
Gendis Pov
Aku berdamai dengan perasaanku sendiri. Sesuai dengan saran Mbak Anisa/Mama Alya jika apa yang mengganjal dalam hati ini haruas dibicarakan lagi dengan Mas Bram.
Setiap kali aku mengatakan jika aku ingin berpisah atau pergi, Mbak anisa selalu mengatakan. 'Jangan berfikir ingin pergi jika hanya ingin di kejar' karena bisa jadi kita akan melepaskan hubungan itu.
Jadi jika aku memutuskan untuk pergi, maka aku harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh dan dalam keadaan tenang. Menurut, mbak Anisa kadang banyak istri yang berada dalam posisi dilema hingga bertahun-tahun hanya untuk berani memutuskan berpisah, padahal sudah jelas jika suaminya pernah berselingkuh.
Saat ini aku butuh seseorang untuk diajak bicara, bukannya aku membuka aib keluarga dan suamiku. Tapi aku butuh saran dari seseorang dari sudut pandang yang berbeda.
Beberapa hari ini setelah aku bicara dari hati ke hati dengan Mas Bram, aku merasa lebih tenang. Sambil, memperhatikan Mas Bram dengan pemikiran terbuka, perasaanku mulai belajar memahami apa yang dipikirkan Mas Bram.
Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia, bukan dirong-rong rasa curiga terus menerus. Hingga, pertengkaran demi pertengkaran terus mengisi pernikahan kami.
Author Pov.
"Ndis, mau ikut Mas? " tanya Bram saat mendapati istrinya termenung di dekat jendela yang menghadap bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Kemana, Mas? " tanya Gendis dengan malas-malasan.
"Lari sore ke stadion." jawab Bram. Lelaki itu memang rajin berolahraga hingga membuatnya selalu segar dan tubuhnya masih tetap terlihat ideal.
"Aku malas, Mas." jawab Gendis dengan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena akhir-akhir ini dirinya bermalas-malasan.
"Di sana ada yang jual banyak jajanan, lo. Nanti kita juga bisa mampir lihat kampus yang ada di dekat stadion." ujar Bram mencoba meyakinkan Gendis. Di sana memang ada kampus swasta yang akreditasi fakultas psikologinya lumayan bagus.
Gendis gagal masuk ujian perguruan tinggi negeri. Hal itulah yang membuat Gendis tidak bersemangat lagi untuk kuliah.
"Mas Bram, aku tidak bernafsu masuk di universitas swasta. Aku ingin masuk universitas negeri." ucap Gendis.
Mendengar permintaan istrinya Bram hanya menghela nafas panjang. Dia juga tidak bisa berbuat lebih untuk memasukkan Gendis di universitas negeri.
__ADS_1
"Bisa, tapi ikut jalur non regular." jawab Bram membuat Gendis mengerucutkan bibir.
"Sama juga bohong." sahut Gendis.
"Ya terus gimana, kemampuanmu juga segitu, Ndis." ucap Bram membuat Gendis terdiam sejenak.
"Aku sudah berusaha keras tapi ternyata aku tidak pintar." gumam Gendis kecewa dengan dirinya sendiri.
Bram tidak tega melihat wajah memelas istrinya. Dia yang sudah bersiap untuk pergi berolahraga pun memutuskan untuk duduk di sebelah Gendis.
"Bukan tidak pintar, tapi ada juga faktor belum beruntung. Kedua, mungkin salah ambil jurusan atau memang kamu belum maksimal belajarnya. Mereka yang masih fresh gaduated mungkin masih mudah mengingat materi pembelajaran." jelas Bram dengan mengusap kepala Gendis. Dia mencoba memberi pengertian istrinya.
"Lagian, kampus swasta juga banyak yang bagus, kok. Tinggal pengembangan diri orangnya saja." jelas Bram. Dia tidak ingin Gendis berkecil hati.
"Setidaknya aku bisa menjadi pantas untuk mendampingi Mas Bram." lirih Gendis dari awal dia memang krisis percaya diri jika soal pendidikan.
"Sayang... Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti Mas, juga banyak kekurangan dan kamu juga punya banyak kelebihan." jelas Bram.
Akhirnya lelaki yang sudah siap pergi ke stadion untuk berolah raga itu berhasil membujuk istrinya untuk ikut.
Gendis hanya berjalan kecil sambil menunggui Bram yang sudah berlari mengelilingi stadion hingga beberapa putaran. Lelaki yang punya tubuh tinggi dan atletis itu memang biasa menghabiskan waktu di akhir pekan bersama teman-temannya untuk mengolah otot.
Senja mulai menggeser cerahnya sore di waktu yang terasa indah ini. Suasana stadion memang cukup ramai ditambah lagi di bagian depan terdapat perkumpulan sebuah club motor klasik.
"Ndis, di dekat pertigaan di sana ada yang jual rujak. Kamu mau beli nggak?" tanya Bram melemparkan pertanyaan yang menguji apakah istrinya ngidam atau tidak.
"Nggak ah, aku malah pingin makan bakso." jawab Gendis membuat Bram sedikit kecewa, karena menurut cerita teman-temannya yang sudah menikah. Jika istri mereka hamil mereka akan sibuk mencari rujak dan wanita hamil anti dengan aroma bawang atau sejenis bakso.
"Kita pulangnya saja ya! Kita bungkus, soalnya Mas nggak suka Bakso." jawab Bram. dengan lemah.
Bram mengambil botol air dari tangan istrinya kemudian menegaknya hingga tinggal setengah. Dia sebenarnya sudah ingin mempunyai bayi di umurnya yang sudah tiga puluh satu.
__ADS_1
"Mas, aku ingin bakso bakar saja di sana!" ucap Gendis membuat Bram mengangguk dan hanya tersenyum tipis.
"Mas akan lari tiga putaran lagi dan kita pulang setelah ini" ucap Bram membuat Gendis yang akan melangkah pergi kembali menoleh dan mengangguk.
"Itu artinya harus rajin bikin anak saja. Lagian bikinnya juga enak, jadi nggak masalah jika saat ini Gendia belum hamil." gumam Bram dalam hati, lelaki itu tersenyum tipis saat memutari stadion itu diiringi indahnya senja yang memerah tembaga.
Lelaki yang masih menikmati suasana senja itu masih asyik berlari. Hingga, pada akhirnya perhatiannya mulai tertuju pada beberapa orang yang kini sedang berhamburan ke jalan.
"Ada apa, Mas? " tanya Bram saat berhasil mengehentikan seorang pemuda.
"Katanya ada kecelakaan." jawab pemuda itu dengan wajah sedikit tegang.
"Di mana tepatanya? " cecar Bram, perasaannya mulai tidak nyaman.
"Katanya di pertigaan dengan penjual makanan." jelas pemuda itu sambil berlari ke luar untuk melihat situasi.
Belum sempat mendapatkan penjelasan lebih lanjut, Bram pun ikut menyusul. Dia mengkhawatirkan istrinya yang berada di sana.
" Cewek korbannya, meninggal di tempat." teriak seseorang yang tak sempat Bram perhatikan.
Rasa cemasnya tengah membubung tinggi hingga dia beberapa kali menabrak sesorang agar bisa melewati keramaian.
Hatinya seperti meledak-ledak kala tak menemukan Gendis. Bram pun langsung menuju ke arah korban dengan jantungnya yang seolah hampir copot.
Sejenak dia bisa bernafas lega saat melihat baju korban bukan seperti yang di kenakan Gendis.
Tapi di mana Gendis?
Bram kembali diserang rasa gugup ketika tidak mendapati sosok istrinya. Masih berusaha mengedarkan pandangannya dan memilah milih satu persatu diantara banyak orang dengan niat bisa menemukan keberadaan istrinya.
"Gendis... " gumam Bram kala melihat wanita bertubuh mungil itu menyingkir dari keramaian dan sibuk mengeluarkan isi perutnya karena merasa mual
__ADS_1