Gendis, Cinta Diambang Batas

Gendis, Cinta Diambang Batas
Pertengkaran


__ADS_3

"Gendis. " panggil Bram saat mengejar istrinya yang terus berjalan.


Setelah menstandarkan motornya, Bram menarik lengan Gendis agar menghentikan langkahanya. Jika saja bukan di tempat umum tentu saja Bram sudah memarahi Gendis.


"Ikut Mas!" ucap Bram sambil menarik Gendis di dekat motor.


"Naik...!" titah Bram sekali lagi saat Gendis hanya terdiam.


Gendis pun menaiki motor itu dengan wajah cemberut. Mereka berdua hanya membisu dalam perjalanan pulang.


Suasana malam di jalan tepatnya di depan rumah mereka memang bisa dibilang sepi. Bram menstandarkan motornya asal-asalan di halaman. Sementara Gendis sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Dengan wajah tegas dan rahang mengeras Bram menyusul istrinya ke dalam.Terlihat Gendis sudah duduk di meja makan, seperti siap untuk membahas sesuatu.


Bram meletakkan makanan yang baru saja mereka beli. Dengan menatap tajam istrinya, Bram berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Gendis.


"Apa yang kamu mau? " tanya Bram dengan tegas dan wajah yang sudah memerah karena menahan emosi sejak tadi.


"Aku ingin kita berpisah!" lanjut Gendis dengan menatap Bram.


"Lakukanlah! " jawab Bram seketika dengan suara meninggi. Dia sudah sangat merasa kesal dengan sikap Gendis yang kekanak-kanakan.


Gendis menatap Bram dengan mata berkaca-kaca. Hatinya lebih hancur dari sebelumnya, karena dengan entengnya Bram melepaskannya.

__ADS_1


Seketika suasana mencekam. Gendis merasa kecewa begitu pun dengan Bram. Bram merasa Gendis tak pernah mengerti dirinya sama sekali.


Gendis langsung berlari menaiki tangga menuju ke kamar. Meskipun, sudah menyiapkan semuanya, tapi rasa kecewa masih menyelimuti perasaannya.


Gadis bertubuh mungil itu mengeluarkan tas pakaian yang pernah dia gunakan saat pertama kali datang ke kota ini.


Sambil terus menangis, dia memasukkan beberapa potong baju. Hatinya hancur, pikirannya kalut karena dia tidak tahu lagi tempat yang akan dia tuju setelah meninggalkan rumah ini. Tapi, bertahan bersama Bram membuat hatinya hanya merasakan kecewa setiap kali.


Bram mendesah pelan, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi. Sejenak dia meredakan emosinya, hingga tersadar pertengkarannya dengan Gendis membuatnya menyetujui sebuah kata perpisahan.


Bram Pov


Entah kenapa aku dengan Gendis seperti tidak pernah sejalan. Aku sudah berusaha memahami karakternya, berbeda saat aku bersama dengan Seruni. Dia begitu dewasa menyikapi keadaan hingga kita tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini. Seruni selalu memahami situasiku.


Aku seperti lelah menghadapi Gendis, karakternya labil dan sedikit-sedikit minta berpisah akhirnya aku iyakan saja. Biar saja dia belajar bagaimana bertanggung jawab dengan ucapanya.


Author Pov


Sesekali Bram mengusap wajahnya dengan kasar. Bukan maksudnya dia membandingkan istrinya dengan Seruni. Mereka dua orang yang jelas berbeda dan berhasil mengambil tempat di masing-masing bagian dari hidup Bram.


Bram merasakan kepalanya seperti hampir pecah, setiap kali pulang ke rumah hanya ada pertengkaran diantara mereka. Tapi, sikap Gendis seringkali membuat emosi Bram seperti ingin meledak-ledak.


Bram menatap makanan yang baru saja dia beli. Dia teringat jika Gendis pasti lapar, semarah-marahnya Bram pada Gendis dia masih peduli sama istrinya yang menjadi tanggung jawabnya.

__ADS_1


Lelaki yang kini emosinya mulai mereda berjalan menaiki tangga. Sayup-sayup terdengar isak tangis dari dalam kamar membuat Bram ragu antara masuk atau kembali ke bawah.


Akhirnya, Bram memutuskan untuk masuk ke dalam.


"Ceklek... " suara handle pintu terdengar membuat Gendis menoleh. Telah berdiri di tengah pintu kamar sosok yang telah melukai perasaannya.


Bram tersentak kaget saat melihat Gendis mengemas pakaiannya ke dalam koper. Melihat situasi yang tidak terpikir olehnya, membuat Bram semakin kesal. Amarahnya semakin memuncak.


"Maksudnya apa ini? " tanya Bram kemudian melangkah cepat menghampiri Gendis yang masih sibuk memasukkan bajunya.


Bram langsung mengambil paksa tas besar yang sudah terisi sebagian dan melemparkan ke atas lemari agar Gendis tidak sampai. Tatapannya begitu tajam tertuju pada istrinya yang masih menangis sesenggukan.


"Kamu tahu inilah bedanya kamu dengan Seruni! " bentak Bram membuat Gendis semakin terluka. Dibandingkan dengan orang yang tidak dia suka justru itu lebih menyakitkan.


"Terus saja puji dia. Nikahi dia jika dia wanita yang paling baik bagi Mas Bram." jawab Gendis, rasa kesalnya terus saja membuncah kala dirinya harus mendengar nama Seruni dari mulut suaminya.


"Setidaknya kamu bisa belajar dari Seruni bagaimana bersikap lebih dewasa. Apa kamu selamanya akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini? " bentak Bram dengan tatapan tajam.


"Aku tidak perlu belajar dari seorang wanita penggoda seperti dia..."


"Gendis...Braaakkk. " Gendis berjingkat saat Bram memukul lemari yang ada di sebelahnya. Lelaki itu semakin kesal saat dia terus saja mendengar bantahan dari istrinya.


Tubuh Gendis terhuyun ke belakang, menabrak dinding yang ada di sebelahnya. Kepalanya kini menjadi berputar-putar, membuat Gendis tidak peduli dengan lelaki yang kini tengah menatapnya tajam. Gendis mencari pegangan agar tubuhnya tidak terjatuh.

__ADS_1


"Kamu memang pembangkang." ucap Bram kemudian masuk meninggalkan Gendis menuju kamar mandi.


Sementara Gendis masih sibuk mencari pegangan agar dia bisa menemukan tempat tidur tanpa harus terjatuh.


__ADS_2