan atoupun uang, ia bekerja hanya ingin membantu Raksa.


Bonanza  menancap gas mobilnya agar segera menjauh dari kantor milik pria yang di sukainya namun tak mungkin untuk membalasnya. Tangisan nya pecah di dalam mobil, seakan tak mampu berpikir dengan baik ia melajukan mobilnya tidak beratur. Menginjak gas dengan laju kecepatan tinggi.


Patah hati membuat nya tak berpikir panjang, mengabaikan apapaun yang ada di depan matanya, membahayakan pengguna jalan lain. Mobil Bonanza dengan tidak sengaja menyetempet mobil lain yang sedang berhenti di tepi jalan, membuat pemilik mobil tersebut tampak tak terima hingga mengejarnya.


Bonanza melaju tak terarah seakan di rasuki amarah. Bonanza tidak berpikir kemana ia akan pergi atou sudah sejauh mana ia melaju, membuatnya tidak menyadari memasuki jalanan yang sepi dengan banyak pepohonan di sekitarnya.


Brukkk.. Suara benturan yang sangat keras, mobilnya Bonanza menabrak salah satu pohon besar, bagian depan mobil hancur parah.


Sebuah mobil ikut berhenti di sana, melihat kecelakan hebat tersebut seorang pria pengedara mobil tersebut langsung turun, segera memeriksa kecelakaan di depan matanya. Bagian depan mobil rusak parah sampai mengeluarkan asap, membuat pria tersebut menerka-nerka, pengemudi di dalam kendaraan yang kecelakaan, selamat atou tidak.


"Apa orang ini mabuk? Dasar gila ugal-ugalan di jalan, sampai menyerempet mobilku," gerutu pemuda itu yang ternyata, ia pemilik mobil yang di serempet Bonanza tadi dan mengejar Bonanza sampai sana. "Dan bodohnya aku mengikutinya sampai sini, hingga terjebak dalam situasi ini. Kalou ku biarkan saja, aku tidak tega juga, menyusahkan sekali."


Pria tersebut akhirnya berusaha membuka pintu mobil. Bonanza tampak tidak sadarkan diri di dalam, beruntungnua Air bag yang terdapat di dalam berpungsi dengan baik.


"Apa dia mati?" panik pria yang sudah berhasil mengeluarkan Bonanza, ia membaringkan Bonanza di bawah pohon dengan menyandarkan tubuhnya di pohon tersebut. Pria itu segera memeriksa nafas Bonanza, yang syukurnya masih berhembus, pria tersebut pun ikut bernapas lega.


.


.


Lanjut..


BAB 52 juga akan up hari ini ya!

__ADS_1


__ADS_2