Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Kedatangan Seruni


__ADS_3

Gendis membawa segelas susu hangat ke dalam kamar. Setelah seharian berada di luar, dia benar-benar merasa lelah.


Langkahnya terhenti saat Bram keluar kamar mandi hanya mengenakan celana pendek dengan handuk yang mengalung di leher.


Rasanya, bibir mungil itu ingin mengumpat saja, saat melihat pesona lelaki tampan dengan tubuh yang hampir sempurna itu selalu mengobrak abrik perasaannya.


"Kenapa dia sesempurna itu." batin Gendis sambil mencebikkan bibir, dia meletakkan susunya dan bermaksud keluar kamar terlebih dahulu.


"Mau kemana, Ndis?" tanya Bram seraya menoleh ke arah Gendis. Lelaki itu sedari tadi sudah memperhatikan Gendis dari kaca.


"Ak-aku...."


"Aku akan membereskan dapur terlebih dahulu." ujar Gendis yang sudah dibuat salah tingkah dengan tatapan lelaki yang semakin hari membuatnya kagum.


"Ndis, Mas mencari kaos hitam yang ada tulisan Rinjani, kok nggak ketemu?" tanya Bram.


"Itu seperti kaos lama, jadi aku masukin ke gudang, Mas." jawab Gendis.


Seketika wajah Bram menegang, terlihat sekali lelaki yang berjalan keluar kamar untuk mencari kaosnya itu terlihat marah. Bahkan, cara dia melempar handuknya terlihat kasar dan hampir terkena Gendis.


Gendis yang terkejut melihat reaksi Bram hanya mematung. Dia tidak menyangka jika Bram sekasar itu hanya karena kaos. Hatinya mencelos sakit, ketika mendapat perlakuan itu. Bahkan, kedua orangtuanya pun tidak pernah memarahinya seperti itu.


Rasa penasaran membuat Gendis berjalan menyusul ke arah gudang yang terletak di sebelah tempat laundry.


Gendis melihat Bram dengan panik mengolak-alik beberapa potong pakaian yang sudah tidak terpakai. Wajah Bram terlihat menahan sebuah amarah yang membuat Gendis mengerti alasan yang sebenarnya.


Setelah mendapatkan apa yang dia dapat, Bram langsung beranjak pergi. Aura penuh kemarahan masih terlihat di wajah Bram saat melewati Gendis yang sudah menungguinya.


"Oh ya, jangan suka membuang barang orang lain tanpa bertanya dulu!" ujar Bram ketika dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gendis yang menahan sesak di dalam dadanya.


Gadis itu hanya bisa mengangguk karena harus menahan isak tangis yang hampir tidak tertahan lagi.

__ADS_1


Saat bayangan sosok itu menghilang dari pandangannya. Kedua sudut matanya menetes. Tidak ada yang tahu betapa dadanya terasa sesak.


Tiba-tiba, ingatannya tertuju pada papanya. Bayangan papanya kembali terlintas, senakal apapun ulah yang dia lakukan, papanya tidak pernah marah dengannya. Apalagi, saat melihat papanya selalu bersikap lembut pada mamanya membuat Gendis merindukan sosok yang sangat penyayang itu.


"Papa, Gendis kangen." lirih Gendis bermonolog dengan diri sendiri.


Hidup terus berjalan dengan caranya sendiri untuk membuat Gendis mengerti cara hidup bekerja dengan sebenarnya. Jika selama ini, dia selalu berada di bawah perlindungan kasih sayang papa dan mamanya. Sekarang dirinya didewasakan dengan cara takdir bicara.


Sebuah bel berbunyi berkali-kali membuat gadis yang sedang meratapi nasibnya itu harus tersadar dari kenangannya. Gendis memilih berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Silahkan masuk!" ujar Gendis saat melihat seorang gadis yang punya tubuh semampai menatap penuh selidik ke arahnya.


Seruni, terlonjak kaget saat melihat seorang gadis berada di apartemen Bram dan membukakan pintu untuknya. Iya Bramasta yang selama ini dia kenal tidak pernah membawa seorang gadis ke apartemen, bahkan untuk jalan bersama saja itu hal yang sangat langka.


"Kamu siapa?" tanya Seruni, dengan tatapan menuntut kala Gendis sudah menutup kembali pintu apartemen.


"Kamu siapa? Kenapa ada di apartemennya Mas Bram?" ulang Seruni dia rasanya tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari gadis yang sangat asing baginya.


"Hae kamu siapa? Kenapa ada di sini?" desak Seruni yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Firasatnya merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gendis.


"Ak-aku...."


"Siapa?" pekik Seruni.


"Aku... istri Mas Bram."


"Runi..." Seketika Bram keluar dari dalam kamar. Saat mendengar teriakan Seruni Bram, langsung bergegas keluar.


"Mas Bram, benarkah dengan apa yang dia bilang barusan?" tanya Seruni saat melihat sosok yang dicari berjalan mendekatinya. Mata Seruni sudah berkaca-kaca, bahkan jantungnya hampir berhenti berdetak saat mendengar pengakuan Gendis.Tapi, tetap saja hatinya berusaha menolak kebenaran itu dengan bertanya langsung pada Bram.


" Mas, bisa jelasin, Run." ujar Bram dengan merangkul bahu Seruni.

__ADS_1


Bram masih berusaha menenangkan Seruni yang terlihat shock dan histeris. Bahkan, dia seolah tak melihat jika ada gadis lain yang berdiri mematung dengan perasaan yang sudah sulit untuk dia tahan saat melihat suaminya menenangkan gadis lain.


"Bisakah, kamu tinggalkan kami berdua!" pinta Bram hingga membuyarkan lamunan Gendis.


Gendis hanya mengangguk, dia memilih berjalan ke arah dapur. Berdiam di sana mungkin lebih baik. Meskipun begitu, dia masih mendengar Isak tangis dari Seruni.


"Aku tidak menyangka Mas Bram akan melakukan ini padaku." ujar Seruni masih dengan terisak.


"Mas, melakukannya hanya untuk sementara. Mas tidak mencintai Gendis. Mas, hanya ingin membalas Budi baik Pak Hastanto." Jawaban Bram yang terdengar seperti sebuah pisau yang menghujam tepat di ulu hati Gendis.


Sebuah pengakuan dari lelaki yang saat ini bergelar suaminya itu semakin membuat Gendis terluka. Pernikahan ini hanya sebuah balas budi seorang suami pada papanya.


Gendis yang sedari tadi berdiri tertunduk dan meneteskan air mata itu tidak tahan lagi dengan perihnya rasa dalam hatinya.


"Mas mencintaimu, Run. Sejak dulu hingga sekarang. Jadi tolong beri waktu pada Mas hingga Gendis sudah bisa berada pada keadaan yang tepat dan nyaman." lanjut Bram yang terus saja menenangkan Seruni.


Rangkaian-rangkaian kalimat itu terdengar begitu menyakitkan untuk Gendis, hingga gadis itu mulai membekap mulutnya karena tangisnya mulai tergugu. Gendis sudah tidak tahan lagi.


Sekuat tenaga, Gendis menenangkan dirinya. Dia berusaha menerima kenyataan jika dirinya dinikahi Bram bukan karena cinta.


Gendis mulai bisa mengendalikan dirinya, dia berusaha menghapus air matanya yang seolah tak ingin mengering. Hingga kemudian matanya beralih pada kaca besar yang memantulkan bayangan seorang lelaki yang mendekap nyaman gadis yang masih terisak itu.


"Aku takut kehilanganmu, Mas." suara itu terdengar lirih tapi masih terdengar oleh Gendis.


"Jangan khawatir, Run. Sejak dulu, di hati Mas hanya ada kamu." lanjut Bram. Ini bahkan, pernyataan cinta Bram pertama kali setelah sekian tahun kedekatan mereka.


"Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak bisa kehilanganmu." ujar Seruni


Bisa terlihat oleh Gendis, gadis itu masih memeluk tubuh suaminya. Tubuh yang seharusnya hanya halal untuknya. Tapi, rasa cinta itu sudah mengalahkan segalanya.


"Oh Tuhan, kemana aku harus melangkah?" gumam Gendis menahan rasa yang sudah tidak karu-karuan itu.

__ADS_1


"Mungkinkah, aku harus bersiap jika kenyataannya memang Mas Bram memilih perasaan cintanya." Gendis mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Bram. Betapa terluka hatinya, cukuplah dia dan Tuhan yang tahu.


__ADS_2