
Gendis memperhatikan dengan seksama suasana yang jarang dia temui. Jalan yang saat ini dia lalui memang sudah beraspal. Tapi pohon kelapa dan pohon yang menjulang tinggi lainnya yang tumbuh rapat di pinggir jalan membuat Gendis begitu terkesima. Bahkan ada sebuah waduk yang sempat terlihat, dimana ada perahu-perahu kecil berisikan orang-orang yang nampak sedang memancing.
“Sejak sesorang memfitnah bapaknya Bram hingga hidup kami sempat terlunta-lunta. Kampung inilah yang memberi kesempatan pada kami untuk bernafas tenang.” Suara itu membuat Gendis terhenyak dari keasyikannya menikmati suasana pinggiran kota.
“Iya, dulu bapaknya Bram menjabat di kursi dewan. Tapi seseorang telah memfitnahnya hingga tuduhan korupsi membuat Mas Harun terkena serangan jantung dan akhirnya kami harus pindah di desa pinggiran untuk bisa memulai hidup kami yang baru." Bu Harun bercerita dengan pandangn kosong, seolah beliau kembali melihat banyangan meyedihkan di masa lalu.
Gendis hanya menatap iba mertuanya tanpa berani bertanya, sedangkan Bram memperhatikan dua wanita yang duduk di belakangnya itu dari spion mobil.
“Salahnya Mas Harun, dia disuruh apapun hanya mengiyakan saja hingga akhirnya dia yang bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan orang lain.” Wanita yang terlihat tegar itu menghela nafas untuk bisa mengurai rasa sesak di dadanya.
“Hanya papamu yang percaya pada Mas Harun, Nduk. Papamu yang berusaha menolong Mas Harun pun harus menerima banyak teror bahkan kematian hampir menghampiri papamu. Tapi terlambat, saat proses itu berlangsung, Mas Harun sudah menghadap Tuhan terlebih dahulu. Hingga kasus itu tenggelam begitu saja." Hanya suara Bu Harun yang mengisi ketenangan di dalam mobil.
“Ibu memutuskan untuk pulang ke kampung bersama Bram. Saat itu, Bram hampir putus sekolah tapi untung Pak Hastanto datang dan banyak membantu kami hingga Bram bisa menjadi seperti ini. Ibu sangat berterima kasih pada papamu, Nduk.” lanjut Bu Harun dengan mata berkaca-kaca.
“Kata Papa, jangan mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, takutnya kita akan melupakan keburukan yang mungkin jauh lebih banyak kita lakukan.” ujar Gendis mengingat setiap kalimat papanya yang dulu terkesan dia acuhkan.
Bu harun tersenyum pada Gendis. Meskipun Gendis masih terkesan kekanak-kanakan tapi dia yakin hatinya sangat mulia seperti papanya.
“Sekarang kita sudah sampai.” ujar Bram mengakhiri percakapan keduanya dengan membelokkan mobil yang dia kemudikan berhenti di halaman sebuah rumah yang cukup luas.
Rumah joglo yang terlihat tua itulah tujuan mereka. Sudah beberapa kali Bram ingin merenovasi rumah kuno itu, tapi Bu Harun menolaknya. Beliau memang tidak ingin merubah bangunan bersejarah itu, dimana dirinya dan Bram tumbuh dengan kerasnya hidup.
__ADS_1
“Rumah Ibu memang tidak bagus, biar nanti Bram yang akan membuatkan rumah kalian seperti impianmu.” ucap Bu Harun membuat Gendis menelan salivanya dengan kasar.
Pernikahannya dengan lelaki yang menatapnya tajam itu tidak seperti layaknya pernikahan pasangan lainnya. Kali ini dia merasa bersalah pada wanita sepuh yang sudah mempercayainya itu.
Mentari bersinar dengan begitu terik. Bu Harun masuk ke dalam rumah terlebih dahulu setelah keluar dari mobil. Sementara, Gendis bermaksud mengambil beberapa koper miliknya yang akan dia bawa masuk.
"Masuk saja, biar Mas yang akan membawa kopernya masuk ke dalam!" ucap Bram dengan menahan tangan istrinya. Dia bisa merasakan kulit putih itu begitu halus.
Gendis menatap Bram yang kini juga menatapnya, kenapa jantungnya berdebar seperti ini. Gendis merasa dirinya kurang pasokan oksigen dan air hingga jantungnya berdebar tak beraturan.
“Wajahmu sudah memerah, pasti kamu tidak terbiasa terkena panas matahari." ujar Bram. Saat melihat wajah putih itu berubah warna.
“Baiklah aku masuk dulu, Mas. ” ucap Gendis kemudian berlari mengindari sengatan terik mentari di siang hari. Hampir pukul dua belas mereka baru sampai di rumah Bu Harun.
“Oh, ini Mbak Gendis.” ucap seorang pemuda yang sempat mengobrol dengan mertuanya itu. Tatapan pemuda itu penuh dengan selidik.
“Iya ini Mbak Bendis. Istri Mas Bram.” jawab Bu Harun ketika mengenalkan Gendis pada putra tetangganya yang sudah dianggap keponakannya itu. Gendis pun hanya tersenyum pada pemuda seumurannya itu. Tanpa banyak berbasa basi.
“ Baiklah bude, biar nanti Radit kasih tau bapak, jika bude ingin bertemu.” ucap pemuda itu kemudian pergi meninggalkan Gendis dan Bu Harun.
Bu Harun langsung memperkenalkan keadaan rumah yang sudah lama dia tinggali itu pada menantunya. Posisi kamar mandi di luar terlebih bagian belakang rumah membuat Gendis tidak bisa membayangkan jika tengah malah dia kebelet pipis.
__ADS_1
"Dii dalam kamarnya Bram ada kamar mandinya, Nduk. Jadi kamu tidak usah khawatir. ” ucap Bu Harun seraya mengajak Gendis untuk kembli masuk.
Gendis hanya tersenyum kaku seolah mertunya sudah bisa membaca pikirannya. Ternyata mertua tak seburuk apa yang banyak dikatakan orang. Bahkan, beberapa kali Bu Harun sangat memahami posisinya.
“Assalamulaikum...” ucap seorang wanita berjalan masuk dengan membawa nampan. Wanita itu seperti sudah terbiasa masuk ke dalam rumah besar berbentuk joglo itu.
“ Walaikum salam...” Meskipun telat, Gendis masih sempat menjawab salam dari wanita yang mengenakan daster panjang yang dipadu dengan jilbab instan.
“ Pesanannya Mas Bram, Bude.” ucap wanita berumur lima puluhan tahun, pemilik warung makan yang ada di dekat rumah Bu Harun. Hampir semua tetangga memanggil Bu Harun dengan sebutan 'Bude' karena memang yang dituakan di sekitar rumah.
“ Oh iya, Mbak Menik. Taruh saja di meja. “ ucap Bu Harun.
“Kenalkan ini menantu Bude, namanya Hendis,” lanjut Bu Harun mengenalkan Gendis yang sejak tadi dilirak lirik oleh Mbak Menik.
“Ohhh, cantik banget. Saya kira yang tinggi kayak model itu calonnya Mas Bram.” celetuk Mbak Menik hingga membuat suasana seketika senyam.
Sungguh rasanya menyesal wanita setengah baya itu mengatakan semuanya. Gendis hanya tersenyum. Entah kenapa dia merasa ada yang ditutupi tentang Bram darinya.
“Maaf Mbak Gendis saya balik dulu. Sedang tidak ada yang jaga warung." pamit Mbak Menik setelah latah, bahkan wanita itu seperti melarikan diri dari tanggung jawab dengan apa yang baru saja dia katakan.
“Gendis istirahat dulu, ya Bu.” pamit Gendis yang hanya dijawab senyuman oleh Bu Harun. Wanita yang mulai merasakan perubahan dari wajah menantunya itu membiarkan Gendis beristirhat.
__ADS_1
Gendis pun berlalu begitu saja, dia tidak cemburu dengan sosok yang dikatakan wanita tadi. tapi dia hanya sedikit berfikir dan penasaran tentang cerita sosok perempuan yang dikaitkan dengan suaminya itu. Seperti apa hubungan keduanya, hingga Bram tidak membahasnya sama sekali.