
"Bisa kita bicara?" Bram beranjak dari duduknya menghampiri Zayn yang menatap tajam ke arahnya.
"Baiklah!" jawab Zayn kemudian mereka berjalan menuju ke meja lainnya yang kosong.
"Kenapa harus Ambar?" tanya Bram.
"Kami akan segera bertunangan." jawab Zayn dengan tegas.
Bram tersenyum sinis. Bahkan, dia menggelengkan kepala sebagai ungkapan rasa tidak suka.
"Ambar gadis baik- baik. Tidak seharusnya dia terjebak dalam sebuah hubungan denganmu!" ucap Bram. Dia tidak tahu lagi harus bicara apa agar sepupu dari istrinya menjadi pelampiasan sang Casanova.
"Ambar bukan anak kecil. Dia bisa menentukan pilihannya sendiri." jawab Zayn dengan begitu percaya diri. Dia juga tahu bagaimana menaklukkan karakter gadis itu.
"Aku tahu, tapi dia terlalu naif untuk menjalin hubungan dengan seorang player." Bram mulai terlihat kesal. Dia tidak akan terima jika lelaki di depannya mempermainkan bagian dari keluarganya.
"Kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan kami." jawab Zayn tak kalah sengit.
"Mas Bram, aku sudah selesai bicara dengan Dek Ambar." ucap Gendis, yang saat ini berdiri tidak jauh dari keberadaan dua lelaki yang kini menatapnya. Sejak tadi Gendis merasa cemas takut terjadi perkelahian seperti sebelumnya.
"Baiklah kita pulang!" jawab Bram. Dia menghampiri Gendis dan kemudian melirik Ambar. Sedangkan gadis itu hanya bisa menunduk itu hanya bisa menunduk.
Bram membawa Gendis keluar dari resto. Dari dalam resto, Ambar menatap sepasang suami istri itu dengan rasa bersalah. Dia faham apa yang sedang dipikirkan Bram, tapi gadis berkerudung itu tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Besok kita akan menemui orang tuamu untuk mengatur pertunangan kita." lirih Zayn saat dia mendekat di samping Ambar.
Ambar hanya mengatupkan kedua kelopak matanya dengan kuat, cairan dari kedua mata itu pun akhirnya tertahan di dalam sana. Dia merasa bodoh kala dia tidak bisa berbuat apapun pada seseorang yang sudah mengintimidasinya.
Sementara itu, di dalam mobil Gendis dan Bram hanya terdiam. Hanya alunan musik yang terdengar mendayu -dayu yang mengiringi keduanya menyusuri jalanan sore yang begitu ramai dan padat.
"Katanya, Dek Ambar akan bertunangan dengan Mas Zayn." ujar Gendis memecahkan kebisuan diantara mereka.
__ADS_1
"Itu yang aku khawatirkan, sayang. Zayn itu player. Dia senang mempermainkan wanita, sementara Ambar tak jauh beda dengan kamu." ujar Bram.
"Tapi untungnya, dia tidak akan mengharapkanmu lagi." lanjut Bram dengan tatapan masih fokus pada jalanan.
"Mas Bram, lagian aku juga nggak cinta sama Mas Zayn." jawab Gendis dengan menatap wajah tampan yang selalu di kagumi dalam hati.
"Terus kamu cintanya sama siapa? Mas Bram, kah?" goda Bram sambil terkekeh.
"Percaya diri banget." sungut Gendis, meskipun kenyataannya seperti itu tapi dia masih malu mengakuinya.
Bram membelokkan mobilnya ke arah jalan menuju rumahnya. Suasana jalan yang terlihat senggang membuat Bram dengan santai memegang kemudi mobilnya.
"Mas, sepertinya ada tamu." Dari kejauhan Gendis bisa melihat seorang gadis dengan mobil Brio merah yang terparkir ditepi jalan itu berdiri di dekat pintu gerbang rumah mereka.
Bram menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat jelas siapa yang datang. Dan saat mobil itu berhenti di depan gerbang, dia baru tahu jika yang datang adalah mahasiswi yang sedang bimbingan skripsi dengannya.
Gendis turun dari mobil untuk membuka pintu gerbang, sedangkan Bram turun untuk menemui gadis yang bernama Inka itu.
"Saya mau bimbingan, Pak." jawab Inka dengan tatapan memelas.
"Mas, masuk dulu saja." sela Gendis setelah dia membuka pintu gerbang. Gendis juga melihat wajah tidak senang Bram saat berbicara dengan gadis yang kini menunduk.
"Silahkan masuk, Mbak!" ucap Gendis berusaha seramah mungkin sebagai tuan rumah meskipun sebenarnya dia juga risih kala ada mahasiswi suaminya terlampau seksi.
Gendis berjalan masuk bersama Inka. Sedangkan Bram kembali masuk ke dalam mobil untuk membawa masuk Pajero Putih miliknya itu.
"Silahkan, duduk!" ujar Gendis kemudian masuk ke dalam ruangan yang lebih dalam, yaitu dapur.
Sambil membuatkan minuman, sesekali matanya tertuju ke ruang tamu saat terlihat Bram masuk ke dalam dan menemui gadis seksi itu.
"Ya Allah, aku kira mahasiswanya Mas Bram cowok semua. Ternyata ada yang seseksi itu." gumam Gendis, dia mulai khawatir jika Bram tergoda dengan gadis bertubuh seksi itu. Apalagi, dirinya mulai mengenal Bram yang cool ternyata sangat mesum.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, aku tidak menerima bimbingan di rumah." Gendis mendengar suara Bram penuh dengan penekanan kala melangkah menuju ruang tamu.
Kehadiran wanita yang membawa satu cangkir teh dan satu cangkir kopi itu membuat obralan Bram dan Inka terhenti.
"Silahkan diminum!" ujar Gendis. Dia sempat memperhatikan tubuh gadis itu. Dadanya yang besar dengan belahan kaos yang rendah membuat Gendis merasa insecure meninggalkan suaminya berdua dengan mahasiswinya itu. Tapi, ikut dalam pembicaraan mereka juga tidak sopan. Kesal itu yang dirasa Gendis.
Gendis melirik Bram yang juga menatapnya saat akan meninggalkan ruang tamu. Tapi pikirannya dibolak-balik lagi, jika semua itu tergantung lelakinya juga. Jika mau nakal pun bisa dengan mudah saat tidak ada dirinya.
Tak ingin dilanda rasa gelisah, Gendis memilih naik ke atas. Dia akan mencari sesuatu yang bisa menghiburnya dan menghilangkan pikiran buruk tentang suaminya.
Diambilnya ponselnya yang ada di dalam tas yang dari tadi dia bawa. Sejenak dia melihat aplikasi yang berisi video singkat yang menampilkan tarian yang terlihat enak di peragakan oleh tubuh.
Setelah memperhatikan cukup, Dia pun mulai memperagakan gerakannya hingga beberapa kali agar mendapatkan gerakan yang sempurna.
Begitu asyik dengan dancenya, Gendis tidak menyadari jika Bram sudah memperhatikannya tadi.
Lelaki yang terus menatap tajam istrinya yang sedang berjoget, akhirnya menghampiri tubuh yang tengah asyik bergerak kesana-kemari. Tangan besar itu langsung mendekap tubuh mungil itu hingga pemiliknya tersentak kaget dan menghentikan gerakannya.
"Nggak usah ikut-ikutan joget seperti itu!" bisik Bram saat Gendis menoleh ke arahnya.
"Mas tidak suka jika lelaki lain melihat tubuhmu meliuk-liuk. Hanya Mas yang menikmati tubuhmu yang meliuk indah." gumam Bram begitu posesif. Lelaki yang kini masih memeluk tubuh mungil agar tidak bergerak itu pun sedikit menundukkan tubuhnya untuk bisa mencium puncak kepala istrinya.
"Aku hanya mencari hiburan, Mas." bantah Gendis malah membuat Bram mengeratkan pelukannya.
Hingga pada akhirnya, tangan kekar itu membalikkan tubuh Gendis agar menghadap ke arahnya.
"Pokoknya Mas tidak suka." jelas Bram. Dia memang tipe lelaki yang posesif.
"Seorang istri harus nurut sama suami jika dalam hal kebaikan." lanjut Bram membuat Gendis menghela nafas dan kemudian mengangguk.
Berdekatan dengan Bram memang punya sensasi sendiri, aroma parfum musk yang bercampur dengan keringat khas lelaki itu membuat sensasi sendiri bagi wanita yang kini menyandarkan kepalanya di dada bidang Bram.
__ADS_1