
Akhirnya resepsi sederhana pun berangsur dengan cukup meriah. Meskipun diadakan di halaman rumah dengan dibantu tetangga dan saudara terdekat, acara resepsi untuk Bram dan Gendis dibilang cukup sukses.
Diera digital yang bisa mengakses banyak informasi sampai di daerah -daerah pinggiran, membuat panitia pesta menyelesaikan tugas dengan hasil memuaskan.
Mereka menyulap halaman luas rumah Bu Harun menjadi tempat yang cukup artistik untuk menerima tamu undangan. Mereka hanya sekedar panitia pesta suka rela bukan jasa EO profesional dengan bayaran puluhan hingga ratusan juga.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam saja. Semuanya sudah ada panitia yang mengurus." kata Bram mengajak Gendis masuk ke dalam. Pesta yang dimulai dari pukul sembilan itu berakhir hingga pukul satu siang.
Gendis benar-benar terlihat cantik dalam balutan kebaya khas Solo. Iya, bahkan aura priyayi pun menempel begitu lekat hingga banyak orang mengagumi kecantikan Gendis, termasuk juga Bram.
Bram membantu Gendis berjalan masuk meninggalkan beberapa tamu yang masih menikmati hidangan yang sudah disediakan. Jika saja di rumahnya tidak banyak orang, Bram sudah pasti menggendong Gendis yang kesulitan berjalan karena langkahnya yang terbatas oleh kain jarit yang melilit dengan sempit.
" Langsung ajak Gendis ke kamar saja, Bram. Takutnya Gendis kelelahan." titah Bu Harun ketika melihat Gendis dan Bram masuk ke dalam rumah.
Tamu yang datang ternyata lebih dari yang mereka undang. Banyak orang ingin ikut merayakan pesta ngunduh mantu yang diadakan Bu Harun. Wanita paruh baya itu memang dikenal supel dan ramah terhadap setiap orang yang dia jumpai di kampung mereka. Apalagi status Bram sebagai seorang dosen yang terkesan cukup mentereng di lingkungan sosial orang-orang kampung.
"Cuit... cuit..duch yang jadi pengantin baru, maunya langsung ngamar aja." goda Ambar saat melihat Gendis dibukakan pintu kamar oleh Bram.
"Dek Ambar apaan sih. Mbak, udah capek banget berjam-jam berdiri." sangkal Gendis atas prasangka Ambar. Sedangkan, Bram tak peduli lagi dengan candaan mereka dan segera menarik Gendis untuk masuk ke dalam kamar.
"Kamu istirahat, sebentar saja. Waktumu tidak banyak. Nggak usah pedulikan orang-orang yang masih sibuk di luar. Nanti malam, masih ada acara lagi, Ndis." titah Bram kemudian membuka jas hitamnya dan melipat lengan kemeja putih yang melekat pas di tubuhnya. Bram, memilih busana yang simple , tidak ribet seperti mempelai perempuan yang menyesuaikan adat mereka.
Bram memilih masuk ke dalam kamar mandi, dia akan melakukan Salat Dhuhur terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan sejenak tubuhnya.
Sedangkan Gendis sudah merebahkan tubuh di ranjang setelah melepas sanggul dan mengganti baju kebayanya.Dia memang sedang berhalangan salat hingga Bram membiarkannya langsung beristirahat sejenak sebelum kembali menemui sanak saudara.
###
__ADS_1
"Ndis, Tante dan Om Rendra balik dulu ya!" pamit Halisa kemudian memeluk keponakannya.
Wanita itu menahan tangis saat berpamitan dengan Gendis. Meskipun beberapa kali Halisa meyakinkan dirinya jika Gendis sudah bersama orang yang tepat, tapi tetap saja dia merasa berat karena Gendis sudah menjadi milik keluarga lain.
"Jika butuh sesuatu hubungi Om Rendra atau Tante. Kamu sudah seperti putri kami."
" Selamanya kita masih terikat sebagai keluarga,ya." lanjut Haliza kemudian memeluk kembali keponakannya dan menumpahkan tangis yang tak bisa dia bendung lagi.
Halisa yang biasa cukup tegar pun tidak bisa mengendalikan perasaannya. Dia seperti melepas putrinya pada keluarga lain ketika menyadari hanya dirinya dan Rendra keluarga yang dimiliki Gendis.
" Iya, Tante. Terima kasih." jawab Gendis merasa terharu karena Halisa memang sosok yang selalu tulus padanya. Hubungan kekerabatan mereka terbilang sangat erat meskipun selama ini mereka berada dikota yang berbeda.
"Sering main ke rumah ya, Ndis. Om Rendra sangat senang jika kamu sering main ke rumah." sela Rendra dengan mengusap kepala keponakannya itu.
Rendra memutuskan untuk pulang setelah acara ngunduh mantu dilaksanakan. Sore itu juga mereka berpamitan untuk pulang agar tidak terlalu malam untuk sampai di rumah.
Gendis hanya mengangguk dan mengacungkan jempol hingga membuat Bram penasaran.
Mobil Kijang Inova keluaran terbaru itu membawa keluarga Rendra menjauh dari rumah yang masih terlihat sisa sisa dekorasinya.
"Nduk, kamu sudah makan?" tanya Bu Harun saat mengingat keadaan mantunya. Seharian beliau terlalu sibuk dengan tamu hingga lupa keadaan Gendis di atas pelaminan.
"Sudah, Bu. Tadi disiapkan sama Tante Halisa." jawab gadis yang mengenakan long dress dengan rambut tergerai.
Melihat Ibi dan istrinya mengobrol, Bram memutuskan untuk masuk ke dalam. Sejak tadi lelaki yang ingin melihat ponselnya itu begitu penasaran siapa yang sempat membuat ponselnya terus saja bergetar dengan beberapa pesan.
Bram segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Beberapa pesan dari mahasiswa yang di bimbingnya skripsi yang mungkin tidak mengetahui dia telah mengambil cuti itu pun menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
'Kenapa aku tidak bisa menelpon Mas Bram? Ini hari pertama aku mengajar. Aku sedikit grogi.'
Sebuah pesan yanh dikirim Seruni membuat Bram melihat beberapa panggilan tak terjawab sebelum membalasnya.
'Maaf, Run. Di rumah banyak acara keluarga. Jadi, Mas, susah untuk memegang ponsel.'
Balas Bram mengirim pesan balik pada Seruni. Dia pun merasa tidak enak karena seharusnya saat inilah dia mensupport gadis yang selama ini memberi dukungan penuh padanya.
Bram menoleh ketika akan menelpon Seruni. Terlihat Gendis membuka pintu kamar hingga membuat Bram, mengurungkan niatnya.
Lagi pula jika ibunya tahu dia masih berhubungan dengan Seruni, beliau pasti akan sangat kecewa. Bram tidak yakin jika Gendis tahu, gadis tidak akan bercerita pada Ibunya.
"Ndis... " sapa Bram saat melihat Gendis hanya melirik sekilas saat melewatinya. Gendis berjalan menuju tempat tidur dengan cueknya.
"Apa, Mas? Aku capek! "
"Jangan minta aku melakukan ini dan itu dulu ya? Hari ini aku cuti." lanjut Gendis dengan suara lemah. Wajahnya terlihat murung dan lelah.
Bram pun terkekeh saat mendengar kalimat terakhir Gendis. Terkadang Gendis memang terkesan konyol.
Lelaki yang kini melempar ponselnya di atas sofa panjang itu pun berjalan menghampiri Gendis. Dia bisa melihat jika Gendis tidak berbohong. Wajah lelah itu membuat gadis bermata indah itu langsung merebahkan tubuhnya untuk berbaring. Gendis tak peduli lagi Bram yang duduk di pinggir ranjang tepat di sebelahnya. Toh, lelaki itu tidaj akan tertarik padanya, itu yang sudah tertanam pada pikirannya.
"Mas pijit kakimu, ya! " tawar Bram merasa kasihan. Beberapa kali dia melihat Gendis memijit kakinya sendiri saat akan tidur.
Gendis masih terdiam, gadis itu malah merubah posisi memunggungi Bram yang sedang memperhatikannya. Dia sudah tidak peduli lagi pada Bram.
Seketika mata Gendis terbuka saat merasakan tangan besar itu benar benar memijat kakinya. Tapi, rasa nyaman membuat gadis itu kembali menutup kelopak matanya hingga nafasnya terdengar begitu begitu teratur.
__ADS_1
Meskipun sadar Gendis sudah berangsur tidur. Tapi dia tetap saja memijat lembut, kaki putih Gendis. Kalimat terakhir istrinya membuat Bram tersadar jika dirinya sudah meminta banyak hal pada Gendis.