Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Terlambat


__ADS_3

Beberapa hari ini Bram memang di sibukkan oleh pekerjaannya. Tapi dia tidak sampai pulang semalam ini, atau terlambat tanpa menghubungi Gendis seperti malam ini.


Gendis menyandarkan tubuhnya di sofa ruang depan. Wanita yang masih membawa ponselnya itu melihat jam yang ada di benda pipih miliknya menunjukkan pukul sembilan.


Bahkan, rasa ngantuk dan lapar membuatnya memilih untuk menunggu Bram di ruang depan. Hatinya terus saja dilanda rasa gelisah.


Wanita yang merasa matanya semakin berat hingga dirinya tidak menyadari jika sudah tertidur di sofa.


Entah berapa lama wanita bertubuh mungil itu meringkuk di sofa, hingga Bram masuk ke dalam rumah.


Ditatapnya tubuh mungil itu dengan perasaan bersalah. Seharusnya dia memberi tahu istrinya jika akan pulang terlambat.


"Sayang... " panggil Bram dengan lirih. Bram kemudian berjongkok untuk bisa melihat lebih dekat wajah istrinya.


"Ndis... bangun! " ulang Bram membuat Gendis mengerjapkan kedua matanya.


Bram tersenyum saat dua mata indah itu menatapnya. Gendis sedang mengumpulkan seluruh kesadarannya.


"Ayo, tidur ke atas!" ucap Bram meminta Gendis untuk pindah ke dalam kamar.


"Kita makan malam dulu, Mas." jawab Gendis saat dia sudah beranjak dari duduknya. Dia berusaha menutup rasa gelisahnya.


" Mas sudah makan malam dengan teman." jawab Bram seketika membuat wajah istrinya langsung murung.


"Maaf, Mas nggak enak nolak ajakan teman." lanjut Bram dengan menyingkirkan anak rambut istrinya. Dia menunggu Gendis tersenyum, tapi mata wanita di depannya itu mengembun.


"Ya, sudah." ucap Gendis langsung meninggalkan Bram dan naik ke atas.


Entah kenapa dia begitu sensitif, mendapat jawaban Bram seperti itu membuat Gendis kecewa.


Dia mempercepat langkah yang sedang menaiki tangga untuk menyembunyikan kedua matanya yang sudah menitikan air bening.


"Ndis..." Hampir satu tahun menikah dengan Gendis, Bram tahu jika istrinya sedang merajuk.


"Sayang... ayo makan malam sekarang." teriak Bram dari lantai bawah.


Meskipun dia masih kenyang tapi dirinya tidak ingin membuat suasana jadi tidak nyaman.


Gendis tak menghiraukan ucapan Bram, Dia terus saja melangkah masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh di bawah selimut. Hatinya sudah telanjur kecewa.

__ADS_1


"Ceklek..." suara pintu dibuka. Bram menatap istrinya yang sudah tenggelam dalam selimut. Lelaki yang menyandarkan tubuhnya di daun pintu yang kembali ditutupnya itu tidak menyangka jika penolakan makan malam akan berakhir seperti ini.


"Ndis... ayo makan!" ucap Bram, saat berjalan mendekat di tepi ranjang dimana gendis berbaring.


" Kenapa kita tidak berpisah saja, Mas? " lirih Gendis dengan tangisan yang tertahan.


"Gendis, berfikirlah yang dewasa. Jangan sedikit-sedikit membahas perpisahan." Suara Bram mulai meninggi. Dia semakin kesal dengan sikap istrinya yang dianggap tidak pernah bisa dewasa. Bagi, Bram hanya manusia labil yang mengambil keputusan dengan membabi buta.


Gendis tidak menjawab dia malah menangis, hatinya begitu sensitif. Entah kenapa sejak mendapatkan telepon dan foto dari Ambar membuat dirinya kembali dilema. Merasa tidak dicintai, merasa tidak bisa memiliki Bram seutuhnya membuat Gendis menjadi berfikir jika pernikahannya tidak ada artinya.


Flash Back.


Gendis masih sibuk di dapur. Setelah Salat Magrib dia memutuskan memasak untuk persiapan makan malam.


Sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi Bram hanya untuk bertanya kapan pulang, tapi dirinya tidak mendapat tanggapan. Tak ada respon dari Bram.


Suara ponsel terus saja berdering membuatnya meninggalkan sup iga yang sudah hampir matang.


Langkahnya begitu cepat menghampiri ponsel yang terus berdering di atas meja makan. Ternyata Ambarlah yang menelpon.


"Assalamualaikum, Dek." sapa Gendis saat membuka panggilan telepon dari Ambar.


"Kenapa, Dek?" tanya Gendis begitu antusias. Dia tahu sepupunya tidak akan menelpon kecuali ada hal yang sangat penting.


" Aku tadi lihat Mas Bram berjalan bersama cewek di depan apartemen yang ada di jalan Veteran. Apa Mbak Gendis sudah tahu?" ucap Ambar, dia merasa perlu menanyakan itu pada Gendis.


"Belum. Dek." lirih, perasaan terkejut membuat Gendis tak bisa banyak bicara seperti biasa.


"Sebentar aku kirim fotonya." ujar Ambar mencari gambar yang sempat dia ambil saat Bram berjalan memasuki apartemen yang sama dengan apartemen milik Zayn.


Yang benar saja, saat melihat gambar foto suamianya sedang berjalan bersama Seruni, Gendis langsung merasa kecewa. Hatinya terasa mencelos dengan rasa perih yang kembali menoreh di dalam dadanya.


"Dia teman kerja Mas Bram, Dek." jawab Gendis dengan lemah. Dia berusaha sekuat tenaga agar Ambar tidak mendengar tangisnya.


"Oh gitu. Wanita itu memang masih mengenakan pakaian kerja. Mungkin Mas Bram mengantarkannya saja." jelas Ambar.


" Maaf sebelumnya, Mbak." Suara dari sebrang kemudian menutup kembali panggilannya.


Flash On.

__ADS_1


Melihat Gendis yang hanya menangis, Bram langsung berdiri. Dia sudah merasa lelah ditambah Gendis yang masih labil membuat emosinya mulai tersulut.


Dengan melipat lengan kemejanya, dia menuruni tangga dan mencari minuman dingin.


Satu kaleng soft drink dibawanya ke teras untuk sekedar melepaskan segala penat dan lelahnya seharian ini.


Pikirannya menerawang jauh. Dia tahu Gendis memang masih remaja, tapi setidaknya dia ingin istrinya lebih dewasa dan memahami bagaimana hidup berumah tangga. Bukan sedikit-sedikit minta pisah, sedikit-sedikit membahas perceraian.


"Mas Bram... " panggil Pak Rendy, Papa Aliya sudah berdiri di depan gerbang.


"Silahkan masuk, Pak! " ujar Bram, dia memang belum mengunci pintu gerbang rumahnya.


Lelaki dengan tubuh yang sedikit berisi itu melangkah mamasuki halaman yang ditumbuhi dua pohon mangga dan rambutan.


" Silahkan duduk! Saya ambilkan minum dulu!"


Pak Rendy langsung duduk ketika Bram langsung masuk ke dalam mengambil sekaleng soft drink yang sama dengan dirinya.


"Silahkan! " ucap Bram saat menggeser kaleng minuman di depan Pak Rendy.


"Mamanya Alya lihat Mas Bram duduk di teras. Makanya dia minta agar saya nganterin ini buat Mbak Gendis." ucap lelaki yang umurnya di atasnya Bram.


"Apa ini, Pak?" tanya Bram dengan memegang plastik hitam di atas meja.


"Ini, vitamin dan penambahan darah. Kata mamanya Aliya, tadi siang Mbak Gendis ngeluh, kepalanya pusing dan nggak enak badan." Pak Rendy mengeluarkan bungkus vitamin.


"Dan ini ada sedikit strowbery." lanjut Rendy dengan memperhatikan Bram yang terlihat suntuk.


"Oh terima kasih, Pak. Gendis memang sedang istirahat." ujar Bram dengan basa basi.


"Oh... wah, kesepian dong kalau sudah ditinggal tidur." sambut Rendy membuat Bram hanya tersenyum.


"Kayaknya ngambek juga, Pak. Soalnya saya pulang telat. "


"Pantesan Mas Bram kelihatan suntuk." sambut Pak Rendy sambil tertawa.


"Mamanya Alya juga sering begitu. Nanti juga baik sendiri, yang penting kita ngalah saja. Wanita itu kan mau menang sendiri!" ujar Pak Rendy.


Mereka akhirnya mengobrol banyak hal. Bram yang tidak biasa merokok pun akhirnya belajar merokok saat melihat teman ngobrolnya asyik mengepulkan asap rokok.

__ADS_1


__ADS_2