
Gendis tak bisa tidur dengan pulas meskipun dirinya sudah berusaha untuk memejamkan mata dari beberapa jam yang lalu.
Suara gerimis di luar dan petir yang masih saling menyambar membuat hati Gendis semakin gelisah. Iya, sejak tadi sore hujan turun tanpa hentinya membuat Gendis memilih mengurung diri setelah menyiapkan makan malam.
Ternyata menyatakan berpisah setelah menikah itu bukanlah hal gampang, tapi bertahan dengan situasi yang selalu menyakitkan itu juga sangat sulit. Apalagi, sedikit banyak dirinya sudah merasa nyaman dengan Bram.
Tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas. Beberapa panggilan dari Bram membuat Gendis menghela nafas lemah. Dia benar-benar merasa lelah memikirkan hidup dan hatinya. Karena, tidak mungkin dia terus merepotkan Om Rendra satu-satunya kerabatnya ketika ada masalah. Apalagi, dia tahu Om Rendra sedang punya banyak masalah.
'Ndis, Buka pintunya!'
'Ndis, Mas ingin bicara.'
'Ndis, kamu belum tidur, kan?'
'Ndis....
Beberapa pesan dikirim oleh Bram di ponsel Gendis. Gadis itu memang sengaja mengatur ponselnya dengan mode silent, hingga dia tidak tahu jika lelaki itu sudah mengirim pesan atau menelponnya.
Sebenarnya, dia juga tahu jika beberapa kali Bram menggedor pintu kamar, tapi rasa hati yang tidak nyaman membuat dirinya enggan bertemu dengan lelaki itu. Oleh karena itu, Gendis memilih untuk membiarkannya saja.
Sudah beberapa hari, sejak kejadian menyakitkan untuk Gendis, keduanya jarang berbicara seperti biasa. Gendis dan Bram seperti larut dengan kesibukannya masing-masing dan Bram pun sering pulang malam seperti saat ini.
Tapi Gendis tetap menjalankan tugasnya, menyiapkan makanan entah itu dimakan atau tidak dan menyiapkan keperluan Bram. Dia juga sudah berada pada titik tak peduli, apakah Bram makan di rumah atau tidak.
Beberapa kali, Gendis memang sempat melihat menu makanan malam masih utuh saat pagi hari, itu artinya Bram sudah makan makan di luar. Entah bersama siapa, Gendis berusaha tak peduli meskipun kenyataan dirinya tak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Bruk..."
"Bruk..."
"Brrruukkkk...." Gendis terlonjak kaget saat pintu kamar sudah roboh karena Bram mendobraknya.
Gendis langsung melempar selimutnya saat terlihat Bram melangkah masuk. Tidak dipungkiri jika saat dia merasa ngeri dengan tatapan Bram yang terlihat penuh amarah. Dengan meremas kedua sisi celana piyama yang dia kenakan, Gendis berusaha menenangkan perasaannya.
"Kenapa tidak menjawab panggilan, Mas?" tanya Bram saat dia berada di depan Gendis. Suara yang penuh dengan penekanan membuat Gendis merasa bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Jawab!" Bentak Bram hingga membuat Gendis terjingkat kaget. Suara baritonnya yang menggema ke seluruh penjuru ruangan membuat Gendis semakin takut.
" Bicara apa lagi?" suara Gendis terdengar sedikit bergetar.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." jawab Gendis masih menutupi kecemasannya saat ini.
"Tapi sikapmu membuatku sangat muak! " balas Bram dengan menatap tajam Gendis. Tatapan penuh amarah yang dilayangkan pada Gendis membuat gadis itu sebenarnya sudah menciut tapi dia berusaha untuk tetep berdiri kokoh.
"Yang berubah siapa? Jangan suka playing victim...!" jawab Gendis tak mau kalah.
"Kamu menghindari, Mas. Kamu susah diajak bicara. Seperti anak kecil." sela Bram hingga Gendis tidak sempat menjelaskan apa yang ada dipikirannya.
"Kamu maunya apa?" Bram berusaha menahan emosinya.
"Kita berpisah." celetuk Gendis.
"Gendis!" teriak Bram membuat wajah Gendis memerah. Sudah berapa kali lelaki di depannya itu meninggikan suara di depannya dan itu terdengar sangat menyakitkan.
Gendis yang tidak bisa lagi menahan air matanya meninggalkan Bram yang masih mematung. Gadis itu ingin segera menghilang dari hadapan lelaki yang membuat hidupnya terasa entah.
Bram yang melihat Gendis bersikeras itu akhirnya berlari dan segera mengunci pintu terlebih dahulu agar gadis itu tidak keluar.
"Kamu mau jadi apa?"
"Diajak bicara baik-baik nggak bisa. Ditegasin mau minggat! Kamu mau jadi apa?"
"Perempuan liar yang ada di luar sana!" suara Bram kembali meninggi, selama ini tidak ada yang membantah omongannya.
"Masih baik menjadi perempuan liar diluar sana. Dari pada jadi wanita berkedok seorang dosen tapi kenyataan mau dengan suami orang!" bantah Gendis ketika mendengar kalimat Bram yang terdengar seperti makian.
"Gendis..."
"Plak...." sebuah tamparan yang melayang di pipi Gendis membuat suasana mencekam seketika.
Sejenak mereka mematung dengan tatapan yang sangat berbeda. Bram merasa bersalah sedangkan Gendis penuh dengan rasa kecewa.
__ADS_1
"Ndis... Ndis... maafkan, Mas. Mas tidak sengaja!" ucap Bram dengan suara bergetar, sorot matanya pun mulai melemah saat langkahnya mendekati Gendis. Kemarahan yang sejak tadi menggebu berubah menjadi sebuah ketakutan karena rasa bersalah pada gadis yang memundurkan langkahnya beberapa kali.
Gendis memang menjauhkan diri dari Bram, tapi tatapannya begitu menusuk hingga Bram menjadi panik karenanya.
"Jangan sekali-kali, menyentuhku!" teriak Gendis terengar histeris, tangannya pun menghalau tangan Bram yang akan menyentuh pipinya.
"Ndis, bukan maksud, Mas, menyakitimu."
Gendis sudah tidak peduli lagi akan penjelasan Bram. Gadis itu berlari masuk ke kamar meskipun tidak bisa lagi menutup ruangan itu.
Bram hanya bisa mematung. Sungguh, rasa bersalahnya membuat hatinya merasa diremas. Dia hanya menatap gadis yang duduk di pinggiran ranjang itu dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat Gendis menangis sesenggukan, rambutnya menutupi seluruh wajahnya, hingga Bram yang berdiri dari kejauhan tidak bisa melihatnya dengan benar.
Bram POV
Aku terus saja menatap gadis yang kini menangis sesenggukan di tepi ranjang. Aku tidak berani mendekatinya karena rasa bersalah yang luar biasa pada gadis itu. Aku tahu aku sudah kelewatan.
Aku tidak mengira, jika niatku yang ingin menegurnya malah menyakiti hatinya. Dari caranya menatapku dan isak tangisnya yang tidak berhenti, itu membuatku yakin aku sudah menyakitinya terlalu dalam.
Aku tak menyangka, tanganku ini sudah menamparnya. Aku hanya ingin dia berhenti merendahkan Seruni dalam masalah kita. Tapi, ternyata dia memasukkan Seruni dalam perdebatan tadi.
Author POV
Gendis mengambil foto kedua orang tuanya, kemudian merebahkan dirinya dalam balutan selimut. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali hanya sekedar memeluk foto kedua orang tuanya.
Malam beranjak semakin larut, Gendis sudah meringkuk di dalam selimut meskipun dia belum memejamkan matanya karena hatinya yang sangat terluka.
"Papa, Mama, Gendis rindu. Seharusnya, Gendis ikut Papa pulang bersama Mama, agar Gendis tidak sendirian lagi." gumamnya hampir tak dengar. Dia seperti menyesali, kenapa ketika kejadian naas itu dia tidak ikut saja pulang bersama kedua orang tuanya.
Bram hanya bisa duduk di lantai menatap gadis yang meringkuk di bawah selimut. Saat ini, rasa bersalahnya tidak hanya pada Gendis, tapi juga Pak Hastanto yang tentu akan sangat kecewa padanya.
"Maafkan, Mas, Ndis. Mas, khilaf." gumam Bram sambil mengusap lelehan air yang mengalir dari sudut matanya.
Sesekali lelaki itu menatap telapak tangannya yang sudah menampar Gendis. Entah, apa yang akan dia pertanggung jawabkan tentang kejadian malam ini.
__ADS_1