Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Belanja


__ADS_3

Di sebuah kafe Seruni dan Bram bertemu, tentu saja mereka memilih private room agar salah satu diantara mahasiswa keduanya tidak ada yang memergoki mereka.


"Mas, malam minggu ada konsernya Mahalini. Bagaimana jika kita nonton?" ajak Seruni. Mereka memang jarang sekali menikmati waktu bersama, mungkin karena kesibukan mereka yang membatasinya.


"Kita lihat saja nanti." jawab Bram dengan menyuapkan dimsum untuk mengisi perutnya setelah mengajar dan pertemuannya dengan beberapa mahasiswa yang sedang menyiapkan lomba motor listrik yang akan diadakan lusa.


"Mas Bram selalu begitu. Aku mohon, Mas! Aku juga ingin seperti yang lainnya." rayu Seruni. Dia tahu cara untuk memenangkan hati Bram.


"Iya, Mas usahain." jawab Bram. Lelaki itu menatap wajah yang sudah mengiba di depannya. Bagaimana dia bisa menolak gadis yang dengan setia menunggunya dan mendukungnya selama ini.


Bahkan, saat dirinya acuh karena kesibukan dan ambisinya. Seruni tetap memberinya perhatian, itulah yang membuat Bram tidak bisa lepas dari sosok Seruni.


"Terima kasih, Mas." ujar Seruni dengan menggenggam tangan keras Bram. Senyumnya menggambarkan sebuah kemenangan.


Dalam hati, Seruni bersorak senang. Dia selalu tahu titik lemahnya Bram, dia yakin jika mau bersabar dia akan mendapatkan Bram seutuhnya.


Pertemuan mereka tidaklah lama, Bram yang biasa mampir di apartemen Seruni memutuskan untuk langsung pulang dengan alasan, jika Deska akan datang ke apartemen. Padahal, dia hanya ingat jika Gendis pasti sudah menunggunya. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan setelah semua berangsur membaik.


Bram menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Seruni. Gadis itu, sengaja tidak membawa mobil ketika bertemu Bram agar bisa membuat Bram mengantarnya pulang, tapi ternyata Bram malah tidak ingin mampir.


"Mas, Balik dulu!" ujar Bram.


"Terima kasih, Mas!" ujar Seruni kemudian mencium pipi kiri Bram sebelum dia keluar dari mobil. Dia memang berusaha menunjukkan sikap manja untuk merayu lelaki berwatak keras itu.


Setelah Seruni masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi, Bram tidak langsung melajukan mobilnya. Dia terdiam sejenak merenungkan apa yang sudah terjadi. Tentu saja dia tahu ini salah, sementara ada Gendis yang menunggunya.


Entah kenapa akhir-akhir ini pertemuannya dengan Seruni menyisakan rasa yang mengganjal dalam hatinya, selain rasa bersalah.


Saat Seruni bersikap agresif seperti barusan itu justru menciptakan rasa meragu dalam hati Bram.


"Mungkinkah, ini perasaan bersalahku pada Gendis dan pernikahanku? Tapi, kenyataannya aku belum bisa meninggalkan dan menolak Seruni." lelaki yang merasa gamang dengan perasaannya itu pun bermonolog dengan dirinya sendiri sebelum dia kembali melajukan mobilnya untuk kembali pulang.


Sementara di lain tempat, Gendis masih memilih bahan makanan yang tahan lama untuk dijadikan stok di dapur. Sesekali dia melirik jam yang ada di pergelangan tangan dalam keadaan tergesa-gesa hingga membuatnya menabrak seseorang.


"Brughh..."

__ADS_1


"Maaf-maaf..." ucap Gendis sambil memungut beberapa barang yang tercecer.


"No problem..." suara itu membuat Gendis menoleh pada sosok yang membantunya mengambilkan barangnya yang terjatuh.


"Mas Zayn, maaf! Aku tidak sengaja." lanjut Gendis masih merasa bersalah.


"Lain kali jika belanja banyak, sebaiknya pakai troli biar tidak overload." balas Zayn. Dia melihat Gendis hanya membawa keranjang saat akan membawa ke kasir.


"Biar aku yang bawakan! Langsung ke kasir, kan?" tanpa menunggu jawaban Gendis, Zayn langsung membawa keranjang dengan isi yang sudah membubung tinggi itu ke kasir.


Gendis hanya bisa mengejar langkah panjang lelaki yang sudah sampai di depan kasir. Perasaan sungkan membuat Gendis salah tingkah. Apalagi, saat kasir itu sesekali memperhatikan dirinya dan Zayn sambil tersenyum.


"Hmmm... ini, mbak!" Gendis mengeluarkan kartu debitnya bersamaan dengan Zayn.


"Pakai punya suami atau istri, ya?" tanya Mbak kasir sambil melihat Gendis dan Zayn bergantian.


"Punya saya saja!" ujar keduanya bersamaan.


"Saya saja!" ulang Zayn dengan cepat hingga tangan Mbak kasih meraih kartu yang ada di tangan Zayn.


"Aku akan mengantarmu, Ndis." ucap Zayn kemudian.


"Aku akan naik taxi saja." tolak Gendis. Dia merasa tidak enak jika hanya duduk berdua dengan lelaki asing.


"Anggap saja aku sopir taxi." goda Zayn sambil terkekeh. Zayn memang terbiasa menggoda wanita.


"Kita nggak sendiri, aku bareng sepupuku."


"Itu dia!" lanjut Zayn sambil menunjuk gadis yang kini berjalan ke arahnya.


"Mana camilannya, Bang?" tanya Areta saat melihat Zayn dengan tangan kosong.


"Kenalkan, namanya Gendis." bukanya menjawab Areta, Zayn malah memperkenalkan Gendis pada Areta.


"Gendis." sambut Gendis dengan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Areta, sepupu Bang Zayn." jawab Areta sambil menggerakkan alisnya pada Zayn.


"Kita antar Gendis dulu! Baru Abang antar kamu ke sanggar." ujar Zayn pada Areta.


Mereka berjalan menuju mobil Zayn yang ada di parkiran. Setelah memberi tips pada pegawai mall, mereka pun meluncur menuju apartemen Gendis.


"Kuliah dimana?" tanya Areta pada Gendis saat keduanya duduk di jok belakang. Wajah imut Gendis membuat Areta yakin gadis di sebelahnya masih remaja.


Dari tadi Zayn sering melirik Gendis dari kaca spion. Areta yang beberapa kali memergokinya pun hanya mencebikkan bibir. Tidak biasanya Abang sepupunya itu bersikap receh kayak gitu.


"Aku belum kuliah, Mbak. Rencananya mau ikut tes di universitas negeri." jawab Gendis sambil menampilkan senyumnya.


"Ohh... " jawab Areta. Gadis itu hanya merasa heran saja dengan selera abangnya yang tidak biasa.


Gadis remaja, belum kuliah dan ah Areta hanya berharap semoga tidak cabe-cabean saja.


Areta melirik sekali lagi ke arah Gendis, mengamati sejenak penampilan Gendis. Kemudian hatinya bermonolog," mana mungkin cabe-cabean berpenampilan tertutup seperti ini? Rok panjang dengan blues lengan hingga bawah siku. Dibilang kuno juga tidak, hanya terkesan pinterest saja tampilannya. Tapi, manis sih, seperti namanya."


"Mas Zayn, bagaimana aku harus bayar belanjaanku?" suara Gendis memecahkan kesunyian diantara mereka. Sungguh, Gendis merasa tidak enak jika harus di bayarin oleh lelaki yang tidak terlalu dia kenal.


"Nggak usah, Ndis." tolak Zayn.


"Nggak Mas, aku nggak enak jika seperti ini." ucap Gendis, dia masih memikirkan perasaan Bram jika belanjaannya dibayar lelaki yang tidak suami sukai.


"Nggak masalah, Gendis. Itu tidak seberapa." ujar Zayn.


"Kalau begitu aku nggak akan membawa belanjaan itu." lanjut Gendis, gadis itu memang sedikit keras kepala.


"Ya ampun, Gendis. Apa kamu mau mempermalukan abangku dengan menerima uangmu? Jika kamu ingin menggantinya, buatin saja abangku makan siang. Iya kan , Bang." sela Areta menengahi. Dia melihat Gendis memang bukan tipe gadis yang suka memanfaatkan laki laki seperti kebanyakan mantan Zayn.


"Tenang itu hanya receh buat Bang Zayn." lanjut Areta meyakinkan.


Kali ini Zayn tidak rugi pergi bersama Areta, Areta yang biasanya tidak terlalu tanggapan begitu cekatan merespon situasi.


"Terima kasih, Mas Zayn, Mbak Areta." ucap Gendis saat Zayn menghentikan mobilnya di depan apartemen, dia pun kemudian turun dan berjalan masuk.

__ADS_1


Dari jauh Zayn dan Areta memperhatikan Gendis yang tidak jadi masuk ke dalam Gedung bertingkat itu. Dia melihat Gendis berjalan menjauh dengan membawa belanjaannya. Zayn sengaja menghentikan mobilnya sedikit menjauh agar dia bisa mengamati apa yang dilakukan Gendis saat menghentikan langkahnya sebelum sampai pintu masuk.


__ADS_2