Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Kekhawatiran Bram


__ADS_3

Gendis dan Bram terlihat menjaga jarak, bahkan saking jelasnya sikap mereka membuat Ambar menyadari itu. Tapi, ingin bertanya langsung masih ada Zayn dan Raka yang menungguinya.


"Nduk, tamunya diajak makan dulu!" Bu Harun menghampiri ruang tamu, beliau mendekati Gendis agar mengajak tamunya untuk makan terlebih dahulu.


"Sudah, Bu! Saya sudah makan!" sela Ambar merasa sungkan.


"Nggak apa-apa, syarat Mbak Ambar." bujuk Bu Harun sambil tersenyum ramah. Di lingkungan dimana beliau tinggal memang setiap ada tamu pasti ditawari makan.


"Ayo, Nduk! Sudah Ibu siapkan." Bu Harun mengelus bahu kecil menantunya. Kemudian, meninggalkan anak muda yang berkumpul itu menuju teras belakang, dimana ada Bu Mukhlis dan keluarga di sana.


"Ayo, Dek Ambar, Mas Zayn dan ..."


"Raka." sambung lelaki ramah itu menyela.


"Iya Mas Raka." sambut Gendis.


"Silahkan Makan dulu!" Akhirnya Bram pun berucap hingga semuanya mengikuti termasuk Zayn.


Mereka berjalan ke ruang makan. Ketiga lelaki itu masih terus membisu, ketika Gendis dan Ambar menyiapkan air minum.


"Kok, Dek Ambar, kenal Mas Zayn?" tanya Gendis membuang rasa penasarannya.


"Sekarang aku bekerja di restonya Pak Zayn, kebetulan ban motorku bocor, Mbak." jelas Ambar.


"Oh..."


Kedua wanita itu kembali menghampiri tiga lelaki yang masih membisu di meja makan, "Mereka seperti kartun." bisik Gendis ke Ambar membuat gadis berkerudung itu tersenyum.


"Dek, tolong ambilkan Mas Zayn makanan di piringnya."


"Kalau saya, bisa ambil sendiri, Mbak." Raka menyela kalimat Gendis hingga membuat semua orang yang ada di sana menahan tawa.


"Silahkan, makan Mas Raka." Gendis pun kembali mempersilahkan Raka agar lelaki yang ramah itu tidak merasa di cuekin.


"Sayang, aku juga mau makan!" pinta Bram sambil melirik Zayn yang juga balas meliriknya.


Ada rasa panas dalam diri kedua lelaki itu. Meskipun, tahu Bram memang suaminya Gendis tetap saja Zayn masih merasa cemburu.


Gendis tidak menjawab Bram, karena rasa kesalnya. Tapi, gadis itu masih meladeni suaminya dengan cukup baik depan orang lain.


Mereka makan dengan tenang. Hanya Raka yang sesekali menatap curiga pada keempat orang yang kini duduk satu meja dengannya. Dia bisa melihat jelas jika Bram dan bosnya itu bermusuhan, tapi apa masalahnya dia sendiri tidak ingin tahu.


Setelah makan sore, semua salat berjamaah di musala yang terdapat di bagian belakang rumah. Mereka kembali dengan wajah segar.


Hanya Zayn yang tidak ikut salat karena lelaki itu tidak pernah melakukannya. Dalam hidup Zayn, dia melakukan salat saat ada praktek agama ketika masih di bangku sekolah. Bahkan, saat ini dia sudah lupa bacaan salat.

__ADS_1


"Pak Zayn, jika mau pulang dulu tidak apa-apa." ucap Ambar dengan mendekati lelaki yang tengah duduk menatap ponselnya.


"Kamu mengusirku?" jawab Zayn membuat Ambar menghela nafas berat.


Gadis yang kini wajahnya nampak segar itu merasa big bosnya itu terlalu sensitif menanggapi apa yang diucapkannya.


"Bukan begitu, maksud saya..."


"Kita datang bersama pulang bersama!" lanjut Zayn.


"Saya pulangnya setelah doa bersama, takutnya Pak Zayn masih ada acara." lanjut Ambar tapi Zayn hanya terdiam hingga Raka datang bersama semua orang untuk berkumpul.


"Ayo kita berfoto dulu!" ucap Raka dengan menata tiga kursi untuk tempat duduk para sesepuh.


"Radit kamu jongkok aja!" titah Raka yang kini berperan sebagai fotografer.


"Pak Zayn, Mas Bram, Mbak Gendis dan Ambar ayo berdiri di belakang." lanjut Raka.


Zayn sesekali melirik Gendis yang kini mengenakan jilbab berwarna pink dusty membuat Bram yang memergokinya semakin protektif pada istrinya. Gendis memang sangat manis dan anggun dengan jilbab yang membingkai wajahnya.


Formasi berdiri dibuat dengan dengan dua cowok di tengah Ambar, Zayn, Bram barulah Gendis. Posisi dua cowok di tengah terkesan saling membelakangi.


"Serius kayak gini posenya?" tanya Raka kemudian dijawab 'Iya' dua cowok yang sama-sama keras kepala itu hampir bersamaan.


"Saya tadi sempat bingung yang mana tuan rumahnya. Sama-sama pasangan muda." celetuk salah satu bapak- bapak dengan menatap Bram dan Zayn secara bergantian.


"Saya yang akan tinggal disini." sambut Bram.


Setelah berdoa mereka menikmati hidangan dengan obrolan ringan yang penuh dengan ke akraban.


Mereka juga menceritakan tentang sejarah pemilik rumah ini sebelumnya bahkan mereka berharap penghuni baru rumah ini sama baiknya dengan penghuni lama.


Hal ini membuat Zayn merasakan suasana berbeda. Kehidupan sosialnya yang tertutup dan individualis membuat dirinya merasa nyaman dengan keramahtamahan lingkungan disini. Bahkan, dari awal dia mengakui jika rumah baru Bram dan Gendis memang sangat nyaman meski tak semewah huniannya.


Pukul sembilan malam akhirnya Ambar berpamitan pada semua keluarga. Bahkan, Bu Harun sempat menyarankan agar menginap saja tapi di tolak secar halus oleh Ambar.


"Terima kasih, Dek Ambar sudah datang." ucap Gendis saat Ambar memeluknya untuk berpamitan.


"Di tunggu juga kedatangan baby-nya." sambut Ambar dengan mengalihkan pandangannya pada Bram.


"Jangan khawatir, secepatnya meluncur!" sela Radit dengan cengengesan. Pemuda itu membuat Bram tersenyum, sementara Gendis sedikit melengos karena masih marah dengan Bram.


Sementara ada hati yang dibakar cemburu. Betapa tersiksanya mencintai istri orang, tapi Zayn mampu melalui beberapa jam di sini. Entah karena akan datang dan pulang bersama, atau karena Gendis yang membuatnya terlena.


Mobil sedan itu meluncur meninggalkan rumah baru pasangan muda itu. Generasi sepuh sudah masuk ke dalam kamar karena ingin segera istirahat untuk persiapan perjalanan pulang besok.

__ADS_1


"Mas, Mbak Gendis masih marah?" tanya Radit saat Bram menyusulnya menonton tv.


"Gendis kalau marah lama, bisa berhari-hari." jawab Bram dengan menyandarkan tubuhnya. Otaknya mencari akal untuk membujuk Gendis.


"Sebentar aku punya cara!" ucap Radit kemudian meninggalkan Bram yang masih acuh tak acuh.


Pemuda itu memang sudah terbiasa dengan Bram yang memang bersifat diam. Sesaat kemudian, Radit membawa dua cangkir kopi dan satu gelas susu.


"Ngopi dulu, Mas, biar tambah bersemangat!" ucap Radit dengan mengulurkan secangkir kopi pada Bram. Pemuda itu juga memperhatikan cara Bram menyesap kopinya.


"Bujuk Mbak Gendis dengan membawakannya segelas susu."


"Wanita itu paling suka perhatian kecil, Mas." lanjut Radit.


"Sok tahu!" balas Bram.


"Coba dulu, Mas, baru komentar."


Mendengar jawaban Radit yang cukup meyakinkan, Bram membawa segelas susu yang dibuatkan oleh Radit untuk naik ke atas.


"Ndis..." panggil Bram saat membuka pintu kamar dan mendapati Gendis baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama celana pendek.


Melihat kaki indah istrinya membuat desiran yang berbeda pada diri, Bram. Ini berbeda, Rambut yang di cepol ke atas membuat Bram tak ingin mengalihkan pandangannya dari leher jenjang istrinya. Seksi, apalagi rambut halus yang tumbuh menghias tengkuk indah itu.


"Ada apa?" ketus Gendis saat melihat Bram hanya terdiam dengan menatapnya


"Mas bawakan susu buat kamu!" ujar Bram kemudian mendekat ke arah istrinya.


"Gila!" pekik Bram dalam hati kala mencium aroma vanila yang menguar dari tubuh mungil istrinya.


Gairahnya semakin menggebu dan hasrat untuk menyentuh istrinya semakin mendesak kuat.


"Taruh saja dulu!" tolak Gendis, dia semakin salah tingkah saat menyadari Bram yang menatapnya dengan sayu.


"Mas tahu, kamu marah. Mas tahu jika Mas salah."


"Tapi, menolak suami juga dosa." bujuk Bram.


Gendis terdiam, " Istri Solehah mencerminkan anak yang soleh." lanjut Bram berusaha membujuk Gendis dengan tegas.


Gendis pun mengambil susu yang dibawakan oleh Bram dan meminumnya seketika.


"Aku ingin tidur dulu, Mas." pamit Gendis.


Ada rasa kecewa pada diri Bram saat melihat sikap Gendis yang terlihat dingin. Dia benar-benar takut jika Gendis masih berfikir untuk berpisah.

__ADS_1


__ADS_2