
"Sudah kubilang jangan sampai membahayakan gadis itu! " bentak Zain dengan memukul meja yang ada di depannya.
"Maaf, Bos." hanya itu yang terlontar dari mulut dua anak buah Zain yang ditugaskan membuat Bram cidera.
Dia memang melakukan semua itu hanya untuk memberi pelajaran pada Bram yang sudah mematahkan satu tulang rusuknya saat mereka duel sore itu. Termasuk, rasa cemburunya pada lelaki yang dari dulu menjadi pesaingnya.
"Aku tidak ingin gadis itu lecet sedikit pun!" lanjut Zain dengan tatapannya yang menghujam.
Gendis, gadis itu sudah menjadi primadona di hatinya. Jika awalnya dia merasa hanya tertarik karena Gendis punya wajah cantik dan manis, tapi ternyata rasa tertariknya bertambah ketika melihat sifat gadis itu saat memperhatikannya dari jauh. Tidak hanya cantik, kebaikan Gendis membuat Zain ingin memiliki gadis itu meskipun status Gendis yang sudah menikah sempat membuatnya sedikit goyah. Tapi, Zayn tahu pernikahan Gendis dan Bram, tidak seperti pernikahan pada umumnya.
"Baik, Bos."
" Pergilah! Lakukanlah dengan hati-hati."
"Ingat! Hanya memberi pelajaran." ucap zayn dengab suara pelan tapi penuh dengan penekanan. Dia hanya ingin melihat Bram jera dan meluapkan kekesalannya selama ini.
###
Liburan Gendis dan Bram memang sudah gagal. Setelah kejadian itu, Bram memutuskan membawa pulang Gendis.
"Sweeternya di pakai, Ndis." ujar Bram saat melihat Gendis sudah beberapa kali bersin.
"Aku nanti boleh cuti, kan, Mas? " tanya Gendis sudah kebayang pekerjaan rumah tangga yang membosankan itu sudah menantinya.
"Hmmm.... " jawab Bram, dia juga mengerti jika Gendis sedang tidak enak badan.
"Mas Bram tadi kemana? Kenapa keluarnya lama? " tanya Gendis mengingat ketika Bram. yang sempat keluar saat dia beristirahat di resort.
"Mas, ada sedikit urusan." jawab Bram. Dia tidak bisa memberikan jawaban yang sebenarnya.
"Oohh.... " hanya itu jawaban dari Gendis. Respon Gendis membuat Bram merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Ah, kenapa juga dia merasa bersalah pada gadis di sebelahnya saat kenyataannya tadi memang dia sedang melakukan video call dengan Seruni.
Rasanya dia seperti mengkhianati dua gadis yang punya arti masing-masing dalam hidupnya. Hingga, jika di minta untuk memilih saat ini dia belum bisa melakukannya.
Seruni, dia sangat menyukai Seruni. Gadis yang sangat istimewa, bahkan tidak ada sedikitpun cacat yang ada dalam diri gadis itu. Cantik, pintar, dan baik. Bahkan, Seruni begitu dewasa tanpa dirinya harus mengajari.
Sedangkan Gendis, dirinya sudah terbiasa dengan gadis itu selain sebuah tanggung jawab atas pernikahan mereka.
Bram berharap dengan kedewasaan Seruni dan pemikiran yang terbuka, Seruni bisa mengerti posisinya saat ini. Lelaki itu juga tidak ingin kehilangan gadis yang sudah mengisi dan menulis cerita di masa mudanya.
Jika selama ini dia tidak ingin menyentuh Gendis sebagai istri sahnya, itu karena di hati Bram masih di penuhi Seruni. Dia pasti akan menyakiti Seruni terlalu dalam jika sampai melakukan hubungan suami istri.
"Ndis, Mas sudah membeli rumah untuk kita."
"Tidak mewah juga tidak terlalu besar. Tapi kita bisa merenovasinya nanti sambil jalan."ujar Bram mencoba meyakinkan jawaban Gendis, ketika gadis itu hanya mengangguk.
"Mas hanya seorang dosen, belum bisa memberikan yang mewah buat kamu." lanjut Bram. Dia sudah menguras banyak tabungannya untuk membeli rumah yang sebenarnya belum menjadi idamannya.
"Mas juga harus menyiapkan biaya kuliah kamu yang tinggal beberapa bulan saja." mendengar kalimat Bram. Gendis langsung menoleh ke arah lelaki itu. Dia tidak menyangka Bram akan memikirkannya sejauh itu.
"Papa sudah meninggalkan tabungan untuk Gendis kuliah, Mas. Kata Om Rendra cukup jika hanya sampai S1." lanjut Gendis yang tidak ingin terlalu membebani Bram. Gendis tahu hidup Bram yang penuh perjuangan, bekerja keras untuk semua yang menjadi cita-citanya.
"Nggak, Ndis. Kamu istriku, Mas, yang akan menanggung semuanya. Mas, masih punya proyek-proyek sampingan meskipun tidak memberi penghasilan yang rutin setiap bulan. Tapi, hasilnya lebih besar dari gaji menjadi dosen." ujar Bram menjelaskan. Entah kenapa dia merasa perlu menjelaskan semuanya pada Gendis perihal darimana dia mendapatkan pengahsilan.
"Mas Bram, nggak usah mengkhawatirkan hidupku. Hidupku tak setragis tokoh protagonis novel." lanjut Gendis sambil tersenyum.
"Tapi perasaanku yang tragis, Mas." lanjut Gendis dalam hati. Dia menyadari jika pernikahannya dengan Bram tidaklah untuk selamanya, karena Bram sudah mencintai gadis lain.
Akan tetapi, dia tidak tahu sampai kapan dia menjalani ini. Dia dan Bram, belum mencapai kesepakatan sampai batas mana pernikahan mereka.
Perjalanan yang mereka lalui cukup jauh, selain itu Bram harus mampir mengunjungi ibunya seperti permintaan beliau.
__ADS_1
'Mas hati-hati di jalan. Jika sudah pulang kabari aku yah.'
Bram hanya membaca pesan dari Seruni, lelaki itu memang paling malas menulis pesan balasan.
Setelah memasukkan ponselnya dalam saku kemeja, Bram melirik Gendis yang sudah tertidur pulas.
"Ayolah, Bram. Kamu tidak bisa kehilangan Seruni. Selama ini hanya dia yang mengisi cerita cintamu." Bram bermonolog pada dirinya sendiri. Sejujurnya, bukan Seruni yang membuat Bram ragu melainkan Pak Alwy.
Bagaimana kasarnya lelaki itu meremehkannya dulu, membuat Bram sulit untuk melupakannya. Hanya saja, Seruni terlalu istimewa dalam hidup Bram.
###
"Kamu tidak ingin menginap semalam saja di sini? " tanya Pak Alwy saat melihat putrinya memegang kunci mobil mewah yang pernah dia berikan pada saat Seruni berulang tahun.
"Seruni harus pulang ke apartemen, Pa. Banyak tugas yang belum Runi kerjakan." jawab Seruni dengan membenarkan posisi tali tas di pundaknya.
Gadis yang mengenakan kaos ketat dengan bawahan kulot itu sudah bersiap untuk berangkat.
"Jika butuh sesuatu bilang Papa." lanjut Pak Alwy. Lelaki itu begitu sayang pada putri tunggalnya itu.
"Coba saja, Papa tidak sekeras dulu pada Mas Bram." ujar Seruni menyesali perbuatan papanya.
"Papa hanya ingin yang terbaik untukmu, bukan lelaki kampung dan gembel seperti Bram yang dulu." jawab Pak Alwy.
"Bram, tidak akan bisa menolakmu! Itu hanya kekhawatiranmu yang berlebihan" lanjut Pak Alwy.
"Semoga, Pa. Seruni balik dulu!" lanjut Seruni. Setelah berpamitan dengan papanya, Seruni kemudian mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju apartemen.
Setelah Bram menegaskan tentang hubungan mereka. Seruni terus saja tersenyum, mengingat Bram mengatakan akan berusaha mempercepat waktu untuk melamarnya. Dia hanya butuh waktu, Bram meminta itu untuk meyelesaikan semuanya.
Waktu. Jika selama ini Seruni memberikan banyak waktu dan kesempatan untuk Bram dalam meraih cita-citanya. Lalu, tentu saja saat ini, dia akan memberi waktu pada Bram yang hanya memintanya tidak lebih dari dua tahun. Hanya dua tahun lagi, itu artinya dia juga akan mempersiapkan semua untuk pernikahan yang sempurna.
__ADS_1