Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Pengakuan Salah


__ADS_3

"Ehm.. ehm... " Deheman Bram membuat lelaki yang belum memperkenalkan namanya itu dan Gendis menoleh secara bersamaan.


"Kenalkan, namaku Zayn." Lelaki berkulit putih itu mengulurkan tangan ke arah Gendis seolah tidak peduli dengan deheman Bram.


Dengan rahang mengeras, menahan emosi. Bram, melangkah maju mendekat ke arah Gendis. Tubuh tegapnya menerjang begitu saja tangan lelaki yang punya tinggi badan hampir sama dengannya.


"Dia istriku, aku bisa membelikan kembali jepit rambut itu." sergah Bram menegaskan jika Gendis miliknya dan tidak lagi butuh jepit rambut yang dikembalikan oleh Zayn.


"Bukan harganya, mungkin maknanya." sahut Zayn, sambil tersenyum sinis. Sebagai seorang cassanova dan sudah tahu jika rivalnya sudah dilanda cemburu. Zayn memang langsung tertarik pada gadis bertubuh mungil dan berkulit putih itu sejak pertama kali melihatnya di parkiran.


Suasana mall cukup ramai, Gendis masih terdiam menanggapi dua lelaki yang sebenarnya sedang bersitegang.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, Ndis!" Bram membawa Gendis pergi menjauh dengan satu tangannya mendorog troli belanjaan istrinya.


"Mas Bram, kenapa juga?" tanya Gendis dengan polosnya. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang, hingga mendapati pria yang masih berdiri di tempat semula itu tersenyum dan mengangguk. Semua itu tidak luput dari lirikan Bram.


Bram yang menyadari itu seketika bertambah emosi, wajahnya semakin terlihat memerah dengan mata tajam yang menakutkan. Meskipun tidak bicara sepatah kata pun, atmostif di sekitarnya terasa tidak baik-baik saja.


Tidak ada obrolan lagi setelah mereka melakukan pembayaran di kasir,


"Mas, tadi masih ada yang belum kebeli." ujar Gendis kala mereka keluar dari pusat perbelanjaan menuju parkiran. Gadis itu benar-benar tidak menyadari jika saat ini dirinyalah yang membuat Bram emosi.


"Tidak perlu." jawab Bram singkat. Bram terus saja menggenggam pergelangan tangan istrinya dan sedikit menarik tubuh mungil itu hingga Gendis kuwalahan menyamai langkahnya.


Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan parkiran tanpa bicara lagi. Suasana di dalam mobil terasa hening. Bram hanya menatap ke depan dan mulai menenangkam diri dengan fokus mengemudikan mobil.


"Kenapa? Mas Bram, marah?" Dengan hati-hati Gendis membuka pembicaraan. Gadis itu menoleh pada lelaki yang duduk di sebelahnya dengan tatapan lurus ke depan.


"Dia hanya mengembalikan jepit rambutku." lanjut Gendis ketika tak ada jawaban dari Bram. Lelaki itu enggan membuka mulutnya, tapi lirikan tajam Bram seolah memberi peringatan pada Gendis untuk diam.


Gendis kemudian menghela nafas panjang, dia tidak mengerti alasan Bram bersikap se-dingin sekarang.


"Tidak usah meladeni lelaki yang tidak kamu kenal." ujar Bram akhirnya, kalimatnya lirih tapi terdengar begitu tegas.

__ADS_1


"Dia hanya mengembalikan jepit rambut dan berkenalan saja." kalimat Gendis seketika membuat Bram menginjak pedal rem hingga mobil berhenti secara mendadak.


"Lalu..."


"Kamu ingin dia menciummu, memelukmu layaknya cabe-cabean." sinis Bram yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


Seketika wajah putih itu memerah. Aliran darah yang mengalir di seluruh tubuh Gendis terasa panas. Dia tidak menyangka, Bram berfikir seburuk itu tentang dirinya. Tanpa bicara lagi gadis yang menyimpan amarahnya itu pun keluar dari mobil.


"Braaakkk... " Gendis membanting pintu mobil dan berlari menjauh.


"Ndis... " panggil Bram yang tak pernah menyangka atas tindakan Gendis.


Apa yang dilakukan Gendis, membuat Bram tersadar. Lelaki yang kini merasa bersalah itu pun langsung turun dan menyusul kemana Gendis berlari.


"Ndis... Maafkan, Mas." teriak Bram semakin mempercepat larinya. Dia tidak ingin kehilangan jejak istrinya.


Suasana kota yang cukup sepi membuat Bram leluasa untuk berlari mengejar istrinya. Seketika langkah Gendis terhenti saat Bram menarik tangannya.


"Ndis... " ulang Bram, tatapannya penuh permohonan. Dia merasa bersalah ketika kalimatnya meluncur diiringi dengan percikan emosi.


"Apa aku seburuk itu, Mas?" tanya Gendis, meskipun ada kata maaf yang dia dengar dari Bram. Tapi tetap saja itu tidak bisa menepis rasa sakit hati sepenuhnya.


"Bukan, bukan seperti itu, Ndis. Mas yang salah, Mas yang tidak bisa mengendalikan ucapan Mas." jelas Bram apa adanya.


Gendis terdiam, tidak ada lagi kalimat yang terucap meski ada sejuta rasa yang kini berputar-putar dalam otaknya.


"Kita pulang. Kita selesaikan di rumah!" ajak Bram dengan merengkuh bahu kecil Gendis.


Gadis itu masih terdiam. Apapun yang terjadi, dan apapun yang dilakukan Bram, dia tidak mampu melakukan sesuatu. Gendis seperti tidak punya pilihan lain.


Gadis dengan rambut panjang tergerai itu kembali masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya merasa hidupnya berbeda. Rasa kehilangan kedua orang tuanya kembali terasa.


Gendis Pov

__ADS_1


Aku merasa perasaanku menjadi kacau. Rasa sedih bercampur marah seperti berlomba-lomba untuk memenuhi ruang hati dan pikiranku.


Aku baru menyadari jika selama ini, hidup yang terlalu nyaman membuat aku menjadi orang yang tidak berguna.


Apapun yang terjadi aku hanya bisa terdiam, hanya bisa menerima dengan sesuatu yang ada di depan mataku. Bukan karena tidak bisa mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Tapi, aku hanya ingin menjadi orang yang tahu diri.


Mas Bram, bukan siapa-siapa, kita bahkan tidak mengenal dengan baik. Tapi, dirinya mau menerima diriku meskipun sebenarnya aku juga tertekan dengan aturannya yang terlalu banyak.


Author Pov


Gendis terus saja menatap keluar jendela untuk menyembunyikan matanya yang memanas. Sedari tadi dia hanya terdiam, memaksa hatinya untuk tenang dan terlihat baik baik di depan Bram. Padahal ingin sekali dia menumpah ruahkan perasaannya saat ini.


"Ndis,.." Suara lelaki di sebelahnya kembali terdengar setelah keheningan beberapa menit berlalu.


"Maafkan, Mas. Bukan maksud Mas mengatakan kamu cabe-cabean...."


"Mas tidak ingin, kamu begitu mudah diajak kenalan sama cowok yang nggak jelas seperti itu." lanjut Bram. Dia seperti kehilangan cara untuk membujuk Gendis sedangkan Gendis masih terdiam. Dia tidak ingin membuka suaranya karena dia yakin jika Dia bicara suaranya akan terdengar parau terlebih dia bisa menangis.


"Ndis, bicaralah. Jangan diam seperti itu!" pinta Bram.


Bram terus saja memperhatikan Gendis dan menunggu reaksinya. Tapi, istrinya hanya menyandarkan kepala di jendela. Wajahnya terlihat muram.


"Mas, tidak menuduh seperti itu. Sumpah!" Bram masih berusaha membujuk Gendis.


"Aku tahu." jawab Gendis singkat tanpa melihat Bram.


"Tapi kenapa masih diam seperti itu." desak Bram yang merasa tidak puas dengan jawab istrinya.


"Aku hanya ingin menurunkan ego saja. Sekarang aku harus tahu diri." Akhirnya sebagian dari apa yang Gendis pikirkan pun dia ungkapkan.


"Maksudmu apa? Jangan memperluas masalah ini, Ndis. Mas memamg salah, sumpah Mas tidak sengaja." Bram masih belum lega atas jawaban Gendis.


Gendis. Gadis itu seperti PR yang harus diselesaikan oleh Bram.

__ADS_1


__ADS_2