Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Drama Pagi


__ADS_3

Alarm dalam jiwanya sudah membangunkan Gendis saat memasuki waktu subuh. Sementara di sampingnya, Bram masih terlelap dengan suara dengkuran yang halus.


Gendis rasanya enggan untuk bangun, tapi dia takut kesiangan untuk menyiapkan sarapan. Wanita yang kini berlahan menyibakkan selimutnya itu langsung berjalan keluar kamar menuju musala yang ada di belakang rumah.


"Entah kenapa hari ini rasanya aku sangat malas." ucap Gendis dengan menggelung rambutnya sebelum wudhu.


Dia yang biasa Salat Subuh berjamaah, kini memutuskan untuk salat sendiri karena masih marah dengan Bram. Kejadian semalam memang membuat Gendis sangat kecewa dengan Bram.


Rumah lantai pertama memang terbilang designnya sangat luwes dan terbuka. Gendis menghentikan langkahnya di meja makan setelah Salat Subuh. Sup Iga yang dia masak memang masih utuh.


Dia sudah kecewa, jadi tak ada alasan baginya untuk kembali kecewa hanya karena masakannya tak tersentuh. Setelah memakan satu biskuit, Gendis memilih untuk merebahkan tubuhnya di kamar tamu. Hari ini dia malas melakukan apapun.


Di bukanya jendela kamar yang cukup lebar, seketika udara segar menyeruak masuk menyapu rongga dadanya yang sempat sesak karena tangis semalam.


Di rebahkan tubuhnya dengan tatapan menerawang, menatap pagi yang masih petang di luar rumah dari balik jendela.


Tak lama kemudian, terdengar sebuah handel pintu dibuka, seketika itu Gendis langsung mengatupkan kedua matanya. Dia memilih untuk berpura-pura tidur.


"Sayang... " panggil Bram dengan suara lembut. Lelaki itu kemudian memilih duduk di tepi ranjang, di dekat tubuh istrinya yang tengah meringkuk.


"Maafkan, Mas. Besok jika Mas terlambat pulang, Mas, akan mengabari dulu! " ujar Bram, dia tahu jika istrinya tidaklah tidur.


"Mas tahu kamu tidak tidur! " ujar Bram dengan menyingkirkan anak rambut istrinya.


Gendis pun membuka matanya. Kedua sorot mata keduanya saling beradu. Entah kenapa saat melihat wajah Bram membuat Gendis ingin menangis. Ketidakjujuran Bram menyisakan rasa kecewa di hatinya.


"Aku malas memasak." ujar Gendis. Dia bahkan tidak membahas lagi permintaan maaf Bram.


"Bukan itu, Gendis!" jawab Bram dengan tatapan memohon, dia ingin menyelesaikan masalah yang terjadi semalam.


"Tidak ada yang perlu di bahas. Aku merasa lelah dan ingin kembali tidur!" sambut Gendis, wajahnya terlihat lesu, bahkan matanya pun nampak membengkak.


"Kamu sakit? " tanya Bram menatap curiga istrinya. Wajah pucat tidak bisa disembunyikan lagi oleh Gendis.


"Hanya ingin bermalas-malasan saja." lanjut Gendis membuat Bram menatapnya begitu dalam, mencari alasan yang nyata dari apa yang diucapkan istrinya.

__ADS_1


Tapi, suara ponsel dari tangan Bram terus berdering membuat Gendis meliriknya.


"Angkat saja, Mas! Siapa tahu urusan pekerjaan." lanjut Gendis dengan kalimat sarkasnya saat tahu Seruni yang menelpon suaminya. Bram pun beranjak dari duduknya saat akan menerima panggilan dari Seruni.


"Mas Bram." sapa Seruni.


"Iya, Run." jawab Bram dengan menoleh ke arah kamar merasa cemas karena Gendis sempat melihat siapa yang melakukan panggilan.


"Bisa nggak, minta tolong jika aku ikut mobilnya Mas Bram, sampai bengkel!" ujar Seruni.


"Bisa, Run. Mas ke kampus jam delapan." jawab Bram.


"Oke, Mas. Nanti hubungi Runi jika sudah sampai di depan apartemen." Seruni langsung menutup ponselnya, sementara Bram langsung mencari keberadaan Gendis yang sejak tadi di dalam kamar.


"Ndis... " panggil Bram, saat melihat Gendis mengaduk kopi hitam di dapur.


"Kemarin mobil Seruni mogok. Terus Mas nganterin dia pulang dan pagi ini dia mau numpang sampai di bengkel. Kebetulan bengkelnya searah dengan kampus!" jelas Bram dengan menatap penuh selidik ke arah istrinya.


Gendis menyerahkan secangkir kopi pada Bram tanpa menjawab Bram. Sungguh, bagi Gendis seperti tidak ada lagi yang perlu di bahas tentang Seruni.


"Tapi, jika ingin sarapan bersama teman juga tidak masalah." sarkas Gendis kemudian keluar dari dapur.


Bram masih menatap kepergian istrinya sambil mendesah pelan. Dia memang bermaksud tidak menceritakan tentang keterlambatannya pulang tapi ternyata sudah terjadi masalah antar dirinya dan Gendis. Tapi, saat menceritakan semuanya juga tidak merubah segalanya. Dia merasa semua ini lebih rumit dari soal matematika.


Gendis membuka pintu kamarnya, di hampirinya laci yang berisi foto kedua orang tuanya. Ditatapnya sejenak, kemudian di taruhnya kembali bersama sebuah cincin pernikahannya yang kini dia lepaskan juga.


Wanita yang pikirannya dipenuhi banyak pertimbangan itu kemudian menghampiri lemari pakaian, ditatapnya tas yang pernah digunakannya saat datang ke kota ini bersama Bram. Sungguh, rasanya terasa ngilu mengingat semuanya.


Gendis Pov


Saat melihat semua barang pribadiku, ternyata memang benar, aku tidak punya apapun. Bahkan, aku juga ragu jika sudah memiliki cinta suamiku.


Aku berusaha bertahan untuk belajar menjalani hubungan ini. Tapi, Mas Bram memang tidak bisa move on dari cinta pertamanya, hingga istilah cinta pertama tak pernah mati membuatku merasa kecil dalam hubungan pernikahan ini.


Aku di sini hanya beban Mas Bram, aku tidak berarti dalam hidupnya. Tapi, ternyata memutuskan segala sesuatu dalam hubungan pernikahan memang tidak mudah. Sekarang, aku mulai mengerti kenapa banyak orang hanya terdiam dalam pernikahan yang tidak sehat.

__ADS_1


Author Pov


"Ndis, kita sarapan bersama!" ajak Bram saat melangkah mendekati istrinya yang sedang mengeluarkan pakaian kerja yang akan di pakai Bram nanti.


"Aku belum ingin sarapan." jawab Gendis saat akan melangkah keluar meninggalkan Bram. Lelaki itu menahan tangan istrinya.


"Aku akan keluar sebentar!" ujar Gendis dengan lirih.


"Gendis...!" teriak Bram dengan menghentakkan lengan istrinya hingga Gendis terlihat meringis.


"Berhentilah berlaku seperti anak kecil! Sikapmu yang tidak jelas hanya membuatku muak!" bentak Bram, sorot matanya terlihat menyala membuat Gendis menangis sesenggukan.


Bram meraup wajahnya dengan kasar saat menyadari jika suaranya terlalu keras terhadap istrinya.


" Ak-aku, memang tidak bisa mengerti Mas Bram... " ucap Gendis dengan terisak. Suaranya terbata-bata hingga hampir tidak terdengar.


Bram hanya menatap Gendis yang terlihat menunduk dan sesenggukan. Tangan kirinya mengusap pangkal lengan kananya yang terasa ngilu karena hentakan tangan Bram.


"Mas, tidak bermaksud menyakitimu!" ucap Bram berusaha mengusap lengan kanan istrinya tapi Gendis langsung menghindar. Dia merasa enggan bersentuhan dengan Bram.


"Ndis... Maafkan, Mas! " ucap Bram.


Tapi, tidak di jawab oleh Gendis. Wanita itu kemudian keluar dari kamarnya dengan masih terisak. Ini kedua kalinya Bram melakukan kekerasan padanya.


Bram melayangkan pukulan tangannya di udara. Dia merasa menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya. Dia yakin jika istrinya merasa sakit saat tangan besarnya menghentakkan lengan kecil istrinya.


Entah, kenapa hidup dengan Gendis merasa sangat sulit. Bram merasa Gendis tidak pernah bisa mengerti jalan pikirannya. Dia merasa istrinya terlalu berlebihan menanggapi hubungannya dengan Seruni yang hanya sebatas teman.


Bram Pov


Jika saja Gendis bisa mengerti sedikit saja posisiku, mungkin aku tidak sampai sekesal tadi, hingga berlaku kasar padanya.


Hubunganku dan Seruni hanya sebatas teman dan rekan kerja. Tidak dewasa sekali jika aku dan Seruni seperti bermusuhan. Apalagi kita bekerja di kampus yang sama, apalagi sebelum aku mengenal Gendis, Seruni adalah seseorang yang sangat baik padaku.


Gendis, aku berusaha membuatnya mengerti. Tapi sikap kekanak -kanakannya membuatku tersulut emosi hingga berlaku kasar padanya.

__ADS_1


__ADS_2