
"Emang kamu mau ke mana?" tanya Bram setelah mereka Salat Magrib. Dia tahu, jika Gendis memang tidak pernah keluar malam kalau tidak ada suatu yang sangat penting.
"Aku akan melihat bimbel yang ada di dekat apartemen, Mas." jawab Gendis dengan menyisir rambutnya dan kemudian menguncir nya.
"Aku susah, jika ikut bimbingan belajar secara online." lanjut Gendis.
"Dan aku sulit memahami hitung-hitungan." lanjut Gendis.
Tapi seketika wajah manis itu terlihat murung. Dia kembali teringat, sudah meminta pekerjaan pada Zain.
"Tapi..."
"Kenapa?" tanya Bram dengan rasa penasaran kala melihat sorot mata lesu dari kedua netra indah milik istrinya.
"Kenapa, Gendis?" desak Bram saat Gendis masih terdiam.
"Aku akan berkerja, tapi bagaimana bisa aku masuk kelas regular?"
"Gendis..." lirih Bram meskipun dia terkejut mendengar pernyataan istrinya, tetap saja dia harus mengontrol diri.
Lelaki itu hanya menegakkan tubuhnya kemudian dia berdiri mendekat ke arah Gendis yang masih duduk di depan cermin.
"Aku tidak akan mengizinkanmu bekerja." tegas Bram. Dia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya pada istrinya.
"Kenapa kamu berfikir untuk bekerja? Apa uang bulanan yang Mas berikan tidak cukup?" tanya Bram. Padahal dia tahu, pengeluaran Gendis setiap bulannya bisa tergolong minim karena setiap pertengahan bulan, Bram selalu mengecheck ATM yang dibawa Gendis.
"Bukan, aku pikir aku butuh pekerjaan. Jika berpisah dengan Mas Bram, lalu aku akan makan apa?"
"Apa lagi Mas Bram tidak mau mengurus perpisahan. Tentu aku butuh uang untuk..."
"Kita tidak akan berpisah." sela Bram dengan lirih. Dia memeluk tubuh mungil di depannya.
Bram mengatupkan kelopak matanya kala menyadari jika ternyata pernikahannya sudah diambang batas. Gendis memang sangat naif, tapi sifat kerasnya memang membuat dirinya tidak akan lelah berusaha.
Bram meregangkan pelukannya. Dia menatap sorot mata indah milik istrinya, " kamu boleh melakukan apa saja kecuali berusaha untuk berpisah!" lanjut Bram.
__ADS_1
"Aku memang tidak pintar, tapi aku juga tidak terlalu bodoh untuk menentukan pilihanku." jawab Gendis.
"Kecuali memilih memutuskan untuk mau menikah dengan lelaki yang tidak aku kenal dan ternyata dia sudah punya pacar." lanjut Gendis membuat Bram, menatap lesu istrinya.
Kenyataannya saat itu, dia tidak tahu harus melakukan apa kecuali menikahi lelaki pilihan orang tuanya. Kesedihan, rasa bersalah dengan papanya dan tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk melanjutkan hidup membuat Gendis menerima begitu saja tawaran menikah dengan Bram.
"Kamu menyesal, Ndis?" tanya Bram.
"Sempat menyesal saat keberadaanku tidak dianggap."
"Maafkan, Mas." lanjut Bram. Gendis pun tersenyum, rasanya dia tidak perlu mengatakan apapun pada lelaki yang kini menatapnya penuh harap.
"Dek Ambar tadi ke sini. Kita dapat oleh-oleh gudeg dan ayam bakar dari Tante Halisa. Jadi aku nggak usah masak ya Mas?" tanya Gendis seolah membuat tawaran untuk makan malam mereka berdua.
"Mas, ikut saja! Kamu yang mengatur urusan rumah."
"Ayo kita berangkat." Gendis pun beranjak dari duduknya, membuat Bram pun mengikutinya. Keduanya pun meninggalkan kamar yang sejak tadi menjadi tempat obrolan mereka.
"Sebenarnya aku malas ikut bimbel, Mas. Tapi aku lemah di Matematika dan Fisika. Padahal aku ingin masuk universitas negeri agar Mas Bram tidak menghabiskan banyak uang untuk kuliahku." Kalimat Gendis membuat Bram menghentikan langkahnya ketika keduanya sudah keluar dari unit apartemen.
"Ih, Mas Bram, ya gk juga! Cuma aku akan fokus di situ."
"Pelajaran lainnya?" cecar Bram.
"Aku juga, nggak bodoh-bodoh amat jika untuk mata pelajaran yang lain." protes Gendis dengan cemberut kala dia merasa Bram meledeknya. Gendis memang terbilang anak yang cerdas tapi sifat manjanya memang membuat dia tidak pernah serius melakukan sesuatu.
"Bukan begitu, Ndis..." ujar Bram, tapi kalimatnya terhenti kala lift yang akan membawa mereka ke bawah itu terbuka.
"Jika hanya dua pelajaran itu yang jadi momoknya mending Mas yang akan ngajarin kamu. "
"Emang bisa?" tanya Gendis dengan ragu, dia tidak tahu jika suaminya memang sangat pintar dalam pelajaran exact. Bahkan, untuk pelajaran matematika dia mendapat julukan 'ahlinya' karena hanya melihat kasus untuk perhitungannya, dosen yang menguasai Matematika Terapan itu langsung bisa membuat rumusnya seketika.
"Ngajarin, lainnya juga bisa, Ndis." bisik Bram terdengar Genit. Kedua alisnya dinaik turunkan kala Gendis melirik tajam, untung saja tidak ada penumpang lainnya dalam lift.
Mereka melangkah keluar lift, seperti biasa loby apartemen memang sangat ramai ketika selesai Magrib.
__ADS_1
Gendis menghentikan langkahnya hingga Bram yang sedang mengenggam lengannya itu pun ikut terhenti dan menoleh.
"Lalu, untuk apa kita keluar?" tanya Gendis saat dia teringat tidak perlu ikut bimbingan belajar.
"Kita bisa mencari makan malam, Sayang!" Gendis terkekeh saat mendengar panggilan 'Sayang' dari Bram. Aneh, panggilan itu terdengar aneh di telinganya.
"Kita kan, sudah dapat gudeg?" jawab Gendis.
"Buat sarapan, kan, bisa. Gudeg itu semakin sering dipanasin, rasanya malah semakin enak." tutur Bram bernada sindiran.
"Kayak cintaku padamu!" lirik Bram dengan menunduk, membisik di telinga Gendis.
Gendis pun mencebikkan bibir dan bergidik karena merasa geli dengan apa yang baru saja diucapkan Bram.
Bram terkekeh mereka berdua pun menikmati ramainya kota yang diterangi dengan gemerlapnya lampu kota. Tangan kekar yang sejak tadi menggenggam lengan tangan kecil itu pun beralih pada bahu istrinya kala melewati ramainya pejalan kaki lainnya.
###
"Apa, Bang. Istri orang?" Areta hampir tak percaya jika Gendis gadis yang pernah bertemu dengannya ternyata sudah menjadi istri orang.
"No-no, Bang! Jangan sampai Bang Zayn merusak rumah tangga orang lain." lanjut Areta.
Zayn terdiam, dia tidak biacara lagi. Jika bisa meminta, dia juga tidak ingin mencintai istri orang. Memikirkannya salah tidak memikirkan tapi kepikiran.
"Abang juga tak ingin seperti itu, Ret. Tapi Abang telanjur jatuh cinta." mendengarnya Areta hanya mendengus. Dia tidak tahu lagi harus berkomentar apa, karena dia sangat mengena Zayn jika lelaki itu memang tidak pernah seperti ini mengejar wanita.
"Tapi, hubungannya memang tidak baik-baik saja karena Gendis meminta pekerjaan pada Abang."
"Rencananya Abang pun akan menjadikan Asisten Abang, agar aku bisa mendekatinya dengan leluasa." jelas Zayn. Dia memang sangat serius ingin menjalin hubungan dengan istri orang.
"Susah-susah jika sudah seperti ini, Bang. Aku nggak bisa berkomentar lagi."
"Tapi, aku saranin jangan memupuk rasa itu karena itu salah. Nanti ujung-nya Abang yang sakit sendiri." Areta sebenarnya merasa prihatin kala mantan Casanova itu kejedut cinta istri Orang.
"Oh ya, Bang. Temanku Seruni juga lagi patah hati. Apa Abang sama Seruni?" Areta berusaha menjodohkan sepupunya dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik dengan gadis seperti itu. Sudah terlalu banyak gadis modelan Seruni simpang siur dalam hidup Abang." tolak Zayn. Dia sudah faham karakter Seruni yang sebenarnya.