Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Godaan


__ADS_3

Bram masih meneliti lembar-lembar dari sebendel kertas skripsi salah satu mahasiswanya. Sesekali dia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, karena hari ini dia akan mengantar Gendis untuk memilih perabot yang akan menghuni rumah barunya.


"Tok...tok..."


"Selamat Sore, Bram."


Belum juga Bram menjawab ketokan pintu, seseorang sudah berdiri di tengah pintu itu tengah menyapanya.


"Oh, selamat sore Pak Alwy."


"Mari silahkan duduk!" ujar Bram. Lelaki yang kini berdiri menyambut tamunya itu sedang berusaha menutupi rasa terkejutnya.


Lelaki berkaca mata tebal tu menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangannya mengamati sekilas ruangan Bram.


"Silahkan duduk, Pak!" ucap Bram dengan membawa tamunya ke sofa.


"Terima kasih." ucap Pak Alwy, kemudian keduanya duduk bersama di sofa yang ada di ruangan Bram.


"Aku hanya mampir, Bram." ujar Pak Alwy, beliau memang baru saja menemui temannya yang menjabat rektor di kampus tempat Bram mengajar.


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Seruni?" tanya Pak Alwy dengan menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya menatap tajam Bram yang sedikit membungkukkan tubuh tegapnya.


"Eemmmm... baik, Pak." jawab Bram dengan kikuk. Dia sendiri belum bisa memutuskan semuanya, sementara dia sudah membaca maksud kedatangan papanya Seruni.


"Hubungan kalian, sudah lama. Kalian juga sudah dewasa. Bagaimana jika kalian secepatnya menikah." desak Pak Alwy, Beliau melakukan semuanya bukan berarti tidak tahu jika Bram sudah menikah dengan gadis yang dijodohkan orangtuanya.


"Tapi, Pak."


"Kamu bermaksud mempermainkan putriku?" Suara Pak Alwy terdengar penuh dengan penekanan.


"Bukan,..."


"Jangan sekali-kali berani mempermainkan putriku, Bram." sela Pak Alwy, wajahnya terlihat sangat marah.


Bukannya menciut, Bram malah menatap tajam lelaki paruh baya di depannya. Dia memang paling tidak suka jika di ancam.


"Aku sudah menikah, Pak." jelas Bram berterus terang tentang masalah yang membuat dirinya dan Seruni tidak bisa secepatnya melanjutkan hubungan mereka.


"Aku sudah tahu!" jawab Pak Alwy, Bram menatap penuh selidik tentang apa yang akan dilakukan Pak Alwy.

__ADS_1


"Maka segeralah nikahi Seruni!" kalimat Pak Alwy membuat Bram hampir tidak percaya bagaimana bisa seorang ayah rela jika putrinya dijadikan istri kedua.


"Bram..." panggilan Pak Alwy membuyarkan lamunan Bram.


"Aku tidak bisa jika masih terikat pernikahan dengan Gendis, Pak." tegas Bram. Dia memang tidak sanggup jika harus berpoligami.


"Makan ceraikan gadis itu secepatnya! " Bram menatap Pak Alwy ketika lelaki tua itu mengatakan itu dengan tegas.


"Jika kamu menikah dengan Seruni, aku pun akan membantumu mencapai karir yang kamu mau."


"Soal Ibumu. Tidak ada yang bisa dilakukannya setelah kalian menikah." lanjut Pak Alwy membuat Bram terdiam.


Sejenak mereka terdiam. Bram sibuk dengan pikirannya dan Pak Alwy masih menatap tajam Bram, lelaki dengan wajah keriput itu masih mencari cara untuk mendesak Bram.


Beliau tidak ingin menanggung malu, karena semua rekannya juga tahu jika Seruni telah menjalin hubungan Asmara dengan seorang dosen dari universitas ternama di kota ini.


"Aku tidak ingin menunggu lama, Bram." ujar Pak Alwy kemudian beranjak dari duduknya. Bram tahu, lelaki itu sudah kecewa dengan dirinya.


"Ingat, Bram! Jangan sampai kamu membuat putriku menangis karena gadis itu!" ujar Pak Alwy. Lelaki itu menolak ketika Bram akan bersalaman karena jawaban Bram yang tidak memuaskan baginya.


"Ingat Bram, jangan membuat Seruni menangis!" suara lemahnya penuh penekanan saat beliau berjalan menuju pintu.


"Gadis itu tidak pernah berhenti menangis." lanjutnya.


"Jangan pernah menyentuh Gendis, Pak! Aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitinya." balas Bram dengan tatapan menghujam. Dia merasa Pak Alwy sudah keterlaluan jika melibatkan Gendis dalam masalah ini.


Pak Alwy tersenyum licik saat mendengar pembelaan Bram. Lelaki itu kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan Bram. Seorang ajudan yang sudah lama menunggunya di luar pun menyambutnya kembali.


###


"Ndis, Mas, pergi dulu! Jangan membuka pintu jika Mas belum pulang." ujar Bram saat menghampiri Gendis yang sedang merapikan pakaiannya di lemari.


Bram memang akan pergi bersama Seruni untuk menghadiri konser Mahalini. Lelaki itu memang tidak bisa menolak permintaan Seruni saat itu.


"Iya, Mas." jawab Gendis kemudian menatap Bram dengan curiga.


Malam Minggu, tampilan Bram yang rapi dan casual membuat Gendis yakin jika suaminya akan pergi berkencan.


" Mas pergi dulu!" pamit Bram sebelum lelaki itu keluar dari apartemen.

__ADS_1


Gendis menatap nanar kepergian suaminya. Air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya dan bahkan kini mulai meluncur tanpa izin.


Biar bagaimanapun, dia mematikan rasa dalam hatinya tetap saja rasanya masih nyeri. Gendis pun akhirnya memilih menghampiri ranjang, mendudukkan tubuhnya di pinggirannya.


Tangisnya mulai pecah, membayangkan suaminya menghabiskan waktu bersama kekasihnya.


"Hik hik..hik..." Gendis membiarkan tangis menjadi. Dengan ini, dia bisa meluapkan isi hatinya dengan sepuas mungkin.


"Aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta tapi kenapa kamu tidak mau melepaskan ku." gumam Gendis di tengah Isak tangisnya.


Mungkin saat inilah dia harus mencari cara sendiri untuk melepaskan diri dari Bram dan pernikahan ini.


###


Bram memasuki ruangan mewah yang menjadi bagian dari apartemen Seruni setelah Seruni membukakan pintu untuknya.


Dengan duduk di sofa dan memainkan kunci mobilnya, Bram mengamati sebuah foto dirinya dan Seruni yang di pajang diantara rak partisi.


"Mas, bisa minta tolong!" pinta Seruni dengan membuka sedikit pintu kamarnya. Gadis itu terlihat memegang bagian depan gaunnya agar tidak melorot.


"Ada apa, Run?" tanya Bram saat mendekat pada gadis yang mengenakan gaun potongan Sabrina.


""Tolong talikan bajuku, Mas." pinta Seruni sambil membalikkan tubuhnya. Dia meminta Bram mengaitkan gaunnya dengan model tali yang saling mengait di bagian punggung.


"Kenapa mengenakan gaun seperti ini?" tanya Bram yang merasa gaun Seruni mengekspos lekuk tubuhnya. Tapi, entah kenapa dia enggan untuk memprotes seperti yang biasa dia lakukan pada Gendis.


Seruni, menyingkap rambut panjangnya ke samping. Sementara, Bram dengan rasa bimbang mengambil tali dan berusaha menalinya secepat mungkin.


"Mas..." Seruni menahan tangan Bram saat akan beranjak meninggalkannya. Lelaki itu menatap Seruni, dengan menunggu gadis itu mengatakan maksudnya.


Tidak ada kalimat yang terucap, berlahan Seruni mengikis jarak diantara mereka bahkan dia sengaja menempelkan tubuhnya pada tubuh etletis itu.


Bram dibuat blingsatan karena beberapa bagian sensitif miliknya kini bergesek dengan lawannya. Bahkan, Seruni pun mulai mendekatkan wajahnya pada wajah yang sudah memerah dan terasa panas.


"Aku mencintaimu, Mas." bisik Seruni di dekat telinga Bram dengan suara seraknya. Gadis itu memang sengaja memancing hasrat lelaki yang kini dalam pelukannya.


"Run..." panggilan Bram pun terhenti saat jari telunjuk gadis itu mengatupkan kedua bibir tipisnya itu.


Bram pun langsung terdiam, hingga Seruni mencium bibir Bram dengan penuh sensual. Dia kan membuat lelaki di depannya mabuk kepayang hingga kehilangan akal sehatnya.

__ADS_1


__ADS_2