
Bram kembali meringsek di bawah selimut setelah meletakkan kembali ponselnya. Sejak tadi ada yang ingin dia tanyakan pada Gendis tentang pertemuannya pada Seruni.
"Ndis..." panggil Bram dengan lembut. Dia takut mengganggu jika ternyata Gendis terlelap.
"Apa, Mas. Aku sudah capek!" jawab Gendis sambil membuka matanya, menatap wajah yang kini sedang tersenyum karena jawaban yang terlontar baru saja tidak tepat.
"Sok tau!" ujar Bram langsung menoel hidung mungil istrinya.
"Terus apa? Otak Mas Bram kan seputaran itu - itu saja." tebak Gendis membuat Bram semakin gemas dengan istrinya. Gendis tidak pernah menyadari jika dirinya begitu menggoda bagi Bramasta Dewangga.
Karakter Gendis memang unik, kolaborasi antara sifat tertutup dan meledak-ledak memang membuatnya sulit ditebak.
"Apa yang kalian obrolin saat bersama Seruni?" tanya Bram dengan hati-hati, dia tidak ingin keingintahuannya menjadi pemicu masalah diantara dia dan Gendis.
"Rahasia..." jawab Gendis enggan sekali menjawab, dia kemudian merubah posisi dirinya membelakangi Bram.
"Awas, ya!" Bram mulai melancarkan rabaan tangannya ke bawah purut istrinya.
"Mas Bram...!" pekik Gendis menggelinjang berusaha menjauhkan diri dari Bram. Tapi, tangan besar itu begitu sigap menahannya hingga tubuh mungil itu masuk dalam kungkungannya.
"Astaga, Sayang. Kamu terlalu lincah!"
"Mas, hanya ingin tahu sedikit saja." lanjut Bram masih mengungkung tubuh mungil itu.
Gendis menatap Bram dengan bimbang, mengatakan semuanya atau cukup dia yang tahu perdebatan dirinya dan Seruni.
"Jika aku kasih tahu, pasti Mas tidak percaya, bagi Mas Bram, perawan tua itu kan wanita terbaik sepanjang hidup Mas Bram." lirih Gendis. Seketika sorot mata itu berubah menjadi sendu.
"Baiklah, Mas, tidak akan bertanya lagi. Tapi, Mas tidak ingin keberadaan Seruni mempengaruhi hubungan kita. Dia hanya masa lalunya, Mas." jelas Bram, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah Gendis lagi.
Gendis menatap Bram. Jawaban yang di berikan Bram membuat dirinya berfikir jika memang benar, Seruni tetap menempati bagian teristimewa dari hati Bram. Apapun itu , Serunilah yang terbaik di hidup suaminya.
"Aku akan mandi dulu!" Gendis langsung beranjak ke kamar mandi.
"Untung saja, Tuhan menciptakan hatiku berpetak-petak, hingga rasa sedih itu tersisihkan dengan perasaan lain." Di bawah shower Gendis bermonolog dalam dirinya. Dia tidak ingin terlalu mendramatisir satu masalah dan merusak sisi lain dari hidupnya.
__ADS_1
###
Mentari mulai meninggi, pukul sembilan siang Ambar bergegas pergi ke resto tempat dia bekerja untuk memenuhi janjinya pada Gendis. Mereka sudah mengatur janji dari tadi pagi.
Saat menghentikan motornya, Ambar dengan gamis berwarna pastel itu melepas helmnya. Kedua tangannya membenarkan posisi jilbab segi empat yang membingkai wajahnya. Ambar memang suka mengenakan jilbab segi empat dengan bross yang disematkan di sisi samping bagian dadanya.
"Ssshheeeettt..." Mobil mewah yang membuatnya enggan bertemu itu berhenti menghadang langkahnya.
Jendela bagian depan pun terbuka dan menampilkan sosok yang semakin lama semakin membuatnya muak. Zayn mengendarai mobilnya sendiri tanpa Raka.
"Aku ingin bicara!" ujar Zayn masih terlihat dingin.
"Aku sudah ada janji dengan Mbak Gendis." jawab Ambar dengan tegas. Dia memang sudah tidak tahan bekerja di resto milik Zayn tapi ternyata dia masih membutuhkan pekerjaan itu.
"Hanya butuh beberapa menit saja. Sambil menunggu Gendis kita bisa bicara di dalam." Zayn mulai melemahkan kalimatnya. Semakin hari perseteruan mereka semakin terlihat.
Ambar pun mengangguk, dia hanya ingin tahu maunya lelaki songong itu.
Zayn kemudian memarkir mobil dengan semestinya. Mereka berjalan bersama saat masuk ke dalam kafe. Meskipun, terlihat dingin tapi keduanya mampu membuat seisi kafe menatap heran kepada dua orang yang biasa bermusuhan.
"Ceklek..."
"Kenapa dikunci, Pak?" tanya Ambar dengan tatapan curiga.
"Saya tau kamu tipe orang yang sulit di kondisikan, jadi lebih baik saya mengunci pintu ruangan hingga pembicaraan kita mendapat kesepakatan." ujar Zayn dengan menyandarkan tubuhnya di meja sedangkan Ambar masih berada di belakang pintu.
"Apa yang Pak Zayn mau dari saya?" tanya Ambar terdengar tegas. Padahal dalam hatinya dia sangat takut, apalagi setelah Zayn adalah lelaki brengsek yang suka mempermainkan wanita.
"Aku ingin kamu bertunangan denganku!" ujar Zayn dengan begitu lancar tapi langsung membuat Ambar membulatkan kedua matanya.
"Apa?"
"Maksudnya?" cecaran pertanyaan terlontar dari bibir mungil Ambar sebagai ungkapan rasa tidak percaya.
"Aku ingin kita bertunangan!" ulang Zayn dengan menatap tajam Ambar.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak bisa!" tolak Ambar dengan tegas. Mana mungkin dia bisa bertunangan dengan lelaki yang tidak dia sukai sama sekali.
"Hanya tunangan, bukan menikah!" lanjut Zayn.
"Aku tidak bisa, Pak Zayn." tolak Ambar sekali lagi, Zayn mengetatkan rahangnya mendengar penolakan Ambar.
"Kamu pikir aku memang ingin bertunangan denganmu? Jika bukan karena terpaksa aku tidak akan memilih jalan ini." jelas Zayn.
"Aku tidak akan memperumit hidupku dengan melakukan hal- hal konyol!" jawab Ambar. Bagi Ambar meski hanya pertunangan tapi itu bukan sebuah permainan.
"Aku tahu kondisi usaha keluargamu. Jika kamu tidak ingin semua habis, sebaiknya kamu terima saja penawaranku!" cara terakhir Zayn membuat Ambar mengernyitkan kedua alisnya. Dia hampir tidak percaya jika lelaki didepannya itu sedang mengancamnya, bahkan melibatkan keluarganya juga.
"Anggap saja kita kerja sama! Hanya tunangan tidak menikah! Setelah skandalku mereda, kamu bisa bebas." ujar Zayn. Ambar terdiam, dia tidak tahu harus memutuskan apa. Keadaan seperti memojokkannya, dia tahu Zayn bukan orang sembarangan.
"Bagaimana?" Zayn mendekat ke arah Ambar.
"Jaga jarakmu, Pak Zayn! Kita bukan Muhrim." ancam Ambar ketika Zayn hanya memberi jarak yang dekat dengan keberadaannya. Bahkan, gadis itu sempat mengundurkan diri beberapa langkah.
"Bagaimana?" desak Zayn.
"Baiklah hanya bertunangan. Tapi aku butuh alasan yang jelas dengan skandal itu!" ucap Ambar.
"Tok...tok...tok..."
"Mbak Ambar, ada yang mencari Mbak Ambar!" suara dari luar membuat Ambar tersadar dari tekanan keadaan.
"Iya ,saya akan menemuinya." jawab Ambar.
Zayn pun melangkah untuk membuka pintu ruangan, "Aku akan memberi tahu kapan kita bertunangan." ujar Zayn sebelum keduanya melangkah keluar.
Ambar terlihat murung, dia begitu terpaksa dengan keputusannya. Sementara, Zayn merasa lega saat melangkah bersama gadis yang ingin menghampiri sepasang suami istri yang sudah duduk di meja yang ada di pojok.
"Mbak Gendis ,Mas Bram." sapa Ambar saat berdiri di dekat meja suami istri itu.
"Mas Zayn, Dek Ambar." jawab Gendis masih dengan ramah meskipun ada rasa penasaran yang hebat tentang hubungan sepupunya itu.
__ADS_1
"Bisa kita bicara?" Bram beranjak dari duduknya menghampiri Zayn yang menatap tajam ke arahnya.