
Kamar yang sempat ricuh akibat pertengkarannya dengan Gendis kini terlihat hening. Bram yang baru saja keluar dari kamar mandi itu pun langsung menatap tubuh mungil yang meringkuk di tepi ranjang.
Gerakannya terhenti ketika berjalan menuju lemari, biasanya Gendis yang menyiapkan pakaiannya. Tapi, wanita itu kini sedang marah karena hal yang dianggap oleh Bram sebagai sesuatu yang selepe.
Bram sempat menatap curiga ketika tak ada lagi isak tangis yang terdengar dari istrinya, biasanya juga gendis paling betah jika menagis. Tapi kali ini, Bram lebih memilih mencari pakaian agar segera berganti. Dia tidak akan membujuk lagi Gendis, agar istrinya mau belajar untuk lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu.
“ Biarlah, dia belajar lebih dewasa! Aku sudah lelah melihat dia merajuk dengan alasan yang tidak jelas.” gumam Bram dalam hati.
Lelaki berwatak keras itu menyisir rambut basahnya dengan sesekali melirik Gendis dari pantulan kaca.
“Mungkinkah dia benar-benar sudah tidur?” bisik Bram dalam hati, kala Gendis tidak bergerak sama sekali.
Diletakkan kembali sisir yang selesai dia gunakan dengan pikiran lebih fokus pada istrinya hingga sesaat kemudian ponsel milik Gendis berdering. Lelaki yang semakin curiga akan kediaman istrinya itu kembali memperhatikan gendis yang tak bergerak sama sekali ketika ponselnya masih terus berbunyi.
“ Itu ada yang telpon!” ucap Bram bermaksud mengingatkan, tapi istrinya sama sekali tak bergeming membuat Bram semakin merasa aneh.
Bram pun pada akhirnya melangkah mendekati ponsel istrinya dan ternyata ibunya yang sedang menelpon.
“ Assalamualaikum...” suara lirih dari sebrang terdengar oleh Bram kala dia membuka panggilan itu.
“ Waalaikum salam. Gendisnya sedang tidur, Buk.” ujar Bram kemudian mendekat ke arah Gendis berbaring.
“ Oh ya sudah, jika sudah tidur. Kemarin katanya nggak enak badan pas ibu telpon. “ jelas Bu Harun merasa tenang jika menantunya sedang beristirahat.
“ Iya Buk, baru saja Gendis tidur, sebentar Bram akan membangunkannya.”
“ Nggak usah-nggak usah Bram! Besok saja Ibu telpon, kasian jika dibangunkan.“ sela Bu Harun mencegah putranya ketika akan membangunkan Gendis.
“Kamu jaga Gendis, dia nggak punya siapa- siapa lagi kecuali kamu Bram. Kamu juga harus bisa ngemong dia masih sangat muda untuk berumah tangga.” ujar Bu Harun sebelum beliau menutup kembali panggilannya.
Wanita sepuh itu memang sangat menyayangi Gendis, meskipun menantunya itu manja, tapi Gendis termasuk perhatian dengan mertuanya.
Bram meletakkan kembali ponsel istrinya, ditatapnya kembali Gendis yang tak bergeming.
__ADS_1
“Mungkin aku sudah keterlaluan menuntut Gendis untuk bisa mengimbangi pemikiranku. Padahal dari awal aku tahu, jika Gendis masih remaja dan anak yang manja.” Bram bermonolog dalam hati ketika perasaannya dihinggapi rasa bersalah pada istrinya.
Tas besar yang sampat dia lempar di atas lemari itu juga membuatnya kembali tertegun. Dia hampir lupa jika tidak ada tempat lain bagi Gendis kecuali dirinya sebagai suami.
“ Ndis bangun.” ujar Bram dengan menepuk pelan lengan Gendis.
“ Ndis bangun!” ulang Bram kali ini dia mulai terlihat cemas karena tak ada reaksi dari istrinya yang masih mengatupkan kedua kelopak matanya.
Diangkatnya kepala Gendis, kemudian ditepuknya pelan wajah istrinya, “ Ndis, bangun! Jangan buat Mas cemas.” ujar Bram dengan panik.
“ Ndis bangun...” panggil Bram lagi. Jika tidak sadar juga, Bram memutuskan akan segera membawanya ke rumah sakit saja.
Seketika Gendis menggerakkan kepalanya, kemudian berlahan mengerjapkan mata membuat Bram meletakkan kembali kepala istrinya seperti semula.
“Kamu kenapa? Ayo kita periksa.” ajak Bram tapi gendis hanya menggeleng, dia merasa tidak perlu melakukannya karena mungkin seharian dirinya tidak makan nasi.
“ Aku tidak apa-apa.” ucap Gendis menjawab dengan singkat. Wanita itu masih enggan bicara dengan Bram.
“Kalau begitu ayo kita makan!” ajak Bram, tapi Gendis hanya menggeleng. Dia juga tidak berselera.
Bram menuruni tangga, mencoba berfikir apa yang terjadi dengan istrinya, perlukah dia memaksa Gendis untuk berobat? Pertanyaan demi pertanyaan kembali memenuhi kepalanya, hingga akhirnya suara gadis kecil dari luar membuat Bram membukakan pintu.
“ Mbak gendisnya ada, Om? “ tanya Alya saat melihat Bram membukakan pintu.
“ Mbak Gendisnya sedang tiduran. Ada apa, Al?” tanya Bram saat melihat gadis itu tersenyum-senyum.
“ Boleh, Alya masuk?” tanya alya , gadis kecil itu sedikit takut sama Bram karena wajahnya yang datar.
“Masuk saja!” ucap Bram membuat Alya langsung masuk ke dalam tapi langkahnya terhenti saat dia melihat ke meja makan. Biasanya Gendis langsung memberinya kue atau jajanan kala dia bertamu.
“ Ada apa?” tanya Bram.
“ Alya tadi bikin nasi kepal, pinginnya mbak Gendis nyobain.” ucap Alya sambil menunjukkan nasi berbentuk bulat tak beraturan yang ada di tangannya.
__ADS_1
“ Mbak Gendis biasanya senang apapun buatan Alya.” lanjut Alya. Gendis selalu memuji hasil karya Alya apapun bentuknya sehingga saat membuat nasi kepal bersama mamanya, Alya teringat gendis.
“ Kamu naik ke katas saja, kalau bisa bikin Mbak Gendis menghabiskan nasimu, jika berhasil, Om kasih hadiah nanti!” bisik Bram merasa Kebetulan dengan kedatangan Alya.
“ Hadiahnya apa om?” tanya Alya penasaran.
“ Ada pokoknya. Bujuk saja Mbak Gendis untuk makan, ya! Om Bram akan siapkan hadiahnya.” jawab Bram membuat Alya bersemangat, meskipun dia belum tahu hadiah apa yang akan diberikan oleh Bram.
Alya begitu bersemangat menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Bram dan Gendis. Gadis kecil itu memang pernah tertidur sakali di kamar Gendis kala sedang menemani Gendis membersihkan dan merapikan kamarnya.
“ Mbak Gendis...” panggil Alya saat membuka pintu kamar berwarna coklat plitur itu.
“Masuk, Al!” sambut Gendis saat melihat kepala Alya melongok dari balik pintu kamarnya.
Gadia kecil itu pun langsung dengan tersenyum manis. Alya berjalan mendekat ke arah Gendis.
"Kamu tadi sudah bilang, Mama? " tanya Gendis saat Alya sudah ada di depannya.
"Sudah." jawab Alya.
"Oh ya Alya tadi bikin nasi kepal, Mbak Gendis coba ya!" pinta Alya sambil menyodorkan nasi
bulat tak beraturan.
"Alya sendiri yang buat? " tanya Gendis meyakinkan. Kemudian Alya mengangguk.
"Mana, Mbak Gendis Cobain, pasti enak." ujar Gendis.
Gendis pun menggigit nasi kepal yang dibuag Alya, dia merasakan enak sekali, apalagi saat terkena ayam suwir di dalamnya. Gendis merasakan enak.
" Buatan Alya memang Top. Alya selalu keren." puji Gendis membuat bocah itu tertepuk tangan tersenyum malu-malu sat mendengar pujian Gendis.
Gendis menikmati nasi buatan Alya. Bahkan, dia tidak menyisakan sama sekali satu kepal nasi tersebut benar-benar nikmat.
__ADS_1
Sementara di balik pintu Bram menatap dua perempuan yang tengah berinteraksi itu. Dia pun merasa lega jika Gendis menghabiskan nasi yang di bawa Alya.